
Rudi kembali ke rumah sakit. Dia melihat jam ditangannya. Cukup memakan waktu lama dia dikantor tadi. Dinda pasti sudah selesai di operasi.
Buru-buru Rudi berjalan kearah kamar inap Dinda. Ketika dia membuka pintu, dia melihat Billy sedang menyuapi Dinda makan.
"Kamu sudah balik?!" kata Dinda. Gadis itu menepis tangan Billy, yang masih ingin menyuapinya.
"Iya, bagaimana tadi ?" tanya Rudi.
"Baik aja, tadi sudah ada dokter memeriksaku lagi," kata Dinda.
Billy masih duduk di pinggir ranjang Dinda. Lelaki itu tidak perduli dengan kedatangan Rudi.
Rudi yang melihatnya, berusaha menahan emosinya. Dia fokus kepada Dinda.
"Maaf, tadi aku harus meninggalkanmu! Ada panggilan dari kantor. Cukup penting, mau nggak mau aku harus kesana," kata Rudi.
Dinda melambaikan tangan memanggil Rudi untuk mendekat.
Rudi mendekati Dinda dari sisi ranjang yang sebelahnya lagi.
Tetap saja Billy tidak mau bergeser dari samping Dinda.
Rudi, tak tahan lagi.
"Billy! Kalau kita berdua duduk diatas ranjang sama-sama, Dinda akan terjepit!"
Dinda dan Rudi bersamaan menatap Billy. Akhirnya, lelaki itu turun dari ranjang. Dia pindah duduk ke kursi di samping ranjang.
Ada apa dengan lelaki itu? pikir Rudi. Tapi, wajah pucat Dinda membuatnya tidak terlalu memikirkan Billy lama-lama.
Rudi memeluk Dinda dan mengecup keningnya.
"Kamu makan apa?" tanya Rudi.
"Itu... cream soup. Aku minta Billy belikan tadi!" kata Dinda.
Rudi mengambil mangkuk berisi sisa sup di atas meja. Dia hendak menyuapi Dinda.
"Masih mau?" tanya Rudi.
"Masih! Aku juga mau buah yang disana!" Dinda menunjuk nampan makanan yang diberikan pihak rumah sakit, yang diletakkan dimeja.
Rudi mengambil buah yang sudah dipotong-potong kecil itu.
Dinda mengambil mangkuk sisa sup dari tangan Rudi, dan makan sendiri.
"Sini aku suapin!"
"Nggak usah...! Aku bisa sendiri!" kata Dinda menyendok sup dan memakannya.
Dalam hati Rudi merasa iri. Tadi Dinda disuapin Billy, tapi Dinda tidak mau disuap Rudi.
Dinda memakan sup itu sampai habis tak bersisa. Lalu memberikan mangkuknya kepada Rudi.
__ADS_1
"Masih mau?" kata Billy
"Iya," jawab Dinda.
Billy berjalan kearah meja. Dia mengeluarkan satu mangkuk kecil lagi, berisi cream soup dari kantong plastik.
Billy lalu kembali duduk di kursi disamping ranjang.
"Aku tadi beli dua. Ternyata kamu masih seperti dulu, kalau sakit pasti maunya makan ini," Billy membuka penutup mangkuk, memasukkan sendok dan memberikannya kepada Dinda.
Dinda memakan cream soup porsi yang kedua. Gadis itu menikmati makanannya, dengan lahap menyuap sesendok demi sesendok ke mulutnya.
Rudi bingung mendengar dan melihat adegan itu.
Rudi tidak suka sup. Selama dia bersama Dinda, setiap pergi makan, tidak pernah sekalipun Dinda memesan sup.
Rudi menatap Billy. Dalam hati dia bertanya-tanya bagaimana dulunya saat Billy bersama Dinda.
Billy seakan menyadari keingin-tahuan Rudi, lalu berkata
"Dinda waktu SMA sering sakit maag, kalau sudah kumat, dia nggak bakalan mau makan yang lain. Pasti minta dibelikan cream soup begitu,"
Rudi tenggelam dalam pikirannya sendiri. Selama ini, Dinda seakan jadi orang lain saat bersamanya kalau begitu. Saat Dinda sakit, dia tidak minta sesuatu yang spesifik. Apa saja yang dibawa Rudi, dia mau memakannya.
Rudi jadi ingat, memang biasanya Dinda tetap makan tapi tak pernah dihabiskan. Dia pasti beralasan kalau dia sudah kenyang. Kenapa dia nggak pernah mau memberitahu aku?
"Aku mau buah itu!" kata Dinda kepada Rudi.
"Hah? Kenapa?" Rudi gelagapan
Rudi menyodorkan piring buah kepada Dinda.
Sup nya sudah habis dimakan Dinda. Mangkuk bekas lalu diambil Billy, dari tangan Dinda.
Dinda menatap Rudi sambil memakan potongan buah.
"Ada apa?" tanya Dinda kepada Rudi.
"Hah...? Eh, nggak ada apa-apa!"
Dinda tahu ada sesuatu yang dipikirkan Rudi. Tapi Dinda tetap bersikap seperti biasa saja menanggapinya.
Rudi mendekatkan wajahnya ke telinga Dinda.
"Aku mau bicara berdua saja denganmu..." bisik Rudi
"Billy! Aku mau minum yoghurt!" kata Dinda
Billy langsung berdiri, lelaki itu sempatkan memegang tangan Dinda lalu berkata
"Sebentar aku pergi belikan!"
Rudi melihat perlakuan Billy ditangan Dinda.
__ADS_1
Ketika Billy pergi, tanpa menoleh sedikitpun kearah Rudi, Rudi hanya memasang tampang datar didepan Dinda.
"Kamu dengan Billy, dulu seperti apa?" tanya Rudi.
Dinda menatap mata Rudi lekat-lekat, seakan menunggu apa yang akan dikatakan Rudi selanjutnya.
"Iya, kamu sudah cerita kalau dia pernah pacaran denganmu. Sebentar jika dibandingkan lamanya kamu bersama aku," kata Rudi
"Meskipun kalian cuma pacaran sebentar, tapi kayaknya dia lebih tahu kamu dari pada aku"
Dinda membisu. Sebenarnya Dinda juga bingung, kenapa saat dia dengan Rudi, dia tidak bisa seterbuka seperti saat bersama Billy. Dinda selalu saja setuju dengan apa yang Rudi pilih.
"Entah ini cuma perasaanku aja. Tapi, aku merasa Billy masih mencintaimu, dan kamu juga masih ada perasaan untuknya."
Akhirnya apa yang ada dipikiran Rudi, meluncur dari mulutnya.
"Aku anggap, mungkin tidak sebesar cintamu padaku, tapi biar sedikit kamu masih ada rasa sayang pada Billy..." Nada suara Rudi benar benar tenang.
Dinda tetap saja membisu. Dia tidak tahu mau berkata apa. Gadis itu menundukkan wajahnya.
Rudi memegang dagu Dinda, dan mengangkat wajah gadis itu.
"Apa aku benar?" tanya Rudi. Dia menatap mata Dinda, mencari jawaban disana.
"Aku nggak tahu... Yang aku tahu, aku mencintaimu..." Dinda benar-benar merasa tertekan. Dia rasanya mau menangis.
Rudi masih menatap mata Dinda lekat-lekat. Dia mempercayai gadis itu. Dia bisa merasakan cinta Dinda, lebih besar untuknya.
Rudi mencium bibir Dinda.
"Aku tahu kamu mencintaiku sama seperti aku mencintaimu. Kamu hanya butuh waktu untuk benar benar melupakan Billy. Aku akan berusaha untuk jadi lebih dari Billy, sampai kamu tidak ada rasa apa-apa lagi dengan dia." Rudi tenang sekali.
Kata kata Rudi terdengar seperti angin surga di telinga Dinda. Gadis itu memeluk Rudi.
"Aku mau kamu nanti lebih terbuka lagi denganku untuk mengatakan apa yang kamu mau, jangan cuma iya-iya aja!" pinta Rudi. Lelaki itu balas memeluk Dinda erat-erat.
Mereka berdua masih berpelukan, ketika Billy kembali kesitu.
"Eehhem... Ini yoghurt rasa blueberry. Kamu masih suka rasa ini?" tanya Billy kepada Dinda.
Rudi dan Dinda melepaskan pelukannya.
"iya," jawab Dinda singkat.
Billy membuka botol minuman itu, dan memberikannya pada Dinda.
Mereka bertiga bersikap biasa-biasa saja disitu. Billy duduk di sofa, sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Rudi dan Dinda sibuk dengan Dokter dan perawat, yang kembali memeriksa Dinda.
Dokter dan perawat masih disitu berbincang-bincang dengan Rudi, Dinda sudah mulai merasakan efek obat yang disuntikkan perawat di infusnya. Dinda tertidur.
Melihat pasiennya sudah tidur, dokter dan perawat yang bersamanya, keluar dari kamar.
Rudi mendekati Billy yang duduk di sofa. Dia tidak mau membangunkan Dinda jadi dia berbisik kepada Billy
__ADS_1
"Ada yang mau aku bicarakan! Kita diluar aja!"