OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 97


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Dinda sudah tampak segar. Dia seakan sudah tidak ingat apa yang terjadi sore tadi. Dinda menyisir rambutnya yang panjang didepan cermin


Billy yang baru saja selesai mandi hanya berlilitkan handuk, bertelanjang dada ikut berdiri didepan cermin sambil memandangi Dinda disitu.


Dinda berhenti menyisir rambutnya saat menyadari Billy yang sedari tadi menatapnya.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Dinda sambil memperhatikan dress selutut yang dia pakai.


Billy hanya terdiam sebentar.


"Kamu sudah cantik,, mau jalan-jalan denganku sebentar?" ujar Billy.


"Kemana?" jawab Dinda kemudian lanjut menyisir rambutnya.


"Kemana saja yang kamu mau,, Makan malam diluar atau nonton bioskop,, terserah kamu mau apa,, belanja?" Billy kemudian mengambil pakaian miliknya yang sudah dimasukkan didalam lemari Dinda.


"Hmm,, aku nggak tahu mau kemana,, Kamu memangnya mau kemana?" Dinda sudah selesai merapikan rambutnya yang dia ikat jadi pony tail.


Billy sudah selesai berpakaian. Dia tampil kasual hanya dengan kemeja lengan panjang digulung lengan yang dibiarkan keluar dari celana pendeknya.


"Kita makan malam,, terus pergi nonton bioskop,, mau?" tanya Billy sambil membalikkan badan Dinda agar berhadapan dengannya. "Aku cuma mau menghabiskan waktu, sambil memamerkan calon istriku yang cantik" sambung Billy.


Dinda tersipu malu. Meski dia sudah sering mendengar Billy memujinya, tapi tetap saja Dinda tidak bisa terbiasa dengan pujian itu.


"Kenapa? Boleh 'kan aku bangga karena bisa bersamamu?" tanya Bily sambil memegang pinggang Dinda.


Dinda berbalik, tapi Billy malah memeluknya dari belakang lalu mengarahkan mereka berdua kedepan cermin.


"Kamu nggak banyak berubah sejak SMA dulu,, malah makin cantik saat dewasa" ujar Billy yang kemudian mengecup pipi Dinda. "Aku sangat beruntung" sambung Billy sambil menatap bayangan mereka berdua di cermin itu.


Dinda menundukkan wajahnya.


Billy membalikkan badan Dinda. Saat mereka berhadapan Billy memegang dagu Dinda dan mengangkat wajah Dinda.


"Apa aku salah bicara?" tanya Billy hati hati.


"Nggak,," sahut Dinda sambil tersenyum tipis.


Billy mencium bibir Dinda dengan lembut. Semakin lama dia menikmati bibir Dinda semakin dia tidak mau melepasnya. Billy memegang pinggang Dinda lalu mengangkat tubuh Dinda.


"Katanya tadi mau jalan-jalan?" tanya Dinda saat dia mendorong dada Billy agar berhenti menciuminya.


Billy mendengus. Dia masih belum puas mencium Dinda. Billy menyesal telah mengajaknya jalan jalan, kalau dirumah saja kan dia bisa sepuasnya memeluk dan mencium Dinda.


"Gimana? Jadi nggak?" tanya Dinda sambil tersenyum manis.


"Ayolah,," ujar Billy yang sedari tadi tidak mau menurunkan Dinda dari gendongannya. Dia membawa Dinda pergi kemobilnya.


"Kita bawa mobilku aja dulu,, aku mau mencobanya" ujar Dinda.


Billy menatap dengan tatapan tidak suka.


"Kamu mau menyetir?" tanya Billy yang tampak tidak senang.

__ADS_1


"Nggak,, kamu yang nyetir,, aku cuma mau kita pakai itu jalan jalan,, sejak dibeli, mobil itu hanya terparkir disitu" ujar Dinda menjelaskan.


"Ooh,, ok" sahut Billy "Kuncinya dimana?" sambungnya


"Ada disitu,," sahut Dinda.


Billy masih menggendong Dinda, berjalan kearah garasi.


"Turunkan aku,, kamu nggak capek menggendongku?" tanya Dinda.


"Nggak,, aku nggak mau melepasmu" jawab Billy.


Dinda tertawa pelan. Dia mengecup pipi Billy yang kelihatan agak kesal saat Dinda minta diturunkan dari gendongannya.


"Kamu mau makan apa?" tanya Billy saat mereka mulai melaju dijalanan.


"Aku mau sate padang yang tempat makannya bisa lesehan" sahut Dinda.


"Ooh,, Ok" Billy lalu menancap gas mobil saat jalanan terlihat cukup lengang.


Mereka memilih tempat makan yang terlihat cukup ramai pembeli dipinggir jalan.


Billy memarkirkan mobilnya, kemudian berjalan ketempat makan itu sambil merangkul pinggang Dinda.


"Banyak orang loh,, harus kamu meluk gini kah? 'Kan malu dilihatin orang" ujar Dinda sambil menepis tangan Billy dari pinggangnya.


Billy merasa kesal karena Dinda menolak tangan Billy melingkar dipinggangnya. Bukannya menuruti maunya Dinda agar berjalan biasa, Billy malah makin menempel. Dia memeluk Dinda sampai Dinda agak kesulitan berjalan.


"Kenapa? mau aku gendong kesitu?" bisik Billy dekat sekali ditelinga Dinda sampai hembusan nafasnya seakan menggelitik telinga Dinda.


"Nggak,," Dinda tertawa pelan karena merasa geli. Dia mengangkat bahunya agar rasa gelinya menghilang.


Billy mengecup pipi Dinda, kemudian merangkul pinggang Dinda.


Kali ini Dinda tidak menolak, dari pada dia harus digendong Billy. Dia hanya perlu cuek saja dengan pandangan orang-orang disitu. Toh, tidak ada yang dia kenal.


Dinda duduk disalah satu sudut tempat itu. Sedangkan Billy pergi memesan makanan yang Dinda mau.


Pembeli disitu tampak beragam, mulai dari anak remaja, sampai orang dewasa mendekati paruh baya. Dinda memperhatikan sekelilingnya sambil menunggu Billy kembali.


Tak lama Billy sudah duduk disampingnya. Dia menarik Dinda sedikit agar Dinda bisa bersandar dilengannya. Billy memegang tangan Dinda lalu memainkan jemari tangan gadis itu. Sesekali Billy mengecup kepala Dinda.


Billy melihat kalau ada beberapa pemuda yang tampak seperti anak kuliahan, sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Billy dan Dinda. Pikiran nakal Billy menjadi-jadi. Dia ingin menggoda mereka yang duduk berseberangan meja.


Billy tiba-tiba mencium bibir Dinda, disambut sorakan anak-anak itu.


Dinda terkejut dengan kelakuan Billy yang memciumnya ditengah orang banyak. Apalagi anak-anak didepan mereka berdua seakan kesenangan melihat Billy yang mencium Dinda.


Cubitan maut mendarat dipinggang Billy. Lelaki itu meringis kesakitan. Tepat saat pesanan mereka diantar.


Dinda tidak perduli dengan Billy yang mengeluh sakit. Dia lalu mulai memakan makanannya yang sudah ada diatas meja.


"Beeuuhh,, tega,, sakit loh" bisik Billy

__ADS_1


"Sakit? Mau lagi?" ujar Dinda


"Nggak,," bisik Billy merengek.


"Makanya,, kamu sih ada-ada aja." ujar Dinda pelan.


Meski kesal dengan tingkah Billy yang seperti anak kecil, Dinda merasa kasihan karena mencubitnya cukup kuat. Pasti sakit. Dinda memegang sebelah tangan Billy.


"Maafkan aku,, aku nggak sengaja mencubitmu terlalu keras" bisik Dinda.


Billy tersenyum. Dia lalu ikut makan pesanannya.


Selesai makan disitu, Dinda mau mereka langsung pulang. Dia ingin cepat istirahat dirumah. Suhu diluar yang berangin cukup membuat cedera dikakinya terasa sakit.


"Kita pulang aja yaa?!" ujar Dinda.


Billy mengangguk, kemudian membawa Dinda kembali pulang kerumahnya. Setelah memastikan semua sudah tertutup rapat, pintu pagar dan pintu depan, Billy baru menyusul Dinda ke kamar.


Dinda tampak mengelus-elus bekas luka di kakinya. Saat dia melihat Billy, dengan cepat Dinda berpura pura seperti tidak ada apa-apa. Dinda menghentikan gerakan tangan dikaki nya lalu meluruskan kakinya yang tadi di tekuk.


"Nggak perlu kamu sembunyikan kalau terasa sakit,, kan aku sudah bilang kalau ada yang kamu rasa kurang nyaman, beritahu aku" ujar Billy. Dia berjalan mendekat lalu berjongkok disamping kasur.


Billy mengusap pelan bekas luka dikaki Dinda itu.


"Mau pergi ke dokter?" tanya Billy yang tampak cemas.


"Nghak perlu,, ini hanya karena dingin diluar tadi" ujar Dinda "Makanya aku nggak mau ngomong,, cuma sakit biasa, tapi malah membuatmu khawatir berlebihan" sambung Dinda yang merasa tidak nyaman saat melihat Billy cemas.


"Wajar aja kalau mengeluh Dinda,, jangan diam aja, kalau sudah terasa sakit." wajah Billy masih tampak cemas.


Dinda memegang pipi Billy lalu membuatnya melihat kearah Dinda.


"Nggak terlalu sakit,, nggak usah cemas,, kadang-kadang kalau dingin seperti tadi atau kalau aku terlalu banyak berjalan aja, kok, baru terasa sakit" ujar Dinda lembut.


Billy memegang tangan Dinda yang memegang pipinya. Dia menggenggam lembut tangan Dinda, sambil tetap dibiarkan dipipinya.


"Aku ke kamar mandi dulu" ujar Dinda yang kemudian buru buru menurunkan kaki dari ranjang.


Billy menahannya lalu menggendong Dinda.


"Kamar mandi disitu aja,, aku masih bisa berjalan sendiri" ujar Dinda.


Tapi Billy tidak menghiraukannya. Dia membawa Dinda kekamar mandi. Dia menunggu dipintu sampai Dinda selesai, lalu kembali menggendongnya.


"Mau berbaring disini atau mau duduk-duduk dulu diruang tengah sambil menonton tv?" tanya Billy.


"Hmm dikamar aja,, aku mau main hp" sahut Dinda.


Billy menurunkan Dinda diatas ranjang.


Dinda mengambil ponselnya kemudian bersandar di kepala ranjang.


Billy pun begitu. Dia kemudian merangkul pundak Dinda agar kepala Dinda bisa tersandar dilehernya. Tak lama keduanya tampak sibuk mengutak atik layar ponsel masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2