OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 35


__ADS_3

"Selamat pagi!" suara itu terdengar memecah keheningan di dalam kamar Dinda.


Seorang dokter dan dua orang perawat sudah ada diruangan itu.


Dinda di periksa dan dipersiapkan untuk menjalani prosedur pengangkatan usus buntunya.


Dengan didorong dua orang perawat tadi, Dinda dibawa keruang bedah. Rudi menemaninya sampai didepan pintu.


Sedangkan Billy tidak terlihat disitu. Billy pergi dari rumah sakit pagi-pagi sekali, tanpa berpamitan dengan Dinda atau pun Rudi.


Ketika Dinda keluar dari ruang operasi, kini Rudi juga tidak terlihat disitu.


Katanya mau temani, lah ini hilang semua. Dinda menggerutu dalam hati.


Dinda diatas ranjangnya yang didorong oleh dua orang perawat tadi, dibawa kembali ke kamar inap.


Billy sudah menunggu disitu. Billy sepertinya baru saja kembali dari rumahnya. Lelaki itu mengenakkan kemeja polos berlapis jas modern, dipadukan dengan celana jeans panjang, dan sepatu sport kasual. Tampak segar dan tampan seperti biasanya.


Ketika Dinda masuk, Billy melepas jas dan menggulung lengan kemejanya.


Dinda menatapnya sinis. Lelaki itu seperti sengaja mengatur bagaimana penampilan, yang membuatnya tampak makin menarik perhatian wanita, pikir Dinda.


Benar saja, Dinda bisa mendengar bisik-bisik dua perawat wanita itu, yang membicarakan rasa kagum mereka ketika melihat Billy.


Dinda tidak perduli, dia bertingkah seolah-olah tidak mendengar percakapan kedua perawat itu. Ini bukan kali pertama Dinda melihat perempuan yang kagum dengan Billy. Wajar saja, wanita mana yang tidak kagum dengan wajah dan perawakan Billy. Dinda tidak bisa memungkiri hal itu. Dinda sudah biasa.


Tetapi Billy bukan orang yang mudah terpengaruh. Meskipun dua perawat wanita itu senyum-senyum melirik dia, Billy tetap stay cool tak bergeming.


Billy tidak memperdulikan mata-mata wanita itu yang tertarik padanya.


Setahu Dinda, Billy memang sudah cuek seperti itu sejak pertama Dinda mengenalnya.


Saat kedua perawat itu senyum kearah Billy sambil memeriksa peralatan medis yang dipakai Dinda, mata Billy hanya tetap memandangi Dinda.


Dinda hanya balik menatap Billy tanpa membuat ekspresi apa-apa.


Didalam hati Dinda, ada rasa bangga karena Billy memilih dia, tapi juga ada sedikit rasa ngeri karena sifat obsesif Billy.


Setelah kedua perawat itu pergi, Billy mendekat kesamping ranjang Dinda, lalu duduk di sedikit celah yang tersisa diatas ranjang.


"Sakit?" tanya Billy yang sadar telah membuat ranjang itu sedikit bergerak.


Dinda menggeleng.


"Apa kamu lihat Rudi?" tanya Dinda.


"Dia sudah pergi!" kata Billy

__ADS_1


"Dia sudah bosan denganmu, dia sudah dapat kekasih baru. Katanya tadi dia mau putus aja denganmu. Dia suruh aku aja yang menjagamu!" sambung Billy


Tawa Dinda langsung pecah, tapi terhenti begitu saja, karena luka diperutnya terasa sakit. Gadis itu meringis. Dia memegang perutnya.


"Kamu pikir aku percaya?"


Billy ikut meletakkan tangannya diatas tangan Dinda yang memegang perutnya.


"Itu maunya aku..." kata lelaki itu datar.


"Sakit ya?" Billy menatap Dinda dalam-dalam.


"Sedikit..." jawab Dinda.


"Rudi tadi pergi kekantornya. Katanya dia sudah ijin, tapi entah ada apa, dia disuruh kembali kesana. Dia minta aku menemanimu sampai dia kembali..." kata Billy menjelaskan


Dinda memperbaiki posisi tubuhnya yang agak melorot dari sandaran ranjang.


Dengan cepat Billy memegang dan membantu gadis itu.


"Kamu belum bisa makan?" Tanya Billy


"Belum, harus menunggu buang angin dulu," kata Dinda.


Seorang dokter tiba-tiba sudah ada di kamar Dinda. Dia memeriksa Dinda


Dokter itu kemudian keluar dari situ.


Billy dan Dinda bertatapan, mereka berdua tersenyum menahan tawanya ketika melihat gaya, dan tingkah dokter tadi yang gemulai. Mereka berdua seperti anak kecil yang baru saja melihat sesuatu yang lucu.


Billy kemudian berdiri, dia mengambil barang dari saku jasnya yang dia letakkan di sofa.


"Aku punya sesuatu untukmu..." kata Billy


Billy memegang tangan Dinda yang terpasang cincin dari Rudi.


Billy hendak memasang sebuah cincin lagi di jari tangan Dinda.


Belum sempat terpasang, Dinda menarik tangannya.


Billy menatap Dinda.


"Tenang...! Ini akan kupasang dijari tengahmu. Aku kan sudah bilang akan menahan diri. Aku nggak akan langsung menggeser lelaki itu," Billy kembali memegang tangan Dinda


"Kalau sampai Rudi bertanya, bilang saja kamu membelinya sendiri."


Billy memasukkan cincin itu kejari tangan Dinda.

__ADS_1


Cincin itu kecil seperti pemberian Rudi, tapi keindahannya jauh lebih mencolok.


"Tolong jangan dilepas, sampai aku pergi dari hidupmu!" kata Billy.


Dinda menatap kedua cincin di jari tangannya. Dia menarik nafas panjang. Apalagi ini? pikir Dinda.


"Aku mau cream soup, bisa kamu belikan?" tanya Dinda kepada Billy.


Sebenarnya Dinda hanya beralasan. Dinda mau Billy menjauh dulu biar sebentar. Dia ingin sendiri dulu disitu. Dia pusing memikirkan apa maunya lelaki itu.


"Tunggu sebentar aku belikan! Ada lagi yang kamu mau?" tanya Billy.


"Nggak ada, itu aja!" kata Dinda.


Billy berdiri mengambil handphone Dinda dan menyerahkan nya kepada gadis itu.


"Cepat hubungi aku kalau ada apa-apa!" kata Billy.


"Iya," jawab Dinda


Billy menyempatkan mengecup bibir Dinda, lalu bergegas pergi.


Setelah Billy pergi, Dinda bisa bernafas lega. Dinda menatap lagi dua cincin yang bersebelahan dijari-jari tangannya. Dia tidak tahu rencana Billy, tapi dia juga tidak mau membuat Billy marah.


Tiba-tiba perutnya terasa melilit. Dia mengeluarkan gas dari perutnya.


Setelah itu, Dinda kemudian merasa lapar. Dinda memencet tombol disamping ranjangnya untuk memanggil perawat.


Seorang perawat masuk dan memeriksa Dinda. Tak lama perawat itu keluar, kemudian masuk lagi sambil membawa satu butir obat didalam gelas plastik kecil.


"Obatnya diminum ya, terserah aja mau makan dulu atau sebelum makan nggak apa-apa, yang penting dijeda satu jam," kata perawat itu, sebelum pergi dari situ.


Kemudian menyusul petugas kantin rumah sakit mengantarkan makanan untuk Dinda.


Dinda melihat makanannya sebentar, dia kurang berselera.


Saat petugas kantin di rumah sakit itu keluar dari kamar sambil mendorong troli makanan, berpapasan dengan Billy didepan pintu. Billy sudah kembali membawa sup pesanan Dinda.


"Sudah bisa makan?" tanya Billy, ketika melihat ada makanan diatas meja.


"Iya. Mana sup ku?"


"Ini. Kamu nggak mau makan yang lain?"


"Nggak, nanti aja! Aku cuma mau sup itu aja!" jawab Dinda


Meskipun Dinda bersikeras kalau dia bisa makan sendiri, Billy tetap memaksa untuk menyuapi Dinda.

__ADS_1


__ADS_2