
Dinda hanya sendirian didalam kabin. Selama dia sendiri disitu dia bisa berpikir dengan tenang. Dia mengingat-ingat kejadian waktu kecelakaan kemarin.
Karena sepeda motor yang tergeletak dijalan sampai dia harus membanting setir mobilnya. Dinda ingat dia menabrak pohon, tapi sepertinya masih dipinggir jalan.
Dinda berjalan pelan-pelan keluar kabin. Saat dia sudah diluar, dia lalu melihat kearah yang ditunjuk Alex tadi malam.
Tebing yang tinggi menjulang, tidak terlihat apa-apa selain pohon-pohon besar. Dia lalu melihat ke sekeliling. Dinda berjalan di jalan setapak yang dia lihat disitu.
Belum beberapa lama berjalan Dinda bisa melihat curamnya jalan turun ke dasar lembah. Dia melihat kesana kemari, disitu dia juga tidak bisa melihat apa-apa selain pepohonan yang rindang.
Dimda berbalik, berjalan pelan kembali ke kabin.
Saat dia sudah duduk lagi di dalam kabin, Dinda berpikir keras bagaimana bisa mobilnya jatuh kedalam sana. Dia juga terpikir, bagaimana bisa ada sepeda motor tergeletak ditengah jalan.
Apa ada kecelakaan lain? pikir Dinda.
Dia berusaha keras mengingat apa saja yang dia lihat. Tapi dia tidak ingat melihat seseorang yang ada didekat motor itu. Dinda merasa kepalanya sakit karena terlalu memaksa berpikir.
Dinda membuka pintu. Dia melihat keluar, belum ada tanda-tanda Alex kembali. Dia mulai merasa bosan. Dia kemudian pergi ke lemari tua yang ada disitu.
Saat Dinda membuka lemari itu, terlihat ada cukup banyak buku tersusun rapi didalam situ.
Setelah memilih salah satu buku yang dianggapnya menarik, Dinda pergi berbaring di matras yang masih tergeletak didekat perapian. Dia membaca buku disitu sambil menunggu Alex kembali.
Satu buku sudah selesai dia baca. Dia berdiri kembali kepintu, membukanya lalu melihat keluar, Alex masih belum kembali. Dalam hatinya, dia cukup takut saat sendirian ditempat yang asing seperti itu.
Dia menukar buku ditangannya dengan buku yang lain, dari lemari. Kemudian berbaring lagi sambil membaca buku yang dipegangnya.
Pintu kabin terbuka, suara mendecit dari engsel pintu mengejutkan Dinda. Dia mengangkat kepalanya.
Alex sudah kembali, kaus lengan panjang yang dia pakai tampak basah dengan keringat. Alex hanya melihat Dinda sambil tetap berjalan ke kamar. Lalu keluar sambil membawa selembar handuk.
"Belum ketemu. Aku mandi dulu!" ujar Alex, sambil berlalu keluar lagi.
Dinda lanjut membaca bukunya.
Beberapa waktu kemudian, pintu kembali terbuka.
Dinda kembali mengangkat kepalanya agar bisa melihat kearah pintu. Dinda menatap Alex yang hanya berlilitkan handuk dibagian bawah tubuhnya, sudah tampak segar setelah mandi.
Alex melirik kearah Dinda.
Dinda dengan cepat merebahkan lagi kepalanya, saat menyadari Alex melihatnya, sedang menatap tubuh Alex yang terbuka.
Alex tersenyum sambil terus berjalan masuk kekamar untuk berpakaian. Tak lama dia sudah keluar lagi, lalu berjalan kearah Dinda yang masih berbaring.
"Bahan bakar di dalam genset, sepertinya nggak cukup untuk malam ini," ujar Alex sambil menggulung lengan kaus panjang yang dia pakai.
"Tadi malam aku lupa matikan mesinnya. Jadi malam ini paling cuma bisa menyala sebentar," sambung Alex.
__ADS_1
Alex lalu duduk bersila diatas matras di ujung kaki Dinda. Dia memperhatikan kaki Dinda lagi.
"Aku masih belum tahu bagaimana kita bisa kembali," kata Alex, yang kemudian memegang kaki Dinda yang terluka.
"Kakimu sepertinya terluka cukup parah karena terjepit," kata Alex lagi.
Dinda lalu berusaha duduk. Alex membantunya.
"Kamu bilang tadi, kamu belum ketemu teleponmu?" tanya Dinda saat dia sudah duduk di matras.
"Iya. Aku menyisir jalan ke tempat mobilmu, tapi nggak ada aku lihat benda bodoh itu," ujar Alex. Dia seakan teringat sesuatu, lalu berdiri
"Aku tadi menemukan handphonemu didalam mobil, aku membawanya sekalian dengan tas kecil milikmu," kata Alex.
"Sebentar aku ambilkan! Tadi aku letakkan diluar," Sambung Alex sambil berjalan keluar.
Tidak berapa lama, Alex kembali sambil memegang tas Dinda ditangannya.
"Ini! Agak kotor, juga ada robek sedikit, waktu aku menarik tas itu keluar dari mobil. Tas itu terjepit disela kursi," ujar Alex, sambil menyerahkan tasnya pada Dinda
"Mungkin ada barang yang ketinggalan. Tasnya tadi terbuka, jadi barang didalamnya berhamburan keluar. Aku cuma memungut yang bisa aku lihat," sambung Alex
Dinda memegang tasnya yang cukup kotor, dengan ujung jari.
Alex tertawa.
Alex lalu mengambil tas milik Dinda itu, dan membawanya keluar untuk dibersihkan.
Saat Alex kembali, tas Dinda masih agak basah tapi sudah lumayan bersih.
Dinda melihat isi tas itu, ponselnya sudah mati. Kaca layar benda itu retak, entah rusak atau cuma kehabisan baterai. Dia menatap kondisi ponsel, tas dan isi barang didalamnya yang buruk.
Dinda ingat dinginnya suhu malam tadi. Dia tersadar kalau mungkin tidak ada Alex membantunya, mungkin dia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya diluar sana.
"Makasih...!" ujar Dinda pelan.
Alex terkejut mendengar kata Dinda.
"Apa?" tanya Alex, pura-pura tidak mendengar ucapan Dinda.
"Makasih!" seru Dinda agak berteriak. Wajahnya cemberut.
"Oh...! Ini berterima kasih atau marah-marah sih?!" ujar Alex sambil tersenyum.
Merasa Alex menggodanya, Dinda mencubit lengan Alex.
Alex meringis tapi masih saja bisa tertawa.
Dinda tersenyum melihat Alex yang kesakitan.
__ADS_1
"Jangan senang dulu!" ujar Alex. Raut wajahnya tiba tiba berubah jadi cemas.
"Malam ini kita hanya akan diterangi api perapian. Aku juga belum menemukan cara, agar kita bisa cepat kembali," kata Alex lagi.
Mendengar perkataan Alex, Dinda jadi khawatir. Dia telah mempersulit Alex disitu.
Dinda merasa bersalah. Dinda menundukkan wajahnya.
Saat Alex melihat reaksi Dinda, dia lalu memeluk gadis itu.
"Tenang saja...! Aku pasti bisa membawamu pergi dari sini!" ujar Alex, sambil mengelus rambut Dinda.
"Kamu mau membersihkan diri?" tanya Alex
"Iya!" jawab Dinda singkat. Meskipun hari itu dingin dan Dinda tidak berkeringat, tetap saja badannya terasa lengket.
"Kalau begitu sekarang saja. Sebentar lagi akan bertambah dingin!" kata Alex.
Alex lalu berdiri dan berjalan kearah kamar, kemudian keluar lagi sambil membawa kaus lengan panjang, dan celana panjang olahraga miliknya.
"Kamu bisa pakai ini!" ujar Alex.
Dinda lalu dibantu Alex, berjalan keluar menuju ke kamar mandi. Diluar, kabut sudah kembali menebal.
Dinda bingung melihat tempat itu yang terus-terusan berkabut. Tapi dia tetap berjalan sampai masuk ke kamar mandi.
Dinda menyalakan shower.
Astaga, air yang mengalir terasa dingin seperti air es.
Dinda mengangkat kaki yang di perban keatas kloset, kemudian lanjut membersihkan diri meski dinginnya air itu, membuat tubuh Dinda, seperti ditusuk-tusuk dengan pisau.
Setelah selesai, Dinda keluar dari kamar mandi. Alex masih menunggunya disitu.
Saat Alex melihat Dinda, dia tersenyum. Alex menggigit bibirnya sendiri, dia berusaha menahan diri agar tidak tertawa.
Dinda cemberut. Dia tahu baju yang dia pakai, jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya.
"Apa aku seperti orang-orangan sawah?" tanya Dinda ketus.
Alex tidak bisa menahan tawanya yang langsung pecah, saat mendengar perkataan Dinda.
Dinda makin cemberut.
Alex mendekat lalu memeluk Dinda.
"Kamu tetap cantik," ujar Alex.
"Ayo kita masuk! Kamu sudah mulai menggigil lagi," ajak Alex, yang mendengar suara gigi Dinda, yang berhantukkan.
__ADS_1