OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 93


__ADS_3

Semangat Dinda menghilang. Kakinya terasa pegal dan sakit.


Sejak tadi mereka menunggu, sambil celingak-celinguk melihat orang-orang yang keluar, dari tempat kedatangan di Bandara.


Dinda mengambil tempat duduk, yang masih tersisa diruang tunggu. Dia duduk memegang kakinya yang cedera, sambil mengusap-usapnya pelan.


"Kayaknya kita terlalu cepat datangnya..." ujar Billy, yang ikut duduk tepat disamping Dinda.


Kedatangan pesawat yang ditumpangi Mama Billy, terlambat datang karena cuaca buruk.


"Kakimu sakit?" Billy lalu memegang kaki Dinda.


"Pegal aja," sahut Dinda.


Billy menatap bekas jahitan di kaki Dinda. Tidak terlalu tampak, tapi tetap cukup mengganggu penglihatan. Dalam hati, Billy tidak tega melihat bekas luka itu. Dia menatap Dinda dalam-dalam.


Dinda tidak pernah mengeluhkan kakinya. Billy merasa, kalau Dinda terlalu memaksakan diri, agar terlihat tegar. Dinda bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


Bekas luka yang hampir sepanjang kaki, Dinda seolah tidak perduli. Tanpa repot-repot dengan celana, atau rok yang panjang untuk menutupinya.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Dinda, menyadari tatapan Billy, yang seakan tidak mau berkedip melihat wajahnya.


"Nggak apa-apa. Aku cuma ingin melihatmu saja," ujar Billy, sambil menyentuh pipi Dinda dengan lembut.


"Asal jangan pikiran aneh-aneh aja. Kita di tempat umum nih!" ujar Dinda, sambil tersenyum manis.


Billy menatap mata Dinda yang cerah berbinar, saat tersenyum seperti itu.


Berhenti tersenyum! kata Billy dalam hati.


Dinda masih saja tersenyum melihat Billy, yang tidak berhenti menatapnya.


"Ada apa?" tanya Dinda heran. Senyumnya masih mengembang diwajah cantiknya.


Tanpa bicara apa-apa, Billy mencium bibir Dinda.


"Eehh! Rame banget, loh! Aku malu dilihatin orang!" celetuk Dinda, setelah melepas ciuman Billy dari bibirnya.


Billy menggenggam tangan Dinda.


"Kalau ada yang kamu rasa sakit atau tidak suka, kamu pasti bilang denganku 'kan?" tanya Billy, tanpa melepas pandangannya dari mata Dinda.


"Iya, aku nanti kasih tahu kok!" sahut Dinda.


Mata Dinda teralihkan pada keramaian, yang berhambur keluar dari salah satu arah.


Ponsel Billy bergetar. Mamanya yang menghubunginya.


"Mama sudah keluar dari pesawat. Kamu sudah dibandara?" tanya Mama Billy.


"Iya, Ma! Kami menunggu didepan," sahut Billy, sambil ikut melihat kearah tempat kedatangan penumpang.


Dinda berdiri dari tempat duduknya. Dia sudah bisa melihat Mama Billy.


Billy berdiri lalu menggandeng Dinda. Dia juga sudah melihat mamanya, yang berjalan diantara orang banyak.


Mereka berdua berjalan mendekat.


Setengah berlari, Mama Billy menghampiri anak, dan calon mantunya. Dia langsung memeluk Dinda erat-erat, seakan tidak perduli dengan Billy, anaknya sendiri.


"Akhirnya kita ketemu lagi, nak!" kata Mama Billy, yang tetap memeluk Dinda.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Mama Billy, setelah mengendurkan pelukannya, lalu memegang pipi Dinda dengan kedua tangannya.


"Baik, Ma!" sahut Dinda, sambil tersenyum.


"Ayo kita pergi dari sini!" ujar Mama Billy, sambil memegang tangan Dinda mengajaknya berjalan.

__ADS_1


Dinda membesarkan matanya kearah Billy, yang hanya tertawa meski Mamanya tidak memperdulikannya.


"Mama mau nginap dimana nanti?" tanya Billy, sambil menyetir mobilnya.


"Dirumah saja. Kamu masih sering melihat rumah itu nggak?" tanya Mama Billy.


Billy menggeleng.


"Aku lebih sering di vila," ujar Billy.


Raut wajah mama Billy berubah. Tapi wanita itu tidak berkata apa-apa. Dia sudah tahu kalau Billy tidak terlalu suka tinggal dirumah mereka itu.


Mama Billy lalu melihat Dinda, yang duduk disampingnya. Rasa senangnya kembali timbul, dihati wanita itu.


"Mama sudah hubungi kenalan mama yang juga WO (wedding organizer). Kalian maunya, tanggal berapa acaranya?" tanya Mama Billy, sambil menatap Dinda.


Dinda terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Billy belum membahas tanggal dengannya. Dinda melirik Billy dari kaca spion.


Billy melihatnya.


"Tanggal 31 januari!" ujar Billy.


Mama Billy mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiga minggu lagi. Bukan waktu yang lama, tapi cukup untuk persiapannya.


"Sederhana aja ya, Ma?! Nggak apa-apa 'kan?" tanya Dinda hati-hati.


"Terserah kalian saja... Mama ngerti, kok! Biar nak Dinda nggak terlalu lelah 'kan?" ujar Mama Billy.


"Iya, Ma!" sahut Dinda.


"Oke! Kalau begitu, kita sekarang pergi ke kantor teman Mama!" kata Mama Billy bersemangat, sambil menyebutkan sebuah alamat pada Billy.


Billy memacu mobilnya, menuju alamat yang Mamanya bilang.~


"Haii!" sambut teman Mama Billy.


Billy membawa Dinda duduk bersamanya, disalah satu sofa yang tidak terlalu jauh dari tempat mamanya duduk.


Billy merangkul pundak Dinda.


"Ini calon mantuku. Cantik 'kan?" ujar Mama Billy bersemangat, memperkenalkan Dinda pada temannya.


Dinda jadi salah tingkah, melihat mama Billy yang tidak berhenti memujinya. Dia menatap Billy, yang hanya tersenyum bangga.


Mama Billy masih sibuk berbincang-bincang dengan temannya.


"Gaun pengantinnya apa kamu sudah membawa Dinda mencarinya?" tanya Mama Billy, kepada Billy.


"Sudah! Baru satu... Kami belum sempat pergi ke penjahit," sahut Billy.


"Tenang aja Mbak yu...! Ada satu penjahit langgananku. Pengerjaannya cepat tapi bagus. Sempat aja, kok!" ujar teman Mama Billy, saat melihat Mama Billy yang tampak panik.


"Tolong yaa...! Aku mau yang terbaik, untuk anak-anakku ini!" ujar Mama Billy, kepada temannya itu.


Mama Billy dan temannya, berpelukkan sebelum akhirnya mereka pergi dari situ.


Billy lalu mengantar Mama Billy ke rumah lama mereka.


Saat mereka sudah tiba dirumah lama Billy, Mama Billy disambut para pekerja, yang merawat rumah yang tampak tidak banyak berubah.


Rumah megah, tapi Billy jarang tinggal disitu. Billy lebih suka menghabiskan waktunya di Vila.


"Mama sudah bicara dengan Papa..." celetuk Mama Billy, sambil duduk disofa, bersama Billy dengan Dinda.


"Papamu nggak terlalu ambil pusing. Katanya, terserah kamu saja..." sambung wanita itu. Wajahnya kelihatan lega.


"Tapi kalau bisa sih, maunya Mama, kamu bisa bicara langsung dengan papa..." kata Mama Billy, sambil menyesap sedikit teh hangat dari gelasnya, yang diatas meja.

__ADS_1


Billy terdiam sebentar.


"Iya rencananya begitu. Aku juga mau Papa bantu, agar Dinda bisa istirahat kerja dulu, selama dia masih merasa kurang sehat seperti sekarang," ujar Billy. Dia tahu kalau mamanya pasti mengerti apa maksudnya.


"Kalau cuma itu, mama juga bisa mengurusnya. Tapi, maksud mama, kamu dengan papa jarang sekali bicara. Seringnya melalui mama. Maunya Mama, kalian bisa bicara langsung, apa yang kalian mau," ujar Mama Billy.


Wajah Mama Billy tampak sedih, saat membayangkan hubungan anak dengan bapak yang kurang harmonis.


Mama Billy kemudian menatap Dinda, yang sedari tadi hanya terdiam. Dia merasa tidak enak telah membahas hal itu didepan Dinda. Mama Billy khawatir itu akan jadi beban pikiran Dinda.


"Hmm... Dinda harus banyak istirahat yaa?! Jangan terlalu banyak pikiran!" celetuk Mama Billy. Dia mengelus rambut Dinda dengan lembut.


"Mama jadi nggak sabar. Mama mau menggendong cucu. Mama tahu, kalau Papa juga begitu. Jaga kandungannya baik-baik!" ujar Mama Billy, senyum lebar mengembang diwajahnya.


"Kamu! Turuti apa yang Dinda mau yaa!" perintah Mama Billy, kepada Billy ketus.


"Iya, Ma!" ujar Billy.


"Kalian tinggal di vila?" tanya Mama Billy.


"Nggak. Tapi, dirumah Dinda," sahut Dinda.


"Kasihan mbok Inah, kalau ditinggal sendirian disitu," sambung Billy.


Mama Billy terbayang wajah mbok Inah, pasti sudah tua sekali sekarang.


Almarhum dan Almarhumah Orang tua Dinda sayang sekali dengan mbok Inah, yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Sampai-sampai ada acara besar pun, mbok Inah ikut dibawa.


Ada rasa sedih di hati Mama Billy mengingat orang tua Dinda. Dia mengenal orang tua Dinda adalah orang orang yang baik. Meskipun memiliki bisnis yang cukup besar, mereka selalu tampak sederhana.


Kalau dari cerita Billy, sikap dan gaya hidup Dinda mirip dengan orang tuanya.


Mama Billy benar-benar sayang dengan Dinda. Dia senang akhirnya Billy bisa menikahinya.


Sejak Mama Billy mengenal keluarga Dinda, sampai Billy berpacaran dengan Dinda, Mama Billy memang sudah berharap kalau anaknya bisa berjodoh, dengan anak keluarga itu.


Tanpa Mama Billy sadari, dia sedari tadi menatap Dinda sambil tersenyum. Sampai-sampai, Dinda jadi merasa grogi.


Dinda melirik Billy, seakan minta pertolongan.


"Mama!" seru Billy.


Mama Billy terkejut.


"Ada apa?" ujar mama Billy gelagapan.


"Mama kenapa menatap Dinda begitu?" tanya Billy.


"Mama masih nggak percaya, lelaki konyol kayak kamu bisa jadi suaminya Dinda," ujar Mama Billy ketus.


Dinda tertawa pelan, mendengar perkataan mama Billy. Dia bisa melihat Billy yang cemberut.


"Kalau ada perlu apa-apa beritahu mama yaa, nak?! Kalau Billy aneh-aneh, lapor ke mama, biar mama pitek kepalanya!" ujar Mama Billy.


Dinda menganggukkan kepalanya.


Billy makin cemberut. Mamanya menjatuhkan martabat Billy didepan Dinda. Tapi dia juga senang karena bisa melihat mamanya bahagia, dengan pilihan Billy menikahi Dinda.


Mereka lalu berbincang-bincang santai di situ cukup lama, sebelum Billy membawa Dinda pulang.


"Nanti mama hubungi Atasanmu! Nak Dinda nggak usah khawatir!" ujar Mama Billy, sambil memeluk Dinda.


Billy lalu pergi dari rumah itu bersama Dinda.


"Kamu bisa lihat 'kan? Mama senang sekali kamu jadi mantunya. Siapa dulu dong anaknya?!" celetuk Billy bangga.


Dinda tertawa. Dalam hati, dia juga senang, karena Mama Billy menyayanginya, seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2