
Dinda yang merasa bersalah, jadi penasaran dengan keadaan Laura.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Kenapa sejak kamu pergi dari vila milik Billy kamu tidak bisa dihubungi?" tanya Dinda.
"Hp ku disita Papa... Aku tidak diperbolehkan keluar rumah... Eko membatalkan pernikahan kami... Apa lagi?! Oh iya, aku kemarin kabur dari rumah... Jadi sementara ini, aku numpang dirumahmu..." celetuk Laura enteng.
"Kok bisa kamu setenang itu?" tanya Dinda, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau terlalu memikirkan yang sudah terjadi. Aku nggak mau merasa menyesal lama-lama," ujar Laura.
"Semua sudah terjadi, mau di apa? Biarkan saja...! Itu juga karena kesalahanku sendiri," sambung Laura, yang wajahnya kini tampak lesu.
"Kamu juga nggak usah terlalu pikirkan itu, kita masih hidup. Berarti, kita masih bisa melakukan hal yang lebih baik, dari yang sudah-sudah." Laura lalu mencubit pipi Dinda.
"Santai saja...! Aku nggak apa-apa kok! Masih sakit kamu... Tuh, kaki masih diperban semua, nggak bisa jalan-jalan!" ujar Laura, sambil tersenyum.
Dinda membuka tangannya lebar-lebar lalu memberi tanda dengan jari-jari tangannya, agar Laura memeluknya.
Mereka berdua berpelukan. Air mata menetes di pipi mereka, tapi mereka menyembunyikannya dari satu sama lain.
Mereka menutupi tangisannya, dengan tertawa kecil.
"Eh! Alex hero mu itu ganteng bangeeet!" celetuk Laura, sambil tersenyum lebar.
Dinda membesarkan matanya, sambil tersenyum melihat Laura yang tersenyum nakal.
"Kamu ini! Jangan bilang kamu tertarik dengannya?!" ujar Dinda.
"Iyaaa...!" ujar Laura, bertingkah gemas.
Dinda tertawa. Dalam hati Dinda dia tahu Alex orang yang baik.
Cuma karena awal perkenalannya aja yang kurang pas, sampai Dinda sempat menganggap Alex orang yang aneh.
"Terserah kamu...! Alex juga baik, kok!" kata Dinda, sambil memegang tangan Laura.
Billy lalu muncul diruangan itu. Dia membawa dua gelas kopi, dan kantong plastik berisi belanjaannya.
"Ini! Aku beli sembarangan. Aku nggak tahu apa yang kamu suka," kata Billy pada Laura, sambil menyodorkan satu gelas kopi, dan kantong belanjaan itu.
Billy juga meletakkan satu kantong belanjaan lagi, di atas meja kecil disamping ranjang Dinda.
"Itu ada sup kesukaanmu, kalau kamu lapar," Ujar Billy pada Dinda.
__ADS_1
Dinda mengangguk. Aroma harum sup keluar dari kantong belanjaan itu, membuat Dinda merasa lapar. Dia lalu mengambil kantong itu lalu mengeluarkan mangkuk kecil berisi sup.
"Mau disuapin?" tanya Billy pada Dinda.
Dinda menggelengkan kepalanya
"Nggak usah...! Nggak apa-apa! Aku bisa makan sendiri...!" sahut Dinda.
Laura mengeluarkan sekantong keripik, lalu mulai memakannya.
Dinda sambil menyuap makanannya ke mulut, lalu mengambil sedikit keripik dari tangan Laura.
"Billy...! Aku tadi memikirkan Mita..." ujar Dinda.
Billy menatap Dinda tanpa bicara apa-apa.
"Bagaimana dengan Dovi? Apa kamu masih berhubungan dengannya?" tanya Dinda.
"Sudah lebih dua tahun belakangan ini rasanya aku nggak pernah kontak dengannya. Nomor Dovi yang lama sudah tidak aktif lagi...
Kata Mita, Dovi pindah kemana gitu, dengan pacarnya... Aku lupa!" kata Billy, yang seolah baru menyadari keanehan Dovi, setelah Dinda bertanya tentangnya.
"Aku hanya sering bertemu Mita. Apalagi aku sering jalan dengan Alex, jadi aku nggak terlalu memperdulikan Dovi lagi," kata Billy.
"Kenapa kamu bertanya tentang Dovi?" tanya Billy heran.
"Nggak... Tadi 'kan kata Laura, Mita mencoba merayu kamu. Makanya aku terpikir dengan Dovi. Karena setahu aku, Mita mencintai Dovi," ujar Dinda sambil kembali menyuap sup kemulutnya.
Billy menatap Laura yang mengunyah keripik.
Laura mengangkat alisnya.
"Kenapa?" tanya Laura, yang merasa tidak nyaman ditatap Billy seperti itu.
"Kalian pernah melihat Mita kontak dengan Dovi?" tanya Billy, yang merasa mungkin memang ada yang tidak beres dengan Dovi, yang tiba-tiba menghilang dari Billy.
Billy melihat Dinda dan Laura bergantian. Tapi keduanya hanya menggelengkan kepala mereka.
"Mita 'kan tidak terlalu lama ngumpul dengan kami. Mana tahu kalau saat kami nggak lihat, Dovi menghubunginya, atau mungkin sebaliknya!" celetuk Dinda.
"Waktu Mita menemuiku, itu sehari setelah Dinda menghilang. Katanya dia baru datang dari Australia pagi itu," kata Billy. Dia mulai mengira-ngira, meski kalau melihat situasi yang ada, tetap Mita yang paling dia curigai.
"Maksudmu, apa kemungkinan Dovi ada hubungan dengan semua ini?" tanya Dinda "Tapi bagaimana dengan rekaman Laura?"
__ADS_1
"Itu aku juga bingung. Apa Mita berbohong soal kedatangannya atau apa?!" ujar Billy yang mulai merasa pusing.
"Nah itu lah...! Untuk kejadian Laura, aku rasa kemungkinan besar teman lelaki Laura yang melakukannya, karena tidak mungkin Mita bisa merekam kejadian itu...
Kecelakaan yang terjadi padaku, setahu aku, Mita sudah keluar negeri. Yang membuat aku merasa aneh, yaa cuma motor itu aja," kata Dinda.
"Tapi motor seperti itu 'kan bukan cuma Mita yang punya. Berkali-kali aku memikirkan semua ini, tapi aku masih belum mengerti. Aku masih tidak bisa percaya, kalau Mita yang berbuat semua ini," sambung Dinda.
Billy dan Laura yang mendengarkan perkataan Dinda, merasa kalau omongan Dinda ada benarnya.
Mereka tidak bisa langsung buru-buru menuduh Mita.
Dinda masih memakan supnya, sedangkan Laura sudah berhenti memakan keripiknya. Billy sibuk memikirkan ulang, apa yang dibilang Dinda.
Tiba-tiba ponsel Billy bergetar. Buru-buru dia mengeluarkan benda itu dari saku celananya.
Mita yang menelponnya.
Billy menempel satu jarinya ke bibirnya, memberi tanda agar Laura dan Dinda jangan mengeluarkan suara apa-apa.
"Halo!" ujar Billy, saat menyambut teleponnya.
"Halo! Aku mau bertemu... Aku minta maaf karena kelakuanku kemarin," sahut Mita dari seberang, terdengar nada penyesalan di suaranya.
"Oh... Aku juga mau minta maaf karena sudah kasar denganmu... Kamu mau ketemu dimana?" uajr Billy berpura-pura.
"Di vila mu aja! Aku sudah hampir sampai disana. Kamu dimana sekarang?"tanya Mita.
"Aku lagi di tempat Rudi. Kami belum menemukan Dinda," kembali Billy berpura-pura.
"Aku tunggu di vila aja kalau begitu," sahut Mita, lalu memutus panggilannya.
Billy melihat Laura dan Dinda bergantian.
"Mita kedengaran seperti tidak perduli dengan Dinda," celetuk Billy, seakan meyakinkan kalau memang Mita dalangnya.
"Aku kembali ke vila dulu! Aku mau memastikan apa yang dipikirkan Mita," ujar Billy, yang kemudian mencium kening Dinda.
"Tolong jaga Dinda, ya!" kata Billy sambil menatap Laura. "Kalau ada apa-apa, cepat kabari aku!"
Billy kemudian berjalan keluar dari situ tergesa-gesa.
Sesudah sampai di parkiran Billy kebingungan. Dia baru ingat mobilnya di rumah Dinda. Mau nggak mau, Billy memakai taksi pergi kerumah Dinda.
__ADS_1
Setelah mengambil mobilnya, barulah Billy melaju menuju ke vila miliknya.