
"Ada yang aneh," ujar Alex tiba tiba. "Kenapa cuma nomor kamu dengan Dinda yang dihubungi orang itu?"
Mendengar perkataan Alex, Rudi dan Billy baru menyadari, kalau memang benar apa yang dibilang Alex.
"Berarti orang itu kemungkinan mengenal kalian berdua, sampai bisa tahu kontak kalian," sambung Alex sambil menatap Billy.
Billy kebingungan melihat tatapan Alex seperti itu.
"Aku nggak tahu. Setahu aku, Dinda dan aku nggak ada musuh," ujar Billy.
"Apa ada hubungannya dengan keluargamu atau keluarga Dinda?" tanya Alex penasaran.
"Nggak tahu. Justru itu aku juga sedang berpikir," kata Billy.
Mereka bertiga kembali terdiam. Operasi Dinda belum juga selesai.
Alex terlihat tidak bisa tenang. Dia berjalan mondar-mandir didepan pintu ruang operasi.
Rudi tertunduk masih sibuk menyalahkan diri sendiri, sedangkan Billy sibuk memikirkan orang yang mungkin mencoba mencelakai Dinda.
Ponsel Rudi bergetar berulang-ulang.
Rudi mengeluarkan benda itu dari sakunya. Dia melihat panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Dia lalu melihat kearah Alex dan Billy bergantian, sambil menunjukkan nomor panggilan yang masuk itu.
Billy memberi tanda dengan tangannya, untuk menyambut telepon itu.
"Halo!" kata Rudi yang lalu memasang pengeras suara, agar yang lain bisa ikut mendengar percakapannya.
"Halo! Ini aku Laura! Rudi apa kamu bersama Dinda?" ternyata Laura yang menghubungi Rudi.
"Iya! Kenapa?" kata Rudi.
"Ada yang mau aku bicarakan dengan Dinda, tapi nomor Dinda nggak aktif," suara Laura terdengar panik.
Billy dan Alex mengangguk, seakan menyetujui Rudi memberitahu, dimana Dinda sekarang.
"Kami lagi di rumah sakit ( Rudi menyebut salah satu nama Rumah sakit besar di kota itu)"
"Kenapa? Siapa yang sakit?" tanya Laura.
"Dinda," ujar Rudi.
"Sakit apa? Aku kesitu sekarang!" suara Laura makin panik. Lalu buru-buru memutus panggilan itu.
Billy kemudian meminta ponsel Rudi, dia mau membandingkan nomornya, dengan yang ada di handphone miliknya. Billy memeriksa dua nomor itu.
"Beda!" ujar Billy.
"Juga setahu aku, Laura nggak tahu nomor kontakku," sambungnya lagi.
"Kedengaran dari nada suaranya, kayaknya Laura khawatir dengan keadaan Dinda. Tapi, entahlah... Nanti kita lihat saat dia datang nanti," ujar Rudi.
Mereka bersamaan menatap pintu ruang operasi, yang belum juga terbuka. Sudah lebih dari satu jam Dinda berada didalam situ.
__ADS_1
"Kenapa lama begini?" ujar Alex yang kemudian berjalan ke pintu itu. Dia tampak tidak sabar lagi, rasanya mau mengintip kedalam.
"Apa Dinda baik-baik saja?" ujar Alex lagi, lalu kembali duduk dikursi.
Pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Mereka bertiga hanya bisa menunggu.
Salah satu perawat membuka pintu dari dalam. Dia hanya sendiri, Dinda belum terlihat.
Mereka bertiga berbarengan berdiri ingin tahu apa kabarnya gadis itu. Mereka bertiga menghampiri perawat yang sudah berdiri didepan pintu.
"Operasinya belum selesai, saya hanya disuruh memberitahu, kalau operasinya masih akan berjalan lama," ujar Perawat itu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya mereka bertiga hampir bersamaan. Mereka bertiga lalu bertatapan.
Perawat itu kemudian menatap mereka bertiga, bergantian.
"Kondisinya masih kritis. Pecahan tulang melukai otot dan beberapa syaraf. Keluarganya diminta untuk lebih sabar, karena proses perbaikan masih akan memakan waktu lama," kata perawat itu, yang kemudian berjalan masuk kedalam ruang operasi, lalu menutup pintu.
Alex, Rudi dan Billy langsung lemas mendengar apa yang dibilang perawat itu. Semua menampakkan wajah khawatir. Mereka bertiga kemudian duduk kembali.
"Kenapa ada yang tega mencoba membunuh Dinda?" ujar Alex.
"Apa kalian sudah ada yang melapor ke polisi, tentang kejanggalan yang ada sekarang?" tanya Alex dengan wajah penasaran.
Billy menggeleng.
"Kalau kita melapor sekarang, menurutku, kamu akan jadi tersangka utama," ujar Billy, sambil menatap Alex.
"Laporkan saja! Kalau kalian berdiam diri, pelaku asli akan sempat melarikan diri, nanti!" seru Alex mantap. Dia yakin dia tidak bersalah, jadi dia tidak merasa takut.
"Nanti saja, aku melapor ke polisi. Aku nggak mau meninggalkan Dinda, yang masih seperti ini," ujar Billy sambil menunduk.
Alex melihat kedua lelaki itu bergantian. Bukan mereka saja yang tidak mau meninggalkan Dinda, tanpa tahu bagaimana keadaannya.
"Kalau Dinda sudah selesai operasi. Kalian berdua pergi membuat laporan. Aku akan menjaga Dinda," ujar Alex.
Rudi dan Billy menatapnya heran.
"Kenapa? Kalian masih mengira aku yang ingin mencelakai Dinda?" ujar Alex sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah tidak percaya dengan tingkah kedua temannya itu.
Rudi dan Billy hanya terdiam.
"Kalau begitu, salah satu dari kalian yang pergi melapor. Jadi ada yang bisa mengawasi aku, dengan Dinda," ujar Alex. Dia lalu menyandarkan punggungnya, ke sandaran kursi.
Ponsel Rudi kembali bergetar berulang-ulang. Nomor yang tadi dipakai Laura, yang menelponnya. Rudi menjawabnya sambil berjalan menjauh dari Alex dengan Billy.
Tak lama setelah Rudi memutus panggilan. Laura yang tampak cemas, berlari di koridor menuju kearah mereka yang sedang duduk disitu.
"Apa yang terjadi? Apa Dinda baik-baik saja?" tanya Laura, ketika jaraknya sudah dekat dengan ketiga lelaki itu.
"Masih dioperasi..." sahut Rudi.
Laura tampak cemas.
__ADS_1
Ketiga lelaki itu bisa melihat wajah Laura dengan jelas saat dia duduk. Mata gadis itu bengkak seperti habis menangis lama. Ada sedikit lingkaran kebiruan di sekeliling sebelah mata gadis itu.
Begitu juga di bagian rahang ada lebam kebiruan sampai keleher, seolah dia belum lama dipukuli seseorang.
"Ada apa denganmu?" Rudi tidak mau mengira-ngira, saat melihat kondisi Laura.
"Aku di pukul Papaku..." ujar Laura. Tampak jelas kalau dia sedang menahan tangis.
"Kenapa?" tanya Rudi yang penasaran.
Laura melihat kearah Rudi dan Billy bergantian. Kemudian pandangannya terhenti pada Billy.
Billy mengerutkan alisnya.
"Ada apa?" tanya Billy yang merasa heran.
"Ada yang mengirim video kepada papaku juga kepada Eko, saat aku di Vila mu waktu itu," ujar Laura.
"Video apa?" tanya Billy makin heran.
"Video waktu aku bersama teman ku malam itu. Sesudah kita minum-minum," sahut Laura, yang kemudian merasa malu dengan kelakuannya sendiri.
Billy terbelalak. Dia benar-benar terkejut.
"Papaku memukulku karena malu. Aku dikurung dirumah," ujar Laura air matanya menetes, saat dia menundukkan kepalanya.
"Aku ini kabur dari rumah, waktu ada kesempatan tadi," sambung Laura.
Laura mengusap air matanya, lalu mengangkat wajah nya saat dia merasa sudah lebih tegar.
"Aku tadi ke rumah Dinda. Aku yakin pasti bukan dia yang akan mengirim video bodoh itu...
Jadi aku mau menumpang sembunyi dirumahnya, sekalian minta pendapatnya, tentang siapa yang kira-kira mengirim video itu ke papa ku," ujar Laura sambil melotot kearah Billy.
Billy menggeleng-gelengkan kepalanya, saat Laura menatapnya seperti itu.
"Apa kamu kira aku yang mengirim video itu?" tanya Billy dengan wajah masam. Dia tampak kesal, saat merasa kalau Laura sedang menuduhnya.
"Disitu cuma ada beberapa orang. Dinda sudah pasti nggak mungkin begitu. Yang tersisa cuma kamu dengan Mita. Tapi, aku rasa Mita tidak akan berbuat begitu." Laura masih saja bicara seolah menuduh Billy.
Billy berdiri. Dia tidak percaya apa yang dia dengar.
"Kontakmu saja aku nggak tahu, bagaimana kamu bisa berpikir, kalau aku tahu kontak Papa, atau tunanganmu?" ujar Billy ketus.
Laura terdiam. Dia pikir omongan Billy ada benarnya.
Rudi dan Alex yang tidak mengerti yang dibicarakan Billy dengan Laura hanya terdiam melihat mereka.
Tapi Rudi masih ada rasa penasaran.
"Kamu menghubungi ku tadi pakai nomor baru ya?" tanya Rudi, membuyarkan lamunan Laura.
"Iya, itu kartu prabayar. HP ku disita papa, jadi aku beli hp baru...
__ADS_1
Bagaimana dengan Dinda? Aku tadi kerumahnya, terus bilang mbok Inah, Dinda mungkin sedang bersama kamu, makanya aku menelponmu, waktu nomor Dinda tidak bisa dihubungi," kata Laura menjelaskan
"Dinda masih di operasi. Kondisinya masih kritis," sahut Rudi.