
Lima bulan berlalu, sejak kecelakaan terjadi pada Dovi.
"Din, Dinda!" suara Laura mengejutkan Dinda dari lamunannya.
"Eh, kenapa kamu disini? Bukannya tadi kamu bilang mau ke kostan Eko?" tanya Dinda sambil menyeruput es boba.
"Nggak jadi. Tadi aku ke perpus, tugas kemaren belum kelar!" kata Laura dengan wajah kecewa.
Laura mahasiswa fakultas hukum, sama seperti Dinda. Mereka bertemu saat hari pertama masuk kuliah, dan berteman sejak itu.
Laura tanpa aba aba langsung meminum es boba milik Dinda
"Hmmm... enak! Aku mau juga deh!" ujar Laura
Dinda hanya bengong melihat tingkah Laura. Dasar anak ini, pikirnya. Laura orang yang ceria hampir sama seperti Mita, mungkin itu juga yang membuat Dinda dengan mudahnya bisa akrab dengannya.
"Bang! Aku mau es boba nya satu!" teriak Laura kepada salah seorang pelayan yang sibuk melayani pengunjung cafe yang cukup ramai.
"Mau camilan?" tanya Laura kepada Dinda.
"Boleh," jawab Dinda asal.
"Bang! Sama pancake eskrim coklat nya dua yaa?!" kata Laura kepada pelayan yang sudah mendekat ke meja mereka.
Laura mengambil telepon genggamnya dan mulai mengetik sesuatu di layarnya.
"Eko mau kesini," kata Laura
"Kamu belum mau pulang 'kan, Din?" sambung Laura.
"Belum. Dirumah sepi, cuma ada mbok Inah, Papa ku keluar kota," kata Dinda.
Mama Dinda meninggal dua bulan yang lalu, sejak itu Papanya jadi lebih sibuk bekerja. Dinda mengerti perasaan papanya. Dia tahu kalau Papanya ingin mengalihkan rasa sedih dan rindunya pada Mama Dinda.
"Oh, okelah kalau gitu! Soalnya aku sebenarnya lagi nggak terlalu bersemangat ketemu Eko."
"Kenapa? Jangan bilang kalian bertengkar lagi," kata Dinda
"Nggak sih, cuma lagi males aja," ujar Laura. "Aku lagi datang bulan..." lanjut Laura blak-blakan, berbisik sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Perut ku sakit...!" wajah Laura muram.
"Hahaha... Perut sakit atau karena nggak bisa..." kata Dinda sambil tertawa kecil menggoda Laura.
__ADS_1
"Huusst!" Laura menutup mulutnya, dengan jari telunjuk. Mengisyaratkan agar Dinda berhenti bicara.
Dinda tertawa.
Es boba dan camilan mereka sudah tertata diatas meja. Kedua gadis itu mengobrol sambil menikmati pesanannya.
"Hai sayang!" Eko muncul tiba tiba di dekat meja.
Pemuda itu langsung mendekat dan mencium pipi Laura, tanpa menunggu jawaban darinya.
"Ayang, sama siapa tu?" tanya Laura setelah mengangkat wajahnya.
Ada dua orang pemuda lagi yang datang bersama dengan Eko.
"Oh... Itu teman ayang lah! ini Rudi dan ini Maman!" kata Eko seraya mengenalkan teman temannya.
"Boleh kami gabung disini?" tanya Eko sambil melihat sepintas wajah Dinda.
"Silahkan!" jawab Dinda santai.
Mereka lalu mengobrol bareng di cafe itu.
Disela sela pembicaraan mereka, sepasang mata terus saja memperhatikan Dinda. Pemuda itu sering menatap Dinda, lama.
Mereka menikmati pertemuan mereka sampai hari hampir gelap.
"Aku balik dulu!" kata Dinda seraya berdiri memegang tasnya.
"Oh, kamu mau pulang... Mau diantarin?" kata Eko menawarkan.
"Nggak usah! Tadi aku bawa motor sendiri," jawab Dinda sambil berlalu, dan melambaikan tangan, meninggalkan Laura dan mereka yang disitu.
Sesampainya dirumah, mbok Inah membukakan pintu.
"Non, mau sesuatu?" kata mbok Inah
"Nggak, mbok. Aku mau tidur. Nanti kalau aku lapar, bisa aja aku ambil sendiri didapur," kata Dinda.
Gadis itu berjalan masuk kekamarnya.
Dinda merebahkan tubuhnya di ranjang. Tas nya cuma dilepaskan begitu saja ke lantai.
Gadis itu teringat dengan Billy.
__ADS_1
Melihat kemesraan Laura dengan Eko membuatnya merasa sangat rindu dengan Billy. Air matanya hampir menetes.
Dinda membuka layar ponselnya. Dia melihat pesan singkat Billy yang masuk beberapa bulan lalu. Dinda tidak pernah membalasnya. Ada rasa penyesalan dihatinya.
Tapi dia menguatkan dirinya agar bisa melupakan Billy.
Jarak antar negara dirasanya cukup jauh memisahkan. Dia tidak ingin berhubungan jarak jauh seperti itu. Dia juga tidak lagi berniat untuk pergi ke Australia, sejak perpisahan mereka kala itu.
Cinta mereka berdua tidak sampai sebesar itu, sampai mau berjuang agar tetap bersama. Seperti sekarang hanya kangen biasa aja, pikirnya.
Dinda membuka akun sosial media dan mulai membaca tulisan tulisan disitu sampai akhirnya tertidur.
Sekitar jam sepuluh malam Dinda terbangun. Perutnya keroncongan. Dinda bergegas kedapur.
Dilihatnya ikan panggang dan sup sayur yang sudah dimasak mbok Inah, ada dimeja makan tertutup tudung saji.
Setelah selesai makan dia mencuci piringnya Mbok Inah kayaknya sudah tidur, pikir gadis itu tidak mau merepotkan asisten rumah tangganya yang sudah berumur itu.
Dinda melangkah kekamarnya lagi untuk mengambil handphonenya yang tertinggal diatas kasur, lalu kembali keruang tv dan bersantai disitu.
Dinda melihat layar handphonenya
"Papa telpon kok gak diangkat? Dinda sudah tidur? Kalau ada apa-apa beri tahu papa. Papa sayang Dinda" isi pesan dari Papanya sudah masuk sejak dua jam yang lalu.
"Iya pa, tadi Dinda ketiduran" Dinda mengetik pesan balasan. Dia melirik ke jam dinding sudah jam sebelas, paling sekarang Papanya lagi yang sudah tidur. Dia membatalkan pesan yang hampir terkirim dan menghapusnya.
Matanya kemudian tertuju pada salah satu pesan dengan nomor yang tidak bernama.
"Besok, mau hang out bareng ? Maman"
Dinda terkejut, apa ini Maman teman Eko yang tadi ?
"Darimana dapat nomorku?" Dinda membalas pesan itu.
Layar handphone menyala.
"Maaf, aku minta dengan Eko tadi. jangan marah ya" isi balasan pesan Maman.
"Oh, liat aja besok kalau aku gak sibuk dengan tugas" Balas Dinda.
Gadis itu tidak terlalu perduli, tapi dia tahu memang harus punya lebih banyak teman, biar tidak terlalu kesepian sejak Billy, Mita dan Dovi semua berangkat ke Australia.
"Okey" balas Maman.
__ADS_1
Dinda tidak membalas pesan itu lagi, melainkan asik membaca beranda akun media sosialnya.