OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 77


__ADS_3

Sudah beberapa jam berlalu. Dinda sudah tertidur lagi, tak lama sejak Billy mengelus-elus rambutnya.


Tapi Alex dengan Rudi belum juga kembali.


"Dimana Rudi?" tanya Laura agak berbisik pada Billy, agar tidak membangunkan Dinda.


"Rudi tadi ke kantor polisi bersama Alex. Tapi, aku nggak tahu juga, kenapa lama begini mereka belum balik..." ujar Billy berbisik.


"Aku keluar dulu! Aku coba hubungi mereka," Billy berbisik lagi.


Baru saja Billy berdiri, Dinda sudah menahan tangannya. Meskipun mereka sudah berusaha untuk bicara sepelan mungkin, tetap saja membuat Dinda terbangun.


"Ada apa?" tanya Dinda.


"Eh! Aku mau keluar dulu sebentar..." ujar Bily, menutupi tujuannya yang sebenarnya.


"Kamu jangan bohong!" seru Dinda "Ada apa sampai Rudi dan Alex harus pergi kekantor polisi?" tanya Dinda lagi.


"Begini...!" sahut Laura. "Sebenarnya kecelakaan yang kamu alami, juga kejadian yang terjadi padaku, membuat kami berpikir kalau ada yang sengaja berbuat begitu."


"Apa yang terjadi denganmu? Bukannya kamu sudah bilang tadi, kalau kamu tersengat lebah di taman, waktu kamu diluar kota?" tanya Dinda heran.


"Maaf...! Aku harus membohongi kamu tadi, supaya kamu tidak terlalu khawatir," kata Laura, dengan nada penyesalan.


"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?" kini Dinda makin penasaran.


"Waktu kita ngumpul-ngumpul di vila, ada yang merekam Laura saat bersama teman lelakinya, lalu mengirim video itu ke Papa Laura," kata Billy menjelaskan.


"Jadi maksudnya gimana?" tanya Dinda, yang masih belum mengerti


"Aku waktu itu dipukul dan dikurung Papaku, karena malu saat melihat video yang dikirim seseorang," ujar Laura. "Waktu itu 'kan yang ada disitu cuma kita-kita aja. Jadi kami menduga, kemungkinan Mita yang sengaja mengirim video itu."


Dinda terdiam. Dia memikirkan perkataan Laura baik-baik.


"Kamu ditelpon nomor yang tidak dikenal, tapi orang itu tahu situasi kalau Rudi sedang tidak bersamamu. Terus, aku juga dapat pesan yang mengatakan, kalau kamu sudah mati, masih dari nomor yang aku tidak kenal," kata Billy.


"Kami semua menduga kalau yang menelpon kamu, mengirim pesan ke nomorku, juga yang melaporkan Laura itu orang yang kita bertiga kenal dekat... Kami curiga itu Mita..." sambung Billy.

__ADS_1


Seketika kepala Dinda rasanya pusing sekali saat mendengar penjelasan Billy.


Mita? kenapa Mita? Mita ada masalah apa dengan Dinda, Billy dan Laura? Dinda rasanya tidak percaya. Saat itu juga dia tiba-tiba teringat motor yang tergeletak dijalan.


"Astaga!" seru Dinda. Dia benar-benar shock.


Billy dengan Laura terkejut mendengar suara Dinda. Mereka berdua menatap Dinda lekat-lekat.


"Ada apa?" tanya Billy yang penasaran


"Mo-tor... Motor yang membuatku membanting stir mobil... Itu motor Mita!" kata Dinda terbata-bata, dia rasanya masih tidak percaya.


"Kalian ingat waktu kalian berkumpul dirumahku waktu itu? Motor yang dipakai Mita saat diantar teman lelakinya, itu motor yang aku lihat tergeletak ditengah jalan, saat aku kecelakaan!" tubuh Dinda gemetar. Dia menjadi sangat takut.


Billy memeluk Dinda.


"Tenang...! Kamu aman disini. Kami akan menjagamu..." kata Billy, berusaha menenangkan Dinda.


Laura menatap Billy, lalu Billy balik menatapnya.


Berarti, semakin besar kemungkinan kalau memang Mita pelakunya.


"Kami belum tahu pasti. Cuma, kalau memang Mita sudah merencanakan ini, maka kami merasa kalau ini semua belum berakhir," ujar Billy.


"Itu sebabnya Alex dengan Rudi, pergi melapor ke kantor polisi," sambung Billy lagi.


Dinda masih tampak tidak percaya. Mita sahabatnya mencoba membunuhnya, kenapa? Apa salah Dinda padanya? Sampai dia tega mencelakai Dinda.


Billy lalu menghubungi Rudi, tapi nomornya tidak aktif. Dia lalu coba menghubungi Alex. Sama saja, nomor Alex juga tidak aktif. Ada apa dengan mereka berdua ini? pikir Billy.


"Kenapa? mereka nggak bisa dihubungi?" tanya Laura saat melihat Billy, yang bolak-balik memencet-mencet layar handphonenya.


"Iya. Nomor mereka tidak ada yang aktif. Apa mungkin mereka langsung pergi ke lembah itu?" Billy menduga-duga. Tapi asal ada kepolisian yang ikut, maka mereka mungkin akan baik-baik saja.


"Kita tunggu saja dulu kabar dari mereka berdua..." ujar Billy, yang kemudian duduk di kursi disamping Dinda.


"Kamu mau makan sesuatu?" tanya Billy, pada Dinda untuk mengalihkan perhatiannya

__ADS_1


Dinda menggeleng.


"Kamu?" tanya Billy sambil menatap Laura.


"Aku mau minum saja... Kopi!" sahut Laura.


"Kalian berdua tunggu disini. Laura...! Kamu temani Dinda, ya?! Jangan kamu tinggalkan sampai aku kembali!" ujar Billy. "Aku pergi belanja dulu dibawah."


Laura mengangguk. Billy lalu berjalan keluar dari situ.


Tinggal Laura dengan Dinda, yang rasa kantuknya entah hilang kemana.


"Aku rasanya tidak percaya, kalau sampai Mita melakukan ini semua," celetuk Dinda.


"Aku juga nggak percaya. Awalnya aku sempat mengira Billy yang sengaja merekam, apa yang aku perbuat dengan teman lelakiku waktu itu..." ujar Laura.


"Tapi saat aku bicara dengan Billy baru aku sadar kalau Billy tidak punya kontak Papa. Jangankan nomor kontak Papa, nomorku aja dia nggak tahu. Aku juga nggak pernah minta nomor ke Billy," sambung Laura.


"Tapi bagaimana Mita bisa merekam adegan kamu waktu itu?" tanya Dinda heran. "Apa jangan-jangan teman lelakimu yang merekamnya? Dimana kamu bertemu dengan dia?"


Mendengar pertanyaan Dinda, barulah Laura kemudian tersadar akan kebodohannya.


"Mita yang memperkenalkan aku dengan lelaki itu..." ujar Laura, dengan wajah lesu.


"Aku nggak mengenal baik dengan lelaki itu. Mita, yang membuat aku bisa bertemu dengannya. Saat aku pulang dari tempatmu waktu itu." Laura merasa dikhianati.


"Maafkan aku...! Meski baru dugaan, aku nggak menyangka kalau Mita akan mencelakai kita," ujar Dinda, yang menyesal telah mengenalkan Laura dengan Mita.


"Bukan salahmu...! Kita memang nggak akan pernah tahu apa isi hati orang. Meskipun kita berteman lama," ujar Laura. Dia tidak mau membuat Dinda merasa bersalah.


"Kamu tahu?! Tadi Billy cerita, kalau Mita mencoba merayunya waktu Billy kembali ke vila untuk mengambil pakaian," ujar Laura.


"Makanya Billy menduga, Mita melakukan semua ini, karena mungkin dia jatuh cinta dengan Billy. Jadi dia mencoba menyingkirkan kamu," sambung Laura lagi.


"Kalau memang benar begitu aku tak tahu akan bilang apa. Benar-benar kejadian yang aneh," celetuk Laura, seakan tidak memberi Dinda kesempatan untuk bicara.


Dinda tidak mau terlalu memperdulikan masalah Mita mencintai Billy, atau sebaliknya. Dia hanya merasa tidak percaya kalau sahabat lamanya akan berbuat begitu, cuma karena dia jatuh cinta dengan Billy.

__ADS_1


Lalu Dovi bagaimana? Bukannya dia bilang dia sangat mencintai Dovi sampai mau saja untuk memakai konsep open marriage?


Ah sudahlah, semua masih dugaan. Dinda tidak mau terlalu memikirkan hal itu.


__ADS_2