
"Jam berapa sekarang?" tanya Dinda pada Alex, yang sudah meletakkan panci keatas api.
Alex menoleh kearah Dinda, kemudian dia melihat tangannya.
"Sudah jam sepuluh!" kata Alex ketika dia memperhatikan jam, yang melingkar ditangannya.
"Sekitar jam dua belasan baru kabut diluar menipis. Baru aku nanti kembali ke jalur kemarin untuk mencari telepon ku," sambung Alex, sambil memperbaiki posisi kayu, agar tetap menyala.
Dinda berjalan kepintu lalu membukanya. Benar saja apa yang dibilang Alex, kabut masih tebal diluar.
"Kamu mau kekamar mandi?" tanya Alex, ketika melihat Dinda berdiri di depan pintu.
"Iya! Dimana tempatnya?" sahut Dinda, yang berniat pergi sendiri.
"Sini aku antar!" ujar Alex, yang kemudian memegang bahu Dinda.
Dinda tidak melawan, dia mengikuti Alex yang mengiringnya sampai ke kamar mandi kecil. Didalam situ sempit, tapi ada shower yang bersebelahan dengan kloset.
Setelah selesai, Dinda berjalan keluar dibantu Alex kembali ke kabin.
Ketika Dinda sudah duduk.
Alex kembali ke perapian, air dipanci sudah mulai mendidih.
"Kemarin saat aku belum menemukanmu, aku baru saja berjalan mencari asal suara, yang menggema dilembah...
Billy sempat menelponku... HP ku bisa mendapat sinyal... Sayangnya aku lupa dimana titik posisiku waktu itu," ujar Alex.
Alex mengambil kaleng dari dalam panci dengan penjepit. Dia lalu meletakkan kaleng itu diatas meja, kemudian membuka nya.
Uap panas keluar dari dalam kaleng.
Alex menggeser makanan itu kedekat Dinda.
"Kenapa Billy menelponmu?" tanya Dinda penasaran.
"Dia mengajakku bermain basket. Cuma aku bilang aku lagi diluar kota," sahut Alex.
Dinda menatap ponsel Alex yang ada diatas meja, tergeletak agak jauh dari Dinda.
Alex yang menyadari, kalau Dinda sedang menatap ponselnya. Kemudian mengambil benda itu, lalu menyalakannya dan memberikannya pada Dinda.
"Kamu nggak percaya kalau nggak ada sinyal?" ujar Alex, sambil memperlihatkan layar ponsel, yang sudah menyala.
Dinda tidak mengambil benda itu hanya melihatnya saja.
Alex tidak berbohong, jaringan seluler memang tidak ada. Kecurigaan Dinda pada Alex semakin berkurang. Hanya saja dia masih merasa ini kebetulan yang aneh.
Dinda memakan isi kaleng itu, yang ternyata berisi sup, meski tidak seenak yang dimasak mbok Inah atau yang dibeli diluar, tetap saja makanan itu cukup nikmat.
__ADS_1
Apalagi Dinda memang merasa lapar.
Alex tersenyum melihat Dinda, yang makan dengan lahap.
"Apa seenak itu, atau kamu memang suka makan sup?" tanya Alex, sambil menyuap sesendok makanan itu kedalam mulutnya.
"Aku suka sup... Juga aku lapar!" ujar Dinda yang tidak perduli dengan senyuman Alex, yang mengejeknya.
Alex tertawa.
"Aku juga suka makan sup. Didalam sana isinya banyak kaleng sup. Paling ada yang lain, tapi nggak seberapa banyak," ujar Alex, sambil menunjuk dengan tangannya, sebuah peti yang cukup besar dari kayu.
Selesai mereka makan, Alex bersandar santai dikursinya.
"Aku rencananya pulang besok. Hitungannya dengan hari ini, aku sudah empat hari disini," ujar Alex memecah suasana hening di tempat itu. Dia lalu menatap kaki Dinda.
"Bagaimana caranya aku membawamu keatas?" sambungnya lagi.
Dinda melihat Alex yang terdiam. Lelaki itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kalau teleponku tidak jatuh, semestinya aku sudah bisa menelpon seseorang untuk minta bantuan," ujar Alex, terdengar nada penyesalan dari suara lelaki itu.
Dinda menatap Alex.
Sepertinya Alex memang tidak berniat jahat padanya. Mungkin isu yang didengar Billy dan Rudi itu salah, pikir Dinda.
"Kamu kembali saja duluan, kamu bisa mencari bantuan kalau kamu sudah diatas, biar aku menunggu disini," kata Dinda.
"Aku mau mengenalmu, tapi bukan seperti ini... Bukannya bersenang-senang, malah sibuk dengan luka di dahi juga kakimu," ujar Alex, yang masih memegang kaki Dinda.
Dinda refleks memukul bahu Alex. Dia kesal mendengar perkataan lelaki itu.
Alex mendongakkan wajahnya, melihat Dinda.
"Lah bener kan? Aku bisa menggendong, juga memelukmu bukan karena kamu tertarik padaku," ujar Alex sambil tersenyum.
"Siapa juga yang minta kamu tolongin!" seru Dinda ketus, dia merengut.
Alex berdiri didepan Dinda.
"Kamu pikir aku gila?! Nggak mungkin aku membiarkan kamu mati begitu saja," ujar Alex dengan suara yang lembut.
"Aku sudah tertarik denganmu sejak pertama kali kita bertemu..." Alex menunduk lalu memeluk Dinda.
Dinda membiarkan Alex memeluk tubuhnya, tanpa perlu Dinda membuat komentar pedas.
Setelah Alex melepas pelukkannya dari Dinda. Dia lalu duduk dikursi dekat Dinda.
"Aku tadi sempat berpikir kalau kamu takut denganku tadi malam, mungkin masih begitu sampai sekarang. Aku merasa kamu mungkin mendengar isu tentangku..." ujar Alex sambil menatap Dinda.
__ADS_1
"Isu apa?" tanya Dinda berpura-pura tidak tahu.
Alex menghela nafas panjang, seakan berat sekali dia akan bercerita.
"Waktu aku di Australia, aku dekat dengan seorang wanita. Aku tertarik dengannya, tapi dia terus saja terobsesi dengan Billy. Meski ada aku didekatnya, tapi kalau dia melihat Billy, dia pasti mendekati Billy...
Waktu itu aku sempat mengira Billy seorang gay, karena wanita itu sempat beberapa kali menawarkan s*x pada Billy didepanku, tapi Billy tidak menanggapinya," Alex kembali menarik nafas panjang.
"Singkat cerita, aku pergi ke suatu daerah pedesaan untuk menjernihkan pikiran, selama beberapa hari. Saat aku kembali aku mendengar kalau wanita itu sudah meninggal...
Diduga dia jadi korban penculikkan dan pembunuhan. Lalu aku sempat jadi tersangka karena waktu kejadian, aku nggak pernah kelihatan...
Tapi, karena aku punya alibi yang kuat, aku dilepaskan dari tuntutan hukum," cerita Alex panjang lebar.
Dinda mendengarkan cerita Alex dengan sungguh-sungguh. Dia tidak menanggapi, tapi dia mencerna cerita itu baik-baik.
Alex menatap Dinda yang mulutnya seperti sedang komat-kamit.
"Apa jangan-jangan... Kamu sempat berpikir kalau aku sengaja menculikmu?" sentak Alex.
"Hah? Nggak!" jawab Dinda yang terkejut.
"Kamu jangan salah menduga. Aku memang selalu begini. Kalau pikiranku kalut, pasti pergi menyendiri," ujar Alex.
"Pikiranmu sekarang kalut karena apa?" tanya Dinda penasaran.
"Kamu!" seru Alex. Dia menatap Dinda dengan sorot mata yang tajam.
"Aku kalut, karena kamu!" tegas Alex.
"Aku tertarik denganmu, tapi sepertinya kamu lebih tertarik dengan Rudi dan Billy. Aku lagi memikirkan caranya, agar dapat kesempatan mendekatimu," sambung Alex.
Dinda terdiam sambil melihat Alex.
"Apa kamu menganggap aku aneh?" tanya Alex
Dinda menggelengkan kepalanya.
"Hmm... Biasanya wanita yang tahu aku seperti ini pasti menganggap ku aneh," ujar Alex.
"Apalagi kalau mereka tahu, kalau aku tertarik dengan orang yang tertarik dengan Rudi, atau Billy." Alex memukul meja dengan telapak tangannya
"Aku benci berteman dengan mereka berdua. Terlebih lagi dengan Rudi," ujar Alex kesal.
Alex menatap Dinda yang tampak ketakutan. Seketika dia menyesal telah memukul meja.
"Maaf...! Aku nggak berniat menakutimu..." Alex memegang tangan Dinda.
Alex kemudian melihat jam ditangannya.
__ADS_1
"Kamu tunggu disini sebentar, aku coba mencari teleponku dulu! " Dia lalu berjalan terburu-buru keluar dari kabin.
Dinda hanya melihat Alex yang berlalu, menghilang dibalik pintu.