
Pagi-pagi sekali Dinda sudah terbangun. Disampingnya Billy sudah menghilang. Ternyata laki-laki itu sudah bangun lebih dulu.
Dinda melihat sekeliling, dia tidak melihat batang hidung Billy.
Dinda beranjak ke kamar mandi. Dia harus cepat bersiap siap berangkat ke kantor.
Sehabis mandi, Dinda membuka pintu lemari.
Kemarin, kata Billy ada baju yang bisa dia pakai. Lah ini, baju cowok semua, pikir Dinda.
Dinda mendengus, kemudian dia membuka pintu lemari di bagian yang lain.
Kali ini banyak pakaian untuk wanita disitu.
Dinda memilih kemeja dan rok selutut. Dia mencobanya dan ukurannya sempurna di tubuh Dinda.
Iseng, Dinda mencoba lagi sepasang baju yang lain. Sama, ukurannya pas untuk Dinda.
Dinda bergidik ngeri. Apa semua ini memang sudah direncanakan Billy atau hanya kebetulan saja.
Dinda tersadar kalau dia harus buru-buru, perjalanan kembali kekota memakan banyak waktu. Dia tidak terlalu memikirkan pakaian pakaian tadi.
Dinda menyapu bedak tipis ke wajahnya. Bibirnya yang merah hanya dioleskan lipgloss netral mengkilap.
Baru saja Dinda melangkah keluar kamar, Billy sudah berdiri didepan pintu.
"Astaga! Kagetnyaaa!" Dinda mengusap dada, rasa jantung seperti mau copot.
"Kamu mau kemana?" tanya Billy.
"Perlu kamu tanya lagi kah?" ujar Dinda
"Aku harus berangkat kerja!" sambungnya
"Tunggu sebentar, aku akan mengantarmu!" kata Billy.
Lelaki itu berjalan kekamar. Dia mengambil sebuah tas kecil dari dalam laci, kemudian menggandeng Dinda pergi.
Billy sudah tidak pucat lagi. Lelaki itu sudah kelihatan segar. Padahal tadi malam, sempat beberapa kali, demamnya muncul. Dinda memandangi wajah Billy yang sedang menyetir.
Kalau dia tenang begitu, wajah Billy makin tampan. Seakan tidak menua, masih menarik di mata Dinda, sama seperti waktu SMA dulu.
Menyadari kalau Dinda sedang menatapnya. Billy melirik Dinda.
"Kenapa? Ganteng?" tanya Billy dengan percaya diri.
__ADS_1
Pipi Dinda memerah. Dia malu karena kedapatan sedang memandangi lelaki itu.
"Nggak!" ujar Dinda
"Aku cuma penasaran, kamu itu sudah mandi apa belum," Dinda memberi alasan
"Sudah dong yaa, aku sudah mandi waktu kamu masih tidur tadi!" jawab Billy.
Kali ini Billy kelihatan lebih santai. Hampir kembali ke sikap awal dulu ketika Dinda baru mengenalnya.
Melihat Billy seperti itu, Dinda merasa jadi lebih tenang saat didekat Billy. Dinda tidak merasa tegang seperti beberapa hari belakangan ini.
"Eh, kamu bawa obatmu?" tanya Dinda
"Ada... Tuh!" Billy menunjuk dengan matanya, tas kecil yang dia bawa.
Di sepanjang perjalanan itu, Billy dan Dinda bisa mengobrol ringan dan bercanda.
Tadinya Dinda yang sempat berpikir ingin bertanya tentang pakaian di lemari tadi, akhirnya dia cuma melupakannya begitu saja.
Billy menurunkan Dinda di parkiran kantor tempat kerja gadis itu.
Billy selalu saja mengambil kesempatan. Dia memeluk Dinda dan mendaratkan ciumannya di bibir gadis itu.
"For good luck!" kata Billy.
Dinda lalu melanjutkan tujuan awalnya, pergi bekerja.
***
Tumben sekali pikir Dinda, hari ini pekerjaannya tidak sepadat dihari-hari biasanya, seakan memberi kesempatan bagi Dinda untuk istirahat makan siang dengan Rudi.
Dinda tahu pasti, Rudi ingin mendengarkan penjelasannya.
Dinda mengontak Rudi.
Tidak butuh waktu terlalu lama menunggu, mobil Rudi sudah sampai di parkiran kantor Dinda.
Dinda ikut bersama Rudi, meninggalkan tempat itu.
"Maaf kemarin aku nggak sempat kasih tahu kamu, waktu aku pergi. Nggak sengaja ketemu Billy yang lagi sakit, dia klien di kantorku. Nggak ada rencana awalnya untuk menjaganya," kata Dinda, di sela sela makan mereka.
Dinda sebenarnya ingin berterus-terang dengan Rudi, tapi dia takut. Jelas Rudi akan sangat kecewa jika tahu yang sebenarnya terjadi.
Mau tak mau Dinda merahasiakan hal itu dari Rudi.
__ADS_1
Dinda merasa dirinya seperti orang brengsek.
Selama dia berhubungan dengan Rudi, belum sekalipun dia membohongi lelaki itu. Sejak Billy hadir kembali dihidupnya, sudah beberapa kali Dinda tidak bisa berterus-terang dengan Rudi.
Dinda merasa sangat bersalah.
Rudi mendengar cerita Dinda. Dalam hatinya ada sedikit kecurigaan, tapi dia menepisnya jauh-jauh. Dia berpikir kalau Dinda mau, bisa saja gadis itu bilang kalau dia lagi di tempat lain dan tidak mengakui kalau dia sedang menjaga seorang laki-laki.
Rudi meyakini cinta Dinda untuknya.
Rudi bersikap tenang, ketika mendengarkan Dinda bicara.
Sifat tenang Rudi itulah yang menjadi nilai tambah, mengapa Dinda mencintai lelaki itu. Dinda selalu merasa nyaman didekat Rudi.
Dalam hati Dinda sangat kesal, mengapa Billy harus muncul disaat dia sudah bahagia dengan Rudi.
Dinda berkurang selera makannya. Makanannya tidak habis dimakan, masih banyak bersisa dipiring.
"Kenapa? Kamu sakit?" tanya Rudi ketika melihat Dinda yang tampak lesu
"Nggak... Cuma kurang selera makan aja!" kata Dinda.
Meskipun Dinda bilang begitu, Rudi tidak percaya begitu saja. Wajah Dinda agak pucat.
Dinda bersikeras dia baik-baik saja.
Saat Rudi mengantar Dinda kembali kekantor, mereka janjian untuk ketemu lagi di rumah Dinda, nanti sepulang bekerja.
Keduanya kembali ke kesibukkan di tempat kerja masing masing.
Jam kerja belum usai, kepala Dinda terasa sangat berat. Dinda merasa agak pusing. Dinda melihat wajahnya di cermin. Wajahnya merah seperti kepiting rebus. Dia menempelkan tangannya ke dahinya.
Aku demam, pikir Dinda.
Dinda lalu meminta ijin untuk pulang lebih awal. Untung saja Bos nya mau mengerti, kebetulan juga pekerjaan yang harus dikerjakan Dinda tidak terlalu padat.
Dinda memaksakan dirinya untuk menyetir pulang.
Dinda tidak mau mengganggu Rudi yang sedang bekerja, jadi dia tidak memberitahu lelaki itu kalau dia sakit.
Dia menjalankan mobilnya perlahan. Biar lambat, yang penting sampai kerumah, pikirnya.
Dinda tiba dirumah dengan selamat, meskipun mobilnya sempat sedikit menyerempet pagar rumahnya.
Dinda sudah linglung tapi masih menyempatkan melihat mobilnya.
__ADS_1
Untung saja, hanya tergores. Dinda tidak mau kalau sampai mobil itu rusak. Mobil itu dibelikan Papa sebagai hadiah untuknya, tepat sehari sebelum papa nya meninggal dunia.