
Rudi berbincang-bincang dengan Laura. Alex hanya terdiam bersandar di kursi. Sedangkan Billy berjalan mondar mandir.
Billy memikirkan omongan Laura tadi. Apa mungkin Mita yang jadi dalang semua kejadian ini? pikir Billy.
Tapi kenapa? Bukannya Mita bersahabat dengan Dinda sejak lama? Billy kebingungan.
Malam semakin larut, tapi belum ada tanda-tanda Dinda keluar dari ruang operasi.
Semua kelelahan menunggu. Terlebih Alex yang tadi sempat mengeluarkan hampir semua tenaganya, saat berusaha mencari bantuan. Kepalanya beberapa kali terhantuk. Dia mulai merasa mengantuk.
Pintu ruang operasi kemudian terbuka. Dinda terbaring diatas ranjang, didorong beberapa orang perawat. Dinda dibawa keruang isolasi.
"Kalian tidak boleh masuk!" seru salah satu perawat, saat mereka semua mengikuti, dan mencoba masuk keruangan itu.
Langkah mereka terhenti di depan pintu.
Mereka duduk diluar, sambil sesekali bergantian mengintip Dinda dari kaca kecil dipintu.
Dinda masih tidak sadarkan diri. Banyak sekali peralatan medis menempel ditubuhnya.
Alex meneteskan air mata saat dia melihat Dinda seperti itu. Dia berharap masih ada kesempatan untuknya lebih mengenal gadis itu.
Laura bingung melihat lelaki yang tidak dikenalnya itu, menangis didepan pintu sambil menatap kedalam.
"Siapa itu?" tanya Dinda pada Rudi sambil berbisik.
"Itu, Alex! Dia yang menemukan Dinda," sahut Rudi.
Billy yang masih sibuk memikirkan semua kemungkinan campur tangan Mita, tidak terlalu menghiraukan keadaan sekitarnya. Dia benar-benar khawatir dengan Dinda, kalau memang Mita lah pelakunya.
"Aku curiga, Mita punya andil dari semua kejadian ini..." celetuk Billy.
Alex, Rudi dan Mita menatap Billy saat mendengar perkataannya.
"Mita? Mita temanmu waktu di Australia itu?" tanya Alex, dengan tatapan bingung.
"Aku dengan Dinda sudah lama berteman dengan Mita. Sebelum aku, Mita dan tunangannya ke Australia," kata Billy, menjelaskan pada Alex
"Kalau mendengar perkataan Laura tadi, itu memang Mita yang paling besar kemungkinan jadi pelakunya. Tapi apa dia tahu kontak papa mu?" tanya Billy, sambil menatap Laura.
"Kayaknya enggak deh! Untuk apa aku beritahu dia kontak papa ku?" ujar Laura. Dia lalu mencoba mengingat, apa ada kemungkinan Mita bisa tahu kontak Papanya dan Eko.
Laura tersentak, dia ingat sesuatu.
"Mita pernah memakai hp ku untuk melihat foto-foto gaun pengantin yang ada disitu..." ujar Laura
__ADS_1
"Mungkin saja dia mengambil kontak papa, saat aku membiarkannya mengutak atik hp ku...
Tapi, kenapa dia mau mencelakai aku? Apalagi Dinda yang sudah lama jadi sahabatnya." Laura tidak mengerti, kira-kira apa yang bisa jadi alasan bagi Mita, untuk berbuat begitu.
Billy mengangguk-angguk. Dia berpikir keras, untuk menemukan jawabannya. Dia lalu teringat waktu di vila, saat Mita merayunya.
Apa Mita jatuh cinta pada Billy? Ah, nggak mungkin, bisa saja hanya karena dia saat itu lagi mabuk. Tapi...
"Kemungkinan besar memang Mita pelakunya. Kamu jangan mengontak Mita. Jangan sampai dia tahu kalau Dinda masih hidup!" ujar Billy tergesa-gesa, kepada Laura.
Laura mengangguk.
"Kalau benar seperti yang aku pikirkan, kalian bantu aku memikirkan cara untuk memancing Mita agar mengaku," ujar Billy.
"Kenapa kamu berpikiran kalau Mita pelaku utamanya?" tanya Rudi.
Billy menatap Rudi.
"Aku rasa dia jatuh cinta denganku..." ujar Billy.
Mendengar perkataan Billy, semua yang lain menatap Billy, seolah menunggu penjelasan.
"Kemarin dia ke vila. Dia sempat merayuku waktu aku kesitu. Tapi waktu itu aku pikir Mita hanya karena mabuk makanya jadi begitu...
Setelah aku coba kait-kaitkan dengan masalah ini, aku jadi merasa kalau Mita sudah merencanakan ini matang-matang," kata Billy.
Tapi ini cuma dugaanku, kalau Dinda sudah sadar mungkin kita bisa dapat informasi tambahan," kata Billy panjang lebar.
Mereka semua kembali terdiam.
Masing-masing mencerna omongan Billy.
Tapi dalam hati mereka semua merasa kalau dugaan Billy itu benar, kalau dikait-kaitkan dengan beberapa kejadian belakangan.
Tiga orang dokter dan dua orang perawat, berjalan mendekat keruangan Dinda, lalu masuk keruangan itu.
Alex, Rudi, Billy dan Laura mengintip dari kaca pintu.
Para Dokter sedang memeriksa Dinda, sedangkan dua perawat itu, sibuk menulis sesuatu di papan berkas pasien.
Tidak terlalu lama, mereka keluar kembali.
"Kondisi pasien sudah stabil. Kalau kondisinya semakin membaik, besok pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa," ujar Salah satu dokter.
"Pertolongan pertama yang pasien dapatkan cukup membantu, sehingga pasien masih bisa terselamatkan. Tolong, jangan ada yang masuk dulu! Biar pasiennya bisa istirahat!"
__ADS_1
Para dokter dan perawat, lalu pergi meninggalkan gerombolan anak muda itu disitu.
Billy refleks langsung memeluk Alex, begitu juga Rudi. Mereka berdua merasa sangat berterimakasih pada Alex, yang menolong Dinda.
Alex tidak terlalu memperdulikan tingkah kedua teman lelakinya itu, dia masih saja melihat kearah Dinda. Dalam hati dia sudah merasa cukup tenang, saat mendengar kalau kondisi Dinda sudah mulai stabil.
"Rudi kamu bawa Laura istirahat dirumah Dinda. Kita bergantian nanti! Sekarang aku yang akan tetap disini menjaga Dinda!" ujar Billy, yang kemudian duduk dikursi.
Rudi yang awalnya mau tetap menunggu disitu, jadi tidak tega melihat Laura. Dia lalu mengajak Laura pergi dari situ.
"Kamu bawa mobil tadi?" tanya Rudi, saat mereka mulai berjalan
"Nggak. Aku tadi pakai taksi online," sahut Laura.
"Kalau begitu, kita pakai mobilku!" ujar Rudi.
Mereka kemudian berlalu pergi dari rumah sakit.
"Lex...! Kamu nggak pulang dulu?" tanya Billy.
Alex melihat pakaiannya. Dia sedari tadi tidak sadar betapa kotornya dia saat itu.
"Aku pulang mandi dulu! Nanti aku kembali lagi!" ujar Alex lalu berjalan pergi.
Tiba-tiba Alex berbalik mendekati Billy.
"Ada yang kamu mau aku bawakan nanti?" Alex bertanya pada Billy.
"Bawakan makan, air mineral, sama kopi," sahut Billy, yang baru ingat dia tidak bisa keluar belanja, karena tidak ada yang menjaga Dinda nanti.
Alex mengangguk, kemudian pergi meninggalkan Billy disitu.
Billy lalu berdiri didepan pintu. Dia melihat Dinda dari kaca. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau memang benar, Mita sampai ingin membunuh Dinda.
Apapun alasannya, Billy tidak akan membiarkan ada sesuatu terjadi, yang bisa membahayakan Dinda.
Billy kemudian duduk kembali di kursi. Dia menyandarkan kepalanya di dinding. Setelah merasa tenang, saat mendengar kondisi Dinda yang sudah stabil, baru terasa capek badannya yang kurang istirahat.
Terkantuk-kantuk dikursi, Billy tetap berusaha agar tetap tersadar, sambil menunggu Alex kembali.
Billy hampir tertidur saat Alex datang.
Alex menyodorkan bungkusan belanjaan kepada Billy.
"Aku cuma ketemu ini. Aku beli dua. Aku juga lapar!" ujar Alex yang kemudian membuka sebungkus makanan, lalu makan disitu.
__ADS_1
Billy juga begitu.
Billy memakan makanan yang dibeli Alex.