
Setelah mengantar Laura kerumah Dinda, Rudi kemudian memutar mobilnya kembali kerumah sakit.
Rudi mengumpulkan niatnya, dia ingin bicara dengan Dinda, meskipun itu akan membuat Dinda marah padanya.
Rudi sama sekali tidak paham dengan apa yang Dinda pikirkan, sampai Dinda seakan mendorong orang-orang disekitarnya untuk menjauh.
Ini semua karena kelalaiannya waktu itu. Karena Dinda mengkhawatirkan dia, sampai Dinda hampir meregang nyawa.
Terbayang-bayang dalam ingatan Rudi, saat melihat kondisi mobil kesayangan Dinda. Kenangan Dinda sebagai hadiah terakhir dari papanya.
Persis seperti perkataan Alex, kalau itu cuma karena keajaiban sampai Dinda masih bisa selamat.
Melihat tinggi nya jurang tempat mobil Dinda terperosok, membuat kaki Rudi terasa ngilu.
Rudi menghentikan mobilnya ke pinggir jalan.
Kalau Dinda tidak langsung pingsan waktu mobilnya menabrak pohon, maka Dinda bisa melihat bagaimana saat terjatuh dari ketinggian seperti itu.
Membayangkan nya saja Rudi sudah gemetaran.
Bagaimana dengan Dinda?
Dinda pasti sangat ketakutan.
Rudi membenci dirinya sendiri. Dia kehilangan keberaniannya untuk menghadapi Dinda. Rudi merasa tak pantas untuk mengharapkan cinta Dinda, sedangkan dia tidak bisa melindungi Dinda.
Selama beberapa menit, Rudi tetap terdiam disitu. Dia tidak bisa melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit.
Rudi mengubah jalur tujuan. Rudi memutar balik mobilnya, kemudian melaju dijalanan. Dia memilih untuk pulang kerumahnya. Rudi tidak mau berjuang untuk mengharap cinta Dinda lagi. Dia menyerah. ~
Saat semua orang sudah pergi dari ruangannya. Dinda tidak merasa menyesal telah mendorong mereka menjauh. Apa yang dia bilang itu benar tentang apa yang dia rasakan. Dia lelah.
Dinda berniat secepatnya bisa pulang kerumah, dan bisa kembali bekerja. Dia lalu memencet tombol untuk memanggil perawat jaga.
Tak lama seorang suster masuk ke kamar Dinda.
"Ada apa, Bu?" tanya suster itu.
"Aku minta tolong carikan aku tongkat untuk membantuku berjalan. Aku sudah nggak tahan lagi kalau harus memakai kursi roda," pinta Dinda, dengan wajah memelas.
Perawat itu mengangguk, mengiyakan permintaan Dinda.
"Sebentar yaa...!" ujar suster itu, kemudian berjalan pergi dari situ.
Beberapa waktu kemudian, suster itu sudah kembali dengan membawa sepasang tongkat bantu.
"Ini...!" Kata Suster itu, sambil meletakkan tongkat itu ke samping ranjang Dinda, dengan posisi berdiri.
"Terimakasih, Sus!" ujar Dinda.
__ADS_1
"Ada yang lain?" tanya perawat lagi.
"Nggak ada. Itu aja.. Terimakasih ya, sus!" kembali Dinda berterima kasih pada perawat itu.
Perawat itu kemudian pergi keluar dari ruangan Dinda.
Setelah perawat itu pergi, Dinda kemudian mencoba memakai benda itu. Dinda mencoba untuk berdiri, kemudian belajar melangkah.
Tidak butuh waktu lama, Dinda sudah bisa menguasai cara memakai tongkat untuk bisa berjalan.
Dinda tersenyum. Aku bisa pulang, pikirnya.
Dinda dengan menggunakan tongkat itu, berjalan keluar dari kamarnya. Dia kemudian pergi ke meja perawat jaga.
"Permisi...! Aku mau pulang saja! Aku mau minta tolong diuruskan berkasku, biar aku bisa pulang sekarang," ujar Dinda, pada perawat yang berjaga disitu.
"Sebentar kami hubungi Dokter pengawas ibu yaa?! Ibu bisa menunggu, di ruangan ibu aja dulu..." kata Perawat itu.
Dinda mengangguk.
"Terimakasih!" ujar Dinda, kemudian berjalan kembali ke kamarnya.
Dinda mulai membereskan barang barangnya sendiri. Memasukkan semua ke dalam tas yang dibawa Billy waktu itu.
Dinda juga berganti pakaian. Kemudian duduk di pinggir ranjang.
Dokter dan perawat, melangkah masuk keruangannya.
"Iya, Dok!saya mulai bosan dirumah sakit terus," ujar Dinda santai.
"Ok! Kita periksa dulu sebentar yaa?!" kata Dokter itu. Kemudian dokter itu mulai memeriksa Dinda.
"Ok! Bisa pulang, tapi jangan dulu di pakai kakinya yaa?! Kalau mau berjalan, pelan-pelan saja juga harus memakai alat bantu," kata dokter, sambil menunjuk tongkat yang dipegang Dinda.
"Nanti tunggu sebentar, sampai perawat datang membawa berkas untuk ditanda tangani. Juga nanti saya berikan jadwal untuk kontrol, sampai gipsnya bisa dilepas," kata Dokter itu lagi.
Dinda menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih, Dok!" ujar Dinda.
Dokter itu dan perawat yang bersamanya, kemudian pergi dari situ.
Dinda menunggu, sambil memeriksa semua barang-barangnya, memastikan tidak ada yang ketinggalan.
Dinda kemudian memesan taksi online, setelah perawat mengantar berkas, dan Dinda sudah menandatanganinya.
Dengan menumpang taksi online, Dinda pulang kerumahnya.
Saat Dinda sampai dirumah, Laura benar-benar terkejut melihat Dinda, yang tiba-tiba sudah keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
"Nggak apa-apa 'kah?" tanya Laura, dengan wajah cemas. Dia mau membantu Dinda, yang berjalan memakai tongkat ke kamarnya.
"Nggak apa-apa! Nggak usah khawatir... Aku baik-baik saja... Aku sudah bisa berjalan sendiri," kata Dinda, menenangkan Laura yang kelihatan panik.
"Kenapa kamu nggak beritahu kalau kamu mau pulang? 'Kan bisa aku jemput?!" ujar Laura, masih dengan wajah cemasnya.
"Tenang aja...! Aku harus bisa sendiri. Aku bosan berdiam diri terus. Aku mau kembali bekerja besok," ujar Dinda, saat sudah duduk di pinggir ranjangnya.
Laura terbelalak.
"Kamu mau masuk kerja besok? Dengan kondisi kakimu masih seperti ini?" tanya Laura, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Dinda tersenyum, "Iya...! Aku mau bisa bekerja lagi. Apalagi, aku sudah terlalu lama ijin. Cukup istirahatnya. Aku bosan kalau cuma duduk, atau berbaring terus," ujar Dinda, sambil meletakkan tongkat bantu itu, ke bagian samping atas ranjang.
Laura tidak bisa membantah. Mau tidak mau, dia hanya bisa menyetujui, apa yang Dinda mau.
"Mbok Inah masak apa? Aku lapar," ujar Dinda.
Mbok Inah yang sedari tadi berdiri didepan pintu, kemudian agak tersentak.
"Anu Non... Ada perkedel sama tumis sayuran. Ada juga sambal tempe kering," sahut mbok Inah, agak terbata bata.
"Kalau begitu tolong siapkan meja, ya mbok! Aku mau makan sekarang..." ujar Dinda.
Mbok Inah mengangguk, "Iya non," kemudian berjalan pergi kedapur.
Dinda lalu mengambil tongkatnya lagi. Laura mau membantunya, tapi Dinda melarang Laura.
Dinda berjalan tertatih menggunakan tongkat, menuju ruang makan. Disusul Laura dari belakang.
"Kamu sudah makan?" tanya Dinda yang melihat Laura masih berdiri menatapnya, saat Dinda sudah duduk di meja makan.
Laura menggeleng, "Belum."
"Kalau begitu, ayo makan sama-sama denganku!" ujar Dinda.
Laura lalu ikut duduk disitu, tapi tetap menatap Dinda.
"Hadeh...! Jangan dilihatin terus! Aku jadi grogi," ujar Dinda.
Laura tersenyum. Dinda memang kuat mentalnya, pikir Laura.
Dinda mulai mengambil nasi dengan sendok, lalu memasukkannya ke piring. Begitu juga dengan Laura.
"Mbok Inah sudah makan?" tanya Dinda, pada mbok Inah yang meletakkan air minum keatas meja.
"Sudah, Non, barusan!" jawab mbok Inah.
Dinda mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia kemudian makan bersama Laura.
__ADS_1
Sesekali mereka bercanda disitu. Pertengkaran di rumah sakit tadi siang, tidak ada satu pun dari mereka yang mengingatnya lagi.