
Di sepanjang perjalanan pulang, Rudi sempat beberapa kali menangkap raut wajah Dinda dengan matanya, sedang tersenyum sendiri.
Setelah memarkirkan mobil di halaman rumah Dinda, Rudi masih melihat Dinda tersenyum lagi. Rudi kemudian menggenggam tangan Dinda.
"Apa ada yang menarik?" tanya Rudi penasaran.
"Nggak! Aku cuma merasa lucu membayangkan kamu dan Alex mendekati perempuan yang sama. Padahal, pasti banyak gadis yang mengejar-ngejar kalian. Kalian berdua 'kan sama-sama kece!" ujar Dinda.
"Dinda...! Kamu bercanda?!" kata Rudi. Lelaki itu meremas tangan Dinda kuat-kuat. Dia gemas dengan perkataan Dinda.
"Aaww... Sakit!" keluh Dinda.
Gadis itu memegang tangan Rudi yang meremas sebelah tangannya.
"Kamu bilang kami sama-sama kece? Jangan bilang kamu tertarik dengan Alex?!" kata Rudi.
Rudi tetap tidak mau melemahkan genggamannya ditangan Dinda, meskipun Dinda mengeluh.
"Aaaww... Sakit, loh!" Dinda mengeluh, tapi sambil tertawa. Dia tidak marah dengan tindakan kasar Rudi.
Lama-lama, tangan Dinda sudah benar-benar sakit.
Gadis itu berhenti tertawa. Dinda memasang raut wajah serius.
"Aku cuma bercanda!" ujar Dinda.
Genggaman Rudi melemah.
"Itu nggak lucu!" kata Rudi yang kemudian turun dari mobil. Dinda juga ikut turun.
Dinda berjalan lebih cepat didepan Rudi, dia berbalik lalu tersenyum misterius lagi. Dinda kemudian berlari.
Rudi mengejarnya. Belum sampai di teras rumah Dinda sudah berhasil ditangkap Rudi.
Rudi menggendong Dinda, kemudian tetap berdiri diam disitu.
"Kamu mengejekku?" Rudi benar-benar kesal.
Dinda tahu kalau Rudi sedang serius. Tapi Dinda belum puas menggoda Rudi. Dinda mengelus pipi Rudi.
"Alex memang tampan, tapi aku lebih memilih kamu!" Dinda masih saja tersenyum nakal.
"Dinda!" kata Rudi hampir berteriak.
Dinda tertawa. Tangannya merangkul leher Rudi.
"Serius, aku memilih kamu..." kata Dinda berbisik pelan.
Baru saja akan mereda kekesalan Rudi, nada suara Dinda berubah lagi saat dia berkata
__ADS_1
"Antarkan aku masuk sekarang! Atau turunkan disini aja!"
Rudi merasa sangat gemas dengan tingkah Dinda. Lelaki itu menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Tanpa berkata apa-apa, berjalan masuk kedalam rumah sambil menggendong Dinda.
Dinda meminta Rudi menurunkannya di sofa ruang tengah. Rudi menurut.
Dinda duduk disitu,
"Sini!" Kata Dinda menyuruh Rudi duduk disitu bersamanya. Kembali lelaki itu menuruti kemauan Dinda.
Rudi duduk berseberangan dengan Dinda. Lelaki itu sedang dalam mood yang kurang bagus. Rudi masih terbawa rasa kesal. Seharian ini ada dua laki-laki bergantian mau merebut kekasihnya itu.
Dinda melihat raut wajah Rudi yang masam.
"Kamu kenapa?" tanya Dinda.
Rudi diam membisu.
"Kamu masih marah karena aku menggodamu tadi?" kembali Dinda bertanya.
Rudi menatap mata Dinda. Lama, tanpa berkata apa-apa.
Dinda jadi grogi.
Dinda memalingkan wajahnya. Dia mencari cari remote televisi agar tidak perlu bertatapan dengan Rudi.
"Dinda...!" panggil Rudi
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Rudi.
Dinda mengangguk.
Rudi merasa kurang puas dengan cara Dinda menjawab pertanyaannya. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.
"Dinda...! Apa kamu mencintai aku?" tanya Rudi lagi
"I-iya..." jawab Dinda gugup
Dinda merinding, suasana ruangan itu seakan jadi horor.
"Kalau begitu, kapan kamu berencana menikah denganku?"
Dinda terdiam. Dinda berpikir apa yang harus dia katakan.
"Dinda...! Apa kamu yakin memilih aku?" tanya Rudi
"Iya!" kali ini Dinda menjawab dengan mantap.
"Trus, apa kamu sudah pernah pikirkan, kapan waktunya kamu akan menikah denganku?" Rudi bertanya dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Dinda kembali berpikir sebentar.
"Tak lama lagi Laura akan menggelar pernikahannya. Mungkin nanti aja selesai acaranya Laura..." jawab Dinda ragu ragu.
Mendengar jawaban Dinda yang seolah-olah mencari alasan, Rudi jadi merasa kurang yakin lagi dengan cinta Dinda. Lelaki itu kecewa. Rudi memalingkan wajahnya lalu bersandar ke sofa. Rudi tidak mau melihat wajah Dinda.
Dinda merasa tidak nyaman melihat Rudi seperti itu. Dinda lalu bergeser tempat duduk mendekati Rudi. Dinda berusaha membujuk agar Rudi mau bicara dan melihat wajahnya, tapi Rudi selalu berbalik arah menghindari Dinda.
"Kamu kenapa?" tanya Dinda.
Rudi masih diam membisu.
Berkali-kali Dinda mencoba membujuk Rudi, tapi tetap saja Rudi tidak mau melihat wajahnya.
Dinda tidak suka dengan suasana yang ada. Dia berpikir lebih baik untuk menyendiri saja dulu.
"Sebaiknya, kamu pulang aja sekarang...!" kata Dinda. Gadis itu berdiri lalu berjalan kearah pintu depan dan menunggu disitu.
Rudi lalu berdiri dan berjalan keluar dari rumah Dinda.
Saat Rudi melewati pintu, tidak menunggu lama Dinda langsung menutup pintu rumahnya.
Dinda berdiri dibalik pintu, dia bisa mendengar bunyi mobil Rudi yang pergi tanpa ragu.
Setelah suara mesin mobil Rudi menghilang, Dinda kemudian keluar dan mengunci pintu pagar depan rumahnya.
Dinda tidak langsung masuk kedalam rumah, dia duduk sendiri di ayunan yang ada diteras rumahnya. Dinda melamun disitu.
Ada sedikit perasaan sedih dalam hati Dinda melihat Rudi pergi begitu saja, tapi masih lebih besar perasaan kecewa yang muncul.
Dinda memang belum berniat untuk menikah. Dia masih berpikir untuk mengejar karir lebih dulu. Dinda punya target yang ingin dia capai. Tinggal beberapa bulan lagi masa intern nya berakhir. Kemungkinan besar, dia bisa jadi rekanan di firma.
Tapi tingkah Rudi malam itu, menunjukkan kalau Rudi tidak bisa mengerti apa yang Dinda mau.
Dinda merasa kalau memang belum bisa melanjutkan hubungannya dengan Rudi. Dinda tidak mau ditekan dengan kemauan Rudi untuk menikah.
Kalau memang harus berpisah sementara waktu ataupun selamanya, Dinda merasa tidak perduli lagi.
Dinda melangkah masuk kedalam rumah, mengunci pintu, lalu pergi berbaring dikamarnya. Dinda mematikan daya ponselnya. Dia tidak mau siapa pun mengganggunya malam itu.
***
Rudi sebegitu kecewanya dengan Dinda, sampai berkali-kali Rudi memukul setir mobilnya. Keraguan dihati lelaki itu menjadi-jadi. Dia hilang keyakinan kalau Dinda benar-benar mencintainya.
Rudi benar-benar bingung. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saat itu, dia tak ingin pulang kerumahnya. Dia ingin ada teman bicara.
Rudi menghentikan mobilnya didepan portal kompleks perumahan Dinda.
Rudi melihat kesana kemari, sambil memikirkan dia mau kemana. Rudi lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Eko.
__ADS_1
Mungkin Eko bisa membantunya, pikir Rudi.
Setelah janjian dengan Eko lewat telepon, Rudi menjalankan mobilnya lagi.