
Hari itu Dinda berkerja dengan lebih bersemangat. Stress karena tekanan pekerjaan tidak terlalu dirasakannya.
Cincin pemberian Rudi yang melingkar dijari tangannya seakan memberi Dinda kekuatan lebih.
"Din, itu ada file klien baru. Barusan diantar sekertarisnya bos. Bos mau kamu yang ambil bagian disitu," kata seorang rekan Dinda, sembari menunjuk kearah meja panjang didekat dinding.
Dinda mengambil file itu dan mulai membacanya.
Semacam kontrak pernikahan. Tidak akan ada perebutan harta gono gini dan lain-lain tertulis disitu. Sekilas dia melihat nama klien, lalu lanjut membaca isi berkas itu. Dinda seperti dikelitik, ada yang janggal. Dinda kembali melihat nama klien yang tertulis disitu.
Billy.
Lutut Dinda terasa lemas seketika. Nama itu sudah lama dia lupakan. Apakah ini Billy yang dia tahu? Apa ini orang yang sama?
Dinda terduduk dikursi kerjanya. Kenangan lama itu kembali di ingatannya.
Telpon di meja kerjanya berdering, mengejutkan Dinda dari lamunannya. Dengan cepat dia menyambar gagang telpon yang sudah berdering berkali kali.
"I-iya, Bu!" kata Dinda terbata-bata.
"Baik, Bu! Saya akan atur jam pertemuannya!" sambungnya.
Hari ini dia akan bertemu dengan klien yang ada di berkas itu. Dinda berharap orang itu bukan Billy cinta pertamanya.
Di sebuah ruangan tertutup di Firma itu, Dinda sudah duduk menunggu bersama Atasan nya.
Pintu terbuka. Terdengar langkah kaki memasuki ruangan, Dinda lalu berdiri menghadap ke arah dari mana suara itu datang.
Sesak nafas Dinda melihat orang dihadapannya. Tubuhnya gemetaran. Jantung rasanya seakan mau meloncat keluar dari dada Dinda.
__ADS_1
Ya Tuhan, ini memang dia.
Mata mereka berdua beradu, Dinda hampir tidak bisa menggerakkan tangan dan bibirnya. Dinda berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya. Dia menyalami tangan sepasang lelaki dan perempuan yang datang itu.
Di sela-sela percakapan Dinda bisa melihat dengan ujung matanya, kalau Billy sering menatapnya. Sedangkan wanita pasangan Billy, seakan tidak perduli dengan pembahasan yang ada, matanya tertuju ke layar ponsel dan jemarinya terus saja bermain disitu.
Tapi Dinda berusaha untuk tidak memperdulikannya, dan tetap sibuk mempelajari berkas di hadapannya.
Pertemuan yang canggung hari itu akhirnya selesai juga.
Wanita yang bersama Billy sudah keluar dari ruangan. Billy berdiri mendekat kepada bos Dinda. Entah apa yang mereka bicarakan sambil berbisik bisik. Dinda melihat atasan nya menulis sesuatu di selembar kertas post it.
Billy menatap Dinda sebentar, kemudian berlalu keluar menyusul wanita yang juga istrinya itu.
Melihat Billy menghilang dari balik pintu, Dinda kembali bisa bernafas lega.
"Oh iya, kalau ada klien itu menghubungimu, kamu harus melayaninya dengan baik!" sambung wanita itu lagi.
"Baik Bu! Terimakasih!" kata Dinda.
Ini yang pertama Dinda diberi kepercayaan untuk dia bekerja sendiri. Tapi...
Entah Dinda merasa senang atau sedih. Kenapa harus Billy?
Kepala Dinda terasa sakit. Dia lalu mengambil obat pereda nyeri yang biasa dia bawa dalam tasnya, kemudian menenggaknya dengan sedikit air mineral botolan.
Dinda berpikir keras, tidak mungkin dia menolak pekerjaan ini. Astaga. Berkali kali Dinda menarik nafas panjang. Terbayang olehnya sosok Billy yang baru ditemuinya lagi.
Lelaki itu makin tampan. Wajahnya mendukung penampilan dan gaya berbusananya yang tampak gagah dan macho.
__ADS_1
Dinda merasa kagum dengan perubahan Billy yang makin membaik. #Okey catat, dari dulu juga Billy memang sudah menarik. Hanya saja dalam hati, Dinda berharap kalau sampai bertemu lagi, Billy akan berubah jadi buruk rupa.
Tapi kenyataannya, hanya dengan melihatnya sebentar, Billy masih saja bisa membuatnya meleleh. Badannya yang tegap berotot, bibirnya yang lembut....Pikiran Dinda kemudian mulai kotor.
Dinda memukul kepalanya.
Rekan kerjanya melotot heran, bingung melihat tingkah aneh Dinda.
Dinda tidak perduli, dia tetap saja memukul kepalanya.
Dasar bodoh. Billy sudah menikah. Rudi mau kamu apakan? Dasar otak bodoh. Dinda memaki dirinya sendiri.
Tidak mau berlarut-larut dalam lamunan dan khayalan gilanya tentang Billy, Dinda memandangi cincin ditangannya. Cincin kecil yang cantik.
Dinda mengambil ponselnya lalu mengetik disitu.
"Sibuk?" Dinda mengirim pesan untuk Rudi.
Balasan masuk "Nggak juga. Mau makan siang bareng?"
"Bisa. Hari ini gak terlalu padat kerja'an. Jemput aku dikantor, ya"
"Ok, sayang." Balas Rudi
Dinda tersenyum, Rudi tidak kalah tampan. Selama ini lelaki itu yang selalu bersamanya. Apa itu Billy?! Pikir Dinda menghibur diri sendiri.
Aaarrrggh, kenapa harus terus mengingat lelaki itu lagi.
Dinda menggeser berkas milik Billy. Dia kemudian menyalakan komputernya dan menenggelamkan pikirannya, dengan mengerjakan berkas yang lain.
__ADS_1