
Raut wajah Billy tampak serius saat membaca pesan-pesan yang masuk diponselnya. Ada sesuatu yang membuatnya sibuk membalas pesan itu.
Dinda memperhatikan gerak-gerik Billy dengan ujung matanya. Dia melihat Billy mengetik sesuatu berulang-ulang, jempol Billy terlihat sibuk, hanya berhenti sebentar kemudian mengetik lagi.
"Ada apa?" tanya Dinda yang masih menatap layar ponselnya.
"Nggak,, cuma kenalanku dari Australia memberi informasi tentang Dovi,, tapi masih belum terlalu jelas,, Katanya Dovi memang pernah terlihat tinggal di pedesaan sekitar satu bulanan, bersama seorang wanita yang kalau dari ciri-cirinya mirip Mita, tapi masih belum meyakinkan,,
Jadi aku masih meminta bantuannya untuk mencari informasi lagi" ujar Billy. Dia kemudian meletakkan ponselnya keatas meja.
Billy ikut melihat layar ponsel Dinda yang sedang membuka aplikasi sosial media.
"Banyak juga teman mu yang cantik yaa" celetuk Billy.
Dinda memiringkan kepalanya. Matanya menatap Billy yang sudah tersenyum lebar.
"Nih,, pelototin dah!" ujar Dinda ketus sambil mendekatkan layar ponsel ke wajah Billy.
Senyum Billy makin lebar. Dia mengambil ponsel dari tangan Dinda kemudian mulai menggeser layarnya naik turun. Sesekali menekan foto profil akun dunia maya yang ada di aplikasi itu.
Dinda cemberut. Dia lalu bergeser turun lalu berbaring memunggungi Billy. Dinda sebal, dia cemburu, tapi tidak mau bilang ke Billy.
Billy yang memang hanya berniat menggoda Dinda lalu melepas ponsel Dinda keatas meja, bersebelahan dengan ponselnya. Dia lalu ikut berbaring sambil memeluk Dinda dari belakang.
"Aku cuma bercanda,, kamu marah?" ujar Billy, tapi Dinda tidak menyahut.
"Cemburu nih?" tanya Billy.
Dinda makin kesal, tapi dia tetap terdiam.
"Beneran aku cuma bercanda, biar kamu berhenti main hp,, aku mau kamu sibuk denganku, bukannya asyik dengan dunia maya" ujar Billy, tapi Dinda tetap tidak menyahut.
Merasa tidak dihiraukan, Billy kemudian duduk. Dia melihat Dinda yang masih berbaring miring memunggunginya. Billy membalik badan Dinda lalu menindihnya agar tetap terlentang menghadapnya.
"Aku ngantuk" ujar Dinda.
"Ah,, jangan pura-pura!" kata Billy. Dia menatap mata Dinda.
Dinda menatap mata Billy dalam-dalam, yang semakin mendekat kewajahnya. Dinda mendorong Billy sambil tertawa pelan.
"Sudah,, kamu mau apa lagi?" ujar Dinda sambil tertawa.
__ADS_1
"Aku mau ini,," kata Billy yang kemudian mencium bibir Dinda.
Dinda membalas ciuman Billy. Dia melingkarkan tangannya dileher lelaki itu, sambil sesekali mengelus leher Billy.
Billy menyukai sensasi sentuhan tangan Dinda. Dia makin bersemangat mencium bibir Dinda. Billy memainkan lidah nya sampai ke langit langit mulut Dinda.
Dinda juga melakukan hal yang sama dalam mulut Billy. Lidah mereka beradu sampai keduanya merasakan sensasi yang sama.
Tangan Billy mer*emas buah dada Dinda yang mulai padat mengeras. Merasa tidak puas, mengangkat badan Dinda sedikit kemudian Billy membuka restleting dress Dinda yang ada dipunggungnya.
Billy berhenti mencium Dinda. Matanya menatap Dinda seolah minta persetujuan. Merasa kalau Dinda tidak menolak, Billy membuka pakaian Dinda. Billy lanjut melepas br*a Dinda.
Buah dada yang kencang menantang didepan Billy, membuatnya tidak puas kalau hanya memandanginya saja. Billy membenamkan wajahnya disitu. Buah dada Dinda dih*s*ap nya sampai Dinda menggeliat.
Sepuasnya Billy menikmati kedua bukit kembar itu, dengan mulut dan tangannya, sebelum bergeser turun sampai ke perut Dinda. Perlahan Billy membuka dalaman yang dipakai Dinda dibawah sana.
Melihat semua sudah terbuka tanpa ada lagi yang menutupi, membuat gelora didada Billy menjadi jadi. Billy ******* bibir bagian bawah Dinda. Lidahnya seakan menari disitu.
Dinda menggeliat, sensasi yang terasa di bagian bawah tubuhnya membuatnya gelisah. Dia mend*s*ah.
Billy makin buas. Dia senang melihat Dinda menggeliat seperti itu. Tangan Billy mengelus kaki Dinda sampai ke pangkal pahanya.
"Aku mau langsung saja,," ujar Dinda yang terduduk, kemudian menahan bahu Billy.
Perlahan tapi pasti Billy menekan miliknya masuk sampai benar benar tenggelam kedalam tubuh Dinda. Nikmatnya membuat keduanya menggigit bibir. Billy kemudian bergerak pelan sebentar disitu.
Billy lalu duduk sambil menarik Dinda yang membuka kakinya, sampai menempel dibadan Billy. Dia menekan masuk miliknya kedalam tubuh Dinda. Tenggelam tanpa bersisa.
Billy mengertakkan gigi, dia menahan pinggang Dinda agar tidak bergerak saat dia menekan berulang ulang miliknya masuk kedalam tubuh Dinda.
"Aaaah,,!" suara Dinda dan Billy bergema didalam kamar. Keduanya tidak bisa menahan rasanya lagi. Bersamaan melepas puncaknya.
Dinda bisa merasakan lahar panas mengalir keluar dari dalam tubuhnya. Hanya dengan lembaran tissue, Dinda dan Billy membersihkan cairan yang membasahi milik mereka.
Merasa cukup kering, Dinda lalu duduk berpangku diatas Billy, berhadap hadapan. Dinda berciuman dengan Billy sepuasnya. Dia mer*emas pelan leher bagian belakang Billy. Sedangkan Billy mer*emas buah dada Dinda.
Tidak butuh waktu lama, milik Billy sudah siap melakukannya lagi. Masih dengan Dinda diatas pangkuannya, Billy memegang pinggang Dinda lalu mengangkatnya agar milik Billy bisa masuk kembali kedalam tubuh Dinda.
Mereka tetap berciuman sambil Dinda bergerak pelan diatas pangkuan Billy. Tangan Billy menggerayangi tubuh Dinda. Sesekali mendorong Dinda kebawah agar miliknya tertekan masuk sangat dalam.
Lama-kelamaan irama gerakan Dinda makin kacau dan cepat. Dinda tidak tahan lagi, dia mengerang. Billy menekan Dinda sambil ikut mengerang. Keringat mengalir dari wajah mereka berdua.
__ADS_1
Dinda menatap Billy sambil tersenyum. Billy tidak mau melewatkan kesempatan mencium bibir Dinda lagi yang masih berhadapan dengannya.
Tidak ada yang mau menggeser posisinya. Tidak ada yang mau melepaskan miliknya satu sama lain. Keduanya bertahan agar milik Billy tetap tenggelam dalam tubuh Dinda.
Kekuatan Billy seakan tidak berkurang. Dia mau melakukannya lagi. Billy membaringkan Dinda kemudian menyerang Dinda sampai keduanya kembali mengerang.
Hanya memberi jeda sebentar untuk Billy mengumpulkan tenaganya. Billy lanjut mengiring Dinda sampai puncaknya, berulang ulang kali.
Dinda tidak mampu melawan lagi. Berkali kali sampai puncaknya, membuat dia kelelahan. Dia tidak bisa bergerak, hanya membiarkan Billy yang menuntun sampai keduanya puas.
Meski Dinda terbaring diam tanpa perlawanan, Billy masih saja menghujam miliknya kedalam tubuh Dinda. Sampai miliknya sudah tidak mampu lagi untuk mengeras. Akhirnya Billy berhenti setelah untuk ke sekian kalinya mencapai puncak bersama Dinda.
Nafas Billy terengah-engah, dia akhirnya kelelahan. Dia mencium bibir Dinda kemudian menggendong Dinda ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mereka berendam air hangat dalam bath tub.
Billy memegang perut Dinda saat duduk disitu dengan Dinda yang juga duduk sambil bersandar didada Billy.
"Kira-kira apa nggak mengganggu kandunganmukah, kalau aku seperti tadi?" tanya Billy yang merasa agak khawatir dengan kekuatannya sendiri.
Dinda menggelengkan kepalanya. Dia menunduk melihat tangan Billy yang masih memegang perutnya.
"Nggak tahu,, kalau khawatir, kamu aja nanti yang tanya ke dokter,, aku malu kalau aku yang harus tanya itu" ujar Dinda. Dia juga tidak habis pikir dengan Billy yang bisa tahan melakukan s*x berulang ulang seperti itu.
Meskipun Dinda menikmatinya tapi kekuatan Billy agak berlebihan bagi Dinda. Kekuatan Billy diranjang, dua sampai tiga kali lipat dari kekuatan Rudi.
Belum lagi ukurannya yang sedikit lebih dari milik Rudi. Dinda sampai merasa miliknya pedih dan bengkak. Tapi, dia rela agar Billy bisa melepaskan tenaganya dengan Dinda. Toh Dinda juga menyukai sensasinya.
Dinda mulai membayangkan kalau perutnya sudah mulai membesar, apa dia masih mampu menahan kekuatan Billy yang sebesar itu. Tanpa sadar Dinda menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Billy mengagetkan Dinda.
"Nggak,, aku cuma terpikir kamu kok bisa sekuat itu" ujar Dinda kelepasan.
Dinda tertunduk. Dia tersipu malu. Kenapa dia harus mengatakan itu? Hadeh.
"Apa kamu nghak suka?" tanya Billy
"Bukan begitu,, aku cuma membayangkan kalau perutku sudah membesar, tapi kita masih seperti tadi" ujar Dinda.
"Aku akan menguranginya,, paling nggak, aku kasih jarak waktunya,, kamu kasih tahu aja kalau kamu sudah nggak tahan" bisik Billy. Dia mengecup kepala Dinda. "Nggak apa-apa kan?"
Dinda mengangguk.
__ADS_1
Billy memeluk Dinda sebentar sebelum mereka keluar dari situ.