OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 65


__ADS_3

Sudah tengah malam barulah Rudi tiba dirumah Dinda. Lelahnya menyetir di perjalanan yang panjang tidak terasa olehnya.


Rudi melompat keluar dari mobil. Dia bisa melihat Billy diteras rumah Dinda, yang berdiri saat melihat Rudi datang.


"Bagaimana? Dimana Dinda?" tanya Rudi dengan cemas.


"Belum ada kabar. Aku sudah meminta beberapa kenalanku, untuk membantu mencari Dinda," ujar Billy dengan wajah lesu.


"Ada satu yang mengganjal pikiranku...


Kenapa Dinda bilang ke mbok Inah, kalau dia pergi bertemu denganmu? Berarti kamu sempat kontak dengannya?" sambung Billy, sambil menatap Rudi dengan tatapan penasaran.


"Dinda memang menghubungiku, tapi aku nggak tahu. HP ku tadi mati karena kehabisan baterai..." kata Rudi, yang masih berdiri didepan Billy.


Kali ini, tinju Billy mendarat tiba-tiba diwajah Rudi. Darah segar mengalir dari bibir Rudi.


"Ini terjadi karena kebodohanmu. Bagaimana bisa kamu meninggalkan Dinda tanpa bisa dia hubungi?


Itu yang kamu bilang kamu yang akan melindungi Dinda?" Billy gemetar menahan amarahnya. Dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.


Rudi hanya terdiam. Dia tahu kalau dia memang salah, dia ceroboh. Dia hanya mengelap darah dari mulutnya, menggunakan tangan.


Saat melihat Rudi tidak melawan, seketika itu juga Billy merasa menyesal telah memukul Rudi. Dia tahu kalau itu tidak akan menyelesaikan masalah.


Billy terduduk di kursi. Dia menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya.


Rudi ikut duduk disitu.


"Kita lapor polisi saja sekarang," ujar Rudi.


Billy menatapnya tajam.


"Aku tahu kalau orang dewasa hilang dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, belum akan langsung diproses...


Tapi siapa tahu kita bisa meyakinkan, agar mereka membantu kita mencari Dinda," ujar Rudi, seakan mengerti maksud tatapan Billy.


"Yaa sudah! Kita pakai mobilku saja," ujar Billy.


Dia lalu menarik pintu depan rumah Dinda agar terkunci, kemudian bersama Rudi berjalan pergi dari situ.


Menggunakan mobil Billy menuju ke kantor polisi. Mereka membuat laporan orang hilang disitu. Kemudian pergi lagi, Billy mengajak Rudi untuk menunggu di rumah Dinda.


Mereka tidak bisa berjalan mencari Dinda begitu saja tanpa ada sedikit pun petunjuk.


Mobil Billy diparkir didalam halaman rumah Dinda. Mereka berdua kembali duduk di kursi teras itu.


"Apa kamu sudah mencoba menyelidiki Alex?" ujar Rudi, yang sejak awal memang mencurigai Alex, yang membawa Dinda.


"Aku tadi menelponnya. Aku berpura-pura mengajaknya untuk bermain basket. Tapi dia bilang dia lagi diluar kota, katanya sudah tiga hari ini," ujar Billy.


"Terus kamu percaya?" tanya Rudi dengan wajah heran.


"Kamu pikir aku bodoh?" bentak Billy.


"Aku tidak mungkin percaya begitu saja, makanya aku meminta kenalanku untuk mencarinya, dan mencari tanda-tanda keberadaan Dinda," sambung Billy.

__ADS_1


"Tapi sejak sore tadi, belum ada informasi apa-apa," sambungnya lagi. Kini Billy merebahkan punggungnya di sandaran kursi.


"Dimana Dinda sekarang..." celetuk Billy. Dia lalu menghela nafas panjang, yang terasa berat.


Rudi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sibuk menyalahkan dirinya sendiri.


Mereka berdua tetap disitu, sibuk dengan pikiran masing-masing sampai pagi ~


Dinda terbangun dengan kepala yang terasa sangat sakit. Dia sempat membuka mata sebentar, tapi kembali memejamkan matanya karena terasa pusing saat melihat cahaya lampu diruangan itu.


Dinda memegang kepalanya yang sakit, lalu mencoba untuk duduk.


Ketika Dinda menggerakkan kakinya, kaki sebelah kanannya terasa sakit.


Dinda membuka matanya pelan-pelan. Dia melihat ada perban yang melilit dari tumit sampai hampir menutupi sebagian pahanya.


Dinda lalu melihat sekelilingnya. Tempat itu asing bagi Dinda.


Dimana ini? Pikir Dinda.


Apa yang terjadi?


Dinda coba mengingat kejadian apa yang membuat dia bisa berada disitu, dengan luka di dahi dan kakinya.


Dinda tahu kalau ada luka di dahinya, karena dia merasa seperti memegang kain perban, yang menempel disitu.


Dia jadi ingat, tadi dia berkendara menyusul Rudi. Matanya terbelalak, dia ingat tadi menabrak pohon, tapi kenapa dia ada di tempat itu.


Dinda berdiri, lalu berjalan pincang menyeret kaki nya, untuk mendekat ke jendela. Jendela yang tidak bisa dibuka, hanya ada sedikit kaca di bagian atas.


Bangunan itu terbuat dari kayu bulat berukuran sedang.


Betapa terkejutnya Dinda saat melihat ada Alex di situ. Alex sedang duduk dekat perapian sambil mendorong kayu bakar kedalam api.


Alex menoleh kearah Dinda.


Dinda yang merasa ada yang tidak beres, berusaha berjalan secepat yang dia bisa, mengarah ke sebuah pintu, yang dia pikir adalah pintu keluar dari tempat itu.


"Kamu mau kemana?" tanya Alex, sambil mengikuti Dinda.


Dinda tidak menjawab, dia hanya ingin cepat keluar dan pergi dari situ.


Alex mempercepat langkahnya kedepan Dinda, lalu membuka pintu.


"Diluar itu hutan...!" kata Alex, sambil memegang daun pintu yang sudah terbuka.


Dinda yang tidak perduli, tetap menyeret kakinya untuk terus melangkah.


Alex memegang bahu Dinda.


Tapi, Dinda menghempaskan tangan Alex.


Saat Dinda sudah diluar, dia melihat kesana kemari. Dia mencari jalan yang bisa dia lalui. Tapi di sekitarnya sangat gelap. Sampai cahaya lampu dari tempat itu tidak mampu menembusnya.


"Kakimu terluka. Kalau kamu mau pulang, kamu harus mendaki keatas sana!" kata Alex, sambil menunjuk dengan tangannya.

__ADS_1


Dinda melihat arah yang ditunjuk Alex. Tidak terlihat apa-apa. Benar-benar gelap gulita.


"Aku tahu kamu mungkin takut. Tapi aku nggak akan mencelakaimu," ujar Alex, mencoba menenangkan Dinda.


"Apa kamu tidak ingat mobilmu kecelakaan?" tanya Alex.


Dinda terdiam sebentar, dia memikirkan sesuatu.


"Mobilmu jatuh kebawah sana, saat kamu masih didalamnya!" ujar Alex.


"Aku tadi sedang berburu, waktu mendengar suara yang keras. Aku mencari asal suara itu, dan melihat sebuah mobil yang rusak parah...


Waktu aku mendekat, aku melihatmu tidak sadarkan diri," kata Alex menjelaskan.


"Lalu kenapa kamu tidak membawaku pulang?" tanya Dinda ketus.


"Kamu bercanda?" kata Alex sambil tertawa.


"Membawamu kesini aja, rasanya hampir membuat punggungku patah," ujar Alex.


Dinda terdiam.


"Aku menggendongmu dari bawah sana kesini. Terus kamu mau aku menggendongmu lagi keatas sana?" ujar Alex, sambil tersenyum sinis.


"Memangnya dimana mobilmu?" tanya Dinda ketus.


"Dinda...! Nanti kamu lihat kalau hari sudah terang. Untuk kesini aku harus berjalan kaki menuruni bukit.


Mobilku ditinggal diatas sana, tidak ada jalan untuk membawa mobil, sampai kebawah sini," kata Alex, menjelaskan situasinya pada Dinda.


"Aku mau pulang sekarang!" seru Dinda, yang memasang wajah masam.


"Bagaimana caranya?" tanya Alex sambil melihat kearah kaki Dinda yang terluka. "Apa aku harus menggendongmu lagi?"


"Aku bisa berjalan!" kembali Dinda berseru.


"Dinda...! Jalan mendaki dengan kaki seperti itu, kamu pikir kamu sanggup?" ujar Alex.


"Aku saja, butuh beberapa kali istirahat. Apalagi kalau gelap seperti sekarang, bisa-bisa malah kita tersesat," sambung Alex.


Dinda tidak tahu mau bicara apa, dia kembali terdiam.


"Ayo masuk dulu! Kamu bisa istirahat dikamar nanti aku tidur diluar dekat perapian," Alex lalu membopong Dinda.


Mereka kemudian berjalan masuk kembali kedalam kabin.


Alex lalu menyodorkan segelas teh hangat untuk Dinda, yang sudah duduk disalah satu kursi, di dekat perapian.


"Diminum dulu...! Disini suhunya cukup dingin. Badanmu sudah kedinginan," ujar Alex, yang melihat Dinda yang gemetar.


Dinda baru tersadar kalau dia mulai menggigil. Dari tadi karena adrenalin, dia tidak merasakan apa-apa. Dinda lalu meminum sedikit teh yang di berikan Alex.


Alex berjalan masuk kekamar tadi.


Tak lama, dia kembali sambil membawa selembar selimut tebal.

__ADS_1


Alex lalu membawa Dinda duduk lebih dekat ke perapian, yang menyala cukup besar.


"Duduk disini saja dulu, biar badanmu hangat lagi!" ujar Alex yang mendudukkan Dinda diatas matras tipis, sambil memakaikan selimut ke punggung Dinda.


__ADS_2