OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 18


__ADS_3

Setelah menyelesaikan kuliahnya dan mendapat gelar sarjana hukum, Rudi dan Dinda lalu melanjutkan mengambil pendidikan khusus profesi advokat, sedangkan Laura langsung bekerja di kantor milik ayahnya dan Eko bekerja di salah satu perusahan konstruksi.


Sejak mereka berbeda-beda kegiatan, tidak pernah lagi ada kesempatan untuk double date.


Beberapa waktu kemudian, Dinda dan Rudi baru bisa memasuki dunia kerja.


Karena berbeda kantor magang, Dinda dan Rudi juga tak lagi bisa bersama terus seperti waktu masih kuliah dulu.


Karena semua sudah memiliki kesibukkan masing masing, intensitas pertemuan mereka semakin berkurang.


"Besok kita weekend kemana?"


Dinda melihat pesan yang masuk di ponselnya.


Pesan dari Rudi.


"Nanti aku kontak. Aku masih ada pertemuan dengan klien!" Dinda mengetik balasan secepatnya. Dinda khawatir kalau-kalau atasannya memperhatikan.


Atasan Dinda adalah seorang wanita berwatak keras dan gila kerja. Wanita itu tidak suka melihat sesuatu mengganggu anak buahnya, saat sedang bekerja.


Atasan Dinda terkenal akan sifatnya yang suka mengatur, entah itu dikantor tempat dia bekerja maupun dikeluarganya. Karena sifat buruknya itu, dia sampai sampai bercerai, dan tahan menjanda sejak beberapa tahun yang lalu.


" Ehem..."


Dinda menoleh kearah datangnya suara. Atasannya sudah melotot kearahnya.


Dinda mengangguk-angguk seakan sedang meminta maaf.


Pertemuan itu akhirnya selesai juga.


"Lain kali handphonenya di matikan dulu!" kata Bos wanita Dinda itu.


"Iya, buk! Maaf, tadi Papa saya yang mengirim pesan!" Dinda terpaksa berbohong.


"Ok, kali ini saya maafkan. Tidak ada kesempatan lain kali. Mengerti?"


"Baik buk. Terimakasih!"


Firma tempat Dinda bekerja sebagian besar pekerjanya berkelamin perempuan. Ada beberapa saja yang lelaki, itu pun hanya dianggap pekerja kelas rendah oleh Atasan Dinda yang seksisme.


Penuh tekanan, tapi Dinda tetap mau bekerja disitu. Dia tidak ingin dipecat dalam waktu dekat. Dia ingin menjadi rekanan di firma itu. Dia merasa, kalau tempat itu kemampuannya bisa dikembangkan sampai maksimal.

__ADS_1


Atasan Dinda kembali ke ruangannya. Sedang Dinda juga kembali ke meja kerjanya.


Dinda menyalakan handphonenya.


"Kamu ada rencana mau kemana?" ketik Dinda lalu mengirim pesan kepada Rudi.


"Kita ke vila di bukit. Mau?"


"Ok."


Jam kerja Dinda cukup panjang. Tak jarang gadis itu harus lembur sampai pagi.


Saat libur akhir pekan seperti ini saja dia bisa bersama Rudi.


Keduanya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Itu sebabnya setiap akhir pekan, mereka selalu merencanakan pertemuan keduanya dengan baik.


Dinda tidak terlalu memperhatikan, kalau Rudi tampak lebih ceria dari biasanya.


Dinda duduk disamping Rudi yang sedang menyetir.


Vila itu tidak terlalu jauh. Tidak memakan waktu lama mereka sudah tiba. Tempat itu sudah beberapa kali jadi tujuan mereka berdua. Bisa dibilang tujuan favorit diantara tempat yang lain.


Pemandangan disitu sangat indah. Suhu udara yang cukup dingin dan suasana sepi, membuat vila itu menjadi tempat terbaik untuk beristirahat dari lelahnya bekerja.


Rudi melihat itu, lalu membalikkan badan Dinda dan mulai memijat bahu sampai ke punggung gadis itu.


"Mau tukang pijat beneran?" tanya Rudi.


"Nggak usah! Cukup kamu aja!" Dinda menikmati pijatan yang dilakukan Rudi.


"Aku lelah sekali. Rasanya mau berhenti tapi sayang..." ujar Dinda


Mendengar perkataan Dinda, Rudi hanya diam tidak berkata apa apa, dia tahu itu terserah Dinda.


Meskipun dia tidak tega melihat kekasihnya seakan di ekploitasi, tapi dia tidak mau mengatur pilihan Dinda.


Setelah dirasa sudah cukup rileks, keduanya lalu berjalan-jalan menikmati pemandangan dibagian belakang bukit.


Mereka berdua menghabiskan waktu bersama, sampai hari mulai senja.


Rudi tampak gelisah. Berkali-kali dia melihat jam ditangannya. Dinda yang memperhatikan dari tadi, jadi penasaran.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Dinda.


"Nggak ada apa-apa" jawab Rudi gelagapan.


"Ada apa sih?" Dinda mulai kesal.


"Nggak ada apa-apa, sayang...!" Rudi berusaha menenangkan Dinda.


"Kita mandi dulu yok! Bentar lagi jamnya makan malam," kata Rudi sambil merangkul Dinda.


Rudi sudah siap, dia lalu keluar dari kamar vila terlebih dahulu.


Dinda yang melihat Rudi pergi meninggalkannya, jadi sangat kesal. Ada apa dengan pemuda itu?


Dinda melangkah masuk kedalam restoran. Lampu lampu hias yang indah dengan hiburan live musik, tidak mampu meredakan kekesalan Dinda kepada Rudi.


Dinda melihat Rudi yang sudah duduk dengan wajah tersenyum manis kearahnya. Dengan rasa enggan, gadis itu berjalan mendekat.


Diatas meja ada setangkai bunga yang diletakkan diatas piring didepan Dinda.


Dinda memegang bunga itu. Dia merasa seperti ada yang salah.


"Kenapa ini?" Dinda bertanya. Tumben, apa ada kesalahan yang dibuat Rudi? pikirnya.


Rudi memasang wajah semanis-manisnya.


"Sorry, baru kali ini kepikiran kasih bunga!" kata Rudi.


Pemuda itu tertawa kecil. Receh pikir Dinda.


Dinda makin curiga. Sepertinya memang ada yang tidak beres. Wajah Dinda makin cemberut. Tapi Rudi tidak memperdulikannya.


"Ini ada lagi!" kata Rudi. Dia lalu menyodorkan kotak perhiasan kecil.


Dinda membuka kotak perhiasan itu. Sebuah cincin yang cantik, terpampang disitu.


"Kamu mau menikah denganku?" kata Rudi yang sudah berjongkok disamping Dinda.


Raut wajah Dinda yang awalnya cemberut, berubah total seratus delapan puluh derajat. Dia tersenyum lebar. Pipinya memerah.


Dinda mengangguk.

__ADS_1


Rudi kemudian memasang cincin itu di jari manis Dinda. Pemuda itu lalu memeluk kekasihnya


erat-erat.


__ADS_2