
Sudah menjelang sore, barulah Dinda dan Rudi terbangun.
Rudi yang terbangun duluan, memandangi Dinda yang tertidur di pelukannya. Rudi bahagia bisa memilki gadis itu.
Rudi mengusap rambut dikepala Dinda.
Dinda menggeliat.
"Sudah bangun?" tanya Dinda.
"Hmm... Baru aja!" ujar Rudi.
Dinda merapatkan lagi kepalanya ke dada Rudi. Dia masih ingin dipeluk.
Rudi memperbaiki letak lengannya. Dengan rasa sayang memeluk gadis itu.
"Masih ngantuk?" tanya Rudi berbisik.
"Nggak, cuma mau dipeluk aja," kata Dinda manja.
Rudi mempererat pelukannya. Dinda meletakkan telapak tangannya didada bagian bawah Rudi.
Keduanya seakan tidak mau berpisah.
"Tok, tok, tok "
Terdengar ketukan dipintu, terasa cukup mengganggu.
"Iya, mbok!" kata Dinda setengah berteriak.
"Non sudah bangun?" suara mbok Inah menyahut dari balik pintu.
Dinda berdiri dari ranjang, sedangkan Rudi ikut bangun kemudian duduk di ranjang.
"Ada apa Mbok?" tanya Dinda.
"Non, mau makan apa? Dari pagi, Non sepertinya belum makan. Takut nanti sakit Non" kata mbok Inah khawatir.
"Terserah aja mbok! Bentar kami ke dapur. Tolong siapkan untuk dua orang ya mbok!"
"Baik, Non" ujar mbok Inah yang lalu membalikkan badannya hendak mempersiapkan meja makan.
Belum sempat Dinda menutup pintu, mbok Inah kembali berkata
"Eh, non. Handphone punya Non Dinda dikamar, berbunyi terus dari tadi. Tadi mbok sempat melihat sebentar, ada panggilan masuk. Kalo nggak salah lihat namanya itu klien"
"Oh, nggak apa-apa, mbok. Hari ini kan libur, biar aja. Orangnya pasti ngerti aja kalau Dinda lambat merespon," kata Dinda.
Mbok Inah tanpa berkata apa-apa lagi, kemudian berlalu pergi melanjutkan pekerjaannya.
Dinda menutup pintu. Dia melihat Rudi masih duduk di pinggir ranjang.
Dinda duduk di pangkuan Rudi. Berhadap hadapan memeluk lelaki itu.
Rudi menanggapi sikap manja Dinda dengan memeluk tubuh gadis itu.
Kemudian Rudi mencium bibir merah Dinda. Gadis itu membalas ciuman Rudi.
__ADS_1
Mereka berciuman beberapa waktu lamanya.
"Tok, tok, tok"
Ketukan di pintu terdengar lagi, menganggu ciuman mereka berdua.
"Makanannya sudah siap non!" suara mbok Inah selanjutnya terdengar setelah ketukan dipintu itu.
"Baik, mbok!" teriak Dinda.
Dinda mendekatkan wajahnya kearah Rudi. Sekali lagi mereka berciuman.
"Ayo kita pergi makan dulu, kasihan mbok Inah menunggu," kata Rudi menghentikan ciumannya.
Mereka bergandengan tangan, kemudian pergi ke meja makan, dimana mbok Inah terlihat sudah menunggu. Makanan sudah siap terhidang disitu.
Dinda dan Rudi menikmati makanan yang di sajikan mbok Inah.
Selesai makan mereka berdua duduk bersantai sambil menonton televisi di ruang tengah.
Ponsel Rudi kemudian berbunyi.
Rudi melihat layar handphonenya.
"Din, aku balik dulu ya! Ada teman ku menunggu dirumah,"
"Oh..." kata Dinda
Rudi menatap Dinda. Dia merasa kalau gadis itu seperti kurang senang.
Rudi menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Dinda mengerti maksud Rudi. Gadis itu mengambilkan koper milik Rudi dari dalam kamar.
"Nanti aku kesini lagi, kalau urusanku sudah beres ya, sayang ?!" kata Rudi. Lelaki itu mengecup kening Dinda.
Gadis itu mengangguk.
Dinda masih berdiri dipintu pagar sampai mobil Rudi tidak terlihat lagi.
Gadis itu benar-benar tidak menyadari keberadaan mobil yang terparkir di seberang jalan.
Dinda melangkah masuk. Dia ke kamar mengambil ponselnya.
"AKU DI DEPAN"
Dinda membaca teks pesan yang baru saja masuk di handphonenya.
Tubuh Dinda gemetaran. Ini Billy lagi.
Setengah berlari, gadis itu keluar dari kamarnya.
Dinda berdiri di dekat pagar.
Billy sudah keluar dari mobilnya. Dia berjalan mendekati Dinda.
"Apa lagi yang kamu lakukan disini?" Dinda tampak khawatir, celingak-celinguk ketika Billy sudah didekatnya. Karena sudah sore, banyak orang yang berjalan jalan lalu-lalang dijalanan perumahan itu.
__ADS_1
Billy menangkap rasa tidak nyamannya Dinda. Dia memanfaatkan kesempatan itu, Billy kemudian berkata
"Ikut aku, kalau kamu nggak mau ada keributan disini!"
Billy memegang tangan Dinda menuntun gadis itu ke mobilnya.
"Aku belum pamit dengan mbok Inah," Dinda membuat alasan.
Billy tidak perduli. Dia menjalankan mobilnya, kemudian pergi dari situ dengan membawa Dinda bersamanya.
Wajah Billy merah padam, tampak mencolok di kulit nya yang putih.
"Aku cemburu! Aku akan membunuh lelaki itu!" kata Billy setelah memarkirkan mobilnya di parkiran basement, salah satu pusat perbelanjaan.
Dinda tahu kalau tidak ada salahnya jika dia menghabiskan waktu bersama Rudi, meskipun Billy mengetahuinya. Tapi tetap saja...
Tubuh Dinda gemetar hebat. Gadis itu ketakutan. Dia bisa merasakan kemarahan Billy.
Dinda mengumpulkan keberaniannya.
"Kamu sudah gila? Itu tunanganku, apa masalahmu?" kata Dinda setengah berteriak.
Kata-kata Dinda benar benar memancing emosi Billy sampai kepuncak. Billy mengepalkan tangannya. Lelaki itu meninju dashboard mobilnya sampai berbunyi keras.
Dinda memejamkan mata dan menutup telinga dengan kedua tangannya, sambil menundukkan wajahnya.
Billy merasa puas meluapkan kekesalannya. Namun didetik itu juga dia langsung menyesali perbuatannya, ketika melihat Dinda histeris.
Kemarahannya memudar.
Billy memegang tangan Dinda.
Gadis itu menepisnya.
Billy tetap saja memaksa. Lelaki itu berusaha memegang tangan gadis itu erat-erat.
Beberapa saat kemudian, Dinda mulai tenang. Dia membiarkan Billy menggenggam tangannya.
Billy memandangi Dinda, kemudian lelaki itu tertunduk.
"Maafkan aku...! Please maafkan aku Dinda!"
Dinda sudah tenang. Masih menunduk, gadis itu melihat tangan Billy. Darah segar mulai menetes dari tangan lelaki itu. Tangan Billy terluka, tapi tampaknya lelaki itu tidak menyadari rasa sakitnya.
Dinda panik. Gadis itu menarik beberapa lembar tissue, dan mulai menempelkan keatas luka ditangan Billy.
"Kamu bodoh! Kamu sudah gila!" kata Dinda setengah berteriak. Dia masih berusaha mengelap darah yang menetes dari tangan Billy. Air mata gadis itu mengalir deras di wajahnya.
Billy mengusap air mata diwajah Dinda dengan sebelah tangannya.
"Jangan menangis sayang...! Maafkan aku!" kata Billy mengiba.
Darah ditangan Billy sudah berhenti menetes.
Dinda terisak-isak.
Menggunakan helaian tissue, Dinda masih mengusap luka Billy dengan lembut perlahan lahan
__ADS_1
Billy memeluk gadis itu.
"Maafkan aku!" Berkali-kali Billy meminta maaf atas sikapnya pada Dinda.