
Malam itu kegelisahan Dinda membuatnya tidak bisa tidur. Perasaannya campur aduk. Gadis itu merasa malu tapi juga ada perasaan senang. Dia membayangkan wajah Rudi.
Tampan dan menarik. Garis wajah tegas dengan sorot mata yang tajam, hidung mancung, bibirnya cukup merah untuk standar bibir lelaki.
Aaahh, dia mengingat bibir Rudi yang menempel di bibirnya. Gadis itu memegang bibirnya sendiri. Sedetik kemudian dia menyesal, kenapa aku gak menolak? apa nanti dia tidak menganggapku murahan ?
Gadis itu menekan wajahnya ke bantal. Dia menyesal tapi dia juga menikmati kebodohannya.
Bagaimana kalau bertemu lagi nanti ? aku harus bagaimana nanti ? apa dia menyukai ku? apa aku juga memang menyukainya ? apakah cuma khilaf ? pertanyaan demi pertanyaan muncul dipikirannya.
Tubuh yang lelah akhirnya tertidur meski dengan pertanyaan yang tidak ada jawabannya.
Pagi dihari sabtu itu, seperti biasa Dinda pagi pagi sudah bangun. Gadis itu ke dapur untuk sarapan. Mbok Inah sedang mencuci panci bekas dipakai memasak.
Dinda membuat segelas kopi latte, dan menikmatinya sambil duduk di meja dapur.
"Sarapannya sudah jadi tuh, Non!" kata mbok Inah.
"Iya mbok!" ujar Dinda. Kopinya baru diseruputnya sedikit. Dia lalu memakan sarapan yang sudah dimasak mbok Inah. Selesainya, dia membawa sisa kopinya lalu duduk diruang tengah.
Hari ini tidak ada kuliah. Dinda bisa bersantai di rumah. Suasana sepi terasa dirumah itu. Dinda hanya berdua dengan mbok Inah. Papanya belum kembali, rencananya hari minggu besok baru pulang.
Dinda menyalakan televisi. Memindah chanel satu persatu, melihat lihat kalau ada yang menarik. Dia menghentikan pencariannya di salah satu chanel yang menayangkan kartun yang dia sukai waktu dia masih kecil. Dia menonton sampai hampir satu jam lamanya.
Telepon genggamnya berbunyi. Dinda berlari kekamar. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja lampu di samping ranjang.
Panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Dia tidak menjawabnya. Dia hanya melihat dan membawa ponselnya kembali ke ruang tengah sampai nada dering benda itu, berhenti sendiri.
Kembali ponselnya berbunyi.
Dinda melihat, ada pesan whatsapp masuk.
"Dinda, ini nomorku Rudi"
Mata Dinda terbelalak. Hampir saja dia tersedak kopi yang diseruputnya.
Gadis itu kebingungan antara harus membalas atau tidaknya pesan Rudi. Pikirannya kembali melayang layang. Kini perasaan malu yang lebih banyak muncul.
__ADS_1
Dia pura pura tidak membaca pesan itu, dan kembali menonton televisi. Tapi dia tidak bisa konsentrasi.
Dia melihat isi pesan itu lagi. Dinda tidak tahu harus menulis apa. Akhirnya dia membalas chat hanya dengan mengetik "Oke"
Dinda menatap layar ponselnya menunggu balasan. Namun sekian lama dia menunggu, tidak ada pesan baru yang masuk. Dia merasa seperti orang bodoh. Dia meninggalkan ponselnya, dan bergegas mandi.
Saat sedang merapikan buku buku dikamarnya, Dinda teringat kalau dia ada janji mengantar tugas, dengan salah satu dosen. Dia buru-buru mengganti baju rumahannya, dengan pakaian yang pantas.
Dilihatnya jam ditangan, astaga terlambat. Dia lalu menelpon dosen itu.
"Hallo, iya buk! Maaf saya lupa, sebentar saya kesitu! Saya sudah mau jalan! Baik! Trimakasih buk!"
Dinda kemudian berlalu dengan sepeda motornya.
Baru saja dia selesai mengantar tugasnya, ponselnya sudah berdering.
Laura yang menelponnya.
"Hallo"
"Din, kamu lagi dirumah?"
"Oh, temani aku belanja ya?"
"Ok, bentar aku ke tempatmu."
"Jangan! Aku sudah dekat rumahmu ni, kamu pulang aja!" ternyata Laura sedang menuju rumah Dinda
"Oke," Dinda mengakhiri telponnya dan kembali melaju pulang kerumah.
Laura sudah duduk diteras depan ketika Dinda memasukkan sepeda motor matik nya ke dalam garasi. Papa Dinda sebenarnya sudah mengajak Dinda membeli mobil baru untuk Dinda pakai, tapi gadis itu menolak, dia merasa lebih nyaman mengendarai sepeda motor.
"Males pa, jalanan sering macet. Ribet!" itu alasan yang selalu dikatakan Dinda.
Dinda hanya melambai kearah Laura seraya masuk kedalam rumah.
Tak lama gadis itu keluar lagi.
__ADS_1
"Aku pamitan sama mbok Inah dulu tadi. Ayo kita pergi!" kata Dinda.
Kedua gadis itu lalu berlalu menuju kearah Mall dengan mobil yang dibawa Laura.
Kesana kemari mereka berdua berjalan berkeliling pusat perbelanjaan. Ditangan Laura sudah menggantung beberapa kantong penuh dengan belanjaan.
Sedangkan Dinda hanya memegang satu kantong, itu pun tidak sampai penuh.
"Kamu nggak mau beli yang lain? Aku yang bayarin," ujar Laura sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ah, nggak! Aku cuma butuh kemeja tambahan, untuk dipakai kuliah," kata Dinda.
Mereka lanjut berjalan. Kemudian mata mereka berdua tertuju pada salah satu manekin
"Celananya bagus banget!" hampir berbarengan mereka berteriak tertahan.
Keduanya lalu membeli celana yang bermodel sama.
"Sekali kali couple deh!" kata Laura.
"Iya," jawab Dinda.
Mereka berdua memuaskan keinginan belanjanya disitu, sebelum mereka pergi makan di salah satu restoran cepat saji.
Masi merasa tidak puas jalan-jalan. Laura mengajak Dinda pergi menonton bioskop.
"Kenapa nggak ajak Eko? Ini film romantis. Ntar dikira orang, kita lesbi!" kata Dinda bergurau dengan temannya itu.
"Yaa udah... Aku telpon dia dulu!" ujar Laura yang menganggap Dinda serius.
Kedua gadis itu duluan masuk kedalam gedung bioskop tanpa menunggu Eko datang.
Film belum lama di putar, Eko menyela tempat duduk kedua gadis itu. Laura senang Eko sudah datang. Sedangkan Dinda sedikit menyesal karena gurauannya, dia malah jadi obat nyamuk untuk temannya itu.
Dinda bergeser tempat duduk agar sedikit berjarak dari Laura dan Eko. Dia mengunyah popcorn sambil menggerutu dalam hati, melihat kemesraan pasangan muda mudi itu.
Tak disangka, tidak beberapa lama ada seseorang lagi yang datang, lalu duduk disamping Dinda.
__ADS_1
Rudi.
Jantung Dinda kembali berdegup kencang. Sendi-sendi tulangnya terasa lemah seketika.