
"Rudi, ini temanku Mita!" kata Dinda memperkenalkan mereka, saat duduk bersama di ruang tengah rumah Dinda.
"Dinda sering bercerita tentangmu. Akhirnya kita bisa bertemu," ujar Mita sambil menyambut tangan Rudi yang sudah disodorkan padanya.
"Sama! Dinda juga sudah cerita tentangmu," kata Rudi.
Mereka berdua bersalaman. Kemudian duduk disitu. Dinda meminta mbok Inah membuatkan minum untuk mereka.
Saat Rudi sibuk memperhatikan Dinda, Mita memandangi Rudi dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Rudi lelaki tampan. Dari wajah dan gerak-geriknya, kelihatan kalau lelaki itu bersifat tenang. Kulit nya kuning langsat, garis wajah yang tegas, di imbangi dengan hidung yang mancung.
Wajah lokal tapi sangat menarik dipandang mata. Mita mulai membanding-bandingkan, fisik Rudi dengan Billy.
Rudi tidak kalah gagah, perawakan sama tinggi dengan Billy, bahunya lebar seperti Billy. Hanya satu perbedaannya sikap tenangnya.
Jauh berbeda dengan Billy, yang grasak-grusuk. Ini yang membuat Dinda lebih berat memilih Rudi, pikir Mita.
Dinda menyadari kalau Mita sedang menatap Rudi. Dia lalu berpura-pura seperti tidak sengaja menyenggol kaki Mita, agar tidak menarik perhatian Rudi.
Dinda membesarkan matanya.
Mita tersenyum. Sambil mengangkat kedua alisnya.
Dinda berjalan kekamarnya, lalu memberi kode dengan matanya agar Mita mengikutinya ke kamar.
"Kenapa kamu menatapnya seperti itu?" ujar Dinda sambil menepuk dahinya "Aku jadi nggak enak dengan Rudi,"
"Santai aja, dia nggak perhatikan kok! Dia sibuk memandangimu," ujar Mita. "Kalian sudah baikkan?" tanya Mita penasaran.
"Iya!" jawab Dinda, tanpa menunggu apa yang akan dikatakan Mita selanjutnya, Dinda lalu berkata "Rudi sudah tahu, kalau aku sempat 'bersama' Billy. Tapi dia tetap tidak mau kami berpisah,"
"Terus? Apa kamu sudah pikirkan bagaimana dengan Billy?" tanya Mita. Dia mengerutkan alisnya.
"Sepertinya aku harus menghindar dari Billy," ujar Dinda. "Kalau kami masih bertemu, nanti 'terjadi' lagi... Aku nggak mau merasa bersalah terus-terusan,"
"Yaa sudah... Terserah kamu!" ujar Mita. Dia bingung antara dia kecewa, atau ikut senang dengan keputusan Dinda.
"Ayo keluar, Rudi menunggu!" kata Mita sambil menggandeng tangan Dinda. Mereka berjalan kembali, lalu duduk bersama Rudi.
Beberapa gelas minuman, sudah disajikan mbok Inah diatas meja. Mita baru saja menyicip sedikit kopi yang panas dari gelasnya, bunyi klakson terdengar berulang-ulang di depan rumah Dinda.
"Ah! Si bodoh itu sudah menjemputku!" ujar Mita ketus. Dia lalu berdiri, " Aku pulang dulu yaa?! Nanti aku kesini lagi!"
Mita lalu berjalan keluar mendatangi teman lelakinya, yang sudah menunggu diluar, meninggalkan Rudi bersama Dinda.
Melihat Mita sudah pergi. Rudi bergeser tempat duduk ke dekat Dinda. Dia lalu memegang tangan Dinda.
"Malam itu bukannya aku tidak menghiraukan kamu... Aku lagi kalut..." ujar Rudi. Dia menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kami berkelahi. Aku, Billy dan Alex, bersaing untuk mendapatkan kamu," kata kata Rudi terhenti. Dia kembali menghela nafasnya berat.
"Sebelumnya, waktu kamu di rawat di rumah sakit, aku juga sudah bicara dengan Billy, jadi aku tahu, kalau mereka berdua tidak akan melepaskanmu begitu saja," sambung Rudi.
"Itu sebabnya, aku memaksa kamu untuk cepat-cepat menikah denganku. Meski aku tahu, kalau kamu masih mau cita-cita mu tercapai dulu,"
Dinda mendengarkan penjelasan Rudi dengan sepenuh hati.
"Aku tahu kamu pasti marah padaku karena memaksakan kemauanku," Rudi menatap Dinda, "Meskipun kamu sudah bilang kalau kamu memilihku, aku tetap takut kamu akan berubah pikiran, lalu memilih salah satu dari mereka"
Dinda memeluk Rudi.
"Kenapa kamu nggak ngomong sebelumnya?" ujar Dinda. "Cuma itu yang aku mau, kamu bicara apa yang ada dipikiranmu, jadi aku nggak menduga-duga"
"Jujur, aku memang masih ada sedikit rasa sayang dengan Billy karena masa lalu kami, tapi aku mencintaimu sekarang!" ujar Dinda. Dia tidak mau berbohong lagi dengan Rudi. Dia juga mau Rudi tahu, bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.
Rudi mengecup kepala Dinda. "Kalau itu aku sudah tahu...!"
"Tidak apa-apa 'kan kalau mulai sekarang aku akan lebih menempel padamu?" tanya Rudi sambil menatap Dinda.
Dinda tersenyum. "Asal kamu nggak mengungkit soal menikah dulu, itu membuatku takut,"
Rudi mencium bibir Dinda. "Aku akan menunggu sampai kamu siap!"
Mereka berdua merasa sangat lega, bisa mengungkapkan apa yang ada dipikiran masing-masing.
"Aku sudah menyuruhnya pulang!" ujar Rudi. Dia meremas jemari tangan Dinda.
"Kamu sempat mengantarnya pulang nggak?" tanya Dinda
"Nggak! Gara-gara kamu, aku meninggalkan dia begitu saja di mall tadi," ujar Rudi yang kemudian menggigit bibirnya sendiri, karena gemas dengan Dinda.
"Beeuuhh...! Kasihan, loh...! Kamu tega!" seru Dinda, sambil mengeleng gelengkan kepalanya, dan tersenyum sinis.
Rudi makin gemas dengan tingkah Dinda.
"Itu gara-gara kamu, loh!" Rudi tak tahan lagi, dia mau mencium bibir Dinda, yang sedari tadi seakan mengejeknya.
Dinda mendorong Rudi sambil tertawa. Dinda berlari ke kamarnya. Belum sempat dia menutup pintu, Rudi sudah memeluknya. Rudi membaringkan Dinda di ranjang. Mereka berciuman penuh hasrat.
Dinda kemudian meminta Rudi menemaninya, belanja barang yang tadi tidak sempat dia beli.
Rudi setuju, tapi dengan syarat dia mau puaskan keinginannya dulu.
Dinda mengiyakan.
Rudi mengunci pintu kamar Dinda. Mereka lalu melepaskan nafsu b*rahinya disitu, sampai puas.~
Dinda yang baru selesai mandi, hanya berlilitkan handuk mencari pakaian yang hendak dia pakai.
__ADS_1
Rudi mengamatinya dari atas ranjang. Lelaki itu tidak tahan melihat pemandangan itu. Dia berjalan keluar. Nanti Dinda nggak jadi belanja kebutuhannya, pikir Rudi.
Dinda tertawa melihat Rudi, yang seperti berlari keluar dari situ. Dia lalu lanjut berpakaian.
Setelah Dinda sudah siap, Rudi sambil merangkul Dinda berjalan ke mobilnya.
Rudi memacu mobilnya menuju pusat perbelanjaan.
Mereka berdua berjalan-jalan disitu, sambil membeli beberapa barang yang Dinda butuhkan.
Kaki Dinda terasa pegal, dia mengajak Rudi istirahat di salah satu stand, yang menjual minuman dan cemilan.
Stand itu sangat ramai, Dinda duduk sambil menunggu Rudi, yang antri untuk membeli minuman.
Dinda memandang keluar stand. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa banyak berlalu-lalang.
Sepintas Dinda bisa mendengar orang-orang yang ada di sebelahnya mengobrol, kalau akan ada penyanyi terkenal yang akan tampil disitu.
Pantas saja, pikir Dinda.
Terlalu lama menunggu, Dinda jadi melamun sambil menopang dagu.
Sentuhan di bahunya mengagetkan Dinda. Dia lalu berbalik.
"Kamu cuma sendiri?" tanya Alex, yang kemudian menarik salah satu tempat duduk didekat Dinda, lalu duduk disitu.
"Aku bareng Rudi, tadi!" ujar Dinda " Tuh, lagi antri!" Dinda menunjuk dengan tangannya, kearah Rudi.
Alex memegang tangan Dinda. Dengan cepat Dinda melepas pegangan tangan Alex.
"Kenapa? Kamu takut Rudi melihatnya?" tanya Alex, ketika Dinda menyembunyikan tangannya kebawah meja.
Dinda menatap Alex. Dia mengerutkan alisnya.
"Kamu tahu nggak Rudi itu seperti apa?" tanya Alex sambil merebahkan punggungnya, kesandaran kursi.
"Apa maksudmu?" tanya Dinda, yang penasaran dengan omongan Alex.
"Kalau kamu mau tahu, lain kali kalau ketemu aku, jangan marah-marah! Kalau kamu marah begitu, aku nggak bisa konsentrasi karena melihat wajahmu," ujar Alex santai, dia kembali memajukan badannya, kedekat meja.
Wajah Alex jadi dekat dengan wajah Dinda.
Dinda mundur. Dia merasa Alex memang orang yang aneh.
"Jangan marah! Aku cuma bercanda... Habis, kamu kalau ketemu aku, pasti langsung jutek. Padahal 'kan kamu belum mengenalku?!" Wajah Alex berubah drastis. Dia tampak sangat sedih.
Dinda jadi bingung melihat sikap Alex yang seperti itu.
"Aku hanya..." kata-kata Alex terhenti. Dia melihat Rudi, yang sudah berdiri di belakang Dinda.
__ADS_1