
"Bagaimana, Pa?" tanya Dinda, ketika melihat Papanya keluar dari ruang perawatan Mamanya.
"Dokter masih memeriksanya. Mamamu minta Papa keluar dulu," kata Papa Dinda dengan wajah lemas tidak bersemangat. Pria paruh baya itu seakan tahu kalau ada yang tidak beres. Tapi dia menyembunyikan perasaan itu dari anak gadisnya itu.
Kurang lebih setengah jam lamanya ayah dan anak itu menunggu di depan ruang Mama Dinda dirawat, sampai kemudian Papa Dinda lalu disuruh masuk lagi.
Papa Dinda berjalan masuk ke ruangan itu, meninggalkan Dinda yang terduduk dikursi.
"Mama bisa pulang!" suara Mama Dinda terdengar ketika pintu terbuka.
Wanita itu dengan menggunakan kursi roda, didorong suaminya mendekati Dinda.
Dinda berdiri.
"Apa kata dokter? Apa mama baik baik saja? Kenapa mama dipulangkan?" tanya Dinda tergesa-gesa, dengan wajah yang seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tidak apa-apa... Karena penyakitnya Mama, pendarahan seperti tadi itu biasa aja, sayang. Mama nggak apa-apa..." Mama Dinda selalu menutupi apa yang dia rasakan dari Dinda.
Dinda menatap Papanya, namun Papanya tidak bereaksi. Pria itu seolah olah membenarkan apa yang dikatakan istrinya.
"Ayo kita pulang! Mama mau istirahat dirumah," kata Mama Dinda.
Mereka bertiga kemudian pulang kerumah lagi. Diperjalanan, Papa Dinda bercerita kalau dia sudah mengurus di kantor tempat dia bekerja agar bisa melakukan pekerjaannya dari rumah.
Sambil berbisik, dia berkata kepada Dinda kalau atas permintaan Mama Dinda, yang ingin Papa menghabiskan waktunya menemani Mama dirumah, dan Papanya setuju.
Papa Dinda sebenarnya ingin menemani istrinya meskipun wanita itu tidak memintanya. Dia tidak ingin terjadi apa apa pada istrinya saat dia tidak ada.
Ketika sampai dirumah, mobil bertuliskan nama perusahaan terparkir dipinggir jalan didepan rumah Dinda.
Seseorang terlihat baru saja keluar dari pintu depan rumah ditemani mbok Inah.
"Selamat siang pak! Berkasnya sudah saya bawa, tadi sudah diambil si mboknya," kata wanita cantik yang ternyata sekertaris Papa Dinda.
"Oh, baik, terimakasih!" kata Papa Dinda sembari mendorong kursi roda istrinya.
"Saya langsung balik ya Pak?! Tadi pak Hadi meminta saya membantu mengatur rapat jam dua nanti," Sekertaris itu kemudian memberi salam kepada Mama Dinda, sambil berlalu kearah jalan tempat mobilnya diparkir.
Mama Dinda langsung berbaring diranjangnya, sedangkan Papa Dinda masuk ke ruang kerja. Dinda menemani mamanya di kamar.
"Dinda nggak menjenguk Dovi?" tanya Mama Dinda.
__ADS_1
"Nanti saja Ma. Dinda nggak mau ninggalin Mama," kata Dinda yang sudah berbaring di samping mamanya sambil memainkan ponselnya.
"Mama nggak apa-apa. Pergi saja berkumpul dengan teman-temanmu!" kata wanita itu, sambil mengusap kepala Dinda.
Mama Dinda tidak ingin anaknya menghabiskan waktu hanya untuk mengkhawatirkan dirinya. Dia ingin anaknya bersenang-senang. Dia mau anaknya menikmati kesempatan bergaul dengan teman teman seumurannya, mumpung masih liburan sebelum lanjut kuliah lagi.
"Ah, nanti saja. Dinda temani Mama dulu paling nggak, sampai Papa selesai rapat," kata Dinda.
Tak lama, Dinda melirik mamanya yang sudah tertidur. Gadis itu menyetel nada dering telepon genggamnya menjadi senyap, agar tidak mengganggu tidur mamanya.
Gadis itu memainkan game diponsel, sampai akhirnya dia juga ikut tertidur bersama Mamanya.
Setelah selesai rapat secara online, Papa Dinda masuk kekamar sekitar pukul tiga sore.
Dinda terbangun ketika mendengar bunyi pintu yang terbuka.
Dilihatnya Papa berjalan kearah kamar mandi.
"Papa sudah selesai rapat?" tanya Dinda ketika dia melihat Papanya sudah di depan cermin sedang menyisir rambutnya yang hampir semuanya putih beruban.
"Sudah. Dinda tidak berencana kemana-mana?" tanya Papanya.
"Kalau mau jalan, pergi aja. 'Kan ada Papa yang menemani Mama," kata Papa Dinda.
"Juga Mama mu malah sedih biasanya kalau kamu cuma dirumah, dan nggak bisa berkumpul dengan teman-teman Dinda, hanya karena menjaganya," Lanjut Papa Dinda. Pria itu tahu betul bagaimana sifat Mama Dinda.
"Hmm, kalau gitu nanti mungkin Dinda kerumah sakit menjenguk Dovi, trus mungkin hang out bentar ya, Pa?!" ujar gadis itu.
"Iya pergi aja!" kata Papa Dinda, "Kalau ada apa-apa, cepat telpon papa ya!" lanjut papa Dinda.
"Iya, Pa!" kata Dinda sambil berlalu keluar kamar orangtuanya.
Dia kemudian berjalan kekamarnya, dan langsung pergi mandi.
Dinda masih menyisir rambutnya, ketika mbok Inah mengetuk pintu kamarnya.
"Iya?!"
"Ada teman Non menunggu di ruang tamu!" kata mbok Inah.
"Oh, iya makasih ya mbok!" sahut Dinda.
__ADS_1
Ketika gadis itu ke ruang tamu, terlihat Billy dan Papa Dinda sedang mengobrol. Di meja sudah ada minuman yang disajikan mbok Inah.
"Kita langsung jalan?" tanya Dinda kepada Billy.
"Iya bentar, Din!" jawab Billy memberi kode lewat matanya kalau Papa Dinda seperti masih mau mengobrol.
"Jalan aja!" kata Papa Dinda. Pria itu lalu berdiri dan berjalan kearah Dinda.
"Hati-hati dijalan, ya!" kata Papa Dinda lagi.
Dinda mengangguk dan menyalami tangan Papanya.
Mobil Billy melaju dijalan aspal.
Tiba tiba dia memelankan laju kendaraannya sampai berhenti di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Dinda heran.
"Kamu nggak kangen denganku kah?" Billy malah balik bertanya, sambil tersenyum nakal.
"Ah, kamu ini..." Dinda tersipu malu.
Billy mendaratkan ciumannya di bibir gadis itu. Dia mencium bibir merah Dinda dengan penuh semangat. Pemuda itu memainkan lidahnya didalam mulut Dinda.
Gadis itu menggeliat geli, tangannya meremas bagian belakang leher Billy.
Billy makin semangat mencium bibir Dinda.
Tangan pemuda itu bergerilya didalam kaus Dinda, meremas buah dada Dinda yang padat dan memainkan p*tingnya. Dinda menikmatinya, namun akhirnya tersadar. Gadis itu menghentikan gerakan Billy.
"Kita 'kan mau menjenguk Dovi?!"
Wajah Billy terpaku didepan wajah Dinda. Matanya sudah memerah karena nafsunya. Billy kecewa, tapi dia harus menahan keinginannya dulu.
"Sepulangnya nanti, kamu mau melakukannya lagi?" tanya Billy sambil memegang tangan Dinda.
Dinda hanya mengangguk malu-malu.
Billy tersenyum dan mencium bibir Dinda, singkat.
Pemuda itu menjalankan lagi mobilnya menuju kerumah sakit.
__ADS_1