OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 25


__ADS_3

Billy menatap wajah Dinda.


Wajah gadis itu agak sembab karena menangis tadi.


"Tolong biarkan...! Aku cuma mau mengobrol saja denganmu..." kata Billy


"Aku tahu aku salah... Tapi, tolonglah biar cuma mengobrol dengan kamu aja cukup."


Dinda tidak menjawab.


"Sebentar aja...! Aku masih ingin bersamamu... Kita mengobrol di cafe ya?!" kata Billy lagi.


Ponsel Dinda berbunyi. Dinda melihat ada pesan masuk.


"Aku sudah selesai, aku ke rumahmu ya, sayang!" teks pesan dari Rudi.


Billy sempat membaca isi pesan dari Rudi itu.


Billy memegang tangan Dinda, yang sudah bersiap hendak keluar dari mobilnya.


"Aku cuma mau kamu menemaniku sebentar, baru aku antar kamu pulang...!"


"Nggak bisa, Rudi mau kerumah! Aku bisa pulang pakai taksi aja!" kata Dinda bersikeras mencoba melepaskan genggaman tangan Billy.


"Katakan saja pada tunanganmu kalau kamu lagi diluar bertemu teman lama. Tolonglah Dinda. Kali ini aja... Kita cuma mengobrol, nggak ngapa-ngapain!" Billy memelas.


Hati Dinda luluh melihat wajah Billy.


Dia berpikir sebentar. Dinda mengetik pesan balasan untuk Rudi. Kemudian berkata.


"Sebentar aja ya?!"


Billy senang dengan jawaban Dinda.


Dinda bercermin di spion. Dia merapikan wajah dan rambutnya.


Billy memandangi wajah gadis itu. Dalam hati Billy menyadari, masih begitu besar rasa cintanya kepada Dinda. Sulit baginya melepaskan Dinda untuk lelaki lain. Dia harus memutar otak agar tetap bisa memiliki gadis itu.


Dinda keluar dari mobil, disusul Billy.


Mereka berdua pergi ke salah satu cafe di pusat perbelanjaan itu.


"Akhirnya kamu berhasil capai cita-citamu,"kata Billy membuka percakapan mereka.

__ADS_1


"Hampir... Aku masih intern, belum jadi rekanan," kata Dinda.


"Bagaimana denganmu?" sambung Dinda.


"Selesai mendapat gelar sarjana, Papa memintaku untuk meneruskan bisnisnya," kata Billy datar.


"Hmmm, ya gitu deh. Sekedar jadi sarjana, tapi tetap aja kembali ke bisnis keluarga," sambung Billy yang tampak kecewa.


Dinda menangkap ekspresi kekecewaan Billy.


"Syukuri aja! Masih enak tuh, kamu yang jadi bosnya... Kamu nggak tau aja tekanannya jadi bawahan kayak aku ini. Stres! Salah dikit langsung kena semprot," kata Dinda.


"Enak dari mana? Hidup ku di atur ortu. Begitu dibilang enak?!" ujar Billy


"Yaa udah, nggak ada yang enak kalo gitu!"


Billy tersenyum mendengar perkataan Dinda.


Dinda pun ikut tersenyum.


Mereka mengobrol santai disitu. Benar benar hanya seperti teman lama yang baru bertemu. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyinggung tentang rasa cinta, atau apa pun yang berhubungan dengan itu, sampai minuman mereka habis.


Billy kemudian mengantar Dinda pulang.


"Masih sakit?" gadis itu memegang tangan Billy, hendak melihat luka disitu.


Billy melirik Dinda. Tapi, Billy berpura-pura cuek.


"Nggak!" kata Billy datar.


"Nanti di kompres dengan es ya, diobati lukanya. Kalau masih sakit coba periksakan ke dokter. Takutnya tambah parah," kata Dinda masih memegang tangan lelaki itu.


Dinda meraba-raba telapak tangan Billy pelan, mencoba merasakan kalau-kalau ada tulangnya yang patah.


Dalam hati, Billy senang mendapat perhatian dari Dinda.


Entah apa yang dia pikir atau rencanakan. Lelaki itu memalingkan wajahnya dari Dinda. Billy menggigit bibirnya dan tersenyum lebar.


Matahari sudah tenggelam, ketika mereka berdua tiba dirumah Dinda.


Rudi sudah ada disitu. Rudi duduk menunggu di kursi teras depan.


Melihat Dinda turun dari mobil, Rudi kemudian berjalan mendekat.

__ADS_1


Billy menyusul turun mengikuti Dinda.


"Rud, ini Billy! Teman SMA ku dulu. Dia baru aja balik dari Australia," kata Dinda


"Billy! Ini tunanganku Rudi!" sambung Dinda memperkenalkan mereka.


Ada sedikit rasa persaingan dalam hati Rudi ketika melihat wajah dan perawakan Billy. Tapi saat Dinda mengatakan kalau mereka sudah bertunangan, kepercayaan dirinya kembali. Rudi merasa kalau dia lah sang pemenang.


Kedua lelaki itu bersalaman.


"Kami masuk dulu ya, Bill!" kata Dinda.


Sebelum Billy mengeluarkan suaranya, Rudi lalu berkata


"Nggak mau singgah dulu ? Kita ngobrol sebentar..."


Rudi ingin mengenal Billy lebih jauh. Walaupun cuma sedikit, tetap ada rasa cemburu dihati laki-laki itu.


Lelaki ini membuat Rudi teringat dengan Mark.


Dinda mengernyitkan alisnya. Wajah Dinda yang tampak tak percaya dengan apa yang dikatakan Rudi.


Ego Billy terpicu ketika melihat raut wajah Dinda. Dengan rasa percaya diri, Billy menyetujui ajakan Rudi.


Seakan tidak perduli, Dinda melangkah terlebih dahulu, kemudian mempersilahkan kedua lelaki itu untuk duduk di kursi teras rumahnya.


Dinda kemudian masuk kedalam rumah hendak membuatkan minum.


Tidak memakan waktu lama Dinda berada didalam rumah. Tapi, saat gadis itu kembali membawa minuman untuk mereka, aroma persaingan antara kedua lelaki itu sudah tercium.


Dasar bodoh !


Mereka berdua memang bodoh !


Aku juga bodoh ! pikir Dinda.


Dinda duduk di ayunan membiarkan kedua lelaki itu bicara. Gadis itu sebal mendengar cerita Rudi dan Billy, yang saling adu kehebatan. Merasa bosan, Dinda tidak perduli dengan apa yang kemungkinan terjadi. Bodo amat!


Untung saja kedua lelaki itu hanya bercerita tentang pekerjaan masing-masing. Kedua laki-laki itu sama-sama bisa menahan mulut mereka, dari pembicaraan tentang hubungan percintaan. Kalau tidak, bisa-bisa terjadi peperangan saat itu.


Malam semakin larut, Billy dan Rudi berpamitan pulang dengan Dinda.


Keduanya pulang kerumah masing-masing.

__ADS_1


Setelah keduanya pulang, barulah Dinda bisa bernafas lega.


__ADS_2