
Billy memarkirkan mobilnya, didepan Rumah sakit ibu dan anak. Lelaki itu, benar-benar bersemangat untuk memeriksa kandungan Dinda. Dia mau memastikan, kalau dia memang akan menjadi seorang ayah.
Dinda hanya mengikuti langkah Billy, yang mengandeng tangannya, sambil berjalan ke meja pendaftaran. Dinda menatap Billy, yang tidak berhenti tersenyum, entah apa yang ada dipikiran lelaki itu.
"Nanti, rutin di periksa kandungannya, Bu!" ujar seorang dokter spesialis, yang memeriksa Dinda.
Dan banyak lagi pesan-pesan yang dikatakan dokter itu. Dinda seperti orang bingung mendengarnya, hampir tak ada yang dia ingat. Pikiran Dinda sedang berjalan kemana-mana. Dia masih belum siap untuk jadi seorang ibu.
Tapi, ketika Dinda melihat Billy makin senang, saat dokter itu memastikan kalau Dinda memang sedang hamil, sampai berkali-kali dia mengecup kening Dinda, sambil menunggu resep di apotik, Dinda jadi yakin kalau dia bisa melalui semua ini bersama Billy.
Keraguan Dinda, sirna dihapus senyuman bahagia diwajah Billy.
"Aku akan beritahu mamaku," celetuk Billy.
"Mama pasti akan senang sekali, saat tahu aku akan punya seorang anak denganmu," sambung Billy, sambil tersenyum lebar.
Billy memeluk Dinda erat-erat, saat mereka sudah didalam mobil.
"Bagaimana dengan papamu?" tanya Dinda cemas.
"Papa akan aku beritahu belakangan. Lelaki itu, sulit untuk dibawa bicara. Biar mama yang beritahu dia nanti," sahut Billy.
"Kamu nggak usah khawatir... Aku bukan anak kecil. Aku sudah menuruti kemauannya, dan dia juga sudah berjanji akan menuruti kemauanku, kalau perjanjian sudah usai," sambung Billy menenangkan Dinda, sambil menatap Dinda lekat-lekat.
Dinda hanya bisa mengangguk. Meski ada sedikit rasa khawatir, tapi dia hanya bisa percaya dengan Billy. Semua sudah terlanjur terjadi.
Dinda memeluk Billy. Dia menyandarkan wajahnya di dada lelaki itu. Aroma harum tubuh Billy seakan jadi candu, yang menenangkan Dinda.
Billy merasa sedikit geli, saat Dinda yang tampak menikmati, sampai berkali-kali menghela nafas panjang, dan menghembus pelan, sambil menempelkan wajahnya di dada Billy.
Lelaki itu tersenyum, dan mengecup atas kepala Dinda.
Billy tidak perlu lagi merasa khawatir, akan kehilangan wanita yang dicintainya lagi. Apalagi, ditambah akan adanya calon bayi, yang akan melengkapi hidup mereka.
Billy tidak perduli meski dunia akan berputar berlawanan arah, asalkan dia tetap bisa bersama Dinda.
Mungkin ini yang orang bilang, kalau tidak akan mudah melupakan cinta pertama. Meski sempat mengambil jalan berbeda, rasa cinta tetap bisa menemukan jalan kembali ke awalnya.
Bibir Dinda dilum*t bibir Billy, sampai Dinda merasa nafasnya sesak. Billy seolah tidak mau melepaskan Dinda.
Dinda mendorong dada Billy pelan. Sampai bibir Billy melepas bibir Dinda.
Billy menatap Dinda dalam-dalam. Billy tampak tidak terima, didorong Dinda menjauh seperti itu.
"Aku nggak bisa nafas," ujar Dinda, sambil tertawa pelan. Dia lalu menyandarkan wajah, dan tangannya lagi didada Billy.
"Sekarang kamu mau kemana? Ada yang kamu mau?" tanya Billy, sambil memeluk Dinda.
Dinda menggelengkan kepalanya.
"Nggak mau makan? Aku lapar...! Aku tadi cuma makan di pesawat," ujar Billy.
"Terserah aja kamu mau makan apa. Aku nggak tahu apa yang aku mau," sahut Dinda, yang masih menempel di dada Billy. Kini, Dinda yang seakan tidak mau melepas tubuh lelaki itu.
Billy tertawa, saat dia hendak melepas pelukkannya, tapi Dinda menahannya.
"Sebentar lagi...!" ujar Dinda.
Billy menuruti kemauan Dinda, meski perutnya sudah keroncongan. Dia memeluk Dinda erat-erat. Dia mau menunggu, sampai Dinda mau melepaskannya.
Perut Billy kemudian berbunyi, dengan rasa enggan Dinda akhirnya melepas pelukan Billy.
"Abis makan, temani aku jangan kemana-mana!" ujar Dinda, dengan wajah yang tampak kecewa.
__ADS_1
Billy tersenyum, kemudian menyalakan mobilnya, lalu menjalankannya menuju restoran, yang dia pikir cocok dengan seleranya, dan Dinda.
Diperjalanan pulang, setelah mereka selesai makan, Billy menyempatkan untuk singgah membeli camilan, dan beberapa minuman.
Mereka berdua, duduk diatas ayunan diteras depan rumah Dinda.
Billy melingkarkan tangannya di sepanjang pundak Dinda, sedangkan Dinda menyandarkan kepalanya di dada Billy.
Dinda merasa agak aneh, dia merasa nyaman mendengar detak jantung, dan mencium aroma harum tubuh Billy. Dia sedari tadi tidak merasa bosan sama sekali, Dinda sangat menikmati itu.
Sampai-sampai, saat Billy hanya mau melepasnya sebentar untuk mengambil minuman diatas meja, Dinda merasa kesal karena Billy menjauh.
Meski agak membingungkan, tapi Dinda tidak perduli, dia mau keinginannya dituruti Billy.
Berkali-kali Billy bertanya, ataupun mengajak Dinda untuk mengobrol, tapi Dinda tidak menanggapinya. Dinda tenggelam dalam candunya.
Billy kewalahan dengan sikap Dinda yang tiba-tiba mau menempel seperti itu. Tapi Billy menurut saja, dari pada dia harus melihat wajah cemberut Dinda.
Jadinya, minuman dan camilan yang dibeli, tidak ada yang tersentuh.
Diluar situ mulai terasa dingin. Bily mengajak Dinda untuk masuk kedalam rumah. Tetap saja Dinda bersikap seperti anak kucing, yang tidak mau lepas dari induknya, tidak menyahut tidak ada tanggapan apa-apa.
Billy menggendong Dinda, kemudian meminta tolong mbok Inah, untuk menyimpan sisa makanan dan minuman, dari meja teras.
Billy membawa Dinda kekamarnya, kemudian membaringkannya di ranjang. Saat Bily hendak keluar dari kamar, Dinda memasang tampang kesal, sambil membalikkan badannya membelakangi Billy.
"Kenapa?" tanya Billy lembut.
Dinda tidak menyahut.
Billy akhirnya membatalkan niatnya, yang cuma mau pergi minum sebentar. Dia kemudian naik berbaring keatas ranjang Dinda, dan memeluk Dinda dari belakang.
"Aku cuma mau minum bentar... Aku haus... Kamu mau aku ambilkan air untukmu juga?" tanya Billy, sambil mengecup belakang kepala Dinda.
Billy menahan tawanya, saat melihat gerak-gerik Dinda.
Merasa sudah dapat persetujuan, dengan cepat Billy berdiri, dan setengah berlari keluar dari kamar. Berusaha secepatnya untuk kembali, sebelum Dinda marah.
"Ini...!" kata Billy, lalu menyodorkan segelas air pada Dinda, sambil berjongkok di samping ranjang.
Setelah Dinda duduk, dan selesai meminumnya, Dinda kemudian meletakkan gelas keatas meja di sampingnya, lalu menarik Billy agar ikut berbaring dengannya.
Billy hanya tersenyum, menuruti kemauan Dinda.
"Kamu pengen?" tanya Billy, sambil memeluk Dinda.
Dinda menggeleng.
"Lah, terus?" tanya Billy, sambil tertawa pelan.
Dinda menengadah. Dia menatap Billy dengan wajah kesal.
"Aku mau kamu! Apa yang lucu?" tanya Dinda ketus.
Billy memberi tanda dengan jari tangannya, yang seakan mengunci mulutnya. Dia menahan rasanya, yang mau tertawa lagi.
Dinda lalu duduk diatas perut Billy, kemudian membuka kemeja lelaki itu dengan kasar.
Entah apa yang merasuki Dinda, dia seolah mau memakan tubuh Billy. Setelah kemeja Billy sudah terbuka semua, Dinda menciumi leher dan dada Billy.
Billy terpicu gairahnya, dia tidak mau cuma begitu saja. Billy membuka blouse tipis, dan rok yang dipakai Dinda.
Br* yang dipakai Dinda, tidak luput dari tangan Billy.
__ADS_1
Di tubuh Dinda hanya tersisa selembar dalaman, yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Dinda yang masih duduk di perut bagian bawah Billy, kembali menciumi bibir, leher, sampai ke dada lelaki itu.
Tangan Dinda menggerayangi semua bagian atas badan Billy.
Billy juga tidak mau kalah.
Buah dada Dinda yang kenyal, dan bokong Dinda yang padat, jadi sasaran empuk tangan Billy, yang meremasnya sepuasnya.
Keduanya tenggelam dalam nafsu. Billy ikut duduk, sambil sedikit menarik tubuh Dinda agar menempel di dadanya.
Billy melepas celana panjang, dan dalaman yang dia pakai dengan tangannya. Sedangkan, tangan sebelah lagi menahan bokong Dinda, agar tubuh Dinda agak terangkat sedikit.
Billy membaringkan Dinda ke ranjang.
Perlahan Billy melepas sisa kain dalaman, yang masih menempel di tubuh gadis itu. Dibawah cahaya lampu kamar, Billy bisa melihat kulit mulus Dinda, yang tidak ditutupi apa-apa lagi.
Billy membuka kaki Dinda sampai terlihat jelas bagian bawah tubuhnya. Lelaki itu membenamkan wajahnya disitu.
Dinda sudah basah, dan menikmati permainan mulut dan lidah Billy disitu.
Tangan Dinda meremas seprai, menahan rasa gelinya. Dinda menggigit bibir, sambil menggeliat.
Meski begitu, Billy tidak mau berhenti.
Sampai Dinda terduduk, karena rasa yang memuncak karena perlakuan Billy, lelaki itu tetap saja memuaskan keinginannya, menikmati milik Dinda.
Dinda tak tahan lagi, dia mengerang.
Melihat Dinda melemah, baru Billy mau berhenti. Dia lalu memberikan miliknya, untuk dinikmati Dinda.
Milik Billy, dimasukkan Dinda kemulutnya.
Kini, Billy yang menggigit bibir, sambil memegang kepala Dinda.
Tak tahan lagi, Billy memasukkan miliknya kedalam bagian bawah tubuh Dinda.
Perlahan tapi pasti, Billy menggerakkan tubuhnya.
Tubuh keduanya bergetar hebat.
Billy mempercepat gerakannya, saat merasa hampir sampai dipuncak.
Bersamaan, terdengar mereka mengerang keenakkan.
Dinda berdiri ke kamar mandi diikuti Billy.
Tak lama, setelah membersihkan diri, mereka kembali ke kamar.
Billy membalikkan badan Dinda, seperti sedang merangkak memunggungi Billy, sambil sedikit mengangkat bokongnya.
Billy memasukkan miliknya, kembali kedalam tubuh Dinda, sambil berlutut.
Tangan Billy memegang kedua buah dada Dinda, kemudian kembali bergerak teratur.
Kulit yang bersentuhan terasa hangat dan nikmat.
Tidak ada yang mau berhenti sampai mereka kehabisan tenaga, karena berkali-kali menyentuh puncaknya.
Dinda menyandarkan kepalanya diatas dada Billy.
Keduanya tertidur pulas setelah bekerja keras, memuaskan satu sama lain.
__ADS_1