OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 51


__ADS_3

Billy tiba disalah satu restoran makanan jepang bersama Dinda.


Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari tempat Alex, membuat waktu perjalanan Billy dengan Dinda cukup singkat.


Keduanya mulai membaca menu makanan disitu, lalu memesan beberapa macam makanan, yang dirasa menarik.


Mereka berdua memilih duduk dibagian restoran yang ruangannya tertutup.


Meskipun Billy sudah merasa segar, karena sudah mandi setelah bermain basket tadi, tapi badannya masih terasa sakit.


Sudah lama dia tidak bermain dengan intens seperti itu. Selama ini, Billy biasanya hanya sekedar olahraga ringan dirumahnya.


Sambil menunggu makanan pesanannya diantar, Billy merebahkan diri dilantai.


Dinda yang duduk lesehan di seberang meja, melihat Billy dengan pandangan heran.


"Kamu ngantuk?" tanya Dinda.


"Nggak! Badanku sakit!" ujar Billy.


"Gimana kalau pelayan datang melihatmu begitu, apa nggak malu?" kata Dinda, sambil tertawa melihat tingkah Billy.


"Aku nggak perduli! Badanku sakit!" ujar Billy.


"Aaawww...!" Billy berteriak kesakitan, saat dia menggeser badannya ke samping.


Dinda berpindah tempat duduk kedekat Billy. Dia lalu mulai memijat-mijat punggung Billy.


Billy terkejut, tapi dia menikmati pijatan tangan Dinda.


"Makanya... Kalian itu memang aneh. Masa mainnya sampai selama itu?! Kalian mau sok-sokan hebat, akhirnya kamu terbantai!" ujar Dinda.


"Aku nggak kalah, loh! Ingat, nggak ada yang menang, nggak ada yang kalah! Kalau aku nggak minum-minum tadi, mereka yang terbantai!" kata Billy masih menyombongkan diri.


"Hallaaah... Alasan!" Ujar Dinda. Dia kembali tertawa. Dalam hati, sebenarnya dia merasa kalau itu mungkin saja. Saat itu Billy masih ada sisa efek alkohol, tetap tidak bisa dikalahkan kedua temannya. Bagaimana kalau dia lagi normal? hmm...


Beberapa saat Dinda memijat punggung Billy, tangannya terasa lelah.


"Sudah yaa?! Aku capek pijitnya! Badanmu keras kayak kayu!" kata Dinda yang saat itu juga berhenti memijat punggung Billy.


Dinda kembali duduk di seberang meja, tempat dia duduk awal datang tadi.


Billy masih saja berbaring.


"Masih sakit, kamu sudah berhenti!" keluh Billy.


Dinda hanya tertawa.


Tak lama, pintu ruangan itu bergeser. Pelayan restoran mulai menyajikan makanan dan minuman mereka diatas meja.


Dinda mendorong-dorong kaki Billy, menggunakan kakinya.


"Billy! Billy! Duduk...! Tuh, ada orang!" ujar Dinda.


"Aah... Nanti dulu! Badanku masih sakit!"ujar Billy.


Dinda menatap pelayan yang melihat Billy, kemudian melihat kearah Dinda. Pelayan muda itu hanya tersenyum, lalu berkata "Silahkan! "


Dinda mengangguk.


"Billy...! Billy!" seru Dinda.


Billy tidak menyahut.


Dinda mengira Billy tertidur. Dia kembali mendekati Billy.


"Billy!" seru Dinda sambil memegang bahu Billy.


"Kamu tidur?" tanya Dinda.


Billy membalikkan badannya.


"Nggak! Kamu ribut amat!" kata Billy.

__ADS_1


Dinda mencubit lengan Billy.


Billy hanya tertawa.


"Masih sakit...! Bisa pijit bentar lagi?" pinta Billy dengan wajah memohon.


Dinda akhirnya memijat lagi punggung Billy, yang sudah dimiringkan. Badan keras begini, capek aku pijitnya, Dinda menggerutu dalam hati.


"Aku sudah lapar!" kata Dinda sambil terus memijat punggung Billy.


Mendengar itu, Billy langsung membalikkan badannya. Tangan Dinda tersandar di dada dan perut Billy.


Dengan cepat Dinda mengangkat tangannya. Dinda jadi malu sendiri.


Billy lalu duduk. Dia melihat Dinda masih terdiam salah tingkah didepannya.


Billy mencium bibir gadis itu.


Dinda tidak membalas. Dinda mendorong dada Billy pelan, agar menghentikan ciumannya.


Billy tidak protes. Dia menatap Dinda lekat-lekat, kemudian tersenyum.


"Bilangnya lapar?!" kata Billy.


Dinda masih grogi, kelihatan panik ketika bergeser tempat duduk ke seberang meja.


Billy tersenyum puas melihat tingkah gadis itu, yang mulai menyuap makanan kemulutnya.


Billy mendekat ke meja, duduk bersila, lalu ikut makan.


Ketika mereka berdua sudah menghabiskan makanannya. Billy menuang teh hijau panas dari teko ke dalam dua gelas, untuk Dinda dan untuk dirinya.


"Apa ada yang terjadi tadi waktu kalian bermain?" tanya Dinda tiba-tiba.


"Memangnya kenapa?" Billy balik bertanya.


"Kalian kelihatan aneh waktu kembali tadi. Apalagi kalian semua kok bisa ada luka yang sama," kata Dinda.


"Kalau luka itu biasa... Entah nggak sengaja kena bola yang jatuh dari keranjang, atau waktu drible bola yang mantul terhantam ke muka," kata Billy sambil memegang bibirnya.


"Rudi tadi sampai nggak menghiraukan aku loh?!Masa sih cuma gara-gara itu?" ujar Dinda.


"Kalau itu aku nggak tahu. Mungkin aja dia lagi mikirin omongan kamu, yang mau menunda keinginannya menikah denganmu," kata Billy yang kemudian menyeruput teh panas, dari gelasnya.


Dinda ikut menyeruput tehnya, tanpa mengeluarkan suara.


"Apa mungkin dia nggak mau ya?" tanya Dinda


"Jangan tanya denganku! Aku nggak tahu dan nggak mau menebak-nebak! Kamu kenal Rudi lebih lama dari aku, mestinya kamu yang lebih tahu!" ujar Billy.


Dinda memikirkan apa yang dibilang Billy. Selama dia bersama Rudi, dia selalu mengikuti kemauan Rudi tanpa memberitahu kemauannya. Kali ini ada yang dia mau, mestinya Rudi harus bisa menerimanya.


Kenapa Rudi perlu waktu lama cuma untuk satu permintaanku? Sepertinya Rudi memang mau memaksakan keinginannya. Dinda tidak mau tahu. Itu berarti Rudi lebih memilih untuk berpisah dengannya.


Dinda menghabiskan tehnya. Dia lalu meminta Billy untuk mengantarnya pulang.


***


"Besok 'kan libur, apa kamu ada rencana?" tanya Billy ketika masih diperjalanan mengantarkan Dinda.


"Nggak tahu. Kenapa?" tanya Dinda.


"Kalau mau, kamu ajak Mita dan Laura. Kita santai di danau dekat vila," kata Billy


"Hmm... Ntar aku kabari! Aku liat dulu keadaannya besok," Dinda lalu mengambil ponsel, kemudian mulai mengetik sesuatu disitu.


Billy melirik, dia bisa melihat Dinda mengirim beberapa pesan dikontaknya.


Tak lama ada beberapa pesan masuk. Dinda melihatnya, ternyata pesan hanya dari Mita dan Laura. Pesan yang dia kirim ke Rudi tidak dibalas.


Dinda memasukkan handphonenya kembali kedalam tas dengan kasar.


Billy melihatnya. Dia tahu kalau Dinda sedang kesal. Billy berpikir untuk mengajak Dinda mengobrol, untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Aku baru beli perahu kecil. Perahu yang ada dulu, sudah rusak," ujar Billy.


"Kamu masih ingat waktu itu nggak?" tanya Billy


"Iya, aku masih ingat," Jawab Dinda.


Bagaimana dia bisa lupa, itu awalnya dia bisa pacaran dengan Billy.


Acara piknik teman sekelas Dinda, diadakan disitu.


Karena ajakan Mita dan Dovi, Dinda setuju untuk bermain didanau menggunakan perahu.


Kedua temannya itu bertingkah bodoh, menggoyang-goyangkan perahu, sampai akhirnya perahu itu terbalik. Dovi dan Mita yang sudah pintar berenang, dengan cepat pergi kepinggir danau.


Mereka tidak tahu kalau Dinda belum mahir berenang, mereka meninggalkannya sendiri di air. Dinda menelan banyak air, dia hampir tenggelam, ketika Billy menolongnya keluar dari air.


Saat itu Dinda sudah lama naksir dengan Billy, tapi belum ada tanda-tanda mereka bisa pacaran. Karena malu, Dinda pura pura pingsan. Billy memberinya nafas buatan.


Tanpa dia sadari, Dinda menutup wajahnya karena mengingat hal itu.


Billy melihatnya.


"Kenapa?" tanya Billy.


Dinda menghela nafas.


"Ketika kamu menolongku dari air waktu itu, aku hanya pura-pura pingsan!" ujar Dinda malu-malu, dia masih menutup wajahnya dengan tangan.


"Aku tahu! Aku cuma mau menciummu...!" kata Billy.


Dinda membuka wajahnya kembali, lalu menatap Billy


"Aaahh...! Selama ini kamu tahu?" teriak Dinda, dia makin malu.


"Iya!" jawab Billy enteng.


Dinda memukul lengan Billy.


"Eeh... Aku lagi nyetir, loh!" ujar Billy.


Dinda tetap saja memukul-mukul lengan Billy.


Billy lalu menghentikan mobilnya dipinggir jalanan yang sudah mulai sepi.


"Kira-kira, yang lain tahu nggak ya?" tanya Dinda


"Mita dengan Dovi tahu," kata Billy.


Dinda jadi ingat, pantas waktu itu mereka senyum-senyum terus. Dinda mengira mereka cuma lagi happy aja.


"Aaahh...!" teriak Dinda lagi, dia kembali menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Billy memegang kedua tangan Dinda, yang menutupi wajahnya. Billy dengan Dinda bertatapan.


"Aku sudah menyukaimu, jauh sebelum itu..." kata Billy.


Wajah Billy makin mendekat pada Dinda. Dia mencium bibir Dinda.


Dinda yang terbawa ingatan masa lalu membalas ciuman Billy. Dia membiarkan tangan Billy bermain-main di buah dadanya.


Keduanya dikuasai hawa nafsu.


Billy menjalankan mobilnya mencari hotel terdekat.


Mereka tidak bisa lagi mengendalikan diri.


Dikamar hotel, mereka melampiaskan rasa ingin menggapai puncak kepuasan itu berkali-kali. Nafas tersengal, jantung yang berdegup kencang,


keduanya lupa segalanya.


Mereka berhubungan intim, berulang-ulang. Menikmati setiap tindakan dan gerakan yang menggetarkan raga, sampai menjelang pagi.


Merasa sudah cukup puas, Billy dan Dinda tertidur disitu.

__ADS_1


__ADS_2