
Dinda bersama Billy kembali ke tempat Mita dan temannya duduk.
Tidak berapa lama, Laura dan temannya juga sudah ikut duduk-duduk disitu.
Dinda, Billy dan Mita bertatap-tatapan saat melihat Laura.
Mereka bertiga tersenyum.
Laura tidak menghiraukan ekspresi teman temannya itu.
"Kalian nggak ada yang lapar?" tanya Billy
"Aku lapar!" seru Laura.
"Kamu, Mit?" tanya Billy pada Mita.
"Nggak terlalu..." jawab Mita. Dia lalu berbisik-bisik dengan teman lelaki, yang duduk disebelahnya.
"Kami makan, deh!" ujar Mita yang lalu berdiri diikuti teman lelakinya.
Begitu juga Laura dan teman lelakinya.
Mereka masuk kembali ditemani Billy.
Dinda merasa badannya lengket, juga ikut masuk. Dia berniat untuk mandi sambil menunggu teman-temannya makan.
Air pancuran kamar mandi terasa menyegarkan. Dinda berlama-lama disitu. Derasnya jatuhan air seperti memijat punggung Dinda.
Mata Dinda terpejam. Dia sama sekali tidak menyadari kedatangan Billy.
Billy memeluknya.
Dinda terkejut. Hampir saja dia berteriak.
"Apa-apaan kamu ini!" seru Dinda. Dia mendorong Billy. Dinda menutup dadanya dengan kedua tanganya, dan memiringkan badannya.
Billy tidak menjawab, dia hanya berdiri disitu memandangi Dinda.
"Keluar! Aku masih mandi! Tuh, kamu jadi basah semua!" ujar Dinda.
Billy tidak perduli. Dia masih saja berdiri disitu. Billy mendekati Dinda. Kausnya yang basah menampakkan tubuhnya yang atletis.
Dinda memalingkan wajahnya dari lelaki itu.
Billy makin mendekat, sampai Dinda tersandar di dinding.
Tak butuh waktu lama, perlakuan Billy ditubuhnya membuat Dinda menyerah. Dia menikmati setiap sentuhan Billy.
Mereka berhubungan intim di bawah jatuhan air, yang masih mengalir deras. Sudah sekali mencapai puncak kepuasan, Billy masih mau lagi. Tapi Dinda menolak.
"Mita dan Laura pasti sudah selesai makan... Mereka pasti sudah menunggu diluar!" bisik Dinda
Billy meskipun dengan berat hati, tetap menuruti perkataan Dinda.
Benar saja, ketika mereka keluar sesudah berpakaian, Mita dan yang lainnya sudah duduk di atas hammock.
Tatapan mata-mata orang disitu, menusuk tajam kearah Dinda dan Billy yang baru keluar.
__ADS_1
"Lama amat mandinya!" celetuk Laura.
Dinda jadi malu. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"Dinda sudah selesai duluan, tapi dia menungguku tadi," ujar Billy enteng.
Mereka berdua lalu ikut duduk disitu.
Mereka berbincang-bincang santai bersahut-sahutan, meski sesekali sibuk dengan pasangan masing-masing.
Sampai malam semakin larut.
Semua sudah merasa lelah. Masing-masing bubar satu persatu, kembali kekamar mereka.
Begitu juga Billy dengan Dinda.
Ketika mereka sampai di depan pintu kamar. Mita keluar dari kamarnya.
"Dinda! Aku mau ngomong bentar dengan Billy! Nggak apa apa?" ujar Mita.
Dinda mengangguk. Dia lalu masuk kekamar dan menutup pintu.
Billy dengan Mita berjalan keluar.
"Dinda akan putus dari Rudi!" ujar Billy tiba-tiba, sebelum Mita berkata apa-apa.
"Kamu tahu darimana? Apa Dinda yang bilang?" tanya Mita heran.
"Dinda belum bilang apa-apa, cuma dia bilang, kalau Rudi sudah nggak merespon kontak Dinda," ujar Billy
"Nggak ada lagi yang bisa menghalangi aku, untuk bersama Dinda," sambung Billy sambil tersenyum bangga.
Saat Dinda menggantung Billy, lelaki itu jadi gila. Billy terobsesi dengan Dinda.
Bagaimana jika Rudi menggantung Dinda, lalu Dinda jadi seperti Billy? Keduanya akan terluka parah.
Mita hanya berharap mereka akan baik-baik saja.
"Aku kedalam dulu!" ujar Billy.
Mita mengangguk.
Mereka berdua kembali ke kamar masing-masing.
"Mita mau ngomong apa?" tanya Dinda, saat Billy sudah masuk ke kamarnya.
"Dia tanya apa ada cadangan 'pengaman'," jawab Billy asal.
"Masa sih?" tanya Dinda lagi. Dia tidak percaya dengan jawaban Billy.
"Iya," jawab Billy. Kini dia mendekati Dinda, yang masih duduk di ujung ranjang.
"Serius..." sambung Billy. Wajah lelaki itu sudah dekat sekali dengan wajah Dinda.
Yang terjadi selanjutnya sama seperti yang biasanya terjadi. Kalau nafsu ber*ahi telah menguasai pikiran, gerak tubuh hanya bisa mengikuti.
Billy merajalela diatas tubuh Dinda. Perlakuan Billy membuat Dinda mengerang hebat. Kali ini tidak ada yang bisa menghentikan mereka, untuk melakukannya sepuas yang mereka mau.
__ADS_1
Teman-teman yang lain, pasti juga sudah asyik dengan pasangannya masing-masing. Tidak ada yang akan perduli, dengan keributan yang terjadi di kamar lain.
Kali ini, Dinda juga sudah tidak perduli lagi dengan Rudi. Dia tidak mau mengingat Rudi.
Dinda menikmati s*x dengan Billy.
Yes, just for s*x, pikir Dinda.
Mereka menggapai puncak kenikmatan dunia sampai berulang-ulang, sampai keduanya tidak mampu lagi untuk pergi membersihkan diri.
Sangat lelah, mereka berdua kehabisan tenaga. Tanpa memakai pakaiannya lagi, hanya selembar selimut yang menutupi tubuh mereka berdua, keduanya tertidur lelap. ~
"Din...! Dinda!"
Suara Billy terdengar pelan, seakan berbisik memanggil Dinda.
Dinda menggeliat, meregangkan tubuhnya. Dinda masih merasa malas untuk membuka matanya. Kemudian dia merasa tetesan air di wajahnya. Dinda lalu membuka mata.
Billy sedang menunduk, wajahnya dekat sekali dengan wajah Dinda. Lelaki itu bermandi keringat. Keringat Billy-lah yang menetes ke wajah Dinda.
"Aahh...! Kenapa kamu sudah berkeringat sampai begini? Keringatmu menetes ke muka ku!" ujar Dinda sambil mengelap wajahnya dengan tangan.
"Sudah pagi! Kamu nggak mau sarapan? Yang lain sudah menunggumu diluar!" ujar Billy.
Dinda menoleh kearah jendela. Diluar sudah terang. Dinda bangkit dari tempat tidur. Selimut terlepas dari tubuhnya. Dia baru ingat kalau dia tidak berpakaian.
Billy memberikannya selembar handuk.
"Ayo mandi sama-sama!" ujar Billy.
Dinda melotot kearah Billy.
Billy tertawa.
"Beneran mandi, kok! Nggak enak juga, kalau mereka menunggu terlalu lama," ujar Billy sambil membuka kausnya, yang sudah basah dengan keringat.
Dinda melihatnya. Dia kemudian melilitkan handuk di badannya, lalu berjalan ke kamar mandi.
Billy kemudian menyusul Dinda.
Selesai berpakaian, Dinda dan Billy lalu menuju keruang makan. Mita dan teman lelakinya sudah duduk disitu. Laura belum kelihatan.
Tak lama, ketika mereka mulai memakan sarapannya, barulah Laura dan teman lelakinya muncul.
"Hari ini kalian mau ngapain sebelum pulang?" tanya Mita.
"Kita berenang di danau, mau?" ujar Laura sambil menyuap sesendok makanan ke mulutnya.
"Ok juga! Tuh, ada perahu! Bisa kita gantian pakai," ujar Mita.
"Semua sudah pintar berenang 'kan? Jangan ada lagi yang pura pura pingsan!" celetuk Mita sambil melirik Dinda.
Dinda yang sedang minum langsung tersedak. Air yang diminumnya, berhambur keluar dari mulutnya. Dinda melotot kearah Mita, yang sudah tertawa terbahak-bahak.
Laura hanya menatap kedua temannya itu. Dia tidak mengerti, tapi dia tidak terlalu menghiraukannya. Laura melanjutkan sarapannya.
Mita yang sudah berdiri, berjalan mendekati Dinda, lalu mencubit pipi Dinda yang sudah memerah. Mita masih saja tertawa, saat Dinda meringis kesakitan, karena cubitan Mita di pipinya.
__ADS_1
Mita dan teman lelakinya keluar duluan. Disusul Dinda dengan Billy. Laura masih butuh beberapa menit untuk menghabiskan sarapannya, baru dia menyusul ditemani teman lelakinya.