OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 39


__ADS_3

Masih subuh, Rudi sudah bangun dari tidurnya. Pelan-pelan dia menarik tangannya dari bawah leher Dinda yang masih tertidur. Rudi lalu pergi mandi.


Ketika Rudi keluar dari kamar mandi, Dinda masih saja tertidur pulas.


Cahaya matahari sudah mulai kelihatan diluar jendela. Rudi harus kekantor hari itu.


Rudi tidak mau membangunkan Dinda. Perlahan dia mengecup kening Dinda. Gadis itu bergerak sedikit, tapi masih saja tertidur.


Rudi keluar dari kamar.


Mbok Inah sudah sibuk didapur. Rudi mendekati mbok Inah.


"Mbok, aku pulang dulu. Aku harus bersiap berangkat kerja. Kalau Dinda bangun, tolong katakan padanya kalau aku akan usahakan agar bisa cepat pulang dan kembali kesini," kata Rudi


"Iya, tuan!" sahut mbok Inah.


"Aku pergi dulu ya mbok!" kata Rudi lagi. Dia lalu berjalan keluar. Kemudian pergi dengan mobilnya.


Dinda baru bangun saat hari sudah hampir siang. Dia melihat Rudi sudah tidak ada disampingnya. Dinda berjalan keluar kamar.


Mbok Inah sedang menyapu lantai. Ketika wanita tua itu melihat Dinda, dia lalu menyapa Dinda


"Non sudah bangun?!" kata mbok Inah.


"Rudi sudah pulang mbok?" Dinda bertanya


"Tadi tuan Rudi pergi ke kantor. Katanya nanti dia usahakan biar bisa cepat pulang, nanti dia kembali lagi kesini. Non Dinda makan dulu ya?! 'kan harus minum obat," kata mbok Inah.


"Hmm, iya mbok!" sahut Dinda.


Dinda melangkah kedepan rumah, dia mau melihat mobilnya. Sedangkan mbok Inah mempersiapkan makanan untuk Dinda.


Dinda melihat sepintas pagar rumahnya. Baik-baik saja pikir Dinda.


Dia terus melangkah ke garasi. Dinda memeriksa bekas goresan di body mobilnya itu. Lumayan dalam goresannya, cat mobil berwarna putih itu terkelupas.


Saat Dinda sibuk memeriksa mobilnya, dia bisa merasakan kalau ada orang yang mendekatinya.


Dinda menoleh.


Billy.


Selalu saja merusak mood orang, gerutu Dinda dalam hati.


Dinda tetap saja berkeliling memeriksa mobilnya, khawatir kalau kalau ada yang lain yang rusak. Dia tidak memperdulikan Billy yang mengikutinya, mengitari mobil.


"Ada apa?" tanya Dinda yang merasa risih, tanpa menoleh lagi kearah Billy, matanya tetap fokus di mobilnya.


"Kamu baru bangun?" tanya Billy.


"Iya," jawab Dinda singkat.


"Capek melayani Rudi?" Tanya Billy enteng.


Dinda membalik badannya menghadap Billy. Dinda benar-benar merasa tidak nyaman mendengar perkataan laki-laki itu. Dinda melotot kearah Billy. Wajah Dinda masam.


"Benar 'kan yang aku bilang?" tanya Billy lagi.


Dinda berbalik. Dia tahu kalau sia-sia saja berdebat dengan Billy. Laki-laki itu tidak akan mau mengalah.


"Kenapa? Kamu marah?" Billy masih saja memancing kekesalan Dinda

__ADS_1


Dinda tetap diam. Dia tidak mau menyahut omongan Billy.


"Aku cuma bercanda...!" suara Billy lalu berubah lembut.


Tapi Dinda masih diam, seolah tidak menganggap adanya Billy disitu.


Merasa tidak diperdulikan, Billy mendekat. Billy menarik lengan Dinda, sampai gadis itu berbalik badan menghadap kearahnya.


"Lepaskan tanganku!" kata Dinda


"Kamu ini kenapa sih?" sambung Dinda lagi. Dinda cemberut dan mengerutkan alis nya. Dia menunjukkan rasa ketidak sukaannya dengan Billy.


"Jangan marah...! Aku cuma bercanda..." kata Billy yang masih saja memegang lengan Dinda.


"Apa kamu sudah lebih baikkan?" tanya Billy dengan suara yang lembut. Dia mendekatkan tangannya, dan menyentuh perut Dinda.


"Sudah!" jawab Dinda ketus. Dia menepis tangan Billy dari perutnya.


Disaat itu juga, mbok Inah muncul disitu.


"Non, ayo makan dulu! Makanannya sudah siap!" kata mbok Inah.


Wanita itu melihat Billy.


"Eh, ada tuan Billy," ujar mbok Inah.


"Iya, mbok!" jawab Dinda dan Billy bersamaan.


"Tuan Billy, mau makan sama-sama Non Dinda?" tanya mbok Inah kepada Billy.


Dinda merasa heran. Mbok Inah dari dulu selalu lebih ramah dan perhatian dengan Billy, dibandingkan teman-teman Dinda yang lain. Billy punya keistimewaan apa, sampai mbok Inah seperti lebih sayang dengan dia, pikir Dinda.


"Boleh mbok, kalau aku nggak diusir Dinda," kata Billy santai.


Billy hanya tersenyum.


"Sebentar kami masuk mbok, aku cuma mau melihat ini dulu," kata Dinda pada mbok Inah, sambil menunjuk goresan di mobilnya.


Mbok Inah berlalu, dia kembali masuk kedalam rumah.


Dinda masih diam berdiri seakan terpaku disitu.


Billy yang masih memegang lengan Dinda, menarik nya hendak membawa Dinda kembali masuk kedalam rumah.


"Ayo, jangan buat mbok Inah menunggu!" kata Billy


Dinda yang tidak siap, hampir saja terjatuh. Untung Billy dengan sigap menangkapnya.


Dinda cemberut menatap Billy.


"Maaf...! Aku gak sengaja!" kata Billy.


Wajah Dinda masih saja cemberut.


Billy lalu mengangkat tubuh Dinda. Seperti menggendong anak kecil, membawanya masuk kedalam rumah.


"Turunkan aku! Dengar nggak? Turunkan aku!" Dinda memukul dada Billy, tapi Billy hanya tertawa. Dia tetap saja tidak mau menurunkan Dinda.


Sampai didalam rumah, masih di gendongan Billy, Dinda masih saja memukul mukul dada lelaki itu.


Mbok Inah yang melihat adegan itu terkekeh.

__ADS_1


Dinda berhenti memukul Billy. Dinda lalu menatap mbok Inah dengan penuh tanya.


"Maaf Non! Melihat Non Dinda bertengkar dengan tuan Billy, mbok jadi teringat waktu Non Dinda masih SMA," kata mbok Inah yang menyesal telah menertawakan Dinda dan Billy.


Dinda berbalik melihat Billy. Lelaki itu tersenyum lebar.


"Turunkan aku!" kata Dinda kepada Billy.


Billy lalu menurunkan Dinda keatas kursi di ruang makan. Lelaki itu merasa puas mengerjai Dinda.


Mereka berdua lalu makan makanan yang sudah disajikan mbok Inah.


Selesai makan, Dinda pergi ke ruang tengah dan menyalakan televisi. Billy menyusul lalu ikut duduk disitu.


Dinda melirik Billy yang tampak santai duduk disofa.


"Mbok Inah kok masih ingat ya?" tanya Dinda


"Apa?" sahut Billy


"Katanya tadi kan, dia masih ingat kelakuan kita waktu SMA," lanjut Dinda


Billy mengangkat bahunya, menandakan kalau dia juga tidak tahu.


Mereka berdua sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Dinda teringat waktu itu. Kelakuan Dinda dan Billy seperti anak kecil. Billy suka mengganggu apa yang dibuat Dinda.


Seperti ketika Dinda sedang menanam bunga didalam pot untuk antaran tugas sekolah, Billy mengambil tanah yang agak basah kemudian menggosoknya di pipi Dinda.


Mereka berdua lalu kejar-kejaran di halaman. Almarhumah Mama biasanya hanya tertawa kalau melihat Billy mengerjai Dinda. Sedangkan Almarhum Papa tidak bisa marah, paling cuma geleng-geleng kepala.


Dinda jadi rindu dengan kedua orang tuanya. Dinda menunduk. Dia berusaha menahan air matanya. Dinda tidak mau menangis didepan Billy.


Billy tahu ada yang tidak beres dengan Dinda. Billy mendekat.


"Ada apa? Perutmu sakit?" tanya Billy memegang bahu Dinda.


Dinda menggeleng. Dia tetap menunduk.


"Ada apa? ngomong aja..." Billy membujuk Dinda.


"Aku rindu papa mama" Dinda tidak bisa menahannya lagi, dia menangis terisak isak.


Mbok Inah setengah berlari mendatangi Dinda.


"Kenapa Non?" tanya mbok inah.


Dinda memeluk mbok Inah.


"Aku rindu mama! Aku rindu papa!" kata Dinda berulang ulang.


Mbok Inah ikut menangis.


Billy hanya terdiam melihat Dinda dan mbok Inah seperti itu. Dia hanya mengusap-usap punggung Dinda.


Setelah tangisan Dinda reda, Billy berkata


"Kamu minum obatmu dulu, baru kita ke kuburan Papa Mama. Aku juga mau melihatnya."


Billy teringat kalau sejak dia kembali, dia belum pernah berziarah ke makam orang tua Dinda. Padahal selama dia masih bersama Dinda sebelum pergi ke Australia, Billy cukup dekat dengan orang tua Dinda.

__ADS_1


Malahan Billy lebih dekat dengan orang tua Dinda dari pada dengan orang tuanya sendiri.


Lelaki itu merasa bersalah karena pikirannya hanya terfokus dengan Dinda, dan seakan lupa dengan orang tua gadis itu.


__ADS_2