OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 17


__ADS_3

Rudi menggandeng tangan Dinda, berjalan di koridor.


Dari kejauhan Laura bingung melihat itu, tapi dia tidak terlau memperdulikannya. Dia marah dengan Dinda yang mengingkari janjinya.


Dengan cepat Laura mendatangi kedua temannya itu.


"Kamu kemana semalam? Kamu buat anak orang menunggu nggak jelas," kata Laura setengah membentak.


Rudi baru saja mau bicara, tapi Dinda menahannya.


Dinda berjalan menjauh dengan Laura meninggalkan Rudi disitu.


Dinda menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Laura terkejut. Dia sebenarnya senang karena Dinda bisa berpacaran dengan Rudi. Tapi ketika dia ingat Mark, gadis itu jadi sedikit kesal.


Selama ini kenapa baru sekarang Rudi bicara perasaannya ke Dinda. Rudi lelaki pengecut. Ketika Dinda sudah hampir jadian dengan orang lain, baru dia kalang kabut, pikir Laura.


"Kamu harus bicara dengan Mark kalau begitu. Aku kasihan betul liat dia semalam. Mark kelihatan sedih. Dia sibuk melihat kesana kemari. Berulang ulang dia tanya denganku kalau ada kabar dari kamu. Katanya kamu tidak membalas pesannya. Nomormu juga nggak bisa di telpon. Dia menunggu mu sampai kami bubar. Rasanya nggak tega aku liatnya" jelas Laura.


"Iya, nanti selesai jam kuliah aku akan mengajaknya ke cafe depan. Nanti aku jelaskan!" kata Dinda.


Laura hanya mengangguk.


Mereka berjalan kembali kearah Rudi yang berdiri terpaku menunggu kedua gadis itu.


Plaakk!

__ADS_1


Laura menjitak kepala Rudi.


"Dasar bodoh!" kata Laura.


Rudi tidak protes, dia hanya mengelus kepalanya yang sakit. Dia tahu kalau dia pantas mendapatkannya.


Dinda mengobrol dengan Mark di cafe. Dinda menjelaskan dengan memasang wajah memelas, agar Mark mau mengerti perasaannya. Sedangkan Rudi duduk menunggu di salah satu sudut cafe itu.


Tak lama Rudi melihat Mark berdiri dari kursinya.


Mata Rudi dan Mark bertatap-tatapan. Kebencian Mark kepada Rudi memancar dari sinar matanya. Wajah Mark memerah menahan amarahnya.


Mark kemudian berlalu pergi dari cafe itu. Rudi masih bisa melihat Mark mengepalkan tangannya.


Rudi mendekati Dinda. Wajah Dinda kembali cerah. Mereka berdua kemudian bersantai disitu, seolah tidak terjadi apa apa sebelumnya.


***


Rudi baru saja membuka pintu hendak mengantarkan payung, Dinda sudah berlari menerobos hujan yang deras kearah mobil Rudi di parkiran.


"Kenapa nggak tunggu dulu? Kamu jadi basah semua..." kata Rudi. Pemuda itu mengambil tissue dan menyodorkannya kepada Dinda.


Dinda mengelap sebisanya, air yang membasahi tubuhnya.


Rudi membuka kemejanya, yang sudah lebih dulu basah terkena air hujan. Dia menarik kemeja yang tergantung di kursi belakang, dan mulai memakainya.


Dinda masih sibuk mengelap wajah dan kepalanya dengan tissue, ketika Rudi sudah selesai memasang kancing-kancing kemejanya.

__ADS_1


Rudi menatapnya. Kemeja tipis Dinda yang basah menerawang, membuat tubuh bagian atas gadis itu tampak jelas. Sebagai pria normal, nafsu lelaki Rudi bangkit melihat pemandangan indah didepannya itu.


Rudi mendekatkan wajahnya kearah wajah Dinda. Dia mendaratkan ciuman ke bibir gadis itu.


Tangan pemuda itu mulai meraba dada Dinda. Dia meremas buah dada Dinda penuh hasrat. Dinda hanya membiarkan perlakuan Rudi. Gadis itu menikmatinya.


Rudi makin bergairah. Tangannya membuka kancing kemeja Dinda. Kulit tangannya bersentuhan langsung dengan kulit dada Dinda yang halus.


"Apa kita bisa melakukannya?" tanya Rudi.


"Iya," jawab Dinda sambil menatap mata Rudi yang sudah memerah.


Rudi menjalankan mobilnya. Derasnya air hujan menutupi aspal dijalan.


Mereka berdua masuk dikamar salah satu hotel.


Rudi mengangkat tubuh Dinda dan membaringkannya di ranjang. Dia melepas semua kain yang menempel ditubuh gadis itu. Wajahnya menempel di buah dada Dinda. Mulutnya menikmati buah dada Dinda yang padat, sesekali memainkan lidahnya di bagian p*ting gadis itu.


Tangan Rudi menjelajah di bagian bawah tubuh Dinda yang sudah mulai basah.


Rudi membenamkan wajahnya di bagian bawah tubuh Dinda. Dengan lincah dia memainkan lidahnya disitu. Suara erangan Dinda menggema.


Rudi melepas seluruh pakaian yang dipakainya. Dia sudah siap beraksi lebih jauh. Dinda pasrah, dia juga sudah tidak bisa menahan rasa inginnya. Keduanya menikmati gerakan Rudi yang teratur. Mereka bersama-sama melepaskan hasratnya.


Dinda mengenakan handuk lalu pergi mandi.


Sesudah mandi Dinda kembali hanya mengenakan jubah mandi. Rudi merasa belum puas, dia ingin merasakan kenikmatan itu lagi.

__ADS_1


Rudi memeluk tubuh Dinda dan membaringkannya lagi ke ranjang. Kembali mereka berhubungan intim sampai menggapai puncak bersama.


__ADS_2