OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 13


__ADS_3

Film yang ditayangkan sudah hampir memasuki bagian pertengahan. Dinda hanya menatap tanpa bisa menyimak. Gadis itu merasa sangat grogi duduk bersebelahan dengan Rudi.


Sesekali Dinda melirik pemuda itu. Jauh sekali berbeda dengan Dinda. Rudi tampak santai tanpa beban. Pemuda itu asik menonton, bersandar dikursi bioskop yang sedikit direbahkan.


Dinda tidak berhenti mengunyah popcorn ditangannya. Dia berusaha sekuat tenaga agar terlihat santai. Rudi melirik tempat camilan ditangan Dinda, sisa sedikit.


Popcornnya hampir habis, Rudi merogoh kedalamnya, mencari-cari biji-biji jagung yang masih tersisa. Tangannya dan tangan Dinda bersenggolan.


Dengan cepat Dinda menarik tangannya.


"Habis?" tanya Rudi.


Dinda tidak menjawab.


Rudi memberikan Dinda soda, yang dimasukkan dalam cangkir plastik. Dinda menyambutnya.


Rudi tersenyum. Diam-diam dia memperhatikan gerak-gerik Dinda. Tampak jelas kalau gadis itu sedang grogi. Dalam hati dia puas melihat Dinda yang salah tingkah.


Rudi merasa kalau Dinda grogi karenanya, namun pemuda itu tidak mau buru-buru, dia harus memastikan, kalau Dinda memang ada ketertarikan dengannya.


Pengunjung bioskop berjalan keluar dari dalam gedung. Film nya sudah usai.


Eko berjalan dengan Laura yang bergelayut manja ditangannya.


"Say, kamu mau langsung pulang? Atau mau nyantai dengan kami dulu?" tanya Laura yang tiba-tiba berbalik menghadap Dinda yang berjalan dibelakangnya.


"Aku mau pulang aja!" jawab Dinda. Gadis itu tidak mau berlama-lama, merasa kikuk begitu.


"Ya, sudah..." ujar Laura.


"Yang, aku antar Dinda balik dulu yaa?!" kata Laura lagi, kali ini dia berbicara dengan Eko.


Belum sempat Eko menjawab, Rudi langsung memotong dan berkata


"Aku saja yang antar Dinda pulang!"


Dinda terbelalak.

__ADS_1


Laura dan Eko ikut terkejut dengan tawaran Rudi. Tapi masih menganggap itu hal biasa.


"Gimana, say?" tanya Laura kepada Dinda.


"Terserah aja" jawab Dinda. Gadis itu tidak mau semua orang tahu kalau ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, saat berada didekat Rudi.


Mereka sudah dalam mobil masing-masing. Eko yang tadinya nebeng di mobil Rudi, naik mobilnya Laura.


Sedangkan Dinda ikut di mobil Rudi.


Mereka lalu berpisah jalan.


"Mobil Eko tadi dipinjam kakaknya. Katanya sih mobil kakaknya lagi dibengkel abis serempet trotoar kemarin." kata Rudi membuka percakapan.


"Eko dapat duit banyak dari kakaknya, untuk tutup mulut. Kalau bokapnya sampai tau, beeuuhh nggak bakalan dapat jatah saku sebulan," sambung pemuda itu lagi.


Dinda masih saja terdiam, dia tidak tahu harus menanggapi apa.


"Dinda tinggal diperumahan Kesuma, ya?" tanya Rudi.


"Tahu. Ada satu temanku yang tinggal disitu. Dulu aku sering kesitu, cuma sekarang dia sudah pindah kuliah kekota lain. Jadinya aku nggak pernah jalan ke perumahan itu lagi." jelas Rudi.


Sepanjang perjalanan pulang, Rudi tidak menyinggung kejadian semalam. Dinda bernafas lega. Gadis itu kembali santai mengobrol dengan Rudi.


Sesampainya dirumah. Rudi minta ijin Dinda untuk menggunakan kamar mandi.


Dinda lalu mengajaknya masuk kedalam rumah.


Dinda merasa tidak enak kalau harus langsung menyuruh Rudi pulang. Gadis itu akhirnya meminta mbok Inah, untuk membuatkan minum.


Dinda mempersilahkan Rudi yang sudah keluar dari kamar mandi, untuk duduk diruang tamu.


Mereka berdua duduk disitu dan kembali mengobrol, seolah tidak pernah terjadi apa apa diantara mereka.


"Tugas kemarin sudah kelar?" tanya Rudi.


"Sudah! Mau lihat?" sahut Dinda.

__ADS_1


"Iya! Bentar, kalau nggak salah tugasku masih didalam mobil. Kita coba bandingkan ya?!" kata Rudi, sambil bergegas keluar.


Tak lama dia kembali sambil menenteng laptop.


Kemudian mereka sudah sibuk dengan tugas kuliah.


Selesai memeriksa tugas mereka. Rudi merasa dia sudah cukup lama dirumah Dinda. Pemuda itu lalu berpamitan pulang.


Dinda mengantar Rudi sampai pintu pagar. Gadis itu kemudian mengunci pintu pagar, setelah mobil Rudi berlalu pergi.


Dinda membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Dia merasa tenang. Okey santai aja, kejadian kemaren cuma terbawa suasana. Gadis itu senyum-senyum sendiri.


Tidak ada beban dikepalanya, Dinda tertidur pulas malam itu.


***


Dari kejauhan Dinda bisa melihat Laura di koridor kampus, sedang berlari kearahnya. Ada apa lagi dengan anak itu? Kemarin seharian tumben gak ada kabar.


Nafas Laura tersengal


"Hadeh, capek!" ujar Laura bersandar di bahu Dinda.


"Ngapain juga kamu perlu lari-lari begitu" Dinda mengelap dahi Laura yang penuh keringat.


"Eh, tadi aku lupa bawa hp-ku. Mau nggak mau balik kerumah dulu," kata Laura masih terengah-engah.


"Ayo kita masuk, bentar lagi mulai tuh" ajak Dinda sambil mulai berjalan kedalam salah satu ruangan diikuti Laura.


Rudi melambaikan tangannya.


"Duduk sini aja!" kata Rudi, seraya menepuk-nepuk bangku di sebelahnya.


Laura dan Dinda menaiki tangga, lalu mendekat dan duduk disamping Rudi.


Baru saja mereka duduk, dosen sudah masuk dan mulai memberi materi didepan.


Mereka bertiga mengikuti mata kuliah hari itu bersama sama sampai selesai.

__ADS_1


__ADS_2