
Ketiga sahabat itu bersama pasangannya, bersenang-senang didanau. Beberapa yang ada disitu ada yang berenang, dan ada yang cuma berjemur di dermaga.
Menggunakan perahu, Dinda dengan Mita menikmati pemandangan di danau.
"Aku penasaran dengan kamu dan Billy..." celetuk Mita, saat mereka sudah ditengah danau. Dia meletakkan dayung yang mereka pakai, di atas perahu.
"Bagaimana kamu dengan Rudi?" sambung Mita
"Kayaknya aku harus melupakan Rudi..." ujar Dinda. Raut wajahnya menampakkan kesedihan.
"Boleh aku tahu kenapa?" tanya Mita.
"Rudi memaksa agar aku mau cepat menikahinya," ujar Dinda.
"Terus, masalahnya apa? Bukannya kamu mencintai Rudi?" tanya Mita.
"Aku belum mau menikah. Iya aku mencintainya, tapi aku masih mau mengejar karirku dulu. Kami sempat tidak kontak beberapa hari, waktu dia memintaku cepat menikah dengannya...
Terus aku bercerita dengan Billy. Dia sarankan agar aku bicara ke Rudi apa yang aku mau. Jadi aku ngomonglah dengan Rudi, tapi kami hanya bisa bersama selama beberapa waktu, lalu berpisah jalan...
Sejak berpisah hari itu, aku mengontak Rudi. Tapi sampai sekarang dia tidak membalas pesanku, hanya dibaca aja," kata Dinda.
"Selama aku bersamanya, apa yang dia mau selalu aku turuti. Tapi untuk yang satu ini, dia nggak mau mengalah," sambung Dinda.
"Memangnya nggak bisa mengejar karir saat sudah menikah?" tanya Mita
"Atasanku dikantor sudah mewanti-wanti, kalau sampai ada anak magang yang menikah sebelum masa magang berakhir, dia tidak akan merekomendasikan orang itu untuk jadi rekanan," kata Dinda.
"Aku sudah bersusah payah selama ini, menghadapi atasan ku yang gila kerja. Aku nggak mau gagal begitu saja, saat sudah mendekati garis finish," sambung Dinda.
Mita mengangguk-angguk. Mita mengerti dengan maksud Dinda. Tapi masih bingung dengan respon Rudi.
"Kamu nggak tanya kenapa dia buru-buru mau menikah?" tanya Mita
"Rudi tidak mau bicara," ujar Dinda ketus.
"Ah, sudahlah! Mungkin dia memang bukan jodohku..." sambungnya.
"Sekarang kamu bersama Billy?" tanya Mita.
"Aku rasa mungkin sementara ini, sama seperti kamu dengan teman lelakimu. Sekarang hanya untuk s*x. Selanjutnya aku nggak tahu, yang aku tahu, karir yang jadi prioritasku sekarang," ujar Dinda.
"Yaa sudah kalau begitu... Santai aja! Siapa yang tahu nanti seperti apa," ujar Mita.
Dalam hati Mita senang, karena meskipun Dinda mencintai Rudi, tapi dia lebih mencintai karirnya. Itu lebih menenangkan karena kalau cuma karir, kemungkinan besar masih bisa Dinda raih, jadi hal itu tidak akan membuat Dinda jadi gila.
Sedangkan Billy yang terobsesi dengan Dinda, Mita tak tahu mau bagaimana. Dia hanya berharap nanti Dinda mau memberi hatinya untuk Billy, atau mungkin nanti sebaliknya, Billy bisa bertemu seseorang, yang bisa menghapus Dinda dari hidupnya.
__ADS_1
Keduanya duduk bersantai disitu.
Dari tepi dermaga, Laura melambai-lambai kearah Mita dan Dinda.
Mita menatap Dinda.
Dinda hanya mengangkat kedua bahunya.
Mereka lalu memutuskan untuk kembali ke dermaga. Keduanya mendayung perahu itu bersama sama.
Saat mereka sampai di dermaga, tanpa aba-aba Laura naik keatas perahu. Perahu itu menjadi limbung. Bergoyang kekiri-kekanan, sampai hampir tenggelam.
"Lauraaaa!" teriak Mita berbarengan dengan Dinda.
Dinda langsung melompat naik, ke atas dermaga. Dinda mengelus elus dada, sambil tertawa.
Perahu itu kekecilan kalau harus bertiga yang naik kesitu.
Setelah Dinda melompat, perahu itu kembali tenang.
Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak, menertawakan kebodohan mereka.
Laura melambaikan tangannya, kemudian bersama-sama Mita mendayung ketengah danau.
Dinda duduk dipinggir dermaga sambil mengayun-ayunkan kakinya di air, sambil melihat perahu itu menjauh.
Selama beberapa waktu, Dinda melamun disitu. Dia tidak menyadari teman lelaki Laura, yang asyik berjemur dengan bertelanjang dada didekatnya.
Billy tidak mau membiarkannya lebih lama lagi. Dia berjalan kearah Dinda, meninggalkan teman Mita yang masih bicara dengannya.
Saat Billy mendekat, lalu memperhatikan Dinda baik-baik. Barulah dia tersadar kalau Dinda hanya sedang melamun. Hampir saja, pikir Billy. Dia mengusap wajahnya dengan sebelah tangan.
"Dinda...!" panggil Billy dengan suara lembut.
Dinda berbalik.
"Hah? Apa?" ujar Dinda.
Billy berjalan makin mendekat kepada Dinda. Dia lalu duduk disamping Dinda, kemudian ikut menjulurkan kakinya ke air.
"Awas ada buaya!" ujar Billy.
Dinda berhenti mengayunkan kaki. Dia menatap Billy.
"Iya! Kamu buayanya!" ujar Dinda ketus.
Billy hanya tertawa.
__ADS_1
"Kamu buaya betinanya!" ujar Billy.
Dinda juga ikut tertawa.
Mereka berdua menatap danau. Perahu yang di naiki Laura dengan Mita, mulai mendekat.
Kedua gadis itu turun dari perahu. Hanya menyapa Billy dan Dinda, kemudian mendatangi teman lelaki mereka masing-masing.
"Sudah lumayan panas, loh! Ayo kita masuk!" ujar Billy.
Dinda melihat wajah Billy yang putih, sudah berubah merah seperti kepiting rebus.
"Ayo!" ujar Dinda sambil berdiri dari situ.
Billy berdiri. Dia memegang tangan Dinda lalu berjalan kearah pepohonan.
Mereka berdua melihat pengurus vila berjalan mendekati mereka. Ternyata hendak memberitahu kalau makan siang sudah siap.
Billy melihat ke sekeliling. Dia memberi kode pada teman temannya untuk kembali masuk kedalam.
Billy menggeser kursi untuk Dinda duduk. Tak lama, Mita dan teman lelakinya ikut duduk.
Laura setengah berlari, muncul sendirian disitu.
"Aku pulang duluan, ya!" ujar Laura.
"Kenapa?" tanya Dinda.
"Bokap nelpon! Aku ditunggu di rumah!" kata Laura. Gadis itu kelihatan panik.
Tidak menunggu teman-temannya bicara lagi, Laura langsung berlari ke kamarnya. Dia mulai membereskan barangnya.
Dinda berjalan menyusul Laura. Dia melihat Laura sibuk memasukkan barang bawaannya kedalam tas, dibantu teman lelakinya.
"Ada apa?" tanya Dinda
Dinda menoleh kesampingnya. Dia melihat Mita juga ikut berdiri di depan pintu.
"Nggak tahu. Tapi dari suara yang aku dengar, Papaku lagi marah..." ujar Laura.
"Udah ya! Kami jalan dulu!" sambung Laura. Dia sudah selesai merapikan semua bawaannya.
Laura memeluk Dinda dengan Mita bergantian, lalu berpamitan dengan yang lain, yang menyusul ke depan kamar.
Dinda hanya memberi isyarat seperti menelpon kepada Laura, lalu melambaikan tangan saat mobil Laura berlalu pergi.
Mita dengan Dinda bertatap-tatapan. Tidak ada yang bisa menduga-duga apa yang terjadi.
__ADS_1
Mereka semua kembali kedalam dan melanjutkan makan siangnya, dengan kepala yang masih penuh dengan pertanyaan.
Semuanya terdiam, tidak ada yang membicarakan Laura.