
Hari penentuan Dinda akhirnya tiba. Kali ini tidak ada kata nanti, Dinda sudah harus mengambil keputusan yang penting untuk kehidupannya dimasa depan.
Tapi,,,
Dinda masih gelisah dengan pilihannya.
Pagi tadi, dia sudah diijinkan pulang dari rumah sakit. Sepanjang perjalanan pulang, sampai kerumah orang tua Billy, Dinda rasanya tidak bisa bernafas lega.
Pikirannya masih kacau memikirkan apa yang harus dia pilih. Dinda yang sempat kehilangan minatnya untuk melanjutkan hubungannya dengan Billy, kini merasa sangat tertekan.
Saat Dinda masuk kekamar yang disediakan Mama Billy untuknya, dia bisa melihat dua gaun pengantin yang sangat indah, sudah menggantung didalam kamar, siap untuk dipakai.
Dinda memegang satu persatu gaun itu, sambil menggumam tidak jelas.
Jika kedua orang tuanya masih hidup, mungkin Dinda tidak akan se-galau ini.
Billy tiba-tiba masuk kedalam kamar. Billy seakan tahu kalau Dinda sudah ragu untuk menikah dengannya.
"Maafkan aku Dinda,, Tapi, aku harus meminta cincin ku kembali," celetuk Billy dengan raut wajah kecewa.
"Boleh aku tahu kenapa?" tanya Dinda hati-hati.
"Kamu bisa membatalkan pernikahan kita kalau kamu mau,, Aku tidak akan memaksamu untuk melanjutkan,, Kalau kamu kembalikan cincin itu, mungkin kamu akan bisa berpikir jernih, tanpa ada beban," kata Billy.
Dinda merasa sesuatu seakan menggores hatinya, saat dia melepaskan cincin pemberian Billy dari jari tangannya. Dia melihat cincin itu sebentar, sebelum dia menyerahkannya kepada Billy.
Billy kemudian berjalan keluar dari kamar, setelah mengambil cincin dari tangan Dinda, yang menyodorkannya kepada Billy.
Dinda terduduk dipinggiran tempat tidur, kemudian akhirnya berbaring menatap langit-langit kamar.
Semua orang berarti sudah tahu kalau Dinda tidak yakin lagi untuk menikahi Billy.
Dinda menatap langit-langit yang dicat berwarna putih, polos tanpa ada aksesoris tambahan selain lampu ceiling.
Dinda lalu memejamkan matanya, dia membayangkan semua yang terjadi kepadanya selama ini.
Selama beberapa waktu lamanya, dia tetap terpejam. Semua rekaman bayangan masa lalu dalam pikirannya, tampak jelas seperti sedang menonton siaran ulang, kejadian demi kejadian yang pernah berlaku dihidupnya sampai didetik ini.
Dinda kemudian membuka matanya, dia sudah mendapatkan jawabannya.
Dinda bangun dari tempat tidur, lalu berjalan keluar dari kamar.
__ADS_1
"Dimana Billy?" tanya Dinda kepada salah satu pelayan dirumah Billy, yang terlihat olehnya.
"Tuan Billy kalau tidak salah tadi, sedang dikolam ikan," sahut pelayan wanita itu kepada Dinda.
Dinda terdiam. Dia tidak tahu dimana letaknya kolam ikan yang dimaksud pelayan itu.
"Non mau saya antarkan?" tanya pelayan itu, seakan mengerti kalau Dinda tidak tahu tempat Billy berada.
Dinda menganggukkan kepalanya.
Dinda kemudian mengikuti pelayan yang berjalan mendahuluinya. Sampai dia bisa melihat Billy, yang terduduk dipinggir kolam.
Pelayan itu kemudian meninggalkan Dinda disitu.
Tidak menunggu lama, Dinda berjalan menghampiri Billy yang tidak menyadari kedatangan Dinda.
"Billy,!" ujar Dinda.
Billy menengadahkan kepalanya, melihat Dinda sudah berdiri didekatnya. Billy tidak berdiri, melainkan menjulurkan tangannya, meminta Dinda untuk duduk disampingnya.
"Ada yang mau aku tanyakan,," ujar Dinda setelah dia duduk disamping Billy.
"Ada apa?" tanya Billy was-was. Dia tetap menatap ikan dikolam, rasanya dia tidak sanggup kalau-kalau Dinda akan membatalkan pernikahan mereka.
Seketika itu juga Billy merasa hatinya patah. Apa yang dia khawatirkan, tampaknya akan terjadi.
Tapi, Billy berusaha agar tetap terlihat tenang. Dia menghela nafasnya yang terasa sangat berat.
"Aku mungkin kembali ke Australia,, Melanjutkan bisnis Papa disana,," sahut Billy.
"Hmm,, Kalau kita tetap menikah, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dinda lagi.
Billy merasa heran dengan pertanyaan Dinda. Apa sebenarnya maksud dari pertanyaan yang dilontarkan Dinda itu? Dia akhirnya menatap Dinda, dengan alisnya yang mengerut.
"Mungkin sama saja,, Bedanya, aku akan membawamu ikut denganku,," jawab Billy sambil tetap menatap Dinda.
Dinda mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hmm,, Kamu lebih memilih batal menikah atau open marriage?" Dinda kembali bertanya.
"Aku lebih memilih kita batal menikah" jawab Billy tegas.
__ADS_1
Dinda kemudian mengangkat wajahnya, yang sedari tadi menghadap ke kolam. Dinda lalu tersenyum saat mereka berdua bertatap-tatapan. Dia lalu berkata,
"Kalau begitu,, Mana cincinku tadi?"
Raut wajah Billy berubah drastis. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya, setelah mendengar perkataan Dinda.
Spontan Billy memeluk tubuh Dinda, sambil mengecup pucuk kepalanya. Tak lama, Billy kemudian mengeluarkan cincin Dinda, yang sejak tadi dipasang dijari kelingkingnya, lalu memasangkannya lagi ke jari tangan Dinda.
"Boleh aku tahu,?! Apa yang membuatmu yakin untuk melanjutkan pernikahan kita?" ujar Billy.
Dinda tidak menyahut. Dia cukup menyimpannya sendiri kenapa dia bertanya hal-hal itu kepada Billy.
Dinda menggelengkan kepalanya, sambil tetap tersenyum.
______
Dinda teringat dengan almarhumah mamanya, dan almarhum papanya yang tampak bahagia saat Dinda bersama Billy. Termasuk mbok Inah yang juga menyayangi lelaki itu.
Dinda juga sadar kalau dia mencintai Billy, lebih dari cintanya kepada Rudi.
Jawaban Billy yang terpenting, itu melengkapi semua yang Dinda mau.
Billy lebih memilih berpisah, daripada cintanya harus terbagi.
______
Sesuai dengan rencana dari WO, yang akan melangsungkan acara pernikahannya disebuah gedung megah ditengah kota, semua kesibukkan terpusat disitu.
Dinda berada dalam ruang terpisah, sambil didandani dan dipersiapkan untuk acara sakral itu, saat Mama dan Papa Billy menjenguknya.
Mama Billy hampir tidak bisa melepas Dinda dari pelukkannya, sampai Papa Billy harus memaksa agar istrinya bisa lebih tenang, kemudian mengajaknya keluar dari ruangan itu.
Begitu juga Laura yang melompat kegirangan saat melihat Dinda, yang terlihat sudah siap untuk melanjutkan acara pernikahannya.
Saat pintu terbuka, Dinda bisa melihat Billy yang semakin tampan saat mengenakan tuksedo.
Billy sudah berdiri dipaling depan, sambil menatap Dinda yang mulai berjalan masuk melewati tamu undangan yang duduk dibangku-bangku panjang. Billy tidak berhenti tersenyum, seakan tidak percaya apa yang dia lihat.
Dinda tampak sangat cantik dengan gaun pengantinnya, berjalan pelan diantara semua mata yang memandangnya.
Tapi pandangan Dinda hanya tertuju pada Billy, laki-laki yang menjadi pilihannya, yang selama ini tidak pernah berhenti mencintainya.
__ADS_1
~ TAMAT~