
Dinda menatap tanaman hias di taman, yang terlihat seperti orang-orang yang sedang menunduk. Pagi akhir pekan yang basah. Sejak tadi malam, hujan lebat mengguyur kota.
Halaman rumah Dinda dipenuhi air, yang lambat masuk ke aliran pembuangan.
Sudah berpakaian rapi, Dinda bersiap untuk bertemu dokter hari ini. Dinda duduk diteras depan rumahnya sambil memainkan rambutnya, menunggu jemputan taksi online orderannya. Sesekali dia memeriksa ponsel ditangannya.
"Aku sudah siap!" seru Laura dari depan pintu.
Dinda melihat Laura, yang juga sudah berpakaian rapi, berjalan kearahnya, kemudian duduk di salah satu kursi disitu.
"Jemputannya belum datang?" tanya Laura, yang menyodorkan segelas coklat panas kepada Dinda.
Dinda mengambil gelas dari tangan Laura, sambil menggelengkan kepalanya. Rencananya, Laura akan ikut menemani Dinda hari itu.
"Nggak tahu kenapa pesananku pasti saja datangnya terlambat. Coba tadi kamu aja yang order," kata Dinda, sambil menyesap sedikit minuman coklat digelasnya.
"Sama aja... Mungkin karena daerah ini jarang ada yang memesan taksi, jadi, jarang ada pengemudi yang standby didekat sini," kata Laura mengira-ngira.
Dinda mengangguk-anggukkan kepalanya. Penghuni kompleks perumahan Dinda termasuk dalam golongan atas, yang memiliki kendaraan lebih dari satu. Kemungkinan besar, memang bakalan jarang ada yang butuh taksi.
"Apa kamu pernah menghubungi Rudi?" celetuk Laura.
Dinda menatap Laura, kemudian berpaling kearah taman.
"Nggak. Dia juga nggak pernah menghubungiku," sahut Dinda.
"Selama ini?" Laura bertanya, sampai mengerutkan alisnya karena heran.
"Iya! Ah, nggak usah bahas itu! Bikin mood ku jadi nggak bagus aja," ujar Dinda.
Untung saja tak lama berselang, mobil jemputan mereka sudah datang. Mereka kemudian meminta, agar pengemudinya membawa mobilnya masuk sampai kehalaman, agar mereka tidak kehujanan.~
"Mau belanja atau jalan-jalan?" tanya Dinda bersemangat.
Gips dikakinya sudah dibuka. Dia sudah bisa berjalan tanpa tongkat, meski masih harus berhati-hati dan tidak boleh terburu-buru.
"Ok!" Seru Laura, tak kalah bersemangat.
Mereka kemudian memesan taksi, untuk pergi ke pusat perbelanjaan.
Sesampainya disana mereka mulai melihat-lihat barang, yang menarik perhatian mereka. Di lantai dasar pusat perbelanjaan itu, ada pameran mobil model terbaru dari salah satu merk mobil ternama.
Dinda melirik salah satu city car, yang tampak cukup menarik baginya. Tapi dia tidak langsung pergi kesitu. Dia dan Laura tetap berjalan-jalan sampai ke lantai atas. Setiap mereka di eskalator, Dinda masih saja menatap mobil itu.
__ADS_1
Laura menyadari kalau Dinda sering melihat kearah mobil-mobil yang dipamerkan disitu.
"Mau lihat-lihat itu?" kata Laura, sambil menunjuk dengan tangannya kearah stand mobil dipamerkan.
Dinda menggeleng.
"Ayo kita lihat-lihat dulu! Siapa tahu ada yang menarik," kata Laura, sambil menuntun Dinda untuk turun kelantai dasar.
Laura dengan Dinda, kemudian mulai berkeliling diantara banyaknya mobil yang ada disitu.
Dinda terhenti langkahnya di sebuah mobil kecil, yang dirasa cukup untuk dia pakai sehari-hari.
Setelah dia merasa yakin, akhirnya Dinda membeli satu city car berwarna putih. Begitu juga Laura, yang ikut memilih model itu, dengan warna yang sama juga.
"Kita memang butuh ini..." ujar Laura menenangkan diri, saat mengeluarkan salah satu kartu perbankan dari dompetnya.
Dalam hati Laura sempat khawatir, kalau-kalau Papanya memblokir kartunya, tapi dia lega karena kartu itu masih bisa dia pakai.
Lain lagi dengan Dinda, yang setiap bulannya memang keuntungan hasil bisnis almarhum papanya, masuk ke rekeningnya. Dia tidak perlu merasa khawatir seperti Laura.
Apalagi, Dinda yang memang terbiasa untuk berbelanja sesuai kebutuhannya. Otomatis, rekening tabungannya tidak pernah berkurang banyak.
Mereka berdua lanjut berjalan-jalan di pusat perbelanjaan itu, setelah selesai mengurus semua administrasi kendaraan yang baru mereka beli.
"Ayo, kita balik! aku sudah lelah berjalan!" Kata Dinda, mengajak Laura yang masih tampak bersemangat untuk belanja.
"Ok! Aku pesan taksi dulu yaa?!" ujar Laura, yang kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu membuka aplikasi taksi online.
"Done! Kita tinggal tunggu di luar," sambung Laura, sambil menggandeng tangan Dinda.
Baru saja mereka sampai di pintu keluar, ponsel Laura berbunyi.
Dinda menatap Laura, yang kelihatan panik saat melihat layar ponselnya.
"Siapa?" tanya Dinda.
"Ini nomor Papa... Kok, dia bisa tahu nomor baruku yaa?" ujar Laura heran.
"Terima saja...! Nggak mungkin, kamu nggak mau bicara dengan mereka, selamanya," ujar Dinda, sambil terus berjalan menjauh, agar Laura bisa bebas bicara dangan orang tuanya.
"Aku disuruh pulang... Kata Papa, dia sudah nggak marah lagi denganku..." kata Laura, dengan wajah ceria.
"Papa dapat notifikasi saat aku membayar mobil tadi. Katanya, dia nggak mau kalau aku nanti jadi semakin nggak jelas diluaran...
__ADS_1
Kata papa, kalau aku nggak pulang, nanti dia akan batalkan pembelian mobil baruku," sambung Laura, kini wajahnya berubah jadi cemberut.
"Jadi apa kamu langsung pulang?" tanya Dinda.
"Aku kerumahmu dulu. Aku ambil barang barangku, juga aku mau menunggu mobilku datang. 'Kan tadi minta diantar ke alamatmu semua?!" kata Laura, jadi bersemangat lagi saat membayangkan mobil barunya, yang cantik dan kembaran dengan mobil Dinda.
Dinda tersenyum, melihat tingkah Laura yang konyol.~
Setelah mereka berdua selesai makan siang, Dinda kemudian duduk dikursi di teras depan, sedangkan Laura sibuk mengemas barang-barang bawaannya, dari kamar tamu di rumah Dinda.
Laura anak semata wayang kesayangan papanya. Tapi, karena kesalahan yang dia perbuat dianggap cukup fatal, sampai papanya tega memukul dan mengurungnya dirumah orang tuanya.
"Kamu kerumah orang tuamu, atau kerumahmu?" tanya Dinda, pada Laura yang sudah ikut duduk dengannya diteras depan.
"Ke rumahku," sahut Laura.
"Jadi beneran, Papamu sudah nggak marah?" tanya Dinda lagi.
"Kayaknya begitu... Tadi, dia bilang aku bisa pulang kerumahku. Besok, aku juga harus mulai bekerja lagi dikantornya," Sahut Laura.
"Mana bisa Papaku marah terlalu lama denganku... Nanti yang teruskan bisnisnya, siapa lagi kalau bukan aku..." sambung Laura, sambil menaikkan turunkan alis nya berkali-kali, seperti sedang membanggakan diri.
Dinda hanya tertawa melihat Laura seperti itu.
Mereka berdua masih duduk disitu, saat ponsel Mita berbunyi.
Ternyata pihak dealer yang mengantar mobil mereka, yang menelpon.
Setelah mengkonfirmasi, tidak lama, dua buah mobil towing sudah parkir didepan pagar rumah Dinda.
Mobil milik Dinda langsung dimasukkan ke halaman terlebih dahulu, menyusul mobil milik Laura.
Setelah kedua truk itu pergi dari situ, Dinda dan Laura lalu memeriksa mobil masing masing.
"Berarti, papa tahu nomor baruku gara-gara aku beli ini tadi," celetuk Laura.
Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia merasa Laura terlalu lambat berpikir, sampai dia baru sadar akan hal itu sekarang.
Tapi, Dinda tidak mau bicara, tentang apa yang dia pikirkan pada Laura.~
Laura melambaikan tangannya, saat dia sudah mulai menjalankan mobilnya, keluar dari halaman rumah Dinda.
Kini tertinggal Dinda, yang masih mencoba untuk memakai mobilnya itu.
__ADS_1
Saat dia sudah menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba kakinya terasa lemas. Dinda merasa sangat ketakutan untuk menyetir lagi. Dia kemudian mematikan mesin mobilnya.
Dinda masih trauma.