OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 48


__ADS_3

Dinda memikirkan perkataan Billy, saat bersandar di lengan lelaki itu. Dia lalu berniat menghubungi Rudi.


Baru saja Dinda berdiri, ponsel milik Billy berbunyi. Billy lalu menyambutnya.


Dinda tanpa suara hanya menggerakkan bibirnya, berkata pada Billy kalau dia mau mengambil ponselnya.


Billy mengangguk, sambil terus bicara dengan seseorang di telpon.


Dinda masuk kedalam kamarnya meninggalkan Billy disitu. Didalam kamarnya, Dinda mengirim chat whatsapp kepada Rudi, kalau dia mau bicara sesuatu. Tanpa memberitahu kapan, atau akan bertemu dimana.


Dinda melihat chatnya sudah centang biru, tapi tak ada balasan dari Rudi. Sambil memegang ponselnya, Dinda berjalan kembali ke teras depan, dimana Billy masih duduk disitu.


Billy baru saja memutuskan panggilannya.Dia mematikan ponselnya, lalu memasukkan benda itu kedalam saku celananya.


Billy mengangkat alis seakan bertanya, ada apa dengan Dinda yang berjalan lesu.


"Aku mengirim pesan pada Rudi, tapi dia tidak membalasnya..." Kata Dinda. Dia lalu duduk kembali di samping Billy. Meski badannya ada disitu, tapi pikirannya berjalan kemana-mana.


"Sabar aja! Mungkin dia juga lagi mikir mau ngomong apa denganmu," ujar Billy.


"Eh, Dinda! Tadi ada temanku telpon ingin bertemu. Aku kasih alamatmu..." kata Billy sebelum Dinda bicara lagi.


"Aku ajak kesini, soalnya kepalaku masih agak pusing, kalau harus menyetir mobil sekarang. Maaf...! Jangan marah yaa...?!" sambung Billy dengan nada memohon.


"Hah?" Dinda mengerutkan alisnya. Kenapa harus ketemu disini sih, pikir Dinda.


"Kamu sudah tahu nyetir mobil sendiri, masih minum bir sebanyak itu. Ya sudah, dari pada kamu kenapa-kenapa dijalan!" ujar Dinda mengiyakan, dari pada terjadi sesuatu yang buruk pada Billy dijalan, mengingat Billy tadi sempat minum berkaleng-kaleng bir.


Sepertinya nggak masalah, toh Billy ada disitu, pikir Dinda. Tapi Dinda masih ada rasa kesal, karena Billy tidak meminta ijin dulu. Dia mencubit paha Billy.


Lelaki itu meringis, tapi masih bisa tertawa.


"Sakit loh!" ujar Billy.


"Mau lagi?" seru Dinda. Dia membentuk jarinya seperti capit kepiting, bersiap mencubit Billy lagi. Akhirnya dia kembali mencubit paha lelaki itu.


"Aaah! Ampun! Sakit! Sakit...!" teriak Billy.


Mereka berdua asyik bercanda seperti anak kecil sambil tertawa, sampai tidak menyadari sudah ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah mereka.


" Eehheem..."


Canda tawa Dinda dan Billy terhenti mendengar suara itu. Mereka sama-sama melihat seseorang yang sudah berdiri di lantai teras.


Mata Dinda terbelalak. Dia tidak percaya apa yang dia lihat.


Billy berdiri menyambut orang itu. Keduanya berpelukkan.


"Ini Alex, temanku waktu di Australia!" kata Billy sambil tersenyum


Dinda masih terduduk terdiam.


"Kami sudah saling kenal..." kata Alex. Lelaki itu tersenyum lebar kearah Dinda.


Billy mengerutkan alis.


"Kamu kenal Dinda dimana?" tanya Billy yang merasa heran


"Temanku Rudi membawanya ke bengkelku waktu itu," jawab Alex.


"Dinda yang memberi nomor telponmu..." kata Alex pada Billy.

__ADS_1


"Ooh... Benar begitu?" tanya Billy pada Dinda, memastikan.


Dinda mengangguk.


Benar-benar lingkaran kebetulan yang aneh.


Dinda mengisyaratkan dengan matanya pada Billy, agar kembali duduk disampingnya. Billy melihatnya, lalu menuruti isyarat Dinda.


"Duduk dulu!" Kata Billy mempersilahkan Alex, ketika Billy sudah duduk di samping Dinda.


Alex duduk di kursi. Dia memilih kursi yang paling dekat dengan ayunan tempat Dinda duduk bersama Billy.


"Kamu berteman dengan Rudi? Kamu kok nggak pernah cerita?" tanya Billy


"Iya, Rudi temanku waktu SMA!" ujar Alex. Mata lelaki itu memandangi Dinda.


"Kamu dengan Dinda kenal sejak kapan? kayaknya akrab banget!" tanya Alex pada Billy.


"Dinda dan aku dulu satu SMA. Sampai akhirnya kami berpisah karena beda tempat kuliah," kata Billy.


Alex terus saja memandangi Dinda.


Billy menyadari sikap Alex. Dia melihat kearah Dinda. Gadis itu sudah kelihatan gelisah.


Billy bisa merasakan aroma ketertarikan Alex pada Dinda.


"Kamu dan Rudi beruntung banget. Kalian bisa bertemu Dinda sebelum aku," celetuk Alex.


Mendengar perkataan Alex, Billy jadi yakin dengan dugaannya.


"Dinda! Aku mau ke kamar mandi!" kata Billy


Dinda mengangguk.


Dinda berjalan duluan, disusul Billy dari belakang.


Saat sudah melewati pintu depan, Billy menarik lengan Dinda agar berjalan lebih cepat kedalam rumah.


"Kayaknya Alex tertarik denganmu..." ujar Billy ketika dia merasa suaranya sudah tidak akan terdengar oleh Alex diluar.


"Aku sudah tahu, Rudi sudah kasih tahu aku waktu itu..." kata Dinda


Billy gelisah. Dia menyesal telah membawa Alex kerumah Dinda. Saat mereka berdua sudah di dapur. Billy berjalan mondar-mandir didepan Dinda.


"Alex itu lelaki gila!" ujar Billy. Dia berhenti mondar mandir lalu menatap Dinda.


"Kalau kamu anggap aku gila karena selalu berusaha mengikutimu, dia lebih buruk dari itu!" kata Billy.


"Maafkan aku...! Aku nggak nyangka dia akan langsung tertarik denganmu," kata Billy.


Dinda menatap Billy. Lelaki itu terlihat sangat khawatir.


Billy memeluk Dinda.


"Aku akan menjagamu, tak akan kubiarkan dia mengganggumu," kata Billy berbisik ditelinga Dinda.


"Aku akan membawanya pergi sekarang!" kata Billy. Dia melepaskan pelukannya dari Dinda.


Dinda menahan lengan Billy.


"Kamu masih pusing nggak?" tanya Dinda

__ADS_1


"Sedikit..." kata Billy


"Kamu jangan menyetir dulu!" kata Dinda


Billy memukul kepalanya. Dia merasa sangat bodoh. Ini karena kebodohannya sampai Dinda ikut terlibat.


Dinda menghentikan tindakan Billy.


"Nggak apa-apa. Sudah terlanjur... Kamu disini aja dulu!" kata Dinda.


"Kamu ke depan aja duluan! Nanti aku menyusul, aku ambilkan kopi dulu untuk kalian berdua," kata Dinda lagi


Billy lalu berjalan keluar.


Dinda menyusul sambil membawa dua gelas kopi. Dia lalu menyajikan minuman itu di atas meja. Dinda kemudian melihat kearah Billy.


Billy duduk di sisi ayunan yang dekat dengan Alex. Lelaki itu menyisihkan tempat untuk Dinda disampingnya, agar ada jarak antara posisi duduk Alex dengan Dinda.


Dinda lalu duduk disitu.


Billy mengajak Alex mengobrol hal yang kira-kira tidak ada hubungannya dengan Dinda. Dia ingin mengalihkan perhatian Alex dari Dinda.


Billy mengenal Alex cukup lama. Dia tahu sifat laki-laki itu. Alex harus di alihkan perhatiannya pelan-pelan, kalau sampai Alex merasa Billy sengaja menjauhkan Dinda darinya, maka Alex akan bertambah nekat.


Entah apa yang ditakuti Billy dari Alex. Dinda tidak mau memperdulikan. Dinda sibuk sendiri memainkan ponselnya.


Terang lampu mobil menyinari halaman rumah Dinda.


Setelah terparkir dihalaman rumah Dinda. Rudi keluar dari mobilnya.


Wajah Rudi tegang melihat dua orang laki-laki yang ada disitu, tapi dia bertingkah seperti tidak ada apa-apa.


Rudi melihat Dinda yang awalnya duduk disamping Billy, sudah berdiri menatapnya dengan tatapan seakan minta perlindungan.


Rudi berjalan kearah Dinda. Dia memeluk Dinda kemudian mencium bibirnya.


Dinda terkejut dengan tindakan Rudi, tapi dia tidak menolak. Dia membalas pelukan dan ciuman lelaki itu.


Billy dan Alex hanya termangu melihat adegan itu.


Rudi menghentikan ciumannya. Dia menggendong Dinda. Lalu menoleh kearah dua lelaki yang masih saja melongo.


"Aku mau bersama Dinda sebentar! Nanti aku gabung dengan kalian lagi!" Ujar Rudi


Tanpa menunggu jawaban dari Billy dan Alex. Rudi membawa Dinda masuk. Langsung menuju kekamar Dinda.


"Aku rindu kamu!" kata Rudi. Dia benar-benar tidak perduli dengan dua laki-laki, yang ada didepan rumah Dinda.


Rudi mencium bibir Dinda dengan lembut. Rudi seakan tidak mau melepas ciumannya, dia memuaskan rasa hati, yang sempat beberapa hari tidak bertemu Dinda.


Perlu beberapa menit berlalu, barulah Rudi melepaskan bibir Dinda.


"Aku kira kamu masih marah denganku, sampai akhirnya kamu tadi menghubungiku..." kata Rudi.


"Aku yang salah..." ujar Dinda.


"Aku tadi bicara tentang kita pada Billy, dia yang membuatku menyadari kesalahanku. Billy juga menyarankan aku, agar bicara denganmu. Makanya aku baru menghubungimu... Maafkan aku!" sambung Dinda. Gadis itu menunduk.


Rudi tertegun mendengar perkataan Dinda. Ternyata Billy bisa bersaing dengan fair. Rudi kembali fokus pada Dinda. Dia mengangkat wajah Dinda dan mencium bibir gadis itu.


"Nanti kita bicara lagi... Kita kedepan dulu!" kata Rudi.

__ADS_1


Dengan rasa percaya diri, Rudi membawa Dinda berjalan kedepan rumah sambil bergandengan tangan.


Rudi dan Dinda duduk bersebelahan. Mereka bergabung dengan Billy dan Alex, yang masih duduk disitu.


__ADS_2