
Saat Dinda dalam perjalanan menuju ke pertemuan bersama Billy, barulah Dinda teringat tentang perjalanan Billy keluar negeri.
"Apa yang kamu lakukan di Australia?" tanya Dinda
"Aku mencari informasi tentang keberadaan Dovi," jawab Billy, yang masih fokus menyetir mobilnya dijalanan, yang padat merayap dengan kendaraan bermotor.
"Terus bagaimana? Apa ada sesuatu?" tanya Dinda lagi.
Billy menggelengkan kepalanya.
"Aku menemui mama Dovi. Tapi katanya, dia tidak pernah dihubungi Dovi sudah hampir tiga tahun belakangan ini. Mama Dovi beberapa kali pergi ke apartemen Mita, tapi sama saja...
Mama Dovi hanya bertemu Mita, Dovi tidak pernah ada disitu waktu mama Dovi datang. Kata Mita, Dovi pindah ke apartemen lain di luar kota karena pekerjaannya," ujar Billy.
"Kenapa mama Dovi nggak minta kontaknya dengan Mita?" tanya Dinda yang merasa heran.
"Sudah diminta, tapi alasan Mita, Dovi tidak mengganti nomor lamanya, hanya saja Dovi tidak pernah mau mengaktifkan ponsel pribadinya, saat bekerja. Jadi, Mita hanya bisa menunggu Dovi, yang menghubunginya duluan," sambung Billy.
"Mama Dovi nggak tahu dimana Dovi bekerja?" tanya Dinda lagi.
Billy menggelengkan kepalanya.
"Kata Mita Dovi bekerja di salah satu rumah produksi film. Tapi Mita kurang tahu jelasnya," ujar Billy.
Dinda terdiam. Dia merasa aneh, kok bisa Mita tidak tahu apa apa tentang Dovi, padahal katanya Dovi masih sering menemuinya.
"Bingung, 'kan?!" kata Billy.
"Makanya, Mama Dovi curiga kalau terjadi sesuatu dengan Dovi, sama seperti kecurigaanku," ujar Billy.
"Aku diminta mama Dovi membantu nya mencari informasi tentang Dovi sekarang. Aku sudah ketemu beberapa teman Dovi, tapi belum ada titik terang...
Cuma ada yang bilang, kalau Dovi pernah bilang akan pergi ke wilayah pedesaan dengan seorang wanita...
Aku belum sempat pergi periksa kesana. Aku hanya meminta kenalanku disana, untuk membantu mencarinya," ujar Billy.
Billy memperbaiki posisi duduknya di jok supir. Dia menghela nafas panjang.
"Aku nggak mau berlama-lama disana. Nggak sanggup lagi aku menahan gelisah, untuk cepat bertemu kamu," sambung Billy, sambil mengambil tangan Dinda untuk dipegangnya.
Dinda tersipu malu. Pipinya memerah.
Billy melirik Dinda sebentar, kemudian mengecup punggung tangan Dinda.
Saat jalanan kelihatan agak lengang, Billy kemudian memacu kecepatan mobilnya.
Ketika mereka berdua tiba di salah satu restoran mewah, Billy tanpa ragu menggandeng tangan Dinda, sambil berjalan masuk.
Billy membawa Dinda kesalah satu ruangan, yang tertutup dari penglihatan pelanggan lain.
Setelah pintu terbuka, Dinda bisa melihat Atasannya, kemudian wanita yang selama ini menjadi istri Billy.
Dinda berusaha melepas gandengan Billy, tapi tidak berhasil.
Billy menahan tangan Dinda.
Karena malu, Dinda menundukkan kepalanya.
"Kalian sudah datang!" seru wanita itu bersemangat.
__ADS_1
Dinda bingung mendengar suara wanita itu, yang ramah menyambut mereka.
"Dinda?" tanya wanita itu.
Dinda mengangkat kepalanya. Dia melihat wanita itu menyodorkan tangannya, untuk bersalaman.
"Iya," jawab Dinda malu-malu, sambil menyambut tangan wanita itu.
"Namaku, Gracie! Santai saja...! Aku sudah tahu semuanya. Billy sudah pernah cerita denganku," ujar wanita itu, dengan wajah ceria.
"Hanya saja Billy tidak pernah cerita, kalau kamulah yang dia minta mengurus berkas kami," sambung wanita itu, sambil menatap Billy, tajam.
"Mestinya, kita sudah bisa berkenalan sejak pertama aku datang kekantormu" ujar wanita itu, dengan nada kecewa.
"Ayo, duduk dulu!" ujar wanita itu lagi.
Billy menggeserkan kursi, untuk Dinda duduk.
Saat itu, Dinda bisa melihat wajah atasannya yang tampak kurang begitu senang. Dinda kemudian melihat sekelilingnya dengan lirikan matanya.
Ada satu yang menarik perhatian Dinda. Disamping istri kontrak Billy, ada seorang pria yang memperlakukan wanita itu, dengan penuh kasih sayang.
"Ini kekasihku!" ujar wanita itu yang menyadari tatapan mata Dinda. Lelaki di sebelahnya hanya tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.
Dinda ikut menganggukkan kepalanya.
"Apa kita sudah bisa mulai?" tanya Atasan Dinda datar.
Mereka kemudian berbincang-bincang disitu, setelah Billy dan Gracie menandatangani berkas yang ada diatas meja. Kecuali atasan Dinda yang masih tampak kesal.
"Kapan-kapan, kita bisa jalan-jalan bareng," ujar Gracie sambil memeluk Dinda.
Gracie dan kekasihnya, kemudian terlebih dahulu pergi dari situ, meninggalkan Billy, Dinda dan atasan Dinda.
Saat Atasan Dinda berpamitan untuk pulang, Billy dengan cepat menahannya.
"Tunggu dulu!" seru Billy kepada Atasan Dinda.
"Dinda...! Kamu bisa ke mobil duluan?" tanya Billy, sambil menatap Dinda.
Dinda melihat Billy, kemudian kearah atasannya. Dia kembali melihat Billy, lalu mengangguk. Dinda berdiri, lalu berjalan keluar dari situ.
Dinda melangkahkan kakinya, yang terasa sangat berat.
Apa yang dibicarakan Billy dengan bosnya? Kira kira apa yang akan terjadi di kantor nanti? kepala Dinda penuh dengan pertanyaan.
Dinda bisa melihat dengan jelas ketidak sukaan Atasannya, dari raut wajah wanita itu. Dinda hanya bisa pasrah.
Selang hampir lima belas menit kemudian, Dinda melihat Billy sudah berjalan kearah mobil tempat Dinda menunggu.
"Apa yang kamu bicarakan dengan bos ku?" tanya Dinda, tergesa-gesa saat Billy masuk kedalam mobil.
"Tenang saja...? Yang pasti, dia tidak akan mengganggumu," ujar Billy santai.
"Kalau dia berani macam-macam, dia yang akan dipecat," sambung Billy.
Billy menyalakan mesin mobilnya, membiarkan Dinda larut dalam pikirannya yang masih merasa tidak percaya, apa yang dibilang Billy.
Billy membawa Dinda ke sebuah toko perhiasan, lalu mengajaknya turun untuk melihat lihat.
__ADS_1
"Untuk apa?" Tanya Dinda.
"Kamu yang pilih cincin pernikahan kita," sahut Billy, sambil menatap Dinda.
"Pekerja... " Dinda belum sempat melanjutkan perkataannya, Billy kemudian memotongnya
"Nggak usah kamu pikirkan masalah pekerjaanmu...!" Billy menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu nggak percaya denganku? Bosmu tidak akan berani mengganggumu," sambung Billy.
"Aku mau kita resmikan hubungan kita," ujar Billy sambil mengusap perut Dinda dengan lembut.
"Kamu mau menikah denganku?" tanya Billy, yang masih menatap Dinda
Dinda terdiam. Dia memang harus mengakui kalau sejak terjadi kecelakaan buruk itu, Dinda hanya bisa merindukan Billy.
Sesaat sebelum Dinda jatuh pingsan didalam mobil itu pun, yang terbayang bukanlah wajah Rudi, melainkan Billy.
Hanya saja, Dinda belum terpikirkan untuk menikah secepat itu.
Dinda melihat tangan Billy, yang diletakkan diatas perutnya. Dia kemudian tersadar kalau dia tidak bisa menunda.
"Iya...! Aku mau..." jawab Dinda pelan.
Billy memeluk Dinda. Lelaki itu merasa sangat lega. Saat Dinda terdiam, jantung Billy berdegup kencang. Masih ada rasa khawatir kalau-kalau Dinda masih memikirkan Rudi.
Billy mengendurkan pelukannya. Dia menatap Dinda dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu mencintaiku?" tanya Billy, menyelidik dalam mata Dinda.
Dinda tersenyum, sambil menganggukkan kealanya.
"Aku mencintaimu sayang...!" ujar Billy. Lelaki itu kemudian mencium bibir Dinda, dengan lembut.
Dengan wajah ceria, keduanya memasuki toko perhiasan. Mereka kemudian memilih sepasang cincin, yang menarik perhatian keduanya.
Saat Billy hendak membayar belanjaan mereka, Billy meminta Dinda untuk pergi ke mobil duluan. Dinda hanya menurut, lalu menunggu Billy disana.
"Kenapa lama sekali?" tanya Dinda, waktu Billy baru kembali ke mobil.
"Aku punya sesuatu untuk mu..." ujar Billy.
Billy mengeluarkan satu kotak perhiasan kecil, dari salah satu kantong belanjaan. Dia membuka kotak itu, lalu memasangkan sebuah cincin ke jari manis Dinda.
"Kamu beli satu lagi?" tanya Dinda heran.
"Iya... Yang sepasang untuk acara pernikahan kita nanti. Yang ini cincin pertunangan kita," ujar Billy.
"Apalagi, cincin yang dulu sepertinya sudah hilang," sambung Billy lagi. Dia menunjuk dengan matanya kearah tangan Dinda, yang hanya terpasang satu cincin baru darinya.
"Iya," jawab Dinda sambil menunduk. Dia merasa bersalah, karena tidak bisa menjaga pemberian orang.
"Waktu itu aku pergi mandi. Seingatku, aku nggak pernah sembarangan menyimpannya. Aku biasa letakkan dalam gelas disamping ranjang...
Tapi, tahu-tahu waktu aku mencarinya, cincin-cincin itu, entah pergi kemana," ujar Dinda.
"Sudah nggak usah dipikirkan...! Yang sudah hilang, yaa sudah..." ujar Billy pelan, sambil mengecup kening Dinda.
"Ayo, kita masih ada satu tujuan lagi!" seru Billy bersemangat.
__ADS_1