OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 72


__ADS_3

Billy terlihat berjalan, sambil membawa tiga gelas minuman ditangannya. Dia menyusuri koridor rumah sakit tempat Dinda dirawat.


Dinda belum selesai dioperasi. Billy melihat Rudi sedang duduk bersama Alex. Jarak mereka bersela satu kursi. Mereka duduk tepat didepan pintu ruang operasi.


Rudi kelihatan seperti membenci Alex, begitu juga sebaliknya. Billy melihat mereka dari ujung koridor. Tidak ada tanda-tanda mereka berdua mengobrol.


Billy lebih lagi membenci dua orang lelaki itu, tapi dia masih ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Alex, aku mau kamu ceritakan apa yang terjadi," ujar Billy sambil menyodorkan satu gelas minuman kearah Alex. Kemudian menyodorkan satu gelas lagi kepada Rudi.


"Kemarin sore, aku nggak ingat jam berapa... Waktu aku lagi berburu, aku dengar ada suara yang nyaring seperti ada yang terbentur keras. Jadi aku mengikuti asal suara...


Ketika aku makin dekat, aku bisa lihat ada mobil berwarna putih. Waktu aku liat kedalam, ternyata Dinda yang ada disitu, sudah pingsan... Jadi aku membawanya kekabin," kata Alex.


"Bukannya kamu kemarin sempat aku telpon?" tanya Billy heran.


"Iya, aku juga nggak tahu kenapa, di posisi itu aku bisa mendapat sinyal. Padahal dilembah itu setahu aku tidak ada sinyal sama sekali," ujar Alex sambil menyeruput minumannya sedikit.


"Kamu kok nggak bilang kalau Dinda ada denganmu?" tanya Billy lagi masih penasaran.


Alex menatap Billy, yang memasang wajah seakan tidak percaya padanya. Alex merasa kesal.


"Maksud pertanyaanmu apa? Apa kamu kira aku sengaja mencelakai Dinda? Kamu kira aku segila itu?" tanya Alex ketus.


"Aneh aja sih menurutku..." ujar Billy.


Alex mengertakkan giginya, dia lalu melihat kearah pintu ruang operasi yang lampu tanda nya masih menyala. Dia teringat dengan Dinda. Alex menahan emosinya.


"Kalau begitu aku ceritakan detail kejadiannya," Alex menghela nafas panjang


"Kemarin sore aku lagi berburu tupai, terus aku dengar ada bunyi nyaring menggema diatas lembah. Jadi aku berjalan mencari asal suara. Tiba-tiba handphone ku berbunyi...


Itu yang aneh karena setahu aku dilembah itu tidak ada sinyal sama sekali. Aku lihat kamu yang telpon, jadi aku menyambutnya...


Setelah ngobrol denganmu, aku berjalan lagi, sampai kedasar lembah, karena masih penasaran bunyi apa yang aku dengar," Alex kembali menghela nafas panjang.


"Aku lalu lihat mobil warna putih dengan posisi moncongnya tertancap sedikit di lumpur. Bagian depan mobil rusak parah. Waktu aku mendekat, aku lihat Dinda sudah pingsan didalam situ," sambung Alex.


Alex kelihatan sangat sedih, saat mengingat kondisi Dinda waktu itu. Dia sempat mengira Dinda sudah mati. Alex melanjutkan ceritanya


"Aku menggendong Dinda naik keatas lembah dimana kabin ku berada," Lelaki itu menarik nafasnya yang terasa berat.


"Dinda terluka cukup parah. Kakinya terjepit di antara dashboard dengan lantai mobil. Aku mau membawanya berobat keluar dari lembah itu...

__ADS_1


Tapi aku cuma mampu berjalan sampai ke kabin," kata Alex, lalu menatap kedua lelaki itu bergantian.


"Kalian lihat 'kan medannya untuk sampai keatas? Nggak mungkin aku bisa membawanya naik sendirian," ujar Alex.


"Kenapa kamu nggak menghubungi kami lebih awal?" tanya Rudi yang kini makin penasaran


"Kamu bercanda? kamu nggak dengar aku bilang disitu tidak ada sinyal?" Alex meninggikan suaranya. Dia lalu melihat kepintu ruang operasi. Dia melemah.


"Sebenarnya aku punya telepon satelit, yang aku gantung di pinggang. Tapi waktu menggendong Dinda, aku kehilangan benda itu. Aku baru sadar saat aku sudah meletakkan Dinda di dalam kabin," kata Alex kini suaranya sudah seperti biasa


"Aku tadi siang sempat mencari benda itu, tapi nggak ketemu. Aku sebenarnya sudah berpikir untuk naik sendiri...


Tapi aku khawatir terjadi apa-apa dengan Dinda, kalau aku tinggalkan dia sendirian disitu" ujar Alex, yang tampak menyesali keputusannya yang hampir terlambat.


Billy dan Rudi yang mendengar cerita Alex merasa kalau Alex bicara yang sebenarnya, karena Alex terlihat frustrasi saat menceritakan kejadian itu.


Alex terlihat sangat mengkhawatirkan Dinda.


Mereka terdiam sebentar, kemudian Alex seperti teringat akan sesuatu.


"Kata Dinda, dia mengemudi kearah desa yang terpencil, karena dia mendapat kabar kalau kamu kecelakaan. Apa benar begitu?" tanya Alex pada Rudi.


Rudi menggeleng. Dia lalu tertunduk.


"Nggak mungkin Dinda sebodoh itu langsung percaya tanpa mencoba menghubungi kamu dulu!" seru Alex, kini wajahnya sudah tampak kesal


Telinga Alex terasa panas, mendengar perkataan Billy. Dengan cepat dia berdiri, lalu mendaratkan tinjunya ke wajah Rudi.


"Kenapa kamu seceroboh itu? Meninggalkan Dinda, tapi hpmu kamu nggak periksa? Terus bagaimana kamu bisa tahu keadaannya?" Alex hampir berteriak. Tubuhnya gemetar menahan amarahnya.


Billy menahan Alex.


"Sudah...! Percuma...! Rudi juga tidak sengaja," ujar Billy.


"Laki-laki goblok! ini yang kamu bilang kamu mencintai Dinda? Kamu lebih baik menyingkir, laki-laki nggak guna!" Alex masih meradang.


Alex sedih sekali mengingat kondisi Dinda, waktu dia keluarkan dari mobil. Dia benar-benar tidak tega melihat gadis itu terluka, sampai nyaris meninggal dunia.


"Kamu tahu nggak? Hanya karena keajaiban Dinda masih hidup dengan kondisi mobil yang sudah hancur sampai begitu!" Alex gemetar hebat.


Billy mengajaknya untuk duduk. Untuk menenangkan diri.


Rudi yang sedari tadi dibentak Alex, hanya terdiam sambil memegang rahangnya yang terasa sakit. Dia mengusap darah yang mengalir keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Kira-kira Dinda dapat telepon dari siapa? Ada dia bilang ke kamu, Lex?" tanya Billy mengalihkan kekesalan Alex kepada Rudi, sekalian mencari informasi.


"Dia nggak bilang. Tadi aku menemukan hp nya, tapi sudah mati. Nggak tahu apa memang rusak, atau cuma habis baterainya aja," ujar Alex.


"Dimana hp Dinda?" tanya Billy lagi.


"Kayaknya ketinggalan di kabin, ada dalam tasnya. Nggak ada yang bawa itu tadi?" Alex balik bertanya.


"Sepertinya memang nggak ada yang ambil. Semua sibuk mengurus Dinda," ujar Billy, setelah berpikir sejenak.


Mereka bertiga terdiam disitu. Rudi berpindah tempat duduk menjauh dari Alex dan Bily.


Alex melihat gerak-gerik Rudi.


"Dinda wanita hebat!" celetuk Alex tiba-tiba


Billy menatap Alex, seakan menunggu Alex mau bicara apa lagi.


"Kalau aku mungkin belum tentu bisa bertahan selama itu. Dia tidak menangis meskipun aku tahu lukanya pasti sangat sakit. Dia masih kelihatan tegar, seakan baik-baik saja." Alex mengusap seluruh wajahnya dengan tangan.


"Aku rasa aku benar-benar mencintai Dinda..." ujar Alex. "Tapi entah mengapa, Dinda malah memilih laki-laki bodoh seperti Rudi"


Billy terdiam. Dia melihat Alex lalu melihat Rudi bergantian. Dia percaya kalau Alex sepertinya tidak ada hubungannya dengan kecelakaan, yang terjadi pada Dinda.


Untung saja tempat kecelakaan itu terjadi dekat dengan tempat Alex. kalau tidak, entah apa yang terjadi pada Dinda.


Rudi sesekali melirik Alex dan Billy. Mengingat reaksi Alex tadi, dia merasa bersalah karena sempat mencurigai Alex. Padahal Alex lah yang menolong Dinda.


Mereka bertiga, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Billy masih penasaran dengan telepon yang diterima Dinda. Apa nomornya sama dengan pesan yang masuk ke ponsel Billy. Karena kalau memang benar begitu, kemungkinan Dinda masih belum aman.


Billy mengeluarkan ponsel dari saku nya lalu memperlihatkan isi pesan pada Alex. "Coba kamu lihat ini!"


Alex memperhatikan isi pesan, lalu fokus ke nomor telepon yang tertera disitu.


"Itu sepertinya nomor prabayar. Agak sulit mencari asal pengirimnya kalau begitu," ujar Alex sambil mengerutkan alisnya.


"Dinda mendapat telepon dengan kabar palsu, begitu juga denganku. Bagaimana kira-kira menurutmu?" ujar Billy meminta tanggapan Alex.


Alex terbelalak, dia tersadar kalau Dinda mungkin masih dalam bahaya.


"Kita harus terus menjaga Dinda. Jangan sampai Dinda sendirian. Menurutku ada yang sengaja menjebak Dinda" ujar Alex yang tampak cemas.

__ADS_1


Billy memanggil Rudi, lalu mereka membicarakan, apa yang sempat Billy dan Alex bicarakan berdua tadi.


Mereka lalu memikirkan cara untuk memancing, si pemilik nomor yang tidak dikenal itu.


__ADS_2