
Sejak kecelakaan yang terjadi pada Dinda, entah mengapa Dinda seakan tidak terlalu perduli dengan keberadaan Rudi.
Begitu juga sebaliknya, Rudi seolah menjaga jarak dengan Dinda, meskipun dia hampir tiap hari berada di rumah sakit.
Laura memperhatikan gerak-gerik kedua temannya belakangan ini.
Ketika Dinda ingin berjalan-jalan ditaman rumah sakit, dia meminta Laura saja yang menemaninya.
"Kamu jangan marah yaa....! Aku cuma penasaran, apa ada yang tidak beres antara kamu dengan Rudi?" tanya Laura, sambil mendorong kursi roda Dinda, berjalan menjelajahi taman.
"Aku nggak tahu. Semestinya nggak ada apa-apa... Memang sih, Rudi seperti menjaga jarak denganku, jadi aku nggak bisa memaksanya untuk selalu didekatku seperti dulu," sahut Dinda.
"Apa mungkin karena dia masih merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa kamu?" tanya Laura.
"Aku kurang tahu... Dia juga tidak mau bicara, padahal dia sudah tahu kalau yang seperti ini yang aku benci darinya," ujar Dinda, yang mulai merasa kesal, mengingat tingkah Rudi yang selalu berdiam diri.
"Eh! Aku sudah beberapa hari ini tidak pernah melihat Billy. Apa kamu tahu kenapa dia tidak datang?" tanya Dinda, yang merasa heran karena Billy yang biasanya paling rajin mengganggunya, tapi sekarang dia tidak pernah muncul didepan Dinda.
"Kalau nggak salah... Rudi bilang, kalau Billy ke Australia. Aku juga nggak bertanya pada Rudi, kenapa Billy kesana," sahut Laura.
Laura lalu menghentikan langkahnya, kemudian duduk di salah satu kursi taman.
Dinda terdiam mendengar perkataan Laura. Billy memang selalu penuh dengan kejutan. Tapi kenapa dia tidak mau bilang padaku? Apa sebenarnya yang Billy pikirkan? pertanyaan demi pertanyaan, muncul dikepala Dinda.
"Alex orangnya aneh yaa?!" celetuk Laura.
Dinda lalu menatap Laura.
"Kenapa?" tanya Dinda penasaran.
"Dia sering muncul hilang begitu saja. Nggak pakai ngomong apa-apa, tahu-tahu dia sudah pergi, tiba-tiba nanti muncul lagi. Seperti ada yang mengganggu pikirannya," Ujar Laura, dengan wajah sedih.
"Kamu beneran tertarik dengan Alex?" tanya Dinda, sambil mengerutkan alisnya.
Laura menganggukkan kepalanya.
Dinda kemudian tersenyum.
"Alex memang begitu. Awalnya juga aku mengira dia orang yang aneh. Tapi, setelah kejadian kemarin, aku jadi tahu, kalau Alex memang suka memikirkan sendiri masalahnya, tanpa mau bercerita dengan orang lain," kata Dinda menjelaskan.
"Kalau dia bertingkah begitu, berarti memang ada yang lagi dia pikirkan," sambung Dinda.
__ADS_1
"Aku mau bertanya, tapi aku malu. Takutnya, dia mengira, kalau aku terlalu mau masuk campur urusannya," ujar Laura.
"Kamu bilang kamu nggak tertarik dengan Alex. Nah! Kamu bisa membantuku agar bisa dekat dengan Alex?" Tanya Laura. Dia menatap Dinda lekat-lekat, seakan sedang memelas agar Dinda mau membantunya.
Dinda menganggukkan kepalanya.
"Bisa aja... Tapi nanti... Kita cari tahu dulu dia lagi punya masalah apa. Kalau dia masih sibuk dengan masalahnya, nanti dia tidak akan memperdulikan apapun yang kita buat," ujar Dinda.
Laura tersenyum lebar. Dia sama sekali lupa dengan Eko yang sempat jadi tambatan cintanya selama ini.
Dinda cukup senang melihat Laura bisa berjalan maju, tanpa dipengaruhi masa lalu.
"Panjang umurnya!" celetuk Dinda.
"Hah? Apa?" tanya Laura yang bingung mendengar perkataan Dinda.
"Tuh! Orangnya baru aja diomongin, sudah muncul," ujar Dinda, sambil menunjuk dengan matanya.
Alex tampak berjalan menghampiri kedua gadis itu.
Laura senyum-senyum sendiri, saat melihat Alex yang sudah semakin dekat dengan mereka berdua.
"Kalian sudah lama berjemur disini?" tanya Alex.
"Baru saja...!" jawab Dinda.
"Lah, tuh! Laura kayaknya sudah kepanasan, pipinya sampai merah," ujar Alex, sambil memandangi Laura.
Dinda bingung dengan kata-kata Alex. Dia lalu melihat kearah Laura, lalu berusaha menahan tawanya. Itu sih bukan karena kepanasan, pikir Dinda.
Laura jadi malu, dia lalu tertunduk.
"Kamu dari mana, Lex?" tanya Dinda.
"Aku dari kantor polisi. Ada yang mau aku cari tahu," sahut Alex, yang kemudian ikut duduk dikursi taman, bersampingan dengan Laura.
"Apa?" tanya Dinda lagi.
"Nggak... Aku cuma penasaran dengan perkembangan kasus kamu kemarin," ujar alex.
"Mita belum mau bicara apa-apa... Dia masih mengunci mulutnya rapat-rapat," sambung Alex, sambil menatap Dinda. Dia khawatir omongannya akan membuat Dinda cemas.
__ADS_1
"Oh...! Hari itu waktu Polisi datang menanyaiku. Aku juga nggak tahu harus ngomong apa. Mungkin sekarang Mita juga masih shock," kata Dinda enteng.
"Kamu nggak merasa marah dengan Mita?" tanya Alex heran.
"Nggak! Kata Billy, Mita mungkin sedang depresi... Jadi, mungkin saja dia tidak sadar berbuat begitu," sahut Dinda lagi.
"Jadi kalian merasa kalau dia gila? Begitu?" Alex meninggikan suaranya.
"Ok, kalau dia memang gila. Tapi aku merasa dia ada sangkut paut dengan kasus yang menyeret aku waktu di Australia... Aku mau dia mengakui perbuatannya, agar aku bisa membersihkan namaku," sambung Alex, masih dengan suara tinggi.
Dinda mengerutkan alisnya. Dia tidak mengerti maksud Alex.
"Kenapa kamu bisa berpikiran begitu?" tanya Dinda.
"Anu... Soalnya aku membanding-bandingkan kasus itu, dengan kasus yang terjadi pada kamu," ujar Alex.
"Aku rasa dia membenci wanita yang mendekati Billy," sambung Alex
"Aku dekat dengan Billy bukan baru sekarang! Mita tahu itu! Nggak mungkin karena itu!" ujar Dinda mengelak tidak percaya.
"Kamu tahu nggak, bagaimana Billy bisa menahan Mita di vila sampai kami dengan polisi datang, tanpa dia curiga?" kata Alex.
Dinda tidak menjawab, malah menatap mata Alex lekat-lekat.
"Billy membiarkan Mita menguasai tubuhnya... Billy membuat Mita percaya kalau Billy menginginkan dia!" ujar Alex tanpa terkendali.
Dinda rasanya mau menangis. Berarti memang benar Mita jatuh cinta pada Billy. Dan dia menganggap Dinda sebagai penghalang?
Dinda merasa dirinya hina karena terlalu serakah dengan cinta dua orang laki-laki. Semestinya Dinda sudah menjauh dari Billy sejak lama. Dinda merasa sangat bersalah.
Gadis itu tertunduk. Dinda merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
Alex melihat Dinda jadi gusar karena omongannya. Seketika itu juga menyesal telah membicarakan hal itu pada Dinda. Dia tidak berniat menjatuhkan Billy, dia hanya ingin Dinda mengerti, kenapa dia bisa menduga kalau Mita yang merusak nama baiknya di luar negeri.
Alex dan Dinda tenggelam dalam dugaan pemikiran yang berbeda, tapi tak ada yang mau membicarakan hal itu.
Semua hanya terdiam, termasuk Laura yang sedari tadi mendengar percakapan Alex dengan Dinda. Laura tidak mau menanggapi apa-apa.
"Ayo, kita kembali ke kamar! Aku sudah mandi keringat!" ujar Laura, beralasan agar pikiran mereka bisa teralihkan, sambil mendorong kursi Roda Dinda.
Dinda hanya terdiam, sama seperti Alex yang mengikuti mereka, berjalan kembali ke ruangan Dinda.
__ADS_1