OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 23


__ADS_3

Hari sabtu pagi yang cerah.


Cahaya matahari sudah mulai memaksa masuk dari kaca jendela kamar Dinda.


Dinda menggeliat dan meregangkan tubuhnya di atas kasur. Rasanya dia tidak mau berbuat apa apa hari ini.


Terdengar ketukan di pintu kamar Dinda.


"Noon! Nooon!" suara mbok Inah terdengar dari balik pintu.


"Iya, mbok! Sebentar ya!" Dinda menyeret tubuhnya turun dari ranjang.


Dinda membuka pintu, wajah mbok Inah sudah menunggu disitu.


"Ada apa mbok?" tanya Dinda.


"Anu Non, ada tamu menunggu di depan!" kata mbok Inah.


"Siapa?"


"Katanya tadi kalau Non bertanya, bilang aja temannya Non," kata Mbok Inah.


Siapa? Dinda penasaran.


"Kalau gitu tolong mbok kasih tau, kalau dia harus menunggu dulu sebentar," kata Dinda.


Mbok Inah mengangguk, kemudian berjalan ke arah bagian depan rumah.


Dinda sempat berniat untuk mandi, tapi dia mengurungkannya.


Dinda memakai jubah mandi untuk menutupi piyamanya.


Gadis itu lalu menyusul mbok Inah.


"Surprise!" kata Rudi setengah berteriak.


Dinda tersenyum lebar.


Rudi lalu memeluk kekasihnya itu.


"Aku belum mandi," kata Dinda malu-malu.


Rudi tidak memperdulikan perkataan Dinda, dia tetap memeluk tubuh Dinda erat-erat.

__ADS_1


"Aku merindukanmu setengah mati, sayang...!" kata Rudi setengah berbisik ditelinga Dinda. Lelaki itu kemudian mengecup kening Dinda.


"Katanya keluar kota, kapan kamu kembali?" Tanya Dinda.


"Barusan tadi aku sampai. Aku kangen banget. Jadi langsung kesini," kata Rudi.


Dinda melihat ke lantai teras. Sebuah koper tergeletak disana.


"Kamu belum pulang kerumah?" kata Dinda sambil tertawa kecil.


Rudi menggeleng.


"Belum, kan aku sudah bilang aku kangen kamu,"


Dinda mengendurkan pelukan Rudi.


"Ayo masuk dulu!" Dinda menggandeng tangan Rudi sambil berjalan masuk kedalam rumah.


"Aku mau mandi dulu!" kata Dinda


"Kamu mau mandi?" sambung Dinda


"Iya!" Rudi tersenyum nakal.


"Bukan mandi bareng..." kata Dinda


"Tuh mandi disana!" Dinda menunjuk ke kamar tamu.


Rudi tersenyum puas, merasa berhasil menggoda gadis itu.


Dinda masuk ke kamarnya, sesaat setelah Rudi masuk ke kamar tamu.


"Kamu mau jalan-jalan denganku?" tanya Rudi ketika mereka berdua sudah kembali ke ruang tengah rumah Dinda.


"Emangnya kamu nggak capek? Nggak mau istirahat dulu?"


"Nggak, nanti aja. Ayo kita jalan!" ajak Rudi.


Setelah berpamitan dengan mbok Inah yang sudah dianggap seperti orang tua Dinda sendiri, Rudi dan Dinda kemudian pergi dengan mengendarai mobil yang dibawa Rudi.


"Aku pengen..." kata Rudi saat mereka sudah dijalan.


Seakan mengerti maksud Rudi. Dinda hanya tersenyum.

__ADS_1


Rudi membelokkan mobilnya. Mereka berdua masuk ke hotel.


Rudi memeluk tubuh Dinda. Beberapa hari dia tidak bertemu Dinda, Rudi sangat merindukan aroma tubuh gadis itu.


Rudi memuaskan hasratnya dengan gadis itu. Mereka berdua sama sama menikmati setiap gerakan yang dilakukan kekasihnya.


Rudi membuat Dinda kewalahan, gadis itu tidak sanggup melawan. Dinda pasrah dengan perlakuan Rudi di area-area sensitifnya.


Dinda dan Rudi mendesah dan mengerang berkali kali sampai benar-benar mereka merasa puas.


Sesudah keluar dari hotel, mereka kemudian berjalan-jalan, Rudi menuruti kemana pun Dinda mau pergi.


Tapi Dinda tahu kalau Rudi masih lelah karena perjalanan kerja nya.


Dinda tidak mau berlama-lama dijalan. Dia mengajak Rudi pulang.


"Kalau kamu mau, istirahat disini aja dulu..." Dinda membawa Rudi kembali ke kamar tamu dirumahnya.


Rudi menurut. Lelaki itu merebahkan tubuhnya di ranjang, tak lama kemudian dia tertidur ditemani Dinda yang duduk di atas ranjang mendampingi Rudi.


Dinda menatap wajah Rudi yang sudah tertidur pulas. Gadis itu merasa sangat bersalah. Dia sudah mengkhianati cinta Rudi.


Dinda benar-benar merasa seperti dia akan menjadi gila.


Saat dia berhubungan intim bersama Billy, dia bisa melupakan Rudi. Begitu pun sebaliknya, ketika dia merasakan kenikmatan dengan Rudi, dengan mudahnya dia melupakan Billy.


Apa ini yang namanya cinta? Atau ini semua cuma nafsu belaka? kalau memang cuma nafsu, serendah itu kah aku ini? Dasar perempuan gila.


Dalam hati Dinda memaki maki dirinya sendiri.


Dinda memandangi wajah Rudi. Polos seperti wajah seorang anak kecil. Dinda yang awalnya cuma duduk, kemudian ikut berbaring di samping Rudi.


Rudi terbangun karena gerakan Dinda disitu. Lelaki itu lalu memeluk dan sedikit menarik tubuh Dinda, sampai kepala Dinda tersandar di dadanya. Rudi mengecup kepala Dinda, dengan penuh kasih sayang.


Rudi masih sangat lelah, tak lama dia kembali tertidur sambil memeluk Dinda.


Dinda menikmati pelukan hangat Rudi. Detak jantung lelaki itu terdengar merdu ditelinganya. Nafas Rudi teratur menghembus dirambut Dinda.


Aroma tubuh Rudi membuat Dinda ketagihan.


Dinda benar-benar bisa merasakan kenyamanan saat bersama dengan Rudi.


Dinda kemudian ikut tertidur dalam pelukan lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2