
Malam semakin larut, Dinda sudah selesai makan sedari tadi. Billy belum kelihatan kembali ke vila.
Dinda yang menatap aplikasi media sosial di layar ponselnya mulai merasa jenuh. Dia bosan berdiam diri sendiri seperti itu. Dia lalu mencoba menghubungi Billy.
Nada tunggu terdengar di ponsel yang menempel di telinga Dinda. Tapi Billy tidak menyambut panggilannya.
Kembali dia mencoba menghubungi kontak Billy. Sekali dua kali nada tunggu berbunyi, tiba tiba Dinda bisa mendengar suara mendecit yang cukup nyaring diluar vila.
Dinda berlari keluar, tampaknya itu suara rem mobil Billy. Kenapa sampai mengebut seperti itu, pikir Dinda.
Saat Dinda tiba diluar, angin dingin berhembus kencang. Dinda yang hanya mengenakan tanktop tipis dan celana pendek bisa merasakan dingin yang seakan menusuk ke dalam tulang tulangnya.
Dinda menghampiri mobil Billy yang terparkir, tapi belum ada tanda tanda Billy akan keluar dari mobilnya. Dinda berjalan mendekat, lalu membuka gagang pintu mobil Billy.
Billy kemudian keluar sambil berjalan sempoyongan. Dia hanya melihat Dinda sebentar, kemudian setengah berlari mengarah kesudut luar vila. Billy memuntahkan isi perutnya disitu.
Dinda yang tadi sempat mencium bau alkohol dari nafas Billy saat berjalan melewatinya, hanya melihat Billy dari jauh. Dinda tidak pernah melihat Billy minum alkohol sampai berlebihan seperti itu, apalagi sampai muntah. Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dinda lalu berjalan mendekat saat Billy sudah berhenti muntah. Dinda menyentuh punggung Billy
"Tumben,, Kenapa kamu minum-minum?" tanya Dinda. Dia lalu menggosok gosok kedua lengannya yang terasa dingin.
Billy berbalik, matanya merah berair. Meski kepalanya pusing dan kesadarannya berkurang, tapi dia masih tahu kalau pakaian Dinda cukup terbuka disuhu yang dingin seperti sekarang ini. Dinda pasti kedinginan, pikirnya.
"Ayo masuk,," Billy menggenggam tangan Dinda lalu berjalan sambil menarik Dinda untuk ikut dengannya.
Billy terus berjalan masuk kekamar, baru dia melepaskan tangan Dinda. Dia lalu menuju ke kamar mandi.
Pintu kamar mandi yang terbuka membuat Dinda bisa mendengar suara air pancuran yang deras jatuh kelantai. Billy tampaknya sedang mandi. Uap air menyeruak dari dalam kamar mandi ke kamar tidur sampai ke kursi dekat jendela tempat Dinda duduk menunggu Billy.
__ADS_1
Dinda melamun memandang keluar jendela yang sudah dia geser gordennya membuat Dinda bisa melihat menembus kaca.
Billy sangat lama, Dinda menoleh kearah pintu kamar mandi. Billy masih belum keluar dari sana. Suara air masih terdengar dari dalam situ.
Kembali Dinda menatap keluar jendela, diluar sana gelap hanya ada cahaya beberapa kunang kunang yang berkelap kelip. Dinda hilang kesabarannya menunggu Billy keluar dari kamar mandi.
Dia mau tahu apa yang terjadi.
Dinda berdiri lalu berjalan menyusul Billy ke kamar mandi. Dinda melihat Billy tersandar di dinding. Tanpa menunggu lama, Dinda mendekat, lalu memegang Billy yang tampak seperti tak sadarkan diri.
"Kamu kenapa?" tanya Dinda lalu mematikan air pancuran yang sudah membuatnya ikut basah.
Billy membuka mata. Matanya merah berkaca-kaca menatap Dinda penuh nafsu. Dia memeluk Dinda,
"Kenalanku mengerjaiku,, mereka memberi obat dalam minumanku,, maafkan aku,, tapi kamu harus melayaniku sampai efek obatnya hilang" ujar Billy yang tidak mampu menahan gejolaknya.
Nafas Billy tersengal, alisnya mengkerut. Miliknya terasa sangat sakit, terlalu keras menegang karena belum ada tempat pelampiasan.
Dinda tidak tahu apa dia masih sanggup melayani Billy, seharian ini dia sudah berapa kali melakukannya.
Dinda menatap wajah Billy yang memejamkan matanya, dia bisa melihat kalau Billy sudah tidak bisa menahannya lagi. Dinda terpaksa menyetujui permintaan Billy.
Ketika Dinda setuju, seketika itu juga Billy mengangkat tubuh Dinda lalu membawanya ke ranjang. Dia menarik semua helaian benang yang menutupi tubuh Dinda. Billy kemudian menghujamkan miliknya tanpa ada pemanasan lagi.
Dinda meringis kesakitan, miliknya masih terlalu kering. Dia bisa merasakan pedihnya saat Billy memaksa miliknya masuk kedalam tubuhnya.
Beberapa kali rasanya Dinda mau pingsan karena Billy tidak berhenti mendesak miliknya masuk sangat dalam ke tubuh Dinda, seolah akan menembus perut Dinda.
Sampai hitungan jam berlalu, Billy tetap melakukannya berulang-ulang. Dia menekan miliknya kedalam tubuh Dinda tanpa memberi jeda.
__ADS_1
Sudah terlanjur, dia tidak menghiraukan Dinda yang meminta ampun karena kesakitan. Billy harus mengeluarkan semua rasa yang terkumpul dimiliknya kedalam tubuh Dinda.
Yang awalnya Dinda mengeluh, sampai dia hanya terdiam pasrah menahan rasa ngilu berlebihan ditubuhnya. Dinda memejamkan matanya, sambil mer*mas seprai diatas kasur.
Billy akhirnya berhenti setelah lebih dari tiga jam menyiksa Dinda di ranjang. Billy merasa kasihan saat melihat Dinda yang terkapar tidak berdaya. Dia memaki kenalannya didalam hati, yang memberikan dia obat-obatan dalam minumannya.
Billy menggendong Dinda yang terbaring lemah dan sudah tidak mampu lagi untuk berdiri, lalu membawa Dinda berendam air hangat didalam bath tub bersamanya.
Dinda meringis kesakitan saat bagian bawah tubuhnya terkena air. Dinda mer*mas pinggiran bath tub. Bagian bawah tubuh Dinda terasa sangat pedih dan bengkak.
Saat Dinda mengeluh, Billy memeluk Dinda erat erat dari belakang.
"Maafkan aku,," ujar Billy yang terdengar cemas.
Dinda tidak bisa menyalahkan Billy, dia hanya memegang tangan Billy yang memeluknya.
"Apa yang terjadi tadi? Kamu dari mana?" tanya Dinda.
"Aku tadi diajak kenalanku yang membuatkan aku pesta bujangan,, Aku awalnya hanya minum bir,, tapi mereka terus mengajakku minum beberapa shot, ternyata mereka sudah memasukkan obat kedalam situ,," kata Billy menjelaskan kepada Dinda.
"Baru dua shot yang aku minum,, aku rasa kalau milikku sakit, baru aku sadar kalau mereka mengerjaiku, aku buru-buru pulang,, tadi aku mencoba menghilangkan efeknya sendiri,, tapi aku nggak bisa,, maafkan aku yang meminta kamu untuk melayaniku," sambung Billy
"Apa kamu marah denganku?" tanya Billy. Suaranya terdengar khawatir.
Dinda menggelengkan kepalanya.
"Nggak,, nggak usah dipikirkan,, kalau bukan denganku, terus kamu mau 'buang' dimana?!" ujar Dinda lalu mencium lengan Billy untuk menenangkannya.
"Lain kali jangan jalan sendiri lagi,, aku nggak tahan kalau kamu seperti tadi,, rasanya aku mau pingsan" celetuk Dinda.
__ADS_1
Billy mencium leher Dinda dengan lembut.
"Kamu membuatku makin mencintaimu,," bisik Billy pelan ditelinga Dinda, sambil terus memeluk Dinda.