
Lima hari berlalu. Billy selalu merasa senang bersama Dinda disampingnya. Tanpa ada gangguan yang berarti. Dinda tampak lebih segar.
Billy menepati omongannya untuk mengatur waktu s*x mereka. Jadi Dinda tidak terlalu lelah.
"Aku mau belanja kekota sebentar sekalian bertemu Mama,, Kamu mau ikut atau menunggu disini?" tanya Billy sambil memakai pakaiannya.
Billy tidak mau memaksa Dinda pergi bersamanya, meski Mamanya meminta Billy untuk membawa Dinda. Billy baru saja menghajar Dinda diranjang, dia tahu kalau Dinda pasti lelah.
Dinda terdiam, dia tidak mendengar apa yang dibilang Billy. Entah kenapa belakangan keinginannya untuk s*x meningkat. Dia terpaku melihat Billy yang tampak sangat tampan saat menggulung lengan kemejanya.
Billy melihat Dinda yang sedang melamun memandanginya. Dia tersenyum, kemudian berjalan mendekat ke ranjang dimana Dinda duduk bersandar dikepala ranjang sambil memegang selimut tipis yang menutupi tubuhnya.
"Kenapa?" tanya Billy saat wajahnya sudah dekat dengan wajah Dinda.
Dinda memegang kerah kemeja Billy lalu menariknya sampai dia bisa mencium bibir Billy. Selimut yang dipegang Dinda terlepas meluncur jatuh ke perutnya.
Billy mengerti apa maunya Dinda, dengan cepat kembali membuka kancing kemejanya. Billy naik keatas ranjang. Bukan cuma Dinda yang mau. Billy masih belum puas, dia hanya terpaksa menahan hasratnya saja.
Pakaian Billy sudah terlepas semua, dia menghempas selimut yang masih ada dipangkuan Dinda. Buah dada Dinda yang padat dan terbuka, jadi sasaran mulut Billy. Milik Billy sudah menegang, dia turun dari ranjang.
Billy menarik kedua kaki Dinda sampai berjuntai di pinggir ranjang, kemudian membuka kaki Dinda lebar lebar. Billy memasukkan miliknya kedalam tubuh Dinda sambil berdiri.
Tangannya memegang pinggang Dinda saat dia menekan miliknya masuk sangat dalam. Billy mulai bergerak pelan. Dinda terpejam. Dia menggigit bibirnya sambil kedua tangannya memegang pinggir ranjang.
Billy tidak bisa berhenti, meski Dinda sampai sesekali terangkat hampir terduduk diranjang karena menahan rasa yang menekan sangat kuat kedalam tubuhnya. Billy tetap bergerak teratur.
Tubuh Dinda hanya seperti bantal kapas yang ringan, semudah itu diangkat Billy yang masih berdiri. Dia menyandarkan Dinda kedinding, dan menahannya disitu, sampai kaki Dinda terangkat dari lantai.
Tekanan milik Billy dalam tubuh Dinda makin terasa. Billy mencium bibir Dinda, lidah mereka beradu.
Billy menekan miliknya berkali kali tanpa memberi jeda lama. Keduanya mend*s*h, tapi masih kembali berciuman.
Billy mempercepat gerakannya, miliknya makin kuat menekan kedalam tubuh Dinda.
Dinda meremas belakang leher Billy, dia mengerang tertahan sambil menggigit bibir Billy pelan. Milik Billy merasakan kedutan didalam Dinda, Billy ikut mengerang. Milik Billy menyemburkan lahar panas yang terasa hangat membasahi milik mereka berdua.
Billy belum mau menurunkan Dinda. Dia masih menahan tubuh Dinda yang tersandar didinding. Milik Billy masih terasa keras.
Dinda tersenyum puas.
__ADS_1
"Kita mandi dulu baru ketemu Mama dikota" ujar Dinda, sambil mengelap keringat didahi Billy dengan tangannya.
Wajah Billy tampak kecewa, tapi Billy tidak bisa menolak. Meski dia masih mau melakukannya lagi.
Billy tetap menggendong Dinda lalu membawanya kebawah jatuhan air pancuran kamar mandi.
Keduanya sudah selesai berpakaian. Billy masih menyempatkan memeluk dan mencium bibir Dinda sepuasnya sebelum mereka pergi kekota.
Sepanjang perjalanan Billy menggenggam tangan Dinda yang Billy letakkan diatas pahanya.
Dinda hanya tersenyum melihat tingkah Billy.
Mereka bertemu Mama Billy dipusat perbelanjaan ditengah kota.
Sambil berjalan berkeliling melihat lihat barang yang ingin dibeli, Mama Billy memegang tangan Dinda, sedangkan Billy tidak mau melepas rangkulannya dipinggang Dinda. Ibu dan anak itu seakan tidak mau melepas Dinda untuk satu sama lain.
Saat Mama Billy mengambil beberapa gaun yang dia rasa cantik untuk dipakai Dinda, Billy tetap saja merangkul pinggang Dinda.
"Coba Dinda pakai ini!" ujar Mama Billy "Billy bisa lepas Dinda sebentar nggak? Gimana dia mau ngepas baju kalau kamu nempel terus kayak perangko?" sambung Mama Billy ketus
"Lihat ukurannya aja,, Nggak perlu dicoba,," ujar Billy
Mama Billy melotot melihat Billy.
"Sini aku bantuin Dinda mencobanya dikamar pas" ujar Billy sambil mencoba mengambil gaun dari tangan Mama Billy.
Plaaakk.
Mama Billy menjitak kepala Billy.
"Kamu itu,, mama tahu kamu mau terus bersama Dinda, cuma kalau begini juga keterlaluan,, Sekali sekali kan Mama juga mau bersama mantu,, masa kamu nggak bisa beri waktu sebentar?!" seru Mama Billy.
Dinda jadi merasa tidak enak. Dia melepas tangan Billy dari pinggangnya, lalu mengambil gaun dari tangan Mama Billy. Setelah melihat ukurannya, Dinda kemudian pergi mencoba memakainya.
Sambil berjalan ke kamar pas, Dinda bisa melihat Billy mengusap kepalanya. Dinda tertawa pelan. Dia merasa lucu melihat tingkah ibu dan anak itu.
"Bagus nggak ma?" tanya Dinda sambil memperlihatkan gaun yang sudah dia pakai.
Yang tadinya cemberut, Mama Billy kemudian tersenyum. Lalu berjalan mendekat.
__ADS_1
"Kamu cantik sekali,, kayaknya banyak yang cocok di kamu kalau begitu" ujar Mama Billy. Dia lalu tampak seperti orang panik, mulai memilih dan mengambil beberapa gaun lagi untuk Dinda.
Dinda melihat kearah Billy. Tapi lelaki itu hanya mengangkat kedua bahunya. Dinda menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Setelah cukup lama berbelanja di dalam stand yang berjualan pakaian itu, mereka berjalan keluar. Kantong belanjaan menumpuk ditangan Billy. Dinda dibelikan beberapa gaun, mama Billy juga membeli gaun untuk dirinya pakai.
Mama Billy tampaknya menuntun mereka ke stand yang berjualan produk kecantikkan. Bakal panjang acara belanjanya, pikir Dinda.
Dinda melihat Billy, yang memonyongkan bibirnya.
"Bilang aja,, ma, aku capek,, aku mau istirahat sebentar" bisik Billy.
Sebelum berbelok ke stand kosmetik itu, Dinda lalu berkata
"Ma,, kita istirahat minum sebentar yaa,,"
Dengan cepat Mama Billy menganggukkan kepalanya.
"Kita minum disitu,, mau?" tanya Mama Billy menunjuk sebuah cafe yang ada diantara stand yang berjejer didalam bangunan itu.
"Iya,," jawab Dinda singkat.
Mereka mengambil tempat duduk bersebelah sebelahan. Dinda duduk diantara ibu dan anak itu.
Mama Billy dan Billy memesan kopi sedangkan Dinda meminta jus alpukat dan sebotol air mineral.
Dinda meneguk air mineral sampai hampir setengah botol, dalam sekali minum.
"Mama buat Dinda capek yaa?" celetuk Mama Billy.
Dinda menatap mata Mama Billy yang tampak sedih.
"Mama memang sudah lama ingin ada anak perempuan yang bisa bermanja dengan Mama,, berdandan, bisa belanja bareng,, yaa yang nggak bisa mama lakukan kalau cuma dengan Billy" sambung Mama Billy
"Nggak kok ma,, Dinda cuma mau minum aja dulu" ujar Dinda. Dia tidak mau Mama Billy sedih. Dia memang merasa lelah, tapi bukan karena Mama Billy, Dinda capek karena anak lelakinya yang mengerjainya tadi.
Pipi Dinda memerah saat membayangkan kalau Mama Billy tahu tingkah Billy dengan Dinda. Minta ampun malunya.
Billy melirik Dinda yang tersipu malu. Dia seakan mengerti apa yang Dinda pikirkan. Billy mendecakkan lidahnya agar Dinda tersadar.
__ADS_1
"Billy dulu hampir punya adik perempuan, tapi mama keguguran saat usia kandungan baru enam bulan" celetuk Mama Billy.
Billy hampir tersedak kopi yang dia minum. Dia tidak pernah tahu itu. Billy benar-benar terkejut saat mendengar mamanya bilang begitu.