OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 21


__ADS_3

Entah bagaimana, selanjutnya Billy dan Dinda sudah berada dalam sebuah kamar hotel.


Mereka melampiaskan rasa rindu yang sekian lama tertahan. Nafsu yang memuncak, mereka berhubungan intim sama seperti masa-masa dulu.


Dinda benar-benar melupakan Rudi saat itu.


Gadis itu menikmati setiap perlakuan Billy ditubuhnya.


Gairah mereka menggebu gebu. ******* nafas dan erangan membahana di kamar itu. Billy memuaskan ber*hinya dengan gadis itu.


Dengan buas, menjalankan aksi nya di tubuh Dinda.


Berkali-kali mereka mencapai puncak kenikmatan.


Tidak ada yang berniat untuk berhenti. Keduanya ingin terus menikmati rasa itu, sampai mereka berdua benar-benar kehabisan tenaga.


Disaat Dinda sedang mandi, barulah dia teringat dengan Rudi. Gadis itu menyesali perbuatannya. Dinda menangis sesenggukkan, bersiramkan air dari shower kamar mandi.


Billy mendengar isakkan Dinda. Lelaki itu menyusul masuk kekamar mandi. Billy memeluk tubuh Dinda. Dia berusaha sebisanya untuk menenangkan gadis itu.


Setelah merapikan diri, mereka keluar dari kamar hotel itu.


Billy mengantarkan Dinda kembali ke kantornya.


Setelah melihat Dinda berlalu dengan mobilnya, barulah Billy juga ikut pergi dari situ.


Sesampainya dirumah, Laura sudah menunggu di teras depan. Dinda gelagapan, dia lupa akan janjinya dengan Laura.


"Sudah lama?" tanya Dinda


"Barusan saja," kata Laura "Langsung jalan kah?"


"Bentar ya, bentar aja aku ganti baju!"


Dinda berlari kedalam rumah. Tak lama dia keluar lagi mengenakkan kaus dan celana pendek, serta sepatu sport casual yang terlihat cocok dengan pakaiannya.


"Ayok!" kata Dinda.


Dengan menumpang dimobil Laura, mereka berdua pergi ke pusat perbelanjaan.


"Aku mau belanja dulu ya?! Jalan jalannya belakangan. Aku mau beli baju buat besok. Aku disuruh ikut papa kerja keluar kota," kata Laura.


"Nggak masalah. Aku juga mau belanja kok!"


Mereka berdua selanjutnya sudah sibuk masuk keluar toko.


Peikiran Dinda teralihkan dengan kegiatan belanja mereka.


"Sudah semua?" tanya Dinda.

__ADS_1


Kantong belanjaan sudah penuh ditangan kedua gadis itu.


"Kayaknya sudah," jawab Laura.


"Kita antar ke mobil dulu nih, baru kita nyantai," kata Laura bersemangat.


Setelah menyimpan semua belanjaannya di bagasi mobil, mereka kemudian duduk disalah satu stand yang berjualan makanan kecil.


"Bagaimana kabarmu dengan Rudi? " Laura membuka percakapan.


Dinda tersentak. Dia merasa bersalah dengan lelaki itu.


"Yaa gini-gini aja." jawab Dinda


"Loh, belum ngatur tanggalkah?"


Dinda memasukkan potongan kecil kue ke mulutnya, kemudian menggeleng.


"Belum!" kata Dinda


"Aku dan Eko sudah putuskan tadi malam. Acara nikahannya nanti akhir tahun. Tadinya kamu mau aku beritahu lewat telpon aja. Karena biasanya, kalau ada Rudi kan, kamu jarang bisa kongkow begini denganku. Pas aja kamu hari ini ngajak jalan. Jadi bisa aku kasih tau langsung," kata Laura


"Aku mau pas tanggal tiga puluh satu desember," sambungnya


"Tinggal dua bulan lagi dong?!" ujar Dinda setengah berteriak.


"Iya. Nanti bulan depan, kamu sudah harus mulai bantuin aku, ya?!" kata Laura enteng.


Akhir tahun itu banyak hari libur karena bertepatan dengan perayaan hari besar beberapa agama. Laura merasa itu waktu yang tepat, karena mereka semua tidak akan terlalu sibuk bekerja.


Laura dan Dinda kemudian asyik mengobrol disitu.


Saat sedang mengobrol, Dinda beberapa kali berpikir untuk membicarakan kejadian dengan Billy tadi kepada Laura, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia merasa belum siap dengan apa yang mungkin akan dikatakan Laura tentangnya.


Biar jadi rahasianya sendiri dulu, pikir Dinda.


Hari sudah gelap, Laura mengajak Dinda pulang.


"Sorry gak bisa lama-lama. Aku harus bersiap siap untuk besok," Ujar Laura


"Nggak apa-apa. Nanti lain kali lagi," kata Dinda yang sudah mulai berjalan kerarah parkiran mobil Laura.


Kedua gadis itu berpisah dengan lambaian tangan keduanya.


"Hati-hati!"


Teriak Dinda dari pintu pagar, saat mobil Laura berjalan pergi. Laura membunyikan klakson, lalu menghilang di kejauhan.


Dinda menutup pintu pagar. Gadis itu duduk di ayunan yang berada di teras rumahnya. Dinda sedang ingin bersantai di situ. Dia berayun-ayun pelan sambil melihat beranda akun sosial media, di layar ponselnya.

__ADS_1


Sesekali dia melihat kearah jalan untuk mengistirahatkan mata dari terangnya cahaya layar telepon genggam itu.


Beberapa kali dia melihat keluar, barulah dia merasa sadar kalau ada yang janggal.


Ada mobil yang terparkir di jalan tidak jauh dari pagar rumahnya. Sepertinya bukan mobil yang biasa dia lihat didaerah permukiman itu. Tapi dia tidak terlalu menghiraukannya.


Dinda melihat mobil itu lagi. Dia memperhatikan dengan seksama.


Astaga.


Itu mobil yang dikendarai Billy. Itu mobil yang dia tumpangi tadi dengan lelaki itu.


Dia berjalan mendekat ke pagar. Dan benar saja, pintu mobil terbuka.


Disinari lampu jalan yang temaram, Billy melangkah keluar. Lelaki itu berjalan mendekati Dinda yang terpaku disitu.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Dinda.


"Aku boleh masuk? aku cuma mau mengobrol denganmu," kata lelaki itu.


Dinda terdiam sejenak, kemudian membukakan pintu pagar.


Dinda duduk duluan di kursi teras.


"Kita disini aja!" kata Dinda


Billy ikut duduk di samping Dinda.


"Sejak aku kembali, sudah beberapa kali aku kesini. Apa kamu nggak tau?" tanya Billy.


Dinda hanya menggeleng.


"Aku sering melihatmu diantar seorang laki laki. Itu tunanganmu?" kembali Billy bertanya


Dinda mengangguk.


Billy merasa kurang puas dengan sikap Dinda.


"Kenapa kamu begitu?"


"Hah, kenapa?" tanya Dinda seperti orang bodoh


"Kenapa kamu nggak mau bicara?" Billy mulai kesal.


Dinda menyadari kekesalan Billy.


"Ooh, nggak apa-apa, aku tadi cuma lagi mikir. Sejak kapan kamu sering kesini?" kata Dinda


"Aku haus, bisa minta minum?" kata Billy.

__ADS_1


Dinda menatap Billy, heran. Tapi gadis itu tetap pergi meminta tolong mbok Inah, untuk membuatkan minum.


Dua cangkir kopi latte dihidangkan mbok Inah di meja teras, lengkap dengan beberapa butir biskuit di piring.


__ADS_2