
Diluar kabin, kabut tebal mulai menyelimuti tempat itu. Alex menyalakan api, dia sudah mempersiapkan banyak potongan kayu untuk malam itu.
Dinda melangkah mendekat ke perapian, dia kelihatan sangat kesulitan menggerakkan kakinya.
Alex memperhatikan Dinda baik-baik.
Alex tersadar kondisi Dinda memburuk. Dia dengan cepat berdiri, lalu membantu Dinda untuk duduk didepan perapian, yang apinya sudah mulai menyala.
Alex melihat wajah Dinda sangat pucat, bibirnya membiru. Dinda gemetar hebat. Suhu badan Dinda terasa sangat panas. Dinda demam.
Alex tetap membungkus badan Dinda dengan selimut, karena dia tahu nanti suhu disitu akan bertambah dingin.
Saat itu Dinda menunjuk kakinya tanpa mengeluarkan suara. Alex lalu memeriksa kaki Dinda. Telapak kakinya bengkak dan berwarna ungu kebiruan.
Alex panik, dia tahu kalau harus mencari bantuan sekarang juga. Sepertinya kaki Dinda bukan cuma keseleo, cederanya pasti lebih parah dari itu. Dia lalu mengantongi ponselnya lalu mengambil senter.
"Dinda...! Kamu harus bertahan...!" ujar Alex, suaranya bergetar karena panik
"Aku akan menyalakan genset. Aku harus keatas sekarang! Mau nggak mau aku harus meninggalkanmu sendiri disini," ujar Alex, air mata lelaki itu menetes.
Dinda menyeka air mata Alex, dari wajah lelaki itu, sambil mengangguk.
"Dinda tolong bertahan yaa..?!" pinta Alex memelas.
Alex merasa tidak bisa membuang waktu lebih lama lagi. Dia lalu berlari keluar menyalakan mesin genset. Tak lama dia kembali lagi kedalam. Alex menumpuk banyak kayu kedalam perapian.
"Aku pergi dulu!" ujar Alex.
Dinda mengangguk.
Alex mencium bibir Dinda sebentar.
"Aku pasti kembali secepatnya sambil membawa bantuan. Tolong bertahan untukku...!" ujar Alex, air matanya mengalir deras. Dia tidak tega meninggalkan Dinda sendirian, dengan kondisi seperti itu.
Alex menghapus air matanya lalu berlari keluar. Dia berjalan mendaki secepat yang dia bisa. Dia tidak mau beristirahat. Adrenalin memacu jantungnya, membuat Alex lebih bertenaga.
Hampir satu jam perjalanan menaiki bukit, Alex mengecek ponselnya berharap sudah ada sinyal, untuk menghubungi seseorang.
Beberapa kali dia melihat ponselnya sambil terus berjalan. Dinginnya suhu tidak dirasa Alex, keringat membasahi kaus lengan panjang yang dia pakai.
Akhirnya ada satu bar sinyal yang ditangkap ponselnya. Dengan cepat dia menekan tombol panggil di nomor kontak Rudi.
"Halo!" sahut Rudi dari seberang
"Halo! Rudi kamu telepon ambulance, sekarang! Kamu hubungi siapa saja yang bisa membantu!
__ADS_1
Kamu ingat kabin milik papaku, yang pernah aku bilang pada kamu dulu? Dari menara perbatasan sekitar satu kilometer dari situ, Aku akan menunggu di pinggir jalan," ujar Alex ngos-ngosan.
"Kenapa?" tanya Rudi.
"Jangan terlalu banyak tanya! Dinda kecelakaan! Sekarang dia kritis! Cepat hubungi bantuan! Sekarang!" Alex berteriak, lalu memutus panggilan itu.
Alex lanjut mendaki naik keatas bukit. Lelahnya karena berjalan terlalu cepat membuat kaki Alex agak kram, dia berhenti sebentar. Saat terasa sudah mendingan, dia lanjut berjalan lagi. ~
Rudi saat itu masih memarkirkan mobilnya dipinggir jalan.
Saat Rudi menerima telepon dari Alex, Billy mendengar semua permintaan, dan penjelasan Alex lewat pengeras suara diponsel Rudi.
Rudi menelpon nomor darurat, untuk meminta ambulance.
Sedangkan Billy menelpon beberapa kenalannya, untuk menyusul mereka ketempat itu.
Sedikit ada rasa lega timbul dihati mereka berdua, karena Dinda ditemukan.
Tapi masih saja panik karena kata Alex, Dinda sedang dalam keadaan kritis.
Rudi memacu mobilnya, mereka sudah melewati lebih dari separuh perjalanan ketempat yang dibilang Alex.
Muncul berbagai pertanyaan di kepala kedua lelaki itu.
Begitu juga dengan Rudi, dia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dia melajukan kecepatan mobilnya.
Sebelum melewati menara perbatasan, Rudi sempat melihat dipinggir jalan salah satu batang pohon yang patah dan rumput disekitarnya seakan habis digilas bersih, rata dengan tanah. Tapi dia tidak terlalu memperdulikannya.
Billy juga ikut memperhatikan tempat itu, dia sampai berbalik di kursi mobil agar bisa melihat dengan jelas. Billy sempat melihat potongan bemper mobil berwarna putih.
Tak lama Rudi melihat menara perbatasan, dekat lagi pikir Rudi.
Rudi memelankan laju kendaraannya mencari cari tanda keberadaan Alex. Dia akhirnya melihat sebuah mobil terparkir dipinggir agak jauh dari jalan.
Rudi memberhentikan mobil, lalu bersamaan dengan Billy melompat turun dari mobil Rudi.
Alex tidak terlihat, kabin yang Alex bilang juga tidak terlihat. Mereka berdua mondar-mandir disitu. Rasanya mereka berdua seakan menunggu setahun lamanya, tapi masih belum ada tanda-tanda dari Alex.
Sekitar hampir satu jam kemudian, mobil-mobil berdatangan ke tempat itu.
Billy yang mengenali mobil-mobil itu yang adalah milik beberapa kenalannya, langsung memberhentikan mereka.
Billy kemudian berbicara dengan mereka disitu. Sedangkan Rudi masih celingak-celinguk mencari cari Alex.
Hari sudah mulai gelap. Dimana Alex?
__ADS_1
Rudi lalu melihat cahaya senter bergerak-gerak, dari bagian pinggir tebing. Rudi berlari menuju cahaya itu.
Alex terengah-engah, karena lelah berjalan mendaki tanpa henti. Alex menunduk mengejar nafasnya, yang tersengal.
"Dimana Dinda?" tanya Rudi panik.
Masih dengan nafas tersengal, Alex melihat Rudi.
"Kata Dinda kamu kecelakaan, tapi sepertinya kamu baik-baik saja," ujar Alex "Dinda di kabin dibawah sana."
Alex lalu berdiri lurus, meski nafasnya masih ngos-ngosan.
"Ayo kita turun sekarang!" seru Alex.
Alex memimpin mereka semua berjalan menuruni tebing. Kali ini Alex meski lelah, tapi sudah merasa sedikit lega, karena sudah ada yang bisa membantunya membawa Dinda, pergi dari situ.
Perjalanan turun terasa lebih cepat, dari pada saat menanjak. Alex merasa tidak terlalu lelah seperti tadi.
Sekitar satu jam lebih mereka semua tiba di kabin Alex.
Rudi, Alex dan Billy hampir bebarengan masuk kedalam kabin. Dinda sudah jatuh pingsan. Badan gadis itu panas sekali.
Saat Rudi menepuk pipi Dinda, gadis itu sama sekali tidak bereaksi. Ketiganya panik melihat Dinda. Mereka berembuk mencari cara membawa Dinda naik.
Akhirnya menggunakan seprai yang dilipat, kemudian menggunakan dua potong kayu panjang, dibuat menjadi tandu.
Mereka semua bergantian membawa tandu, yang berisikan Dinda yang tidak sadarkan diri.
Saat mereka sampai diatas, sudah ada mobil ambulance yang menunggu disitu.
Dinda di masukkan kedalam Ambulance, ketiganya mau ikut tapi dilarang paramedis. Akhirnya hanya Billy yang ikut dalam Ambulance, menemani Dinda.
Alex bersama Rudi mengendarai mobil masing-masing, menyusul dari belakang.
Begitu juga beberapa kenalan Billy, yang sudah membantu mengangkat Dinda tadi.
Mereka tiba di salah satu rumah sakit di kota. Dinda dibawa keruang gawat darurat. Alex, Billy dan Rudi cuma bisa menunggu diluar.
Billy lalu menemui kenalannya yang ikut mengantar sampai ke rumah sakit. Dia berterima kasih dengan mereka. Kemudian mereka pergi dari situ.
Billy kembali bersama Rudi dan Alex. Mereka berjalan mondar-mandir. Tak lama seorang perawat keluar menemui mereka. Dia mengatakan kalau kaki Dinda harus dioperasi.
Tulang kering kaki Dinda retak, dan kemungkinan ada infeksi, itu yang membuatnya demam sampai tak sadarkan diri.
Setelah mendapat persetujuan, perawat itu kembali kedalam sebentar, dia dan beberapa perawat lain mendorong ranjang dimana Dinda terbaring, menuju ke ruang operasi.
__ADS_1