
Dinda memainkan rambutnya yang lurus panjang tergerai. Dipelintir berkali-kali sampai keriting bergelombang. Dia menatap pemandangan di sekitar danau.
Permukaan air yang beriak karena dihembus angin, membuat bagian air yang diterpa sinar matahari, memantulkan cahaya yang menyilaukan mata.
Sambil duduk di pinggir dermaga, Dinda memikirkan tentang Laura. Sampai detik ini, Dinda masih belum mengerti mengapa Laura mau bersama orang lain, meskipun itu hanya untuk bersenang-senang.
Setahu Dinda, selama ini Laura selalu setia dengan pasangannya. Kenapa pada saat seperti ini, barulah dia seakan menyesali keputusannya untuk menikah.
Mita berjalan mendekati Dinda. Ditangannya Mita memegang sekaleng bir yang sudah dibuka.
Ketika Dinda melihat Mita sudah didekatnya, Dinda lalu memukul-mukul pelan lantai dermaga, seolah-olah mengajak Mita untuk duduk disampingnya.
"Menurutmu, kira-kira apa yang terjadi dengan Laura?" Mita bertanya, sambil menyesap sedikit minumannya.
"Nggak tahu... Cuma aku berharap ini tidak ada hubungannya dengan Eko," jawab Dinda yang masih memelintir rambutnya.
"Eko itu tunangannya Laura?" tanya Mita lagi.
"Iya," Dinda melayangkan pandangannya ke danau. "Selama ini Laura selalu setia dengan Eko. Agak mengejutkan melihatnya bisa seperti sekarang,"
"Kapan rencananya dia menikah?"
"Bulan depan," jawab Dinda. "Aku kira Laura jadi merasa ragu dengan keputusannya untuk cepat menikah,"
"Bagaimana denganmu?" tanya Mita yang kembali menyesap bir ditangannya. "Kenapa kamu menerima lamaran Rudi?"
"Hmm..." Dinda menggumam. "Aku menerimanya, karena kupikir itu hanya sekedar untuk memperkuat hubungan kami,"
Mita menatap Dinda. "Kamu nggak tahu kalau itu sama saja dengan kamu berkomitmen?"
"Iya, aku tahu! Tapi aku tidak terlalu memikirkannya," jawab Dinda
"Kamu juga terlalu buru-buru menerimanya kalau begitu!" ujar Mita. "Kamu nggak tahu kalau kamu lamaran Rudi, kamu harus siap berkorban untuknya?"
"Aku nggak menyangka juga kalau sampai begini. Aku selalu berpikir kalau Rudi tahu yang aku mau... Aku pikir dia akan mengerti," Dinda mengayunkan kakinya yang menyentuh air.
"Terus bagaimana rencana kamu dengan Billy?" Mita menatap Dinda semakin dalam. Dia benar-benar penasaran, dengan apa yang Dinda pikirkan.
"Jalani saja dulu... Biarpun ada sedikit rasa sayang, tapi tetap saja... Seperti yang aku bilang sebelumya, kalau aku tetap memilih fokus di karir," ujar Dinda.
"Perasaanku, ini sudah ke berapa kali kamu bertanya. Kamu benar-benar khawatir dengan kami, atau kamu khawatir dengan Billy?"
"Hmm..." Mita menggumam "Terserah kalian saja. Aku hanya berharap yang terbaik untuk kalian..."
Mereka berdua lalu terdiam. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
Cuaca panas tidak terlalu terasa menyengat, karena hembusan angin yang cukup kencang.
"Kapan kita pulang?" tanya Dinda memecah kesunyian yang terjadi diantara mereka, beberapa waktu lamanya.
__ADS_1
"Kamu mau cepat pulang?" Mita balik bertanya.
"Nggak juga sih! Cuma maunya kita balik sebelum terlalu malam. Aku ada rencana mau singgah belanja sedikit keperluan dirumah," Dinda menggulung rambutnya keatas. Tiupan angin tadi, membuat rambutnya jadi berantakan.
Mita menggoyang kaleng bir ditangannya. Isinya sudah habis diminum. Mita melihat ke sekeliling. Dia melihat Billy yang sedang berbincang-bincang dengan teman lelaki Mita.
"Kalau mereka sudah selesai mengobrol, kita pulang," Mita menunjuk kearah pepohonan, dimana Billy dan temannya berada.
Dinda ikut melihat apa yang ditunjukkan Mita dengan jarinya. Dinda lalu mengangguk.
"Aku beresin barangku dulu kalau begitu," Dinda lalu berdiri kemudian berjalan kearah vila.
Tidak berapa lama, Mita menyusulnya sambil setengah berlari.
Dinda membiarkan Mita menggandeng tangannya. Mereka berdua berjalan masuk bersama.
Selesai berkemas, Dinda keluar dari kamar. Saat itu juga Billy sudah berdiri didepan pintu.
"Kamu nggak mau aku antarkan pulang?" Billy bertanya dengan wajah yang kecewa.
"Bukan begitu... Dari pada kamu harus bolak-balik dijalan, lebih baik kalau aku ikut Mita saja," ujar Dinda.
"Hmm... Kalau begitu sebelum kalian pulang, apa aku bisa bersamamu sebentar?" tanya Billy
Dinda melihat kearah kamar Mita. Gadis itu belum keluar dari kamarnya. Dinda menatap wajah Billy yang memelas. Dia lalu mengangguk.
"Nanti aku ke rumahmu ya?!" ujar Billy.
"Terserah aja, yang penting bukan sekarang! Aku mau singgah belanja dengan Mita, terus aku mau istirahat dulu. Besok aku sudah masuk kerja," kata Dinda, yang masih dipelukan Billy.
Mereka berciuman sekali lagi, lalu Dinda berjalan keluar, di ikuti Billy.
Diluar kamar, Mita sudah berdiri menunggu. Tas bawaan Mita, sudah diantar teman lelakinya lebih dulu kedalam mobil.
Mita lalu berpamitan dengan Billy. Sambil bergandengan tangan dengan Dinda, berjalan keluar rumah, lalu masuk kedalam mobil yang sudah menyala.
Di perjalanan pulang, Dinda tidak tidur. Dia asyik menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Pepohonan masih rindang berdiri kokoh di atas tanah. Sepanjang jalan masih terlihat asri dan sejuk dipandang mata.
Dinda menurunkan kacanya sampai habis. Dia membiarkan angin kencang menerpa wajahnya, dan membuat rambutnya melambai lambai.
Mita yang melihat sahabatnya itu, hanya tersenyum.
"Kita nanti belanja dimana?" tanya Mita membuyarkan lamunan Dinda.
"Hah? Eh!" sesaat Dinda kebingungan.
"Pusat perbelanjaan di tengah kota aja. Masih ingat 'kan tempat kita dulu biasa pergi?" ujar Dinda.
"Masih! Ok, jadi kita kesitu aja! Aku juga masih mau jalan-jalan denganmu," ujar Mita yang kembali menghadap kedepan.
__ADS_1
Butuh beberapa waktu lamanya, sampai mereka tiba diparkiran pusat perbelanjaan itu. Sebelum pergi berbelanja Dinda sibuk merapikan rambutnya yang kusut.
"Nih!" Mita menyodorkan sikat sisir untuk Dinda, yang tidak bisa mengatasi kusut rambutnya, menggunakan sisir biasa.
Dinda mengambil benda itu dari tangan Mita. Dia lalu mulai menyisir rambutnya.
"Makanya! Kamu sih, tadi kayak golden retriever yang dibawa jalan-jalan pakai mobil," ujar Mita sambil tertawa terbahak-bahak.
Dinda merasa gemas dengan ejekkan Mita. Sisir ditangan Dinda, jadi senjata untuk memukul lengan Mita.
Mita meringis kesakitan. Kemudian mereka berdua tertawa bersama.
Dinda memoleskan lipgloss tipis di bibirnya, begitu juga Mita. Keduanya kelihatan segar dan cantik.
Mereka lalu berjalan masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu.
Stand yang berjualan perlengkapan mandi, jadi tujuan mereka yang pertama kali. Dinda mulai memilih barang yang dia cari, lalu memasukkannya kedalam keranjang.
Begitu juga dengan Mita. Sekali-sekali mereka membandingkan produk yang mereka ambil. Sampai semua sudah dirasa cukup, mereka lalu membayar di kasir.
Mereka melanjutkan belanjanya. Kini mereka masuk di salah satu stand, yang menjual produk kecantikan. Dinda bersama Mita melihat-lihat beberapa lipgloss berwarna netral.
Saat Dinda sedang mencoba salah satu warna didepan cermin, ada suatu bayangan yang dipantulkan cermin itu yang menarik perhatian Dinda. Dia membalikkan badannya.
Rudi sedang digandeng seorang wanita. Wanita itu terlihat sibuk memoles lipstik, lalu menunjukkan warna bibirnya kepada Rudi. Lelaki itu mengangguk-angguk.
Mata Rudi bertemu dengan tatapan Dinda. Lelaki itu tampak terkejut.
Tubuh Dinda gemetar. Dinda memalingkan wajahnya. Dengan cepat dia menarik Mita untuk pergi dari situ. Mita kebingungan tapi tetap mengikuti Dinda pergi.
"Ayo kita pulang!" seru Dinda sambil menarik lengan Mita.
"Aku mau lipgloss tadi!" ujar Mita yang terseret tarikan Dinda.
"Nanti kita belanja lagi!" ujar Dinda yang semakin mempercepat langkahnya.
Buru-buru mereka masuk kedalam mobil. Teman lelaki Mita yang sedari tadi bersantai menunggu Mita dengan Dinda di dalam mobil. Lalu menyalakan mobilnya. Mereka kemudian berlalu pergi dari situ.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba mau pulang?" tanya Mita, yang merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu.
Dinda hanya terdiam. Dia masih memikirkan apa yang dia lihat tadi.
"Dinda! Ada apa sih?" tanya Mita lagi yang makin penasaran, karena Dinda tidak merespon pertanyaannya.
"Kamu lihat lelaki yang menggandeng wanita di belakang kita tadi?" tanya Dinda sambil menatap Mita.
Mita mengangguk.
"Itu Rudi!" ujar Dinda.
__ADS_1