OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 20


__ADS_3

Hari terakhir dikantor sebelum libur akhir pekan, seperti biasa Dinda menyusun file dalam komputernya. Akhir pekan ini Rudi tidak bisa bersama Dinda. Rudi ada pekerjaan, yang mengharuskannya keluar kota.


Tanpa ada rencana, Dinda berpikir sepulangnya nanti dia akan dirumah saja.


Dinda kemudian teringat perlengkapan mandinya sudah banyak yang hampir habis. Dinda lalu mengirim pesan kepada Laura. Mungkin dia mau jalan jalan sebentar sambil belanja, pikir Dinda.


"Say, sibuk nggak?"


"Kenapa say?" balas Laura.


"Ntar sore mau jalan jalan?" ketik Dinda


"Boleh, tapi nggak bisa sampai terlalu malam."


"Ok. Aku ke tempat mu atau kamu yang jemput aku?"


"Aku aja yang jemput kamu."


"Oke" balas Dinda.


Dinda kemudian melanjutkan pekerjaannya. Tinggal sedikit, sebentar lagi sudah bisa pulang.


Layar ponsel Dinda kembali menyala. Dinda tidak mengacuhkannya, mengintip pun tidak. Gadis itu mau cepat menyelesaikan pekerjaannya.


Akhirnya selesai juga. Dinda meregangkan punggungnya. Dinda bersiap pulang.


Dinda merapikan barang-barangnya, kemudian melangkah keluar dari kantor. Sambil berjalan memasuki lift, dia menyalakan layar ponselnya


"Dinda, aku mau ketemu sekarang. Ada yang mau kutanyakan soal berkasku. Aku menunggu di kafetaria kantormu. Billy"


Lemas rasa badannya membaca pesan itu. Dinda bersandar di dinding lift.


"Kamu harus melayani klien dengan baik!"


kata-kata Atasan Dinda terngiang di telinganya.


Terpaksa Dinda mengubah nomor lantai di lift. Mau tidak mau, dia harus menemui Billy yang notabene adalah seorang klien.


Dinda melangkah keluar dari lift. Dilihatnya kesana kemari.


Billy berada di salah satu meja kafetaria yang terletak dekat dengan dinding kaca.


Dinda berjalan kearah Billy. Gadis itu meremas tangannya agar tidak terlalu tegang. Dinda berusaha untuk tetap terlihat profesional.


"Maaf menunggu lama, tadi saya masih sibuk," kata Dinda.


Billy mengerutkan alisnya.


"Nggak usah terlalu formal!" kata lelaki itu.


"Duduk dulu!" sambung Billy

__ADS_1


Dinda duduk disitu. Berhadap-hadapan dengan Billy, jantungnya serasa mau copot.


"Apa yang mau ditanyakan?" kata Dinda datar.


Billy menatap Dinda.


"Ada apa?" tanya Dinda lagi, setelah dirasanya cukup lama menunggu Billy, yang hanya menatapnya saja, tanpa bicara apa-apa.


Billy memajukan badannya sampai hampir tersandar ke meja. Wajahnya jadi dekat sekali dengan wajah Dinda.


Dinda mundur menjauh. Gadis itu bersandar ke kursi.


Billy kecewa melihat sikap gadis itu.


"Kamu bawa berkasku?" Kata Billy. Kini suaranya terdengar tegas.


Dinda menggeleng.


"Maaf, ketinggalan... Tunggu sebentar!" Kata Dinda, yang lalu berdiri hendak mengambil berkas di ruangannya.


Belum sempat Dinda berjalan, Billy sudah berdiri dan memegang tangannya.


"Nggak usah!" kata Billy cepat


"Kenapa sikapmu dingin sekali?" tanya Billy, yang masih saja memegang tangan Dinda.


"Aku hanya ingin bertemu kamu. Aku kangen..." lanjut Billy.


"Jangan aneh-aneh!" kata Dinda. Suara gadis itu bergetar.


Bukannya melepaskan tangan Dinda, Billy malah makin mempererat pegangannya.


Billy menarik tangan Dinda. Billy membawanya pergi dari situ. Dinda hanya mengikutinya. Gadis itu malu kalau harus membuat keributan diantara orang orang yang ada disitu.


Mereka menuju parkiran di basemen kantor Dinda.


Billy memaksa Dinda masuk ke dalam mobilnya.


Dinda duduk dikursi penumpang disamping Billy.


Billy memukul setir mobilnya.


"Kamu membenciku?" tanya Billy. Suara lelaki itu bergetar hebat seperti sedang menahan marah.


"Nggak! Aku cuma menjaga jarak, kamu 'kan sekarang sudah menikah," kata dinda, dengan suara lembut. Dia tidak ingin Billy makin emosi.


Billy melemah. Lelaki itu menghadap kearah Dinda. Dia memegang tangan gadis itu.


"Aku menikah hanya karena bisnis Papa. Aku masih mencintaimu..." kata Billy.


Dinda membisu. Gadis itu berusaha mencerna perkataan Billy.

__ADS_1


"Aku mencintaimu!" tegas Billy.


"Aku tetap menunggu, biarpun kamu nggak pernah menghubungiku," lanjut lelaki itu.


Dinda masih saja terdiam. Dia menyadari hal itu. Dialah yang tidak mau membalas semua pesan Billy. Secara sepihak dia yang memutus hubungan dengan lelaki itu.


Dengan cepat Billy mendaratkan ciumannya ke bibir Dinda dengan penuh hasrat. Gadis itu membalas ciuman Billy, dia masih ada rasa sayang dengan lelaki itu, sebelum akhirnya tersadar.


Dinda menghentikan Billy. Dia mendorong tubuh lelaki itu.


"Jangan! Ini salah!" kata Dinda


"Aku sekarang juga sudah bertunangan," sambungnya. Dinda memperlihatkan cincin yang melingkar dijari tangannya.


Billy bersandar di kursi. Lelaki itu menarik nafas panjang.


"Kamu mencintainya?" tanya Billy.


Dinda mengangguk.


"Tentu saja!" kata Dinda


Mendengar itu, Billy merasa sangat kecewa. Lelaki itu meremas kepalanya, dengan kedua tangannya.


Dia memejamkan matanya, berusaha menenangkan dirinya.


Billy seakan menyadari sesuatu, dia lalu berkata


"Kamu membalas ciumanku tadi, aku bisa merasakan debaran jantungmu untukku, masih sama seperti dulu. Kamu masih mencintaiku kan?"


Billy menatap mata Dinda.


Dinda menunduk menghindari tatapan Billy. Gadis itu menggeleng.


"Din, kamu jangan bohong!" kata Billy lagi


Dinda kembali menggelengkan kepalanya.


Billy memegang dagu gadis itu, dan mengangkat wajahnya.


"Lihat aku! Kamu masih mencintaiku kan?" Kata Billy dengan lembut memaksa.


Dinda menatap mata Billy. Dia masih mencintai lelaki itu. Mulutnya tidak mampu berkata tidak. Dia hanya terdiam. Matanya basah. Air matanya terasa sudah diujung, hampir menetes.


Dinda membenci dirinya yang masih mencintai Billy, sedangkan dia juga mencintai Rudi. Dia membenci dirinya, yang bisa mencintai dua orang sekaligus.


Billy mengecup bibir Dinda lembut. Tanpa Dinda menjawab pun, dia sudah tahu kalau Dinda masih mencintainya.


Lelaki itu mencium bibir Dinda, sambil memeluk tubuh gadis itu erat-erat.


Tak tertahankan lagi, air mata Dinda mengalir diwajahnya.

__ADS_1


Billy mengusap air mata Dinda dengan tangannya ,dan kembali mencium bibir gadis itu.


__ADS_2