
Dinda melihat jam ditangannya. Sudah pukul tiga lewat beberapa menit. Dia berniat kembali kekota.
Dinda merapikan wajah dan rambutnya didepan cermin. Dia kemudian merapikan tasnya.
Belum sempat berkata apa-apa, Billy seakan sudah tahu kalau Dinda sudah mau pulang. Lelaki itu lalu berkata
"Bisa temani aku malam ini?"
Dinda berhenti merapikan tasnya.
Dia menatap Billy.
"Aku harus pulang!" kata Dinda
"Kamu tinggal disini malam ini, atau aku mengawasi dari dalam mobil didepan rumahmu seperti biasa? Pilih mana?" kata Billy
"Jangan aneh-aneh kamu itu! Aku mau pulang!" ujar Dinda.
"Ok kalau begitu! Kalau aku pingsan atau mati didalam mobil, itu salahmu!" kata Billy lagi dengan enteng mengancam Dinda.
Dinda terduduk lagi.
"Astaga... Billy! Aku lelah dengan sikap mu ini!" kata Dinda.
Seketika kepala Dinda terasa sakit. Dinda memijat kepalanya.
"Terserah kamu! Kalau kamu pulang, aku tetap akan menunggu didepan rumahmu. Aku nggak perduli kalau aku sakit lagi!" kata Billy.
Billy benar-benar lelaki yang manipulatif.
Dinda memutar otak. Bagaimana ini? Dia tahu seberapa keras kepalanya Billy. Lelaki itu selalu penuh dengan drama.
Dinda berniat untuk tetap pulang, tapi dia cemas dengan Billy yang bisa bertindak nekat.
Ya Tuhan, Dinda benar-benar pusing dibuat Billy.
"Nggak bisa kah kamu bersikap dewasa sedikit?" kata Dinda
"Aku nggak perduli. Aku sudah bilang, aku mau kamu temani aku. Kamu liat sendiri tadi kan, meskipun aku sakit aku tetap pergi menemuimu. Aku nggak main-main. Kalau kamu sampai pulang, aku akan menyusulmu!" kata Billy tetap saja bersikeras agar Dinda menuruti kemauannya.
Dinda kembali memutar otak. Dia harus punya sesuatu untuk dikatakan kepada Billy agar mengijinkannya pulang.
"Aku nggak punya baju ganti. Masa aku harus pakai baju ini sampai besok?!" Dinda mencari alasan. Dia berusaha bicara selembut-lembutnya, membujuk lelaki itu.
"Nggak! Kamu jangan pake alasan receh begitu. Ada baju dilemari itu, silahkan pilih!" kata Billy sambil menunjuk lemari besar didalam kamar itu.
"Aku mau pulang...! Besok pasti aku temui kamu lagi..." Dinda memohon.
"Dinda, kamu nggak dengar yang aku bilang? Coba aja kamu pulang, kalau kamu mau aku buktikan omonganku!" Billy tidak mau kalah.
__ADS_1
"Terserah kamu! Kalau ada apa-apa, aku nggak perduli, itu salahmu sendiri!" Kata Dinda.
Setengah berlari Dinda keluar dari kamar, meninggalkan Billy, yang duduk bersandar diatas ranjang.
Billy tidak langsung menyusulnya. Lelaki itu tetap berdiam diri dikamar.
Dinda masuk kedalam mobil Billy yang terparkir diluar. Dia melihat ke arah garasi didepannya.
Dinda terduduk diam dikursi supir. Masih ada dua mobil lagi yang terparkir disitu.
Billy bisa menyusulnya kerumah kalau dia memang nekat. Dan Billy pasti nekat pergi kerumah Dinda. Lelaki itu tidak pernah bicara omong kosong. Ego nya tinggi, dia pasti saja membuktikan omongannya, pikir Dinda.
Dinda hilang keberaniannya. Jelas gadis itu khawatir dengan kondisi Billy sekarang, kalau harus menyetir jauh ke kota.
Dinda menyerah. Dia keluar lagi dari mobil. Melangkah masuk kembali kedalam vila itu.
"Aku nggak pulang... Aku dikamar sebelah, kalau ada apa-apa, panggil aja!" Kata Dinda.
Gadis itu melangkah, hendak pergi kekamar lain. Baru saja selangkah dua langkah kakinya berjalan keluar, Billy berkata
"Nggak! Aku mau kamu temani aku di kamar ini aja! Kalau kamu di kamar lain, apa bedanya dengan mereka yang bekerja disini?!"
Aaarrgh... Billy membuat Dinda frustrasi. Lelaki ini banyak betul maunya.
Dinda berbalik masuk ke kamar Billy.
Didekat situ ada lemari buku. Dinda mengambil sebuah buku yang dirasanya cukup menarik dan mulai membacanya.
Dinda memposisikan tubuhnya agar nyaman saat membaca. Dia menyandarkan punggungnya sampai hampir terbaring di kursi itu dan kedua kakinya diletakkan keatas meja sudut.
Dinda tenggelam dalam cerita dibuku. Dia seakan lupa keberadaan Billy didalam kamar itu.
Sesekali Dinda tersenyum dan tertawa kecil. Cerita komedi romantis di buku itu membuatnya terhibur.
Melihat Dinda asyik dengan bukunya, Billy merasa tidak diperdulikan. Lelaki itu jadi kesal. Dia berencana mengganggu Dinda.
Billy turun dari ranjang, melangkah perlahan lahan mendekati Dinda.
Dinda tidak sadar dengan kelakuan Billy. Dia masih saja larut dalam bacaannya.
Billy memeluk tubuh Dinda. Lelaki itu mengangkat Dinda dan meletakkannya ke atas ranjang.
"Kamu mau apa?" kata Dinda protes.
"Jangan asyik sendiri! Aku juga mau baca buku itu denganmu."
Billy menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, kemudian menarik pelan tubuh Dinda. Billy memangku Dinda, sampai punggung dan kepala Dinda bersandar di dadanya.
Dinda tidak protes. Dia tidak mau bertengkar lagi dengan Billy. Dia membiarkan Billy memeluknya dari belakang. Tangan Billy diletakkan di perut Dinda. Mereka berdua bersama-sama membaca buku yang dipegang Dinda.
__ADS_1
Ponsel Dinda tiba-tiba berdering.
Dengan cepat Dinda menyambar tasnya, dan mengeluarkan telepon genggamnya itu.
"Halo!"
"Halo! Dinda kamu belum pulang?" Rudi bertanya dari seberang.
"Belum!" Dinda melihat kearah Billy. Lelaki itu cuek.
"Aku nggak pulang malam ini. Aku menjaga Billy. Dia sakit!" sambung Dinda.
Hening. Beberapa saat tidak ada suara balasan Rudi.
"Halo?" kata Dinda lagi.
"Kamu mau aku temani kamu?" tanya Rudi.
Dinda terdiam sebentar, dia berpikir. Dia melihat jam ditangannya. Kasihan Rudi kalau harus jauh jauh kesini.
"Aku mau kamu temani..." Kata Dinda
Dinda sempat melihat wajah Billy yang berubah warna jadi merah padam.
"Nggak usah aja deh! Nanti kamu kecapekan. Besok pagi-pagi aku balik!" sambung Dinda.
"Nggak apa-apa, aku temani ya?!" pinta Rudi
"Nggak usah sayang, aku bisa aja menjaganya sendiri. Nanti kalau ada perlu, aku hubungi kamu," Kata Dinda lagi.
Rudi tidak bisa memaksa. Dia hanya bisa menuruti kemauan Dinda. Meskipun hatinya ada rasa cemburu, tetap saja dia berusaha tenang.
"Yaa sudah kalau gitu! Nanti hubungi aku ya sayang?!"
"Iya, Yang!" kata Dinda, kemudian mengakhiri panggilan telepon itu.
Dinda melihat wajah Billy yang masih berwarna merah sampai ke daun telinganya.
"Kamu kenapa?" Tanya Dinda.
Billy merasa seperti Dinda sedang mengejeknya.
"Kamu dengan Rudi santai amat ngomongnya. Kamu pikir dia nggak akan cemburu kah, kalau tunangannya menjaga lelaki lain?"
"Pasti cemburu, tapi kan aku nggak ngapa-ngapain," jawab Dinda enteng.
"Kalau gitu kenapa kamu nggak ajak aja dia kesini sekalian?" Billy berkata sarkas.
"Aku nggak tega kalu dia harus menyetir jauh kesini... Dia pasti sudah capek bekerja seharian. Nggak kayak kamu yang cuma santai-santai aja,"
__ADS_1