OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 37


__ADS_3

Rudi bersama dengan Billy turun kelantai bawah rumah sakit menggunakan lift.


Mereka memesan dua gelas kopi, lalu memilih tempat duduk di kafetaria rumah sakit itu.


"Ada apa?" tanya Billy.


"Ada yang mau aku tanyakan..." kata Rudi. Lelaki itu menyeruput sedikit kopi panas didepannya.


"Kenapa kamu masih disini?" tanya Rudi


"Itu yang mau kamu tanyakan? Pertanyaan bodoh macam apa itu?" jawab Billy.


Rudi diam menatap Billy. Dia menunggu jawaban Billy.


"Sudah pasti untuk ikut menjaga Dinda," kata Billy enteng.


"Yang aku dengar dari Dinda, bukannya kamu sudah menikah? Apa istrimu gak mencari kamu?" tanya Rudi


"Iya, aku memang sudah menikah, but aku dengan dia didalam open marriage relationship," ujar Billy.


"Oh, begitu... Aku tahu konsepnya, tapi kenapa?" tanya Rudi lagi


"Apanya yang kenapa?" Billy balik bertanya.


"Kenapa memilih konsep begitu. Open marriage itu bisa saling menyakiti. Memangnya kamu dan istrimu tidak saling mencintai?"


"Nggak. Aku dan dia menikah hanya untuk bisnis. Sampai batas waktu tertentu, kami pasti akan berpisah,"


Rudi mengangguk-anggukan kepalanya, saat mendengarkan perkataan Billy.


"Aku mau tahu kenapa kamu menyulitkan Dinda di tempat kerjanya?" tanya Rudi memancing Billy.


Billy mengerutkan alisnya.


"Tahu dari mana kalau aku menyulitkan Dinda?" tanya Billy


"Dinda yang bilang padaku. Kamu klien di kantor Dinda kan?"


"Jangan mengada-ada, tidak mungkin Dinda bilang begitu. Kalau dia bilang ke kamu, aku ini kliennya, aku percaya. Aku mengenal Dinda lebih dulu dari pada kamu!" kata Billy


Rudi menyeruput kopinya.


"Kamu benar, Dinda memang tidak pernah bilang kalau kamu menyulitkan pekerjaannya. Aku cuma mencoba kamu..." Kata Rudi. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.


"Sebenarnya bukan itu yang aku mau tahu," sambung Rudi.


"Lalu apa?" tanya Billy


"Aku mau tahu. Kenapa kamu mencari-cari kesempatan didekat Dinda? Kamu masih mencintainya?"

__ADS_1


"Iya! Memangnya kenapa?" Kata Billy menantang.


Rudi tersenyum sinis.


"Sebaiknya kamu mundur sekarang! Kamu bukan sainganku," Kali ini Rudi benar benar berniat merendahkan dan menyingkirkan Billy dari hubungannya dengan Dinda.


Mendengar perkataan Rudi, ego Billy terusik.


"Dinda masih mencintai ku. Kamu hanya jadi sela sementara diantara kami," Kata Billy membalas Rudi


"Kamu terlalu percaya diri. Memangnya kamu kira kamu siapa?" ujar Rudi menyepelekan Billy


Billy tertawa.


"Apa kamu gak sadar? Apa yang kamu tahu tentang dia? Kamu pikir aku buta? Aku bisa melihat kalau kamu tidak tahu apa-apa. Sampai hal sederhana seperti makanan kesukaannya saja kamu nggak tahu. Dinda masih sama seperti saat bersamaku dulu. Dia pasti akan kembali padaku dengan mudahnya."


Rudi menyeruput kopi nya lagi. Dia berusaha sebisanya untuk tetap tenang.


"Kamu yang nggak sadar. Dinda lebih mencintai aku. Dia lebih memilih mengikuti pilihanku karena dia tidak mau aku pergi darinya," ujar Rudi.


Kembali Billy tertawa.


"Itu bukan cinta, itu yang namanya sela. Dia hanya sementara denganmu, sampai aku kembali padanya. Kalau dia mencintaimu seperti dia mencintai aku, dia pasti lebih bebas mengatakan apa maunya."


Dalam hati, Rudi sempat berpikir kalau perkataan Billy ada benarnya. Tapi dia tidak mau menyerah, dia tetap percaya kalau Dinda lebih mencintai dirinya.


"Dia memilih kamu? Itu cuma karena aku tidak disini aja," Billy lalu tertawa mengejek Rudi.


"Kamu harus menjauh dari Dinda, dia milikku!" Rudi mulai terpancing emosinya.


"Milikmu? Dia cuma menerima lamaranmu, lalu apa? Kalian sudah menikah? Belum kan? Ada hak apa kamu melarang aku dekat-dekat Dinda?" Billy terus mengejek Rudi.


"Jadi kamu maunya apa?" kali ini Rudi benar-benar marah. Billy memang orang yang menjengkelkan


"Aku mau kamu yang menjauh dari Dinda, jadi dia tidak merasa bersalah kalau dia kembali bersamaku," kata Billy


"Enak aja! Aku nggak bakalan lepas Dinda begitu saja!" Kata Rudi


"Aku juga sama!" ujar Billy


Rudi sangat kesal dibuat Billy. Rudi tersadar kalau mengajak Billy bicara adalah kesalahan. Rudi mengepalkan tangannya.


Dia tidak mau berkelahi di situ. Bisa saja Rudi memukul Billy, tapi dia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti perasaan Dinda.


"Begini saja, terserah kalau kamu masih mencintai Dinda. Yang jelas aku nggak akan mundur. Kita lihat saja nanti siapa yang Dinda pilih!" dengan berat hati Rudi mengatakan itu.


"Oke!" Billy tersenyum sinis. Dalam hati Billy tertawa. Akhirnya Rudi masuk kedalam jebakannya.


Bendera persaingan antara Rudi dengan Billy, pun berkibar.

__ADS_1


Saat mereka berdua kembali kekamar inap Dinda. Gadis itu sudah terbangun lagi. Dinda baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku kira kalian sudah pulang!" kata Dinda. Dia melangkahkan kakinya pelan-pelan.


Rudi mendekat. Dia memegang Dinda dan membantunya berjalan kembali ke ranjang.


"Kenapa nggak panggil aku kalau mau kekamar mandi? Apa nggak sakit?" tanya Rudi kepada Dinda. Rudi menunjuk kearah perut Dinda dengan matanya.


"Nggak sakit kok! Kata dokter tadi 'kan aku sudah harus bergerak biar sedikit. Aku mau cepat bisa pulang. Aku bosan disini," kata Dinda.


Rudi membantu Dinda sampai gadis itu kembali berbaring di ranjang.


Billy hanya melihatnya. Ada sesuatu yang dipikirkan lelaki itu.


Rudi melirik Billy yang hanya terdiam melihat Rudi membantu Dinda. Rudi mengira Billy akan marah, atau paling tidak mengambil kesempatan untuk menarik perhatian Dinda dengan ikut membantu. Billy memang misterius, pikirnya


Ketika Dinda sudah diatas ranjang, Rudi lalu duduk disampingnya.


Billy mendekati Dinda dan memegang tangan gadis itu. Kemudian Billy berbisik ditelinga Dinda


"Dinda...! Aku balik dulu!"


Dinda mengangguk.


Pertanyaan demi pertanyaan muncul dikepala Rudi. Muncul sedikit keraguan dalam hatinya. Kenapa Billy bersikap biasa, seperti hanya sekedar mau berteman saja dengan Dinda. Apa yang dia rencanakan? Sepertinya Rudi terlalu meremehkan lelaki itu.


Rudi berpikir keras agar bisa membuat Dinda bertahan untuknya. Rudi terdiam, dia tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Rud-Rudi!" panggil Dinda, menyadarkan Rudi dari lamunannya.


"Hah...? Iya?!" sahut Rudi.


"Kamu banyak melamun. Ada apa? Apa kamu capek?" tanya Dinda.


"Ah, nggak kok!" ujar Rudi


"Istirahat aja dulu! Kalau mau pulang juga nggak apa-apa kok!" kata Dinda.


"Nggak...! Aku akan tetap menemanimu," kata Rudi. Dia menggenggam tangan Dinda.


"Kamu kelihatan lelah..." kata Dinda.


"Sini baring denganku! Aku mau kamu memelukku!" sambung Dinda.


Dinda bergeser sedikit. Sebenarnya dia mau Rudi istirahat, jadi dia pakai alasan kalau dia mau dipeluk agar Rudi bisa berbaring dulu biar sebentar. Rudi pasti lelah bolak-balik menjaganya. Kalau Rudi bisa tertidur biar sebentar, itu lebih baik pikir Dinda.


Rudi tidak menolak permintaan Dinda. Rudi berbaring diranjang dan memeluk Dinda.


Sambil memeluk gadis yang dicintainya itu, Rudi tenggelam lagi dalam pikirannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2