OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 15


__ADS_3

Kali ini Rudi datang terlambat. Mata kuliah dari salah satu dosen, sudah dimulai sejak tadi


ketika dia masuk ke ruangan. Dengan cepat dia menaiki tangga, menuju tempat biasa mereka duduk. Pemuda itu terbelalak.


Pemandangan dihadapannya sungguh tidak mengenakkan hati.


Dinda duduk bersebelahan dengan pemuda bule si mahasiswa baru. Dinda dan teman barunya terlihat sudah akrab.


Rudi melihat kesana kemari, batang hidung Laura tidak kelihatan. Dengan rasa terpaksa dia duduk bersela satu kursi dari Dinda.


Dinda melihatnya, namun seakan tidak perduli, dia masih fokus memperhatikan penjelasan dosen. Sesekali Dinda dan pemuda bule itu berbisik-bisik.


Rudi merasa sangat kesal, tapi dia menutupi kekesalannya, dengan berpura pura fokus dengan pelajarannya.


"Mark, ini Rudi temanku!" kata Dinda memperkenalkan Rudi dengan pemuda bule yang ternyata bernama Mark.


Rudi dan Mark bersalaman. Mereka bertiga bersantai di cafe. Rudi kesal di cuekkin Dinda yang malah asik mengobrol dengan Mark.


"Mana Laura?" tanya Rudi mencari perhatian Dinda.


"Laura sedang keluar negri dengan ortunya. Katanya sih mungkin satu atau dua minggu," jawab Dinda.


Dinda kemudian mengobrol lagi dengan Mark.


Mark banyak bertanya bermacam hal kepada Dinda yang membuat Dinda memberi perhatiannya kepada pemuda itu.


Rasanya tak mampu lagi dia mengendalikan kekesalannya. Rudi lalu berpamitan dengan Dinda dan Mark.


Dinda hanya mengangguk.


Rudi dengan cepat berlalu pergi dari situ.


Demikian beberapa hari kemudian adegan itu terus berlangsung.


Kemana mana Rudi dan Dinda berada, Mark juga ada disitu. Mark dan Dinda jadi makin akrab.

__ADS_1


Masalahnya setiap ada Mark, Rudi seakan tidak tampak di mata Dinda. Gadis itu selalu saja asyik bercengkrama dengan pemuda bule itu. Tak jarang saat Rudi bicara atau bertanya, Dinda tidak sempat menjawabnya malah duluan menanggapi obrolan Mark.


Semakin lama Rudi semakin merasa cemburu. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Dia sadar posisinya yang hanya sebatas teman. Dia tidak mungkin melarang Dinda untuk berteman dengan Mark. Mau tak mau Rudi terpaksa menahan rasa kesal di hati sendiri. Pemuda itu tidak tahu harus bagaimana.


Laura sudah kembali dari luar negri. Karena sifat Laura yang mudah bergaul, perhatian Mark dari Dinda agak teralihkan. Perilaku Dinda hampir kembali seperti biasa. Rudi merasa lega.


Tapi kelegaan Rudi hanya sementara. Sampai berita itu menggema di telinganya.


Ketika Rudi, Dinda dan Laura sedang mengambil buku di perpustakaan. Dinda berkata


"Mark mau aku jadi pacarnya,"


Kata kata Dinda mengejutkan kedua sahabatnya itu.


"Really?" kata Laura hampir berteriak. Laura mencubit pipi Dinda.


Dinda meringis kesakitan, sambil mengelus pipi nya yang sakit.


"Terus, kamu terima?" tanya Laura bersemangat.


Rudi menatap wajah Dinda. Dia tahu kalau Dinda mau jadi pacar lelaki itu.


"Okeey... By the way, dimana Mark sekarang? kenapa dia tidak ikut kita?" tanya Laura.


"Tadi dia pulang duluan, katanya mau temani adiknya belanja," kata Dinda.


"Ciiieee, cuma kamu yang dia kasih tau. Kamu emang spesial dong buat dia say," kata Laura menggoda Dinda.


"Udah, terima aja. Anaknya baik aja kok kelihatannya. Dari pada jadi jomblo terus!" sambung Laura.


Rudi hanya mendengarkan obrolan kedua gadis itu, tanpa merespon apa-apa. Rudi berpura-pura sibuk membaca buku ditangannya.


Di perpustakaan itu, Rudi tidak tenang. Berkali-kali dia melirik Dinda. Pemuda itu mengumpulkan niatnya, untuk menyatakan perasaan sayangnya kepada Dinda. Dia tidak rela kalau Dinda berpacaran dengan Mark.


Bukannya Rudi tidak mau melihat Dinda bahagia, dia ingin Dinda bahagia, bersamanya, bukan dengan pemuda bule itu.

__ADS_1


Rudi berpikir keras, bagaimana membuka percakapan seperti apa. Dia berniat menyatakan cintanya saat mengantar Dinda pulang nanti.


Di perjalanan pulang, Rudi makin gelisah. Mobilnya berjalan sangat pelan.


"Pelan amat! Kapan nyampenya?" kata Dinda sambil menatap Rudi.


Rudi tersadar, dia melajukan kendaraannya dengan kecepatan normal.


Sebelum Dinda turun dari mobilnya, Rudi memegang tangan Dinda.


"Tunggu sebentar!"


"Eh, Kenapa?" Dinda menarik kakinya masuk lagi kedalam mobil.


Rudi terdiam, dia sangat gugup.


"Ada apa?" tanya Dinda lagi.


"Kamu suka dengan Mark?" akhirnya Rudi bisa bicara. Rudi menatap Dinda dalam dalam.


"Iya!"


"Kamu beneran mau jadi pacarnya?"


"Hmmm... Iya..." jawaban Dinda terdengar ragu di telinga Rudi.


Ini kesempatannya, pikir Rudi. Dia mengumpulkan keberanian, lalu berkata


"Aku mencintaimu, Din! Aku mau kamu jadi milikku!"


Rudi meluapkan keinginannya, dia berharap akan mendapat jawaban yang dia mau.


Kini Dinda yang terdiam lama.


Dinda melangkah keluar dari mobil tanpa berkata apa apa. Meninggalkan Rudi yang hanya terpaku melihatnya berlalu.

__ADS_1


__ADS_2