
Sepanjang minggu kembali berlalu. Satu minggu yang terasa berat, dan sangat melelahkan bagi Dinda.
Sambil bekerja, Dinda masih harus membagi waktu dengan pemeriksaan yang dilakukan petugas kepolisian, untuk kasus yang menimpanya waktu itu.
Kejadian terburuk bagi Dinda, sampai-sampai mobil yang dia beli, tidak mampu untuk dia pakai, hanya terpakir begitu saja.
Kesana kemari, Dinda masih saja menggunakan taksi online.
Dinda merasa agak menyesal, karena keputusannya untuk membeli mobil baru.
Terasa terlalu tergesa-gesa, pikir Dinda.
Ada yang berbeda di pagi akhir pekan itu. Dinda memang merasa lelah karena aktifitas setiap harinya, tapi kali ini dia merasa kalau dia lebih lelah dari biasanya.
Sudah hampir siang, Dinda tidak ada semangat untuk melakukan apa-apa. Dia hanya berbaring di ranjang, sambil memainkan ponselnya.
Sekian lama tidak ada kabar dari Rudi, Billy atau Alex, membuat Dinda seakan lupa dengan keberadaan mereka semua.
Yang ada dalam pikiran Dinda hanya pekerjaannya saja.
Libur akhir pekan kali ini, dia berniat untuk menghabiskan waktunya dengan bersantai di ranjang semaunya.
"Non...! Nooon!" suara panggilan mbok Inah, membuat Dinda mau tidak mau berdiri dari ranjang.
"Iya, Mbok! sebentar!" sahut Dinda.
Saat Dinda berdiri dari tempat tidurnya, kepalanya terasa agak pusing. Tapi dia tetap berjalan untuk membukakan pintu untuk mbok Inah.
Baru saja dia membuka pintu, dia tidak sempat melihat mbok Inah, tiba-tiba dia terjatuh kelantai.
"Non!" teriak mbok Inah.
"Kepalaku pusing sekali mbok..." keluh Dinda, yang merasa badannya lemas. Dinda memejamkan matanya, karena kepalanya terasa sangat pusing.
Dinda bisa mendengar langkah kaki tua mbok Inah, agak berlari keluar dari kamarnya.
Tak lama, Dinda bisa mendengar langkah yang lebih cepat dan tegas berlari kearahnya.
"Dinda! Dinda! Kamu kenapa?" seru orang itu.
Dinda mengenal baik suara lelaki itu.
Tapi, dia masih merasa tidak percaya, kalau lelaki itu akan tiba-tiba kembali ke hidupnya lagi, setelah beberapa waktu menghilang tidak ada kabarnya.
Dinda tidak menyahut, tapi dia lalu mencoba membuka matanya perlahan. Kemudian Dinda memejamkan matanya lagi.
Billy.
Tubuh Dinda diangkat Billy keatas ranjang, lalu membaringkannya disitu.
"Kamu kenapa? Apa yang sakit?" tanya Billy, dengan suara yang terdengar khawatir.
"Kepalaku pu..." belum sempat Dinda meneruskan kalimatnya, dia tiba-tiba merasa sangat mual.
Dia berusaha bangkit dari tempat tidurnya, tapi ditahan Billy.
"Kamu mau kemana?" ujar Billy.
Ketika Billy menyadari kalau Dinda seperti menahan rasa akan muntah, barulah lelaki itu dengan cepat memegang Dinda, dan membawanya ke kamar mandi.
Dinda berjongkok di kloset. Berkali-kali dia merasa seperti akan mengeluarkan isi perutnya, tapi tidak bisa.
__ADS_1
Billy yang ikut berjongkok disamping Dinda, kemudian memijit tengkuk Dinda pelan-pelan.
Dinda menjauhkan wajahnya dari dudukan kloset, kemudian terduduk dilantai saat dia tidak merasa mual lagi. Mata Dinda masih saja terpejam, dia masih merasa pusing.
Badannya benar-benar lemas karena mualnya tadi.
Billy merangkul pundak Dinda agar tidak terbaring ke lantai. Keduanya terdiam disitu untuk beberapa waktu.
"Non! Mbok buatkan air jahe yaa?! Kayaknya Non masuk angin," ujar mbok Inah, yang ikut berdiri didepan pintu kamar mandi.
"Iya, mbok!" sahut Dinda. Dia bisa mendengar langkah mbok Inah, yang berjalan pergi dari situ.
"Sudah baikkan? Atau masih mual?" tanya Billy, yang terdengar sangat cemas.
Dinda kembali mencoba membuka matanya perlahan-lahan. Dia masih melihat sekelilingnya seperti berputar-putar.
"Sudah nggak mual... Tapi aku masih pusing," sahut Dinda. Dia mengerutkan alisnya sambil memijat-mijat dahinya.
"Aku bawa kamu ke tempat tidur, yaa?!" ujar Billy.
Meski Dinda tidak menjawab apa-apa, Billy tetap menggendong Dinda keluar dari kamar mandi, kemudian membaringkannya ke atas ranjang.
"Sudah berapa lama kamu merasa seperti ini?" tanya Billy.
"Baru beberapa hari. Tapi, biasanya cuma pusing sebentar terus hilang. Nggak sampai mual kayak tadi," sahut Dinda.
Mendengar perkataan Dinda, Billy hanya terdiam.
"Nggak apa-apa...! Mungkin, aku hanya kecapekan," sambung Dinda lagi.
Billy tidak menanggapi omongan Dinda. Lelaki itu tetap saja terdiam.
Dinda merasa heran dengan keheningan yang terjadi disitu. Dia kemudian mencoba membuka matanya lagi. Kali ini sudah agak mendingan, masih terasa pusing tapi sudah tidak seburuk tadi.
"Kenapa?" tanya Dinda, penasaran melihat Billy yang memandanginya.
Billy menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Kamu kapan datang bulan?" tanya Billy, dengan tampang serius.
Setelah terdiam berpikir sebentar, Dinda lalu terbelalak. Dia benar-benar terkejut. Selama ini saking sibuk dengan kegiatannya, dia melupakan tanggal datang bulannya.
Seakan mendapat tenaga lebih, buru-buru dia duduk lalu melihat tanggal dari ponsel yang tergeletak di dekatnya.
Astaga.
Dinda merasa tubuhnya kembali lemas. Dinda terlambat datang bulan, sudah terlewat dua minggu.
"Aku telat!" ujar Dinda, dengan suara bergetar. Dia tidak menyadari, kalau itulah yang membuat rasa ditubuhnya berbeda.
Billy seperti sudah menduganya, masih terlihat tenang disamping Dinda, yang wajahnya pucat pasi.
Air mata Dinda sudah diujung matanya. Tubuhnya gemetar.
Pikirannya dipenuhi berbagai macam hal dan pertanyaan demi pertanyaan.
Bagaimana ini? Apa aku memang hamil? Bagaimana dengan pekerjaanku? Apa yang akan terjadi nanti?
Billy memeluk Dinda erat-erat. Dinda hanya terdiam, dia masih tenggelam dalam pikirannya.
"Non...! Ini, diminum dulu air jahenya!" suara mbok Inah, hampir tidak terdengar lagi oleh Dinda.
__ADS_1
Dinda menoleh, tanpa menjawab apa-apa.
"Taroh diatas meja aja, Mbok!" sahut Billy, yang masih memeluk Dinda.
Mbok Inah menuruti perkataan Billy, kemudian dia berjalan keluar dari kamar.
"Kita periksa kedokter, atau mau periksa sendiri dirumah?" tanya Billy, yang terdengar bersemangat.
Dasar bodoh! Apa dia senang kalau aku hamil? pikir Dinda.
Dinda mendorong Billy, agar melepas pelukannya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Dinda sambil mengerutkan alisnya. Dia merasa kesal dengan lelaki itu.
Billy menatap Dinda dengan tatapan lembut. Dia mengelus rambut Dinda.
"Aku akan bersamamu selamanya..." sahut Billy, dengan suara tenang.
"Bagaimana kamu yakin kalau ini anakmu?" tanya Dinda, memancing Billy.
"Aku tahu kalau Rudi berlari seperti pengecut darimu... Sedangkan Alex tidak mungkin bisa lebih berani dari Rudi. Aku yakin kalau kamu hamil, itu pasti karena aku!" ujar Billy, sambil mengecup kening Dinda.
Dinda makin kesal. Wajahnya merah padam. Dinda mengelap bekas kecupan Billy di dahinya dengan tangan.
Billy tidak perduli, dia kembali memeluk Dinda erat-erat, meskipun Dinda terus memberontak, sampai Dinda lelah dan berhenti sendiri.
Dinda mulai menangis.
Billy mengelus bagian belakang kepala Dinda, saat Dinda sudah pasrah menyandarkan wajahnya didada Billy.
"Aku mencintaimu... Selalu... Sekarang, aku akan selalu bersamamu..." kata Billy menenangkan Dinda.
Mendengar itu Dinda makin merasa sedih. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Kamu nggak usah khawatir... Aku akan mempercepat pengurusan perceraianku, kemudian aku akan menikahimu," ujar Billy.
"Aku akan mengabari dia, untuk bercerai dariku secepatnya. Kalau urusan pekerjaanmu, kamu tenang saja. Atasanmu tidak akan memecatmu. Aku yang akan mengurusnya," sambung Billy, seolah mengerti apa yang Dinda pikirkan.
Dan benar saja, mendengar perkataan Billy, tangisan Dinda mulai reda. Dinda memeluk Billy, dan benar-benar pasrah kepada lelaki itu.
Mereka berpelukan cukup lama, sampai Billy yang penasaran, bersemangat untuk mengajak Dinda melakukan test pack.
"Mau test sendiri aja dulu?" tanya Billy, sambil tersenyum lebar.
Dinda hanya mengangguk, dia tidak tahu mau bicara apa lagi.
"Tunggu disini sebentar!" seru Billy.
Billy berlari keluar kamar. Dinda bisa mendengar suara pintu depan terbuka, lalu tertutup. Billy pergi membeli alat tes kehamilan mandiri.
Tidak butuh waktu terlalu lama Dinda melamun dikamarnya, Billy sudah kembali ke kamar Dinda lagi, lalu menyodorkan kantong plastik kepada Dinda.
Dinda kemudian berjalan kekamar mandi, sambil membawa kantong belanjaan itu. Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat isi kantong itu. Kelihatannya, lebih dari sepuluh buah alat test pack yang di beli Billy.
Saat Dinda selesai mencoba alat itu di urinenya, dia rasanya tidak berani melihat hasilnya. Dinda membawa benda itu, kemudian menyerahkannya kepada Billy.
Wajah Billy terlihat sangat senang, dia memeluk tubuh Dinda sampai terangkat dari lantai.
"Aku mencintaimu!" ujar Billy senang.
Setelah Billy menurunkan Dinda, barulah dia melirik benda itu yang diletakkan Billy diatas meja.
__ADS_1
Garis Dua.