OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 61


__ADS_3

Rudi mengambil tempat duduk tepat disamping Dinda. Dia kemudian menggeser kursi sampai benar benar dekat dengan Dinda.


"Alex! Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Rudi, sambil memberikan minuman kepada Dinda.


Alex tersenyum sinis, "Ini tempat umum, apa kamu kira cuma kamu yang bisa kesini?" Alex melipat tangan didepan dadanya.


"Kamu tahu apa maksudku!" ujar Rudi. Dia merasa kesal dengan tingkah Alex yang pura-pura bodoh.


"Aku hanya mau bicara dengan Dinda. Aku pikir dia tadi sendirian," sahut Alex tanpa merasa bersalah.


"Dia bersamaku. Nggak bakalan aku biarkan dia sendiri!" Rudi memegang tangan Dinda. Dia lalu menyesap sedikit minumannya.


Alex tertawa. Dia benar benar menyepelekan Rudi. "Jangan bercanda! Hari itu saja Billy bisa membawa Dinda pergi darimu,"


Rudi menjadi sangat marah mendengar perkataan Alex. "Jangan memancingku untuk membuat keributan disini!"


Rudi kembali meminum minumannya. Dia berusaha keras menahan emosinya. "Sebaiknya kamu pergi sekarang!"


"Hmm... Tempat ini bukan milikmu, dan kurasa Dinda tidak keberatan kalau aku duduk disini bersamanya..." Alex memajukan badannya mendekat ke meja, sambil memandangi Dinda. Seakan meminta persetujuan dari gadis itu.


Rudi berseru, "Cukup!" Dia sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Sambil berdiri, dia memegang tangan Dinda.


"Ayo, kita pergi dari sini!"


Dinda mengikuti Rudi yang sudah mulai berjalan. Mereka berdua meninggalkan Alex yang masih duduk disitu.


Karena terburu-buru, ponselnya yang masih menyala, tertinggal di meja. Mereka sudah berjalan cukup jauh, barulah Dinda mengingat benda itu.


Dinda berhenti berjalan, dia menyentak tangan Rudi.


"Rudi, handphone ku ketinggalan," kata Dinda.


Rudi menatap Dinda.


"Dimana?" Rudi bertanya. Dia berharap bukan di tempat tadi dimana Alex berada.


"Di meja tadi," Wajah Dinda terlihat memelas.


"Kamu mau tunggu disini atau kembali ke mobil duluan?" tanya Rudi. Dia tidak mau Dinda harus berhadapan lagi dengan Alex.


"Aku ke mobil duluan aja!" ujar Dinda.


Mendengar itu Rudi lalu mengangguk, kemudian berjalan kembali ketempat tadi. Sedangkan Dinda berjalan ke arah parkiran, dimana Rudi memarkirkan mobilnya.


Baru saja Dinda sampai disitu, seseorang menepuk bahunya.


Dinda terkejut, lalu berbalik.


Alex yang menepuk bahu Dinda lalu berkata, "Ini handphone mu ketinggalan tadi!"

__ADS_1


Alex menyodorkan ponsel Dinda yang ada ditangannya.


Dinda masih kebingungan, tidak sempat berpikir apa-apa, langsung mengambil ponselnya dari tangan Alex.


Alex kemudian pergi dari situ. Sesaat kemudian baru Dinda seolah tersadar kalau Alex berarti mengikutinya tadi.


Sekarang, dimana Rudi?


Dinda melihat kesana kemari, batang hidung Rudi belum kelihatan. Dinda lalu menelpon ke ponsel Rudi.


"Halo!" terdengar suara Rudi dari seberang.


"Hp nya sudah denganku. Barusan tadi di kembalikan Alex," sahut Dinda.


"Aku kembali kesitu sekarang!" ujar Rudi. Lalu memutus panggilan Dinda.


Dinda berdiri disamping mobil menunggu Rudi. Tak lama Rudi sudah terlihat berjalan mendekat.


Rudi terlihat seakan hampir berlari. Langkahnya cepat dengan wajah yang gusar.


"Alex disini tadi?" tanya Rudi. Kelihatan sekali kalau dia sangat cemas.


Melihat Rudi seperti itu, Dinda jadi merasa bersalah.


"Iya! Tadi dia yang mengantar hp ku. Maaf, sudah membuatmu bolak-balik! Kita buru-buru tadi, aku benar-benar nggak ingat lagi kalau hp ku masih diatas meja," ujar Dinda kepada Rudi dengan wajah menyesal.


Rudi memeluk Dinda erat-erat.


"Ayo kita pergi sekarang!" ajak Rudi sambil membukakan pintu mobil untuk Dinda.


Rudi memacu mobilnya dijalan raya.


"Apa Alex pernah kerumah mu lagi sejak malam itu?" Rudi tiba-tiba bertanya, saat mereka sedang dijalan.


"Kayaknya sih nggak ada. Aku juga pergi pagi-pagi dengan Mita dan Laura ke vila milik Billy. Aku baru pulang tadi waktu bertemu kamu!" sahut Dinda.


"Kalau begitu kamu dijaga Billy kemarin!" ujar Rudi yang tampak tenang.


Dinda merasa heran melihat Rudi yang tidak marah padanya, malah bisa kelihatan lega.


"Ada apa sebenarnya dengan Alex? Kenapa kamu dengan Billy kelihatannya cemas kalau dia ada didekatku?" Dinda bertanya kepada Rudi, karena dia tidak tahan lagi melihat keanehan itu.


"Billy juga takut katamu?" Rudi balik bertanya.


"Iya! Waktu Alex ke rumahku malam itu. Billy kelihatan panik. Dia sampai meminta maaf padaku karena telah mengajak Alex datang," ujar Dinda.


Rudi menancap gas mobilnya.


"Berarti benar isu itu!" ujarnya. Wajah Rudi tampak makin cemas.

__ADS_1


"Kenapa? isu apa?" tanya Dinda yang masih penasaran. Dari tadi dia merasa tidak ada jawaban dari Rudi.


"Sebentar lagi sampai ke rumahmu! Nanti aku jelaskan," kata Rudi yang membelokkan setir mobilnya, yang sudah sampai dijalanan kompleks perumahan Dinda.


Setelah sampai dirumah Dinda, Rudi turun duluan dari mobilnya. Dia meminta Dinda untuk masuk terlebih dahulu kedalam rumah. Sedangkan Rudi pergi mengunci pagar rumah Dinda.


Dinda hanya menuruti perintah Rudi tanpa banyak komemtar.


"Waktu Alex di luar negeri, dia sempat jadi tersangka penculikan sampai pembunuhan seorang wanita," ujar Rudi yang sudah duduk di sofa.


"Tapi dia lolos dari jeratan hukum, karena kurangnya barang bukti" sambung Rudi, sambil menggulung lengan kemejanya.


Dinda mengerutkan alis seakan tidak percaya.


"Masa sih? Memang aku lihat Alex agak aneh, tapi dia sepertinya kelihatan nggak sampai segitu anehnya," ujar Dinda.


Rudi menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan.


"Memang kalau kita nggak terlalu kenal dengan Alex, seperti nya dia kelihatan biasa-biasa saja.


Tapi aku sudah berteman cukup lama dengannya...


Alex setahuku dulu kalau sudah tertarik dengan seseorang, tidak akan mundur sampai dia mendapatkannya. Entah dengan cara baik-baik, atau dengan mengancam," Rudi mengingat masa masa sekolah bersama Alex.


"Aku juga nggak menyangka kalau dia bisa jadi lebih nekat dari itu, tapi tetap saja... " Rudi memegang tangan Dinda, lalu menatap nya dalam-dalam.


"Aku khawatir terjadi sesuatu denganmu..." sambung Rudi. Dia lalu memeluk Dinda.


"Dari awal, ini salahku membuat Alex mengenalmu," kata Rudi.


Dinda yang sedari tadi mendengarkan cerita Rudi, agak bergidik ngeri. Tapi dia masih merasa aman, karena dia yakin Rudi akan melindunginya.


Rudi melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua bahu Dinda.


"Aku akan tinggal disini denganmu!" ujar Rudi sambil menatap Dinda seolah meminta persetujuan.


"Sampai aku yakin Alex sudah tidak terobsesi denganmu lagi," sambung Rudi.


Segitu berbahayanya kah Alex? pikir Dinda. Tapi, waktu itu Billy juga cemas seperti Rudi sekarang.


Dinda mengangkat kedua bahunya, "Aku nggak tahu... Terserah aja yang mana menurutmu baik."


Rudi memeluk Dinda lagi.


"Kamu jangan pernah keluar sendiri! Aku yang akan mengantar dan menjemputmu dari kantor. Apa pun yang perlu kamu lakukan diluar rumah, kamu harus selalu pergi bersamaku," kata Rudi.


Rudi masih memeluk Dinda sambil mengelus rambut Dinda.


"Tak akan kubiarkan terjadi apa-apa denganmu," kata laki-laki itu lagi.

__ADS_1


Dinda mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya didada Rudi.


__ADS_2