OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 44


__ADS_3

Dinda sudah siap berangkat kerja pagi-pagi sekali. Roti sandwich yang disiapkan mbok Inah, dimakan Dinda sambil membereskan tas nya yang akan dia bawa. Obat-obatan sudah masuk, printilan lain juga sudah dimasukkannya kedalam tas.


Dinda melihat ponsel yang tergeletak diatas meja. Dinda lalu memasukkan benda itu kedalam tasnya, tanpa menyalakan ulang dayanya.


Dengan terburu-buru, Dinda pamit dengan mbok Inah. Dinda menyempatkan untuk melihat ulang bekas goresan di mobilnya sebentar. Mulus, tidak ada lagi tanda-tanda pernah terserempet.


Dinda lalu melaju dijalanan aspal menuju ke kantornya.


Sepanjang hari itu, Dinda merasa lebih bersemangat untuk bekerja. Dinda bekerja tanpa ada kendala yang berarti sampai jam kerja usai.


Selama ini, sepertinya baru hari ini Dinda bisa bekerja tanpa beban.


Ketika dia masuk kedalam mobilnya untuk bersiap pulang, dia teringat ponselnya yang dia matikan sejak tadi malam. Dinda mengeluarkan benda itu dari dalam tas, lalu menyalakannya kembali.


Notifikasi beruntun masuk di layar ponsel itu. Dinda menggeser geser layar ponsel, dia memeriksa pemberitahuan apa saja yang masuk.


Ada satu pesan masuk dari Laura yang menarik perhatiannya.


"Aku mau fitting, kamu bisa datang?" begitu isi pesan dari Laura. Tanda waktu di pesan itu, sekitar setengah jam yang lalu.


Dinda menelpon Laura. Setelah bercakap-cakap sebentar, Dinda lalu menyalakan mobilnya dan berlalu pergi disitu.


Ketika Dinda sampai ditempat yang diberi tahu Laura, gaun-gaun pengantin yang cantik dipajang disepanjang jendela kaca gedung itu, cukup membuat Dinda takjub.


Dinda melihat Laura berdiri di pintu depan gedung, sambil melambaikan tangannya kearah Dinda.


"Sorry, telat! aku baru selesai kerja," kata Dinda.


"Nggak apa-apa, aku juga belum lama sampai. Tadi dijalan kesini aku berpapasan dengan orang orang yang lagi demonstrasi. Jalanan macet!" ujar Laura.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam gedung.


Didalam situ, lebih banyak lagi model-model baju pengantin yang di pajang. Laura mengajak Dinda naik ke lantai dua. Tidak mau menunggu lift, mereka lalu naik lewat tangga.


"Aku fitting diatas," kata Laura, saat mereka meniti anak tangga itu.


Laura menyuruh Dinda duduk di sofa. Lalu dibantu dua orang wanita petugas toko, Laura berganti-ganti model baju pengantin. Dinda diminta Laura untuk menilai penampilannya.


Dinda melihat gaun pengantin di pajang berbeda cara di bandingkan yang ada dilantai bawah. Diatas situ, perkotak kaca hanya berisi satu gaun saja. Disitu gaunnya terlihat lebih modern dan mewah.


Satu persatu gaun pengantin dicoba Laura. Yang awalnya Dinda bersemangat melihatnya, lama-lama dia menjadi bosan. Menurutnya gaun-gaun itu cantik, tapi dia tidak tertarik lagi melihatnya.


Demi Laura sahabatnya, Dinda berusaha menahan rasa kantuknya. Setiap Laura keluar menunjukkan gaun pengantin yang dia pakai, Dinda tersenyum dan mengacungkan jempolnya.


"Yang mana, Din?" tanya Laura. Kini Laura juga sudah lelah wara-wiri menjadi model.


Laura masih mengenakan salah satu gaun pengantin, terduduk di sofa di samping Dinda.


"Semuanya cantik. Aku bingung!" ujar Dinda.


Laura meminta salah satu pegawai toko itu membawakan mereka minum.


Keduanya bersandar lemas di sofa.

__ADS_1


Salah satu pegawai toko datang membawa dua gelas champagne dingin.


Laura terlebih dulu mencicipinya. Sedangkan gelas untuk Dinda masih di atas meja.


"Semakin mendekati hari H, aku jadi makin lelah dan malas," celetuk Laura tiba-tiba tidak bersemangat.


Dinda mengerutkan alisnya saat mendengar ucapan Laura.


"Lelah kenapa? Apa karena persiapannya?" tanya Dinda


"Bukan!" ujar Laura


"Trus, apa?" tanya Dinda penasaran.


"Bukannya aku nggak cinta dengan Eko, aku hanya merasa kurang yakin untuk menikah," kata Laura.


Dinda hanya terdiam mendengar perkataan Laura.


"Aku khawatir kalau-kalau aku membuat pilihan yang salah. Komitmen membuatku jadi takut," kata Laura lagi.


Dinda menghela nafas panjang.


Dinda mengambil gelas berisi champagne miliknya, lalu mencicipinya.


"Aku bertengkar dengan Rudi semalam. Dia memaksa aku untuk cepat-cepat menikah dengannya, tapi aku menolak. Aku tidak mau terburu buru. Aku nggak tahu apa tindakan ku benar atau salah," kata Dinda.


Mereka berdua sama sama menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.


"Kalau begini, sekarang kita harus bagaimana?" tanya Laura sekedar, tanpa mengharap dapat jawaban dari Dinda.


"Aku mendukung pilihanmu!" ujar Laura


"Aku tahu apa yang kamu rasa. Sebaiknya memang kamu menunda dulu. Dari pada terlanjur seperti aku. Kalau sekarang aku membatalkan pernikahanku, aku yakin kalau aku dan Eko akan benar benar berpisah," sambung Laura lagi.


Sore itu, Laura batal memilih gaun pengantin.


"Nanti aja!" kata Laura


"Kamu mau pergi nonton bioskop?" sambung Laura mengajak Dinda.


"Boleh! Tapi kita nonton film komedi ya?! Aku lagi nggak mood nonton film romantis," ujar Dinda.


Laura mengangguk.


Laura meninggalkan mobilnya di parkiran toko, lalu ikut di mobil Dinda.


Mereka pergi menonton bioskop bersama.


Film komedi yang mereka tonton, tidak bisa membuat mereka berdua tertawa. Kedua gadis itu larut dalam pikiran masing-masing.


"Ayo kita pergi! Kita ke taman bermain. Mungkin pikiran kita bisa lebih tenang," ajak Laura di tengah-tengah film yang ditayangkan.


Dinda menurut, langsung berjalan menyusul Laura.

__ADS_1


Dinda kembali menjalankan mobilnya menuju taman bermain tempat banyak wahana yang menarik.


Tempat itu sangat ramai. Dinda dan Laura bertatapan.


"Kamu mau main apa?" tanya Laura


Dinda menunjuk roller coaster.


"Itu seru!" kata Dinda bersemangat.


Mereka mencoba satu persatu wahana ekstrim yang ada disitu.


Berteriak dan adrenalin yang menguasai pikiran mereka, akhirnya bisa membuat mereka lupa dengan semua masalah.


Kedua gadis itu tertawa berkali-kali, saat turun dari setiap wahana.


Pilihan yang benar. Mereka merasa senang datang kesitu.


Dinda membeli sebuah cotton candy lalu membaginya dengan Laura, mereka makan sambil berjalan berkeliling.


Di tengah ramainya orang yang berlalu-lalang disitu, Dinda melihat seseorang yang menarik perhatiannya dari kejauhan.


Dinda memperhatikan baik-baik, saat mereka semakin dekat.


"Mita!" Ujar Dinda berteriak.


"Dinda?"


"Iya, ini benar kamu!" teriak Dinda senang.


Mereka berdua berpelukkan.


"Aku rindu kamu..." kata Mita.


"Aku juga..." kata Dinda


Keduanya sangat senang sampai hampir menangis karena bahagia.


"Mita, ini Laura! Selama kamu nggak disini, dia jadi sahabat baru ku," kata Dinda memperkenalkan kedua temannya itu.


Mita memeluk Laura.


"Sahabat Dinda harus jadi sahabatku juga. Kini kita sahabatan bertiga," kata Mita pada Laura.


Mereka tertawa.


Mata Dinda melihat sesuatu yang berbeda dari Mita.


Ketika Mita menyadari pandangan Dinda yang aneh, dia lalu berkata


"Ini my boy friend!" kata Mita, memperkenalkan seorang lelaki bertampang bule, yang sedari tadi berdiam diri di samping Mita.


Dinda mengerutkan alisnya, sambil menatap Mita penuh tanda tanya.

__ADS_1


Mita lalu berbisik pada lelaki itu. Lelaki itu mengangguk kemudian berjalan pergi, meninggalkan mereka disitu.


"Ayo! Kita cari tempat nongkrong!" kata Mita, yang langsung menggandeng Dinda dan Laura.


__ADS_2