OPEN MARRIAGE

OPEN MARRIAGE
Part 95


__ADS_3

Setibanya mereka dirumah, Billy langsung masuk ke kamar lalu berbaring diranjang. Dinda ikut berbaring disamping Billy.


Dinda menatap wajah lelaki itu, yang tertidur pulas sambil memeluknya. Usapan tangan Dinda diwajahnya, tidak mengganggu Billy. Wajah mereka berdua berhadap-hadapan dekat sekali.


Rasa sayang Dinda, mengalir lewat sentuhan tangannya diwajah Billy. Rasa kantuk Dinda menghilang, saat memandangi wajah Billy seperti itu.


Billy tampak sangat tenang. Jauh sekali berbeda, dibandingkan pertama mereka bertemu, setelah lama berpisah dulu.


Dinda membayangkan, bagaimana Billy bisa bertahan selama itu, untuk kembali bersamanya.


Dinda mengingat, waktu Billy datang bersama seorang wanita yang jadi istrinya. Dia ingat rasa sakit hatinya, meski dia saat itu juga mencintai Rudi.


Bagaimana dengan Billy yang melihatnya saat bersama Rudi? Pasti lebih sakit lagi, kalau Billy masih mencintai Dinda, tanpa ada yang bisa menggantikannya. Dinda mengecup pelan ujung hidung Billy yang mancung.


Tidak lama lagi, Dinda akan berkomitmen dalam pernikahan dengan Billy. Masih ada rasa tidak percaya dalam hati Dinda, kalau dia akan bersama Billy selama sisa hidup mereka.


Dinda merasakan nafas Billy yang berhembus dipipinya, seakan mengelus lembut kulit wajahnya.


Dinda memejamkan mata. Perasaan nyaman pelukkan Billy membuatnya ikut tertidur.~


Billy masih memeluk dan menatap Dinda, saat Dinda terbangun dan membuka matanya.


Senyum manis Billy mengembang diwajah lelaki itu, bagaikan pemandangan yang begitu indah bagi Dinda.


"Sudah lama kamu bangun?" tanya Dinda, sambil mendekatkan dahinya sampai menempel di pipi Billy.


Dinda kembali memejamkan matanya. Dia berpikir kalau yang dilihatnya itu hanya mimpi, dia masih ingin lanjut bermimpi.


"Baru aja...!" ujar Billy pelan. Semakin hari Billy merasa lebih tenang. Dia semakin yakin, kalau Dinda akan selalu bersamanya.


"Ini bukan mimpi kan?" celetuk Billy.


Dinda menggeser kepalanya sedikit, lalu menatap mata Billy.


"Kenapa?" tanya Dinda heran.


"Nggak. Hanya saja, kayaknya terlalu indah, dari hari ke hari," sahut Billy.


Dinda mengangkat kedua alisnya. "Maksudnya?"


"Sejak kembali dari Australia, aku bisa bertemu kamu. Sekarang, aku malah bisa bersama kamu. Nanti, kamu akan jadi istriku... Ini bukan cuma mimpi kan?" Billy menatap Dinda lekat-lekat.


Dinda mencium bibir Billy.


"Gimana? Ada rasanya mimpi atau bukan?" tanya Dinda.


Billy mencium bibir Dinda. Billy sangat bersyukur pada penciptanya, yang memberikan dia kesempatan, bersama dengan orang yang dia cintai.


Begitu juga Dinda, yang merasakan hal yang sama. Dia bisa merasakan curahan kasih sayang Billy padanya.


Dinda memejamkan mata, saat Billy mencium bibirnya. Satu tangannya memegang pipi Billy.


Mereka berdua, tidak ada yang mau beranjak dari situ.


Ponsel Dinda bergetar berulang-ulang. Tapi Dinda enggan menyambutnya, sampai benda itu terdiam dengan sendirinya.


Tidak lama ponsel Dinda kembali bergetar.


Dinda melepas pelukkannya dari Billy, lalu berbalik mengambil ponsel, yang masih tersimpan dalam tas diatas meja.


"Halo!" ujar Dinda, tanpa memperhatikan siapa yang menghubunginya, langsung menyambut panggilan itu, dan menempelkan ponsel ke telinganya.

__ADS_1


Untuk beberapa lama Dinda menunggu, tidak ada jawaban dari seberang.


"Halo?" Dinda mulai merasa aneh.


Masih tidak ada jawaban yang bisa dia dengar, hanya seperti hembusan nafas yang terdengar berat.


"Siapa?" bisik Billy.


Dinda menggelengkan kepalanya, menandakan dia belum tahu. Dinda kemudian melihat layar ponselnya.


Rudi.


Dinda menunjukkan layar ponselnya pada Billy.


Billy melihatnya, tapi dia tidak tahu mau berbuat apa. Dia mengangkat kedua bahu, seakan memberi tanda, kalau itu terserah Dinda saja.


"Halo! Rudi! Ada apa?" ujar Dinda lagi.


Tetap saja Rudi tidak mau bicara. Suara hembusan nafasnya makin berat terdengar.


Beberapa menit Dinda menunggu, sampai kesabarannya mulai menghilang.


"Kalau kamu tidak mau bicara, aku akan memutus panggilan ini!" kata Dinda menekan Rudi.


Rudi tetap terdiam.


"Yaa, sudah!" ujar Dinda, hampir saja mengakhiri panggilan itu, sebelum Rudi akhirnya berkata


"Tunggu!"


Dinda kemudian memasang mode loudspeaker, di ponselnya.


"Apa aku bisa bertemu denganmu sebentar?" tanya Rudi, dengan suara bergetar.


"Bicara saja disini, kalau ada apa-apa!" sahut Dinda.


"Aku mau bertemu langsung! Kamu bisa bawa Billy bersamamu, kalau kamu khawatir." Rudi bicara dengan suara memelas.


Belum sempat Dinda menjawab, Billy sudah mengangguk setuju. Dinda menggelengkan kepalanya, tidak mau.


"Nggak apa-apa..." bisik Billy.


Dinda terdiam sebentar.


"Kamu mau bertemu dimana?" tanya Dinda.


"Dipantai! Aku akan menunggu disana sekarang!" sahut Rudi.


Dinda menatap Billy lagi, seolah merasa sudah melakukan kesalahan.


Billy mengangguk pelan.


"Baiklah! Sebentar kami kesana!" jawab Dinda, lalu memutus panggilan itu.


Suasana dikamar Dinda jadi hening seketika.


"Kenapa kamu mau aku menerima permintaannya? Aku nggak mau!" celetuk Dinda.


"Nggak masalah. Kalian memang harus bicara. Kamu dengan dia kemarin hanya diam-diaman kan?" ujar Billy.


"Kalian harus selesaikan baik-baik, jadi, tidak akan jadi masalah di kemudian hari," sambung Billy.

__ADS_1


Dalam hati, Billy sebenarnya tidak setuju, kalau Dinda harus bertemu Rudi lagi, tapi dia tahu kalau itu yang terbaik.


Hubungan Dinda dengan Rudi bukan sekedar pacaran, mereka sempat bertunangan, sampai Billy akhirnya kembali dan mengganggu hubungan mereka.


Billy khawatir, kalau Rudi membalas dengan bertingkah sama dengan dia waktu itu.


Dari pada nanti Rudi masih akan jadi pengganggu, lebih baik kalau mereka bisa mengakhiri perasaan mereka, dengan bicara baik-baik sekarang.


Dinda rasanya malas untuk berdiri dari ranjang. Dia tidak berminat untuk bertemu Rudi.


Dinda khawatir kalau dia tidak sanggup melepas Rudi, kalau sampai Rudi bicara, atau melakukan sesuatu yang bisa mengingatkan perasaannya pada Rudi, saat Billy belum kembali kehidupnya.


Sudah lebih baik kalau mereka tidak bicara saja, jadi tidak ada yang perlu mengungkit, atau menyenggol masalah hati, yang bisa menyakiti satu sama lain.


Tapi, Billy seolah mau pembuktian, kalau Dinda memang sudah mengakhiri perasaannya pada Rudi.


Billy berdiri dan merapikan pakaiannya.


Dinda hanya memandanginya dari atas tempat tidur.


"Ayo, jangan hanya melihatku begitu!" ujar Billy, sambil menyodorkan tangannya pada Dinda.


Dinda menyambut tangan Billy, yang kemudian membantunya berdiri.


Billy memeluk Dinda.


"Kamu mau ganti baju dulu?" ujar Billy.


"Nggak usah. Kita sebentar saja kan?"


Billy mengangguk. Sebelum mereka pergi, Billy mencium bibir Dinda dengan lembut, lalu memeluknya dengan erat.~


Ketika mereka tiba dipantai, pengunjung dipantai belum terlalu padat. Dengan mudah mereka bisa menemukan Rudi, yang sudah menunggu disana.


Rudi tampak sangat sedih, saat melihat Billy yang merangkul pinggang Dinda, sambil berjalan kearahnya. Semestinya dia yang merangkul Dinda seperti itu. Perasaan marah dan kecewa berkecamuk didadanya.


Dengan menahan rasa sesak didadanya, Rudi mempersilahkan Dinda dan Billy, untuk duduk bersama diatas tikar sewaan, yang dia pakai mengalas diatas pasir.


Rudi mengumpulkan keberaniannya untuk bicara.


"Kamu mau menikahi Billy, apa kamu bahagia dengannya, atau cuma karena kamu menyalahkan aku, karena kecelakaan yang terjadi denganmu?" tanya Rudi, setelah beberapa kali menarik nafas yang terasa berat.


"Aku nggak menyalahkan kamu karena kecelakaan itu!" ujar Dinda.


"Kamu saja yang merasa begitu," sambung Dinda.


"Sekarang kamu mau hubungan kita berakhir begini?" tanya Rudi lagi.


"Iya...!" sahut Dinda.


"Kenapa tiba-tiba kamu mau menikah? Kenapa saat aku memintamu untuk cepat menikah, kamu banyak beralasan? Apa selama ini kamu hanya mempermainkan perasaanku?" tanya Rudi bertubi-tubi.


"Ada alasannya, tapi bukan karena aku cuma mempermainkan perasaanmu saja," sahut Dinda.


"Selama kamu bersamaku perasaanmu sungguhan?" tanya Rudi lagi


"Iya!" jawab Dinda jujur.


"Terus apa alasannya? Aku tidak habis pikir... Selama ini, kamu bilang kamu mencintaiku. Kamu nggak menyalahkan aku. Lalu apa alasannya? Kenapa kamu mau hubungan kita berakhir? Kenapa dengan Billy kamu mau cepat menikah tanpa menunda-nunda?" suara Rudi, meninggi terdengar frustrasi. Dia tidak perduli meski Billy ada disitu.


Dinda terdiam.

__ADS_1


"Apa alasannya?" suara Rudi meninggi, menekan Dinda.


"Aku hamil!" seru Dinda, tidak bisa menahannya lagi.


__ADS_2